Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 30


__ADS_3

Laras POV


Rian membantuku memasukkan koper ke dalam bagasi, setelah itu dia mengajak Dilan untuk ikut bersamanya. Tidak jauh dari keberadaanku karena aku masih bisa mendengar percakapan mereka.


“Aku mengijinkan Mama ikut bersamamu untuk membalas budi padamu jadi, kau jangan besar kepala!” ucap Rian ketus.


Dilan terkekeh sambil mengangguk, “Apa pun itu, terima kasih.”


“Tolong jaga dan hormati dia,” tambah Rian.


Anggukan ke dua kembali diberikan Dilan. “Tentu , kau tenang saja.”


Rian mendengus seolah tidak percaya dengan perkataan Dilan, dia pun menghampiriku dan memelukku. Aku membalas pelukan Rian erat, tak terasa aku pun menitikkan air mata.


“Jangan lupa sholat … masalah makan, Mama sudah titip ke Bi Inah,” bisikku sambil mengusap punggungnya.


Pemuda itu manut-manut saja dan kembali bertanya, “Mama yakin mau pergi? Barangkali berubah pikiran.”


Bibirku berkedut menahan senyum, dalam hal bujuk - membujuk Rian cukup gigih. Kulepaskan pelukan dan mengusap pipi putera semata wayangku. “Sabar ya, cuma sebentar, kok!”


Rian bungkam dengan muka datar, sepertinya dia berusaha menyembunyikan rasa sedih dan kecewanya. “Hati-hati di jalan,” suara itu begitu dewasa.


Selama 20 tahun masa usianya, ini adalah pertama kali kami akan terpisah dalam waktu dua bulan. Waktu yang paling lama sepanjang sejarah hidupku dan Rian. Pemuda itu tetap kokoh berdiri sambil melambaikan tangan kala mobilku menjauhi pekarangan.


Aku bisa melihat raut wajahnya yang lambat laun berubah, aku berusaha terus tersenyum dengan menahan getir di setiap sudut bibir. Aku tidak ingin Rian khawatir, cepat atau lambat kami pun akan memiliki hidup masing-masing, saat dirinya menikah nanti. Anggap saja ini sebagai latihan untuk kami berdua, agar tidak selalu bergantung. Itu pikirku.


Sosok itu semakin tidak terlihat, menjadi siluet yang memudar. Aku pun termenung dengan pikiran yang menerawang, mengingat saat-saat kami bersama dalam susah dan senang. Tersenyum tipis sendiri hingga sentuhan lembut pada punggung tangan menyadarkanku. Aku menoleh pada ciptaan sempurna Tuhan, mata hitam bening itu menatapku dalam.


“Ingin kembali?”


“Apa?”


“Jika kau tidak tenang meninggalkan Rian sendiri sebaiknya-“


“Tidak … aku hanya belum terbiasa meninggalkannya dalam waktu yang lama. Kami harus belajar dari sekarang, Rian tidak akan bersamaku selamanya. Dia akan menikah nanti, dan membangun keluarganya sendiri,” aku berusaha tegar dengan mengatakan itu.


“Ya … karena kau akan bersamaku, selamanya,” pemuda itu menarik bibirnya hingga giginya yang putih terlihat.


Senyuman andalan yang berhasil meluluhkan hati ini. Ya, apa yang harus aku khawatirkan? Dilan akan bersamaku, menemaniku hingga akhir hayat. Aku tidak akan kesepian saat Rian bahagia dengan keluarganya kelak. Aku menyunggingkan senyum, membalas lengkungan manis yang dia berikan.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Bandara


Wanita itu masih terlihat cantik meski dengan wajah terkejutnya. Matanya membelalak seolah ingin melompat keluar.


“Kalian? Laras, kau tidak bercanda?”


Maria memekik, aku sengaja mengajaknya bertemu hari ini di Bandara sekaligus memberitahukan hubunganku dengan Dilan.


Aku menggeleng sambil tersenyum tipis… sangat tipis hingga mendekati samar, mungkin baginya itu senyuman yang paling aneh yang pernah aku berikan.


“Kalian gila! Dan kau Dilan, bagaimana kau menjerat dosen sejarah ini?”


Pemuda itu mengedikkan bahu dengan raut wajah malu-malu kucing. Tidak menjawab, memperlihatkan kepolosannya yang menipu.


“Kami akan berangkat sebentar lagi,” sahutku pada Maria yang sepertinya bersiap memberikan pertanyaan lain yang bisa mengalahkan paparazzi.


“Kau memang pintar mengalihkan semua hal seperti belut,” sarkas Maria sewot. “Ini untukmu Dilan,” tambahnya seraya memberikan sebuah kertas pada Dilan. Aku mengintipnya sekilas, sebuah surat.


“Surat rekomendasi dari kampus kita untuk tempatmu magang nanti, dan kamu bisa menempati mess yang biasa di tempati para alumni saat magang di sana. Kalian tidak mungkin tinggal 1 atap kan, Laras?!”


“Aku sudah mencari kontrakan di sana untuk dua bulan,” sahutku membela diri.


“Dasar ibu-ibu genit! Berikan alamatmu, aku akan melakukan sidak dadakan nanti,” ledek Maria sambil menarik tanganku, menuntunku menjauhi Dilan.


Aku hampir sempoyongan mengikuti gerakan Maria yang tiba-tiba. Dilan sendiri hanya bisa mengamati dari kejauhan. Maria pun berkata dengan pelan. “Aku tidak tau harus bagaimana, yang jelas aku mendo’akan yang terbaik untukmu,” Maria mengeluarkan ponselnya. “Cepat kirimkan alamatmu! Aku takut kau akan lupa jika sudah sampai di sana,” tambahnya.


Aku tertawa kecil melihat tingkah Maria yang berlebihan, tanpa di duga dia langsung menyambar ponselku yang baru aku ambil dari tas. Secepat kilat dia mengirim sendiri alamat itu melalui ponselku.


“Selain kau, Rian dan Fany… tidak ada lagi yang tau akan hubungan kami. Ku harap kau bisa menyimpan rahasia ini sampai kelulusan nanti,” cicitku memelas.


Maria memutar bola mata malas sambil mencebik. “Kau pikir aku bermulut ember? Berkoar-koar sepanjang jalan?”


“Aku tidak bilang begitu,” jawabku tidak enak.


“Tenang saja, yang penting kau selalu mengabari apa pun yang terjadi padamu,” Maria tersenyum jahil.


Aku memukul bahunya gemas,“Dasar! Kau mengerjaiku.”


Maria tergelak lalu memelukku, entah mengapa aku langsung merasa terharu. Demi menghindari adegan dramatis aku pun memilih melepas pelukan, meski sebenarnya enggan.


Maria melepas kepergianku dengan puluhan nasehat. Layaknya seorang ibu kepada anaknya atau seorang kakak kepada adiknya.

__ADS_1


Aku menatap langit yang kemerah-merahan, senja mengantarku menuju kota lain bersama dia. Dia yang kini menggenggam tanganku, dia yang aku cintai.


🍁🍁🍁


Surabaya


Hanya butuh 2 jam untuk sampai ke Kota Surabaya, kota pahlawan. Julukan ini selalu dikaitkan dengan berbagai pertempuran yang pernah terjadi di Ibu Kota Jawa Timur (Jatim) itu.


Julukan kota pahlawan tak sekoyong-koyong diberikan begitu saja pada Surabaya. Kota yang terletak di pesisir utara Jawa ini memang memiliki cerita perjuangan panjang. Salah satu yang paling terkenal adalah tragedi 19 September 1945.


Sudah lama aku ingin bertandang ke kota ini, hingga kini terlaksana juga. Sepertinya aku harus berterima kasih pada Dilan.


“Ada tempat yang ingin di datangi?” tawar Dilan saat ingin menaiki taksi.


“Banyak!” seruku. “Kita ke Gedung Siola! Gimana?”


“Siap!” sahut Dilan semangat.


Rasa lelahku langsung hilang digantikan rasa antusias untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Dilan sendiri ternyata seperti tau seluk beluk kota ini, di sepanjang perjalanan dia menyebutkan tempat-tempat apa saja yang harus kami singgahi.


“Kau pernah ke sini Dilan? Sepertinya kau sangat tau wilayah di sini,” tanyaku ingin tahu.


“Aku… pernah tinggal di sini,” jawaban Dilan semakin membuatku penasaran.


“O ya? Bukankah kau berasal dari Osaka?”


“Waktu kecil, aku sempat tinggal di Surabaya beberapa waktu, sebelum akhirnya pindah ke Osaka,” jelasnya.


Aku manut-manut mengerti. “Kenapa kau pindah?”


Pemuda itu terdiam, bersamaan dengan itu taksi kami berhenti menandakan jika sudah sampai tujuan.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan koment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Yang di Jatim… Dilan dateng neh… hehehe


aku kasih bonus buat reader


__ADS_1


__ADS_2