Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 22


__ADS_3

Author POV


Cuaca hari ini cerah, terlihat langit biru dengan awan putih menyertai. Matahari pun tidak begitu terik namun, sangat berkebalikan dengan suasana hati seorang pemuda yang sedang termenung di dalam kamar. Netranya terpaku pada jendela di seberang sana, jendela yang tertutupi gorden berwarna cream keemasan. Mendesah pelan sambil menghempas diri pada ranjang, kini maniknya menatap langit-langit yang berubah menjadi bayangan sang kekasih. “Laras…” ucapnya lirih.


Tidak berselang lama terdengar suara dering ponsel memecah keheningan, Dilan menggapai gawainya yang tergeletak tidak jauh darinya. Menatap sambil tersenyum tipis kala tau siapa yang membuat panggilan.


[Halo,] sapanya.


[Halo, Assalamu’alaikum Dilan… kamu dimana?] suara merdu terdengar memanjakan telinga Dilan.


[Wa’alaikum salam… aku di rumah, apa ada? Kangen ya?] godanya.


[Kamu masih bisa bercanda, kenapa kamu diam saja menerima hukuman itu?] nada tidak suka diberikan Laras.


[Tidak apa-apa,] sahut Dilan santai.


[Apanya yang tidak apa-apa? Aku akan pulang sekarang, kita harus bicarakan ini!] sergah Laras tidak terima.


[Kita ketemu di café saja, aku tunggu di sana,] usul Dilan.


Setelah itu pun akhirnya mereka bertemu di tempat yang telah disepakati. Dilan melambaikan tangan pada Laras yang baru saja sampai café. Rambutnya yang mulai memanjang bergoyang-goyang mengikuti pergerakannya yang terburu-buru, peluh keringat bahkan terlihat menghiasi keningnya. Dilan dengan sigap mengusapnya membuat wanita itu mau tidak mau tersipu malu. Tersenyum menawan dan mengajak Laras untuk duduk di sampingnya.


“Kemari, aku ingin bersandar di bahumu,” Dilan menundukkan kepala dan menaruhnya di bahu Laras. Pemuda itu menghirup dalam aroma menenangkan sang kekasih.


Laras yang salah tingkah memilih mengalihkan perhatian dengan membuka percakapan. “Hm.. Dilan… kenapa kamu tidak membela diri saat sidang tadi pagi?”


“Aku tidak mau jauh darimu, aku anggap itu keuntungan dari hukumanku,” Laras menoleh heran dengan jawaban Dilan.


“Jauh dariku?”


“Ya, aku akan mengajukan magang di sekitar sini, meski harus menunggu lama,” jelas Dilan.


Laras menggeleng tidak terima. “Dilan, aku sudah bernegosiasi dengan Dekan untuk hukumanmu. Jika kamu menghadap beliau dan meminta membatalkan penangguhan magang maka kamu bisa lulus tahun ini juga!” Laras menggenggam tangan Dilan.


“Tidak apa-apa, aku mau di sini saja bersamamu,” Dilan masih dengan keputusannya.


“Dilan!”


Dilan terdiam sesaat mendengar Laras yang mulai menegang.

__ADS_1


“Kau tidak ingin hubungan kita menjadi pantas? Atau kamu mau seperti ini seterusnya hingga nama baikku tercoreng akibat statusku yang seorang janda menggoda mahasiswanya?” tanya Laras dengan nada kecewa.


“Bukan seperti itu,” sergah Dilan.


“Lalu apa?” manik Laras mulai nanar.


Dilan yang melihat itu segera memeluk Laras erat dan membisikkan segala kegundahan hatinya. “Sungguh aku ingin segera mengajakmu jalan-jalan tanpa ada rasa takut dan prasangka dari semua orang, mengandeng tanganmu dengan tenang agar semua orang tau jika kau milikku, menonton film kesukaan kapan pun tanpa harus menunggu studio sepi karena takut orang mengenali kita. Aku sangat menginginkan itu tapi, aku juga belum siap jika harus berjauhan denganmu, 2 bulan bukan waktu sebentar bagiku untuk pergi, aku mohon kamu mengerti,” jelas Dilan panjang lebar.


Laras membulatkan matanya setelah mengetahui alasan mengapa Dilan tidak mengindahkan hukuman yang diberikan padanya, wanita itu pun tersenyum dan membalas pelukan Dilan.


“Baiklah, aku mengerti. Tapi aku akan tetap memintamu untuk mengikuti magang yang sudah dijadwalkan,” Dilan mengeryitkan kening mendengarnya. “Aku akan ikut denganmu, jadi kamu tidak perlu takut untuk berjauhan denganku,” pungkas Laras.


Dilan sampai mengurai pelukan lalu menatap Laras yang tersenyum simpul. “A-apa?”


“Aku akan mengajukan cuti yang selama 5 tahun ini tidak pernah ku ambil,” jawab Laras kembali.


