
Santi setelah mengemudi Beberapa menit kemudian sampai di rumah orang tua Arya. Nanti dengan penuh percaya diri menenteng oleh-oleh untuk calon mertuanya. Sementara itu Mama Dewi sedang duduk di teras menikmati makanan ringan dan membaca koran.
“Pagi tante? Wah tante asyik sedang menikmati membaca? Maaf aku mengganggu tante?” ucap Santi basa-basi dan langsung menyalami punggung tangan tante Dewi.
“Pagi juga sayang? Apa kamu tidak masuk kantor?” tanya tante Dewi pada Santi dengan penuh kasih sayang. Tante Dewi berusaha menerima Santi meskipun dalam hati kecilnya menolaknya.
“Tidak tante, tadi izin sengaja tidak masuk karen ingin menjenguk Sekar. Tapi sayang Sekar terlihat tidak senang jika aku menjenguknya,” ucap Santi menghela nafasnya seolah-olah ingin membeberkan sesuatu tentang Sekar, namun dibatalkan niatnya.
“Sayang bukan tidak senang, tapi belum terbiasa. Sekar memang seperti itu tapi aslinya baik. Coba kamu dekati dia,,” ucap mama Dewi yang sengaja memuji Sekar, karena bagaimanapun Sekar itu memang dari kecil menjadi momongannya.
“Iya tante, aku mengerti. Ini ada beberapa oleh-oleh utuk tante dan om,” ucap Santi sambil meletakan oleh-olehnya di meja.
“Iya…, terimaksih,” ucap Tante Dewi yang kemudian berdiri mengajak Santi masuk ke rumah. Mama Dewi menyuruh bibik untuk membuatkan minuman untuk Santi dan dirinya.
“Ayo…, ikut tante. Tante akan menjelaskan tentang sesuatu denganmu!” ucap tante Dewi yang terus menggandeng Santi masuk ke ruang baca. Tante Dewi kemudian memperlihatkan album foto milik Arya. Arya kecil nampak begitu manis dan lucu.
“Ini Arya tante?” tanya Santi setelah membuka album lebar per lembar sambil tersenyum sendiri. Arya nampak lucu dan menggemaskan.
“Iya itu Arya. Arya anak tante satu-satunya. Makanya begitu tante mendengar Arya mau tunangan dengan kamu maka tante sangat senang. Tante berharap kamu sama Arya segera menikah. Kamu harus jadi ibu yang baik untuk anak-anak Arya. Tante juga berharap kamu bisa melahirkan banyak cucu untuk tante,” ucap tante Dewi sangat mengharapakan cucu yang banyak dari Arya.
“Hem…, iya tante! Terimakasih do’anya. Semoga aku dan kak Arya bisa memenuhi harapan tante,” ucap Santi basa-basi. Santi berharap dirinya hanya mempunyai 2 anak saja.
“Iya sayang, tante mohon kamu bisa memenuhi harapan tante. Tante juga sudah menyiapkan hadiah untuk kalian jika kalian segera melangsungkan pernikahan,” ucap mama Dewi yang sengaja disampaikan agar Santi bersemangat untuk menjadi calon ibu dari putranya Arya. Di tengah-tengah mereka ngobrol tiba-tiba papa Hari muncul.
__ADS_1
“Lo…, ada calon mantu ya? Wah pasti ini ada Arya,” ucap papa Hari tiba-tiba entah dari mana munculnya hingga mengagetkan Santi.
“Iya om! Om Hari tidak ke kantor?” tanya Santi basa-basi kemudian mendekatai calon mertuanya.
“Tidak! Ada apa kamu kesini?” tanya Hari kembali karena dirinya mencurigai kalau Santi ke rumahnya tanpa Arya pasti membawa misi tertentu.
“Papa? Tanyanya kok ketus banget sich? Kasihan Santi ketakutan?” ucap mama Dewi berusaha menghibur Santi.
“Mama…, apa salahnya papa tanya?” ucap ayah yang merasa kesal dengan ulah mama Dewi yang sok mencari muka dihadapan calon menantunya.
“Iya…, papa tidak salah. Papa paling benar kok karena papa segalanya di rumah ini!” ucap mama Dewi sambil tersenyum puas di hadapan suami dan calon menantunya. Kemudian mama Dewi mengajak Santi pergi lagi menuju ke depan berganti tempat ngobrol.
Sementara itu di rumah sakit Sekar semakin manja minta diperhatikan oleh om Arya. Saat makan siang dan minum obat Sekar tidak mau sehingga om Arya terpaksa menyuapinya.
“O…, berarti om Arya keberatan kalau menunggu Sekar di rumah sakit. Kalau begitu om pulang saja! Aku bisa tinggal sendiri di sini ditemani suster,” ucap Sekar kesal sambil membalikan mukanya menghadap ke tembok.
“Sekar, kamu sudah dewasa jangan merajuk terus sama om. Iyu tidak baik Sekar?” ucap Om Arya agak melunak.
“Kenapa kalau aku merajuk sama om Arya? Apakah itu memalukan? Aku rasa itu sah-sah saja karena aku perempuan dewasa yang juga punya rasa sama om Arya,” ucap Sekar nyerocos sambil memanyunkan bibirnya yang sebenarