
Laras POV
Aku meninggalkan Mas Andi dan Rian di ruang tamu menuju dapur, sebenarnya perasaanku sedang tidak tenang. Kejadian tadi malam masih terus menghantuiku. Aku menahan gemuruh di dada, menetralkan diri agar terlihat normal di mata Rian dan mantan suamiku.
Aku menyibukkan diri dengan menyiapkan minuman dan kudapan. “Mas Andi, kau mau kopi?” seruku setengah berteriak.
“Boleh,” sahutnya.
Aku mengeluarkan pie susu dari oven, tampak uapnya yang mengepul menandakan jika pie itu masih hangat. Aku menatanya di atas nampan dan hendak membawanya ke ruang tamu namun, tanganku mendadak lemas hingga peganganku terlepas saat suara yang familiar terdengar.
“Papa, kenalkan ini Dilan... temanku di kampus,” memperkenalkan Dilan pada Ayahnya.
“Selamat siang,” sapa Dilan.
“Oh, aku sering mendengar tentangmu dari Rian. Terima kasih karena sudah menolong Rian waktu gejala asmanya kambuh,” ucap Andi sumringah.
Dilan mengangguk sambil tersenyum. “Sudah kewajiban saya menolong Rian,” jawabnya.
Tubuhku gemetaran saat aku melihat di balik tembok interaksi Dilan pada Rian serta Mas Andi, kenapa dia datang ke sini? Apa dia akan memberitahukan hal yang telah terjadi antara kami? Apa yang harus aku lakukan?
“Ma, perlu aku bantu?” seru Rian membuatku tersentak.
“Hm... tidak, Mama sedikit lagi selesai,” jawabku setenang mungkin.
Aku kembali menyiapkan minuman dan kudapan yang baru, meninggalkan kue yang berserakan di lantai begitu saja. Aku melangkah dengan berat, tidak sanggup rasanya untuk menengadahkan wajah untuk sekedar berpapasan muka dengan pemuda itu. Aku menunduk sambil menaruh nampan di atas meja. Rian berbinar melihat kue yang aku hidangkan.
“Wah, Mama buat pie,” Riang langsung mengambil kue itu dan melahapnya.
“Kau suka kue, Dilan?” tanya Mas Andi pada Dilan.
“Saya sangat menyukai semua makanan buatan Nyonya Laras,” pria itu berkata sambil melirikku.
Aku meremas nampan di tanganku, kali ini Dilan memanggilku Nyonya, entah maksudnya apa.
“Dilan sering makan malam di sini, Pa,” Rian kembali mengambil kue.
Mas Andi mengangguk mengerti. “Oh, begitu. Kalian sangat akrab, kedepannya kau tidak perlu sungkan.”
“Terima kasih Tuan,” sahut Dilan sopan. Dia lalu menoleh pada Rian yang asik mengunyah kue. “Ayo Rian! Ada yang ingin ku tunjukkan padamu,” ajaknya.
“Oke!” Pemuda itu meminum air putih hingga tandas. “Aku pergi dulu ya Ma, Pa,” pamitnya.
__ADS_1
“Hati-hati di jalan,” ucap Mas Andi.
“Permisi dulu, Tuan,” Dilan ikut pamit. Sebelum pergi pemuda itu mengambil kue dan mengusap bahuku. “Kuenya enak, Laras...” bisiknya lalu meninggalkan aku yang mematung.
“Anak yang baik, Rian beruntung berteman dengannya,” ujar Mas Andi membuatku tersenyum kikuk. Aku benar-benar frustasi terjebak dalam situasi seperti ini.
🍁🍁🍁
Aku mendesah lelah ketika melihat ponselku yang mati semalaman, sepertinya kehabisan baterai. Dan ketika ponselku dinyalakan, notifikasi 20 panggilan tidak terjawab terpampang jelas di layar ponsel. Tidak lama, ponsel itu pun berdering. Dengan ragu aku mengangkat panggilan itu.
[Laras! Kemana saja kamu? Bagaimana bisa kau membiarkan aku dan duda keren itu menunggu semalaman? Berikan penjelasan padaku! SEKARANG!] rentetan pertanyaan keluar dari mulut Maria.
Telingaku sampai sakit mendengarnya.
[Tenanglah, Maria...]
[Baik, coba kau jelaskan,] pinta Maria di seberang sana.
[Kemarin malam... aku...] kalimatku tertahan, haruskah aku terus terang pada Maria atas apa yang terjadi. Tapi... aku tidak cukup berani, ini adalah sebuah scandal. [Aku... tidak enak badan, dan aku tertidur setelah meminum obat hingga suara panggilanmu tak terdengar,] pungkasku pelan.
Aku memejamkan mata menunggu respon dari Maria, di luar dugaan Maria mempercayaiku.
Perkataan Maria membuatku getir, aku membohongi sahabatku sendiri. Tapi apa dayaku? Aku tidak mungkin menceritakan kejadian semalam padanya, mau ditaruh di mana mukaku? Aku sungguh malu.
[Tidak apa-apa Maria, aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Sampaikan juga maafku pada durenmu itu,] jelasku membuat Maria terkekeh.
[Oh, dia bukan Duda ku, dia calonmu,] sergahnya.
[Terserah padamu, baiklah kalau begitu. Aku tutup ya,] ucapku memutuskan panggilan.
[Oke, istirahatlah. Lekas sembuh,] aku tersenyum masam setelah mendengar pesan terakhirnya.
🍁🍁🍁
Author POV
Dilan membawa Rian ke suatu tempat, di sana terdapat berjajar botol yang tersusun dengan beberapa jarak. Seperti saat perlombaan 17 agustusan, bedanya botol-botol itu di taruh di tempat yang agak tinggi. Dilan mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya, mata Rian melebar saat tau benda apa itu.
“Kau memiliki senjata api?” tanya Rian agak bergidik.
Dilan tersenyum tipis. “Ini peninggalan Ayahku,” sahutnya santai. “Kemari, akan aku ajarkan kau cara membidik sasaran yang benar,” ajak Dilan.
__ADS_1
Dengan setengah ragu Rian mendekat dan menerima senjata yang sudah ditarik pelatuknya oleh Dilan. “Coba kau tembak botol-botol itu,” Dilan menunjuk pada deretan botol yang berjajar.
Rian mulai membidik botol, satu tarikan cukup membuat tangannya tersentak karena kuatnya tekanan senjata hingga sasarannya melenceng. Untuk pertama kalinya Rian memegang senjata api, ternyata tidak semudah yang di lihatnya di film-film.
DOOR!
“Lagi,” kembali Dilan meminta Rian menembak botol.
Dan hasilnya tidak berbeda jauh, hingga kini Rian belum mengenai sasaran satu pun. Rian meringis.
“Aku sepertinya tidak cocok dengan tembak menembak,” ucapnya kikuk seraya mengembalikan senjata.
Dilan mengambil senjata itu dan mengarahkannya pada botol. “Bukankah Papamu berselingkuh, bagaimana bisa dengan mudah kau menerimanya kembali? Mamamu di duakan oleh Papamu yang tidur dengan wanita lain, apa kau lupa?” ucapan Dilan menohok hati Rian saat itu juga.
DOOR!
Botol itu hancur berkeping-keping, tembakan Dilan tepat sasaran. “Kau tentu ingat masa-masa terpuruk Mamamu, bagaimana menderitanya? Kau melihat jelas,” kembali Dilan membidik botol ke-2.
DOOR!
Botol ke-2 pun hancur oleh tembakan Dilan, sementara Rian diam tanpa kata. pemuda itu tampak memikirkan sesuatu. Wajahnya yang tadinya biasa berubah menjadi sendu, Dilan merangkul Rian dan berbisik. “Pikirkan Mamamu, dia pantas mendapatkan yang lebih baik.”
Dilan pun mengajak Rian untuk kembali ke rumah, sepanjang perjalanan Rian masih dalam kebisuannya.
Pemuda itu menerawang, mengingat kembali tragedy 5 tahun yang lalu. dia tidak akan lupa betapa kelamnya saat itu, Mamanya menangis selama 2 hari. Saat itu Rian sedang sakit gejala tipus hingga membuatnya harus bedrest, tubuhnya begitu lemah hanya untuk sekedar beranjak dari ranjang.
Rian dapat mendengar teriakan dan pecahan piring dari balik pintu kamarnya. Semua berlangsung hampir seminggu lamanya. Dan setelah itu Mamanya membawa Rian ke rumah baru mereka. Rumah yang mereka tempati saat ini.
Rian keluar lebih dulu dari mobil saat mereka telah sampai rumah.
Pemuda itu berkata sebelum meninggalkan Dilan seorang diri. “Terima kasih sudah mengingatkanku, hampir saja aku lupa karena teralihkan oleh kebahagian semu. Aku asik sendiri tanpa memikirkan perasaan orang yang sangat aku sayangi.”
Dilan tidak memberikan respon apa-apa, hanya tersenyum tipis lalu berjalan menuju kediamannya.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Mulai creepy gak? Hehehe
__ADS_1