Dilan terkejut sekaligus senang mendengar kabar gembira ini, bagamana tidak? Laras akan pergi bersamanya. Menemaninya di tempat magang nanti. Tiba-tiba Dilan menjadi tidak sabar menantikan hari itu.


“Kau serius? Kau tidak sedang bercanda kan?” kembali Dilan memastikan.


Laras mengangguk, saat itu juga Laras merasakan tubuhnya yang melayang akibat ulah Dilan yang menggendongnya. Laras sampai memekik karena terhenyak.


“Terima kasih, sayang,” Dilan tersenyum dan mengecup kening Laras. Yang bersangkutan memukul bahu Dilan karena tidak melihat tempat.


“Ini di tempat umum!” desisnya.


“Maaf, aku hanya terbawa suasana,” belanya tidak merasa bersalah.


Laras hanya mengerucutkan bibirnya kesal, untung keadaan café sedang sepi, kalau tidak bisa jadi tontonan gratis mereka ini. Mereka pun akhirnya memutuskan pulang ke rumah bersama. Sepanjang perjalanan Dilan tidak henti-hentinya tersenyum, tangannya terus menggenggam erat tangan Laras sesekali mengecupinya gemas.


Laras yang diperlakukan seperti itu hanya bisa pasrah dengan wajah merona. Jantungnya harus olahraga oleh tingkah Dilan tersebut. Sesampainya di rumah Dilan baru melepaskan genggemannya namun, sebelum Laras menuruni mobil pria itu meminta sesuatu.


“Kiss me please,” sambil tersenyum nakal, pemuda itu memainkan rambut Laras.


Laras gelagapan, Dilan benar-benar godaan terbesar dalam hidupnya. Pemuda tampan nan rupawan meminta ciuman padanya dengan senyuman nakal, sungguh meresahkan!


“Nanti… ada yang liat,” Laras memalingkan mukanya yang mulai memanas.


Tidak ada jawaban apapun, hanya keheningan yang membuat Laras mengeryit bingung, akhirnya wanita itu menoleh pada sang kekasih yang ternyata langsung menarik tengkuknya dan mendekatkan wajahnya. Kejadian itu begitu cepat, yang Laras tau jika Dilan telah memangut bibirnya lembut.

__ADS_1


Tidak mampu menolak, wanita itu pun ikut terhanyut dengan permainan lidah Dilan. Semakin lama belitan itu menjadi semakin dalam, semakin instens hingga membuat Laras kehabisan nafas. Dilan yang menyadari itu melepas ciuman sesaat sebelum kembali mencecap bibir yang begitu candu untuknya.


Suara kecupan membuat suasana semakin memanas, ditariknya tubuh Laras hingga kini duduk di atas pangkuan pemuda tersebut. Tidak ada niat untuk berhenti, Dilan mendekap erat Laras yang akhirnya meloloskan desahan kala tangannya meremas gunung kembar wanita itu.


“Ahhh… Dilan…”


“Ya…”


“Sudah,” rintih Laras yang merasakan gesekan ibu jari Dilan yang memutar niplenya.


“Sebentar lagi,” kembali mencium ibu satu anak itu, memberikan sentuhan pada Laras yang hampir kehilangan kesadaran jika mereka sedang di mobil.


“Dilan… ingat janjimu,” Laras meracau mencoba menghentikan Dilan.


Pemuda itu mengulum senyum di tengah cumbuannya, “Aku ingat,” itu hanya ucapan saja. Dilan justru seolah memancing agar hal diinginkannya terjadi. Buktinya sesuatu di bawah sana mulai mengeras, Dilan menikmatinya.


“Sedikit saja, tidak apa-apa ya…” tawarnya yang langsung mendapat gelengan dari Laras.


“Kamu sudah janji!” Laras berusaha menarik diri namun, ditahan oleh Dilan.


Pemuda itu menampakkan wajah memelas. “Iya… aku tidak akan melakukannya, cuma di depan… tidak akan masuk… sebentar saja…” rengekan itu membuat Laras pening. Laras tau itu hanya akal-akalan Dilan, dan Dilan pun hanya menguji Laras. Terpancingkah wanita itu?


Laras terdiam dengan melipat tangannya. “Tidak boleh!” ucapnya tegas.


Pemuda itu tersenyum dan menjawil hidung kekasihnya. “Kuat juga ya kamu,” Laras mendelikkan maniknya kesal. Ekspresi itu malah membuat Dilan semakin ingin memakannya.


“Kamu mengujiku?"


"Tidak juga... karena jika kamu terpancing itu adalah rezeki yang tidak bisa ku tolak," kekehnya.


"Dasar penggoda!" cibir Laras.


Dilan tergelak dan hendak kembali memeluk Laras namun, kegiatan mereka terpaksa terhenti ketika seruan seseorang terdengar dari luar mobil.


"Ma..!"


Tbc.


Please like, rate, dan votenya yach!

__ADS_1


Sertakan juga komment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2