
Laras POV
Leherku terasa pegal, aku pun membuka mata dengan perlahan. Ternyata aku tertidur, aku menoleh ke arah samping, tempat di mana kepalaku bersandar. Dilan menumpu kepalanya di atas kepalaku dengan mata yang terpejam.
Apa dia ikut tertidur bersamaku? Batinku.
Aku tertegun sesaat memperhatikan wajah Dilan. Alisnya yang begitu rapi dengan hidung mancung, tampan... pikirku. Hingga mataku terhenti di bibirnya, bibir tipis yang sering menciumku, membuatku sulit bernafas bahkan berhasil membuatku berteriak malam itu.
Aku segera memalingkan muka menepis bayangan itu dan karena pergerakanku Dilan pun terjaga.
"Hai... sudah bangun?" ucapnya sambil mengusap wajahnya.
Aku hanya mengangguk tidak berani menatapnya namun, kemudian Dilan meraih tanganku. Membuatku mau tak mau melihatnya. Dijalinnya setiap jari pada jariku dan menggenggam erat. Dikecupnya punggung tanganku lembut. Sikapnya membuatku tersipu.
Haduh... atmosfer di dalam mobil mendadak memanas bagiku. Pria ini pandai sekali bersikap manis.
"Ayo ikut aku," ajaknya menarik tanganku.
Kami pun keluar dari mobil. Aku mengedarkan pandangan, ini bukan rumah. Melainkan taman kota. Aku menatap heran pada Dilan.
"Kenapa kita ke sini? Bukan ke rumah?"
Dilan hanya tersenyum dan menggandeng tanganku sambil terus berjalan. Jujur jantungku rasanya ingin melompat saat tangannya meremas tanganku. Bukankah ini seperti kencan?
Aku mengikutinya hingga kami berhenti di depan sebuah cafe. Cafe dengan banyaknya buku berjajar rapi. Sepertinya cafe ini mengambil konsep ruang baca, banyak orang yang asik membaca buku sambil menikmati secangkir kopi. Dilan membawaku ke dalam dan memesan meja di pojok ruangan.
Aku duduk terlebih dahulu sementara Dilan memesan 2 cangkir kopi dan beberapa kue.
"Kamu sering ke sini?" Tanyaku saat Dilan selesai memesan dan duduk berseberangan denganku.
"Ya, kadang-kadang," jawabnya.
Aku memperhatikan sekitar. "Apa Rian tau tempat ini?"
"Tenang saja, tidak ada yang mengenal kita..."
Aku mengangguk paham. Aku belum siap jika hubungan kami diketahui publik. Bukan apa... mungkin beberapa saat lagi setelah Dilan lulus kami baru bisa berjalan dengan tenang di depan umum. Dilan mengusap keningku, aku terhenyak karena tersadar dari lamunanku.
"Jangan dipikirkan... kita jalani, aku janji kita akan terus bersama," ucap Dilan.
Aku mencebik. "Siapa yang mau terus bersama denganmu?"
__ADS_1
Dilan terkekeh, dia menjawil hidungku membuatku memekik. "Aduh!"
"Tidak apa-apa, karena aku yang akan terus mengejarmu."
"Apa yang kau lihat dariku? Usia kita terpaut jauh, tidak lama lagi aku akan jelek dan kamu pasti meninggalkan aku," ucapku serius.
"Seperti kata Raffi Ahmad kepada Yuni Shara jika cintaku tidak akan berubah hingga 50 tahun ke depan," Dilan memainkan jariku.
"Setelah 50 tahun kau tidak akan mencintaiku lagi?" Tanyaku pelan.
"Karena 50 tahun lagi kita akan abadi di dunia lain," ucapannya mendadak membuatku merinding.
"Maksudmu? Dunia hantu?"
Dilan tergelak, aku mengerucutkan bibirku kesal. Dasar tukang gombal, dan herannya aku tidak keberatan digombali olehnya.
"Apa yang bisa dilakukan oleh pria renta berusia 70 tahun? Menyeleweng hanya mencari susah... hidup setia dengan 1 pasangan hingga menutup mata bukankah itu indah?"
Aku tersenyum mendengar menuturannya. Ya, bukankah sangat indah bisa bersama dengan orang yang dicintai hingga akhir hayat.
"Aku suka pemikiranmu, untuk saat ini... entah nanti. Manusia kadang berubah, termasuk dirimu," selorohku membuatnya memicingkan mata.
"Kamu meragukanku?"
Aku mengangkat bahuku. "Kita lihat nanti," jawabku bersamaan itu pelayan datang membawa pesanan kami.
🍁🍁🍁
Kediaman Laras
Aku menikmati waktu kebersamaan kami hingga lupa waktu. Langit telah menghitam saat aku sampai rumah. Sehabis minum kopi di cafe, Dilan mengajakku menonton film. Selera kami sama, sepanjang perjalanan kami saling berargumen tentang film yang baru saja diputar.
"Terima kasih untuk hari ini," aku tersenyum manis. Dilan terdiam sejenak sebelum mendekatkan diri dan berbisik.
"Bagaimana jika membayarnya dengan kecupan?"
Bulu romaku meremang, kulihat bibirnya yang menyeringai. Aku berdecak seketika.
"Dasar tidak mau rugi," ketusku.
Dia terkekeh dan mengusap puncak rambutku. "Untuk satu itu, aku tidak mau ditawar," pemuda mengerlingkan mata. Seketika aku merasa sebuah panah menancap di jantungku.
__ADS_1
Untung gak mimisan... ganteng banget seh kamu!
Aku melihat sekitar jalan di dekat rumah, lengang tapi ada perasaan takut jika ada orang yang memergoki. Seolah tau akan pemikiranku, Dilan menarik tanganku dan menuntunku menuju pohon mangga besar tidak jauh dari rumahnya. Spot di sini memang tidak terlalu mencolok, bahkan agak gelap jika dilihat dari jauh.
Dilan mengangkat daguku hingga maniknya mengunci mataku. "Di sini aman," ucapnya pelan.
Aku merasakan terpaan nafasnya pada wajahku, jarak kami sangat dekat. Benar kata orang, jangan terlalu lama berduaan dengan lawan jenis karena ketiganya adalah setan. Seperti aku saat ini yang entah dirasuki setan mana, dengan berani memulai duluan.
Aku melingkarkan tanganku pada leher Dilan dan mendekatkan wajah kami. Bibir itu begitu menggoda di tambah suasana malam agak gelap membuatku terjerat. Mengecup perlahan benda kenyal itu, yang langsung disambut dengan penuh semangat oleh Dilan.
Aku merasakan tangannya yang melingkar di pinggulku hingga turun ke bokongku dan meremasnya membuatku hampir memekik namun, Dilan membungkamku dengan bibirnya.
Cukup lama kami saling bertukar saliva, membelit lidah hingga aku melepaskan diri. Aku bisa lihat wajah kecewanya, tangannya semakin erat memelukku.
"Please sekali lagi," pintanya memohon.
Aku merasakan bibirku yang sedikit membengkak, barusan Dilan menggigit gemas bibir bawahku. Godaan terberat ini aku benar-benar tidak sanggup menahannya. Melihatnya memohon membuatku KO saat itu juga.
Aku menurut saja ketika Dilan kembali mencumbu bibirku, aku rasanya pasrah. Seperti domba yang tertangkap oleh serigala dan siap untuk dicengkeramnya. Tapi bagaimanapun juga lokasi kami tidaklah cocok untuk melakukan hal ini. Aku berusaha menghentikan kegiatan. Aku mendorong dadanya pelan.
"Dilan... kita di tempat umum," ucapku dengan nafas terengah.
Lagi wajah kecewa itu mengusikku. Aku lihat nafasnya yang masih memburu, kemudian helaan nafas terdengar. "Laras... kamu benar-benar membuatku gila," ibu jarinya mengusap bibir bawahku.
Entah aku harus senang atau tersinggung dengan kata-kata itu. Namun, kemudian Dilan mengecup keningku.
"Nanti kita lanjut lagi," bisiknya.
Wajahku memanas, sudah bisa dipastikan jika pipiku memerah karena malu. Aku mengangguk kecil mengiyakan hal itu. Darah muda memang tidak bisa ditepis begitu saja. Aku sepertinya memang menyukainya... tidak... aku sangat menyukai pria ini...
Dilan melepaskan pelukannya di waktu bersamaan aku mendengar suara yang familiar hingga membuat mataku membulat sempurna.
"Dilan!"
Mati aku, kena grebek! batinku sambil memejamkan mata.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, enjoy!
__ADS_1
Makin uwuuu... aku bayangin jadi Laras... pasrah adja deh aku mah diapain juga... hahahaha