Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 01


__ADS_3

Matahari beranjak merangkak naik, meski begitu udara masih cukup segar. Aku menghirup oksigen cukup banyak sambil mengusap peluh di keningku. Sejenak aku mengingat perkataan dia yang menghantuiku akhir-akhir ini.


Flashback On


“… setelah sekian lama kita berpisah, Mas merasa tidak ada yang bisa menggantikan Dek Laras di hati Mas,”


Aku tersenyum mengejek. “Oh, Ya? Ku dengar dari sekretaris tercintamu jika kalian akan menikah.”


Wajah orang itu menegang, menggeleng tidak terima. “Mas sudah mengakhiri hubungan dengannya, mengapa Adek tidak percaya? Bahkan Mas telah memecatnya 5 tahun lalu!” menyugar rambutnya yang sedikit panjang. Terlihat jika dia belum memangkasnya minggu ini. “Jangan dengarkan perkataan dia yang memang sengaja ingin menghancurkan hubungan kita.”


Punggungku terasa pegal, aku merebahkan diri sambil memejamkan mata. “Hubungan kita telah lama hancur, dan Mas pelakunya. Rian mungkin pulang malam, sebaiknya Mas menemuinya besok!” aku mengusirnya dengan cara halus.


Tidak ada suara yang terdengar, aku bisa menebak raut wajah kecewanya untuk kesekian kalinya. Meski begitu tidak melunturkan rasa kecewaku. Padahal sudah 5 tahun berlalu, segala pengkhianatannya sungguh sulit untuk ku maafkan.


“Mas tidak akan menyerah,” setelah itu aku hanya mendengar suara pintu yang tertutup.


Seketika aku membuka mata, merasakan sesak di antara paru-paruku. Sejujurnya aku masih mencintainya, mengetahui kenyataan jika dia masih menungguku hingga saat ini sedikit menghangatkan relung. Entahlah, hatiku begitu gamang. Apa yang harus aku lakukan?


Flashback Off


Aku membuka tutup air mineral dan meneguknya dengan perlahan. Rasa hambar seperti hidupku selama 5 tahun ini, mungkinkah karena aku terlalu lama sendiri?


Aku melanjutkan ritual lari pagiku yang sudah ku lakukan semenjak aku bercerai. Rian sendiri sebagai anak yang mulai beranjak remaja kala itu begitu pengertian dan memaklumi segala keputusanku. Ya, anakku satu-satunya, sekaligus sahabatku dalam berkeluh kesah.


Kadang aku bercerita akan keseharianku padanya. Dia hanya tersenyum lalu memelukku, aku sangat berharap anakku akan bertemu dengan gadis baik nantinya. Memikirkan hal itu membuatku sedih seketika, apa aku siap jika Rian meninggalkanku nanti?


Jalan yang tadinya lengang mulai tampak ramai dengan banyaknya orang berlalu lalang, ada yang sekedar berjalan pagi sepertiku atau mencari sarapan di setiap pedagang di pinggir jalan. Aku menghampiri salah satu pedagang bubur ayam. Rian pasti belum bangun, dengan piyama gundam kesukaannya anak itu bergelung di kasur hingga siang hari.


Hari libur dihabiskan hanya dengan tidur seharian, aku mendesah lelah. Rian anak rumahan, yang tidak akan keluar rumah jika bukan kegiatan campusnya. Untung aku tau jadwalnya karena aku mengajar di kampus yang sama dengannya, jika tidak, aku pasti akan mengomel seharian karena mengira dia bermalas-malasan.


Dengan sebuah kantung plastic di tangan aku berjalan pelan menuju rumah, mataku menangkap sebuah mobil jeep yang terlihat asing terparkir di halaman rumah tetanggaku.

__ADS_1


Pak Kentaro Suryo, pria tua belasteran Jepang Indo yang telah menjadi tetanggaku selama hampir 20 tahun. Pria itu hidup sendiri dengan kesederhanaannya, anak dan istrinya telah meninggal 7 tahun yang lalu. Cukup lama tidak terlihat seseorang bertandang atau berkunjung ke rumahnya.


“Apa ada tamu? Tapi rumahnya terlihat sepi,” gumamku dengan mata yang tidak lepas dari teras rumah Pak Kentaro.


Saat aku memasuki pintu, aku memekik karena seseorang berdiri di sana.


“Ya Alloh! Rian! Kamu mengagetkan Mama!”


Rian terheran-heran dengan ekspresiku yang terkejut. “Mama kenapa? Jalan ke depan tapi matanya kemana-mana, makanya masuk rumah ucap salam!” Rian melirik kantong di tanganku dan tersenyum jenaka. “Bubur ayam ya Ma?”


