
Pemuda itu memasuki rumah dan hendak mengekoriku menuju dapur, aku sedikit risih bila ada orang baru yang memasuki kawasan pribadi rumahku. Aku pun mengambil inisiatif agar dia duduk saja di ruang tamu.
"Sebaiknya aku saja yang memasak, kamu tunggu di sini saja ya," aku mempersilahkannya untuk duduk di sofa.
"Jangan! Biar saya sendiri, saya sudah cukup merepotkan anda... hm... bagaimana ya sebaiknya saya memanggil?"
Aku terkekeh, benar juga. Kami belum saling berkenalan. Aku mengulurkan tanganku padanya.
"Namaku Laras Dwiyanti, kamu bisa memanggilku Ibu Laras," aku berkata dengan senyuman.
Pemuda itu mengeryit. "Ibu? Di mata saya anda tidak setua itu," wajahku memerah mendengarnya.
"Kamu benar-benar anak yang baik," celetukku.
"Saya bukan anak-anak, umur saya 22 tahun," aku mengangguk.
"Yup, dan umurku 38 tahun," aku menggoyang tangan kami yang masih bersalaman. "Namamu?"
"Dilan... Dilan Suryatama," setelah itu aku melepas tanganku namun, pemuda itu menahannya. "Maaf jika saya tidak sopan."
"It's Ok, Dilan. Tidak masalah," aku bersikap seramah mungkin. "Biar aku buatkan makanan untuk Pamanmu," aku meninggalkan dia di ruang tamu.
Hanya 20 menit, aku selesai membuat macaroni schotel. Aku membawanya ke rumah Bapak Kentaro bersama Dilan yang lagi-lagi mengekoriku. Aku melihat pria tua itu yang tertidur di ranjangnya, tubuhnya yang semakin kurus membuatku prihatin.
Kedatanganku membuat beliau terjaga.
"Nak Laras, sudah lama tidak menengokku," ucapannya membuatku tidak enak hati. Memang sudah hampir seminggu aku tidak bertamu ke rumahnya.
"Maafkan aku Pak tua, aku sedang sibuk mengurus nilai hingga belum sempat menengokmu," aku menaruh macaroni di meja di samping tempat tidur. Wajah Pak Kentaro berbinar melihatnya.
"Aku lapar, berikan aku makananmu! Dilan sama sekali tidak bisa memasak, aku hampir keracunan 2 hari ini," pria itu membetulkan duduknya, bersiap untuk menerima piring dariku.
Aku menoleh pada Dilan yang merona menahan malu, aku tersenyum simpul. "Akan aku ajarkan kau memasak, nanti," ujarku.
Tampak pemuda itu terdiam sesaat, lalu mengangguk malu-malu.
Manis sekali, batinku.
Aku menggelengkan kepala, mengusir fikiran aneh yang terlintas di benakku.
🍁🍁🍁
Setelah melahap makanan dariku, Pak Kentaro meminum obatnya. Tidak lama, pria tua itu pun tertidur. Aku menatap sendu padanya, saat Dilan memberitahukan keadaan Pak Kentaro yang sebenarnya.
__ADS_1
"Jantung Paman mulai memburuk semenjak minggu lalu, Dokter bilang Paman harus melakukan operasi pemasangan ring di jantungnya. Tapi, melihat keadaan fisiknya sekarang, tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi tersebut," jelas Dilan.
Aku mengangguk mengerti. "Karena itu kamu di sini untuk menjaganya, kan?"
"Iya, terima kasih karena anda selama ini telah menjaga dan merawat Paman."
"Aku hanya sekedar menengoknya dan sesekali menawarkan makanan, tidak banyak yang ku lakukan. Aku sangat senang kini Pak Kentaro tidak sendiri lagi, jika ada sesuatu, kamu bisa menghubungi ku, tidak perlu sungkan!" Aku menepuk bahunya secara reflek. Kebiasaanku pada Rian terbawa begitu saja.
"Maaf!" Aku menjaga jarak darinya dengan wajah memerah.
Pemuda itu tersenyum, dia menggeleng. "Tidak apa-apa."
Kami saling bersitatap beberapa saat membuat situasi semakin canggung, entah mengapa mata dan senyumannya itu sedikit menggangguku. Jantungku berdebar secara tiba-tiba.
"Ehm, kalau begitu... sebaiknya aku pulang, Rian akan mencariku. Jaga Pamanmu baik-baik, Ok!" Aku memilih undur diri dan mengucap salam sebelum menutup pintu rumahnya.
Aku mengusap dadaku di sepanjang jalan menuju rumah, ku lihat dia keluar dari rumah menuju teras. Entah untuk apa, yang jelas mata kami saling bertabrakan untuk ke sekian kalinya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum lalu menutup pintu rumahku.
"Perasaan apa itu barusan, haduh!" Gumamku.
"Ma!"
Aku hampir tersentak dengan suara Rian yang memanggilku tiba-tiba. Aku memejamkan mata menahan kesal, kebiasaannya yang selalu mengagetkanku membuatku harus senam jantung beberapa hari ini.
"Kamu ngapain?" tanyaku heran.
"Aku pikir Mama sakit, wajah Mama merah. Tapi tidak panas," jawab Rian.
"Itu... Mama kepanasan tadi kena Matahari," sergahku kikuk.
Kenapa wajahku bisa merah? Sebaiknya aku tidur siang.
"Jangan keluar panas-panasan donk Ma, nanti item lho!"
"Nanti Mama langsung luluran," jawabku asal dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku.
Saat sampai di kamar, melalui kaca jendela aku bisa melihat Dilan yang sedang menyelimuti Pak Kentaro.
"Anak yang baik," monologku.
Setelah itu aku menutup gorden dan menaiki ranjang untuk tidur siang.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Hari ini hari senin, hari dengan segudang kesibukan. Aku mengikat setengah rambutku yang mulai memanjang, dengan blazer andalanku aku menuruni tangga menuju dapur, untuk menyiapkan sarapan dan bekal. Asisten rumah tanggaku sudah sampai rumah 10 menit setelah adzan berkumandang.
"Pagi Bi Inah," sapaku padanya yang sedang menyapu lantai.
"Pagi Bu Laras," wanita itu mengangguk dengan senyum.
Aku mengaduk nasi yang telah matang agar tidak mengeras dan kering. Menyendok dan memasukkannya ke dalam kotak bekal.
"Rian! Kamu sudah sholat?" Seruku sambil menata bekal yang akan aku dan Rian bawa.
Anak remajaku keluar dari kamar masih dengan piyamanya, menggaruk kepala dengan mata yang menyipit. Aku mendengus kesal, dengan tarikan nafas aku memberinya ultimatum.
"Kalau kamu belum sholat saat Mama panasin mobil, kamu Mama tinggal!"
Segera Rian berlari kembali menuju kamarnya, aku bisa mendengar keributan dari sana.
Bi inah terkikik geli. "Den Rian gak bakal nurut kalau saya yang bangunin atau suruh sholat bu, padahal sudah dari tadi saya ketuk kamarnya," ujarnya membuatku meringis.
Aku keluar rumah hendak memanaskan mobil, bersamaan dengan itu Dilan pun keluar dari rumahnya. Aku melihat tangannya yang menenteng kantong sampah.
"Pagi..." ucapnya padaku.
"Pagi Dilan," sahutku sambil membuka pintu mobil dan memanaskannya. "Bersih-bersih?" Tanyaku basa basi.
Pemuda itu tersenyum. "Iya, saya sengaja tidak menyewa ART."
"Kenapa?"
"Belum butuh, cuma saya dan Paman, masih bisa saya kerjakan sendiri," ujarnya.
Aku manut-manut mengerti. "Sudah sarapan? Jika mau, aku sudah memasak di dalam," tawarku.
"Mungkin lain kali, saya sudah membuat spagetti," jawabnya setelah membuang kantung sampah itu.
"Jangan terlalu banyak makan makanan cepat saji," ucapku sambil berjalan menuju pintu rumah. "Jika kau lapar, jangan sungkan memintanya padaku. Ada Bi Inah di rumah," tambahku yang dijawab anggukan.
Jangan lupa, senyuman manis yang selalu terpatri di wajahnya. Haduh... mengganggu konsentrasi saja.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1
Ahh.. covernya ditolak, dan blm bisa di ganti neh... reviewnya lama... huhuhu