Aku memicingkan mata, menarik kantong itu yang hendak diraih oleh Rian.


“Assalamu’alaikum!” aku melengos melewatinya dan berjalan menuju dapur.


“Wa’alaikum salam, Ma… jangan marah donk!”


Aku membuka sterofoam dan mengambil sendok, mengaduk bubur ayam yang masih mengepulkan asap. Aroma lezat menyeruak menelusup ke indera penciuman Rian. Membuat perut yang bersangkutan keroncongan seketika.


Aku menyendok bubur itu dan hendak memasukkannya ke mulutku. Mata Rian terus mengikuti sendok yang aku pegang. Ya ampun, anak ini!


“Hmmm…” aku mengunyah dan menjilat sisa bubur di bibirku.


Sepertinya tidak lama lagi air liur akan menetes dari mulut Rian. Aku tersenyum sambil menyendok besar bubur dan menyodorkannya pada Rian yang mematung. “Mau?”


“Mau!” Rian langsung melahap bubur di sendok, aku sampai tergelak melihat Rian yang hampir menelan sendoknya.


“Rian! Jangan makan sendoknya!”


Aku mengacak rambut anak lelaki remajaku, anak yang menemaniku dan menjadi temanku selama ini. Aku sangat menyayanginya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Keesokan harinya aku terbangun dari tidurku saat adzan berkumandang, setelah melaksanakan kewajibanku sebagai umat muslim aku pun mengawali hari dengan berbagai macam pekerjaan rumah tangga.


Aku memakai ART hanya saat aku bekerja, itu pun hanya sampai sore hari. pada hari libur aku mengerjakan semuanya sendiri. Lagi, mobil Jeep hitam mengambil atensiku. Dari kemarin aku tidak melihat Pak Kentaro atau orang lain keluar dari rumahnya. Membuatku penasaran dan sedikit khawatir. Apa pria tua itu baik-baik saja?


Aku memilih membersihkan diri terlebih dahulu dan menunggu hari agak siang, aku akan mengunjungi rumah Pak Kentaro. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. Melihat dirinya mengingatkan pada diriku yang hidup sendiri. Akan sangat menyedihkan jika itu diriku, hidup sendiri tanpa ada orang yang tau bagaimana keadaanku.


Saat hari mulai petang, aku beranjak menuju rumah Pak Kentaro. Baru saja aku menarik daun pintu, diwaktu bersamaan tampak seseorang berdiri dihadapanku. Untung aku tidak melompat karena terkejut.


"Maaf... saya mengganggu anda," orang itu menunduk setelah itu menengadahkan kepala. "Saya... saya keponakan Paman Ken, jika boleh saya ingin meminjam dapur anda... kompor di rumah paman rusak, belum sempat diservice. Saya ingin membuat makanan untuk paman," ucapnya terbata.


Aku tertegun sesaat, pria muda dengan wajah oriental sama seperti Bapak Kentaro. Namun dia lebih manis, ah... seperti oppa-oppa yang digilai para gadis masa ini. Tubuhnya tinggi, dengan kulit seputih lobak seolah tidak pernah terkena sinar matahari. Sedangkan kulitku yang kuning langsat sangat terlihat kontras dengan orang itu. Rasa minder tiba-tiba muncul.


"Duh, lelaki kok mulus sekali," rutukku dalam hati.


Aku langsung mengalihkan pandangan dengan kikuk.


"Kebetulan, baru saja saya mau menjenguk Bapak Ken. Silahkan masuk!"


Aku membuka pintu rumah dengan lebar, melihat hal itu membuat pria muda tersebut mengeryit bingung.


"Pintunya tidak di tutup?"


"Oh, tidak apa-apa, saya lebih suka pintu terbuka," aku tersenyum simpul.


Bukan apa-apa, status single parent selalu memberikan kesan buruk di mata masyarakat. Menepis hal itu, aku selalu membuka pintu lebar-lebar jika mendapatkan tamu. Tau sendiri lah mulut tetangga lebih tajam dari pada silet.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach.


Jangan lupa sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


Hai readerku sayang, niat ingin hiatus lama tapi apa daya, imajinasiku terus mendesak untuk di salurkan. Kali ini kita akan di manjakan oleh brondong ganteng, oppa-oppa korea yang sangat jarang aku jadikan sebagai gambaran tokohku. mencoba peruntungan, semoga di novel kali ini aku bisa memberikan cerita yang lebih baik dari sebelumnya. salam sayang dari othor... love u all...!


__ADS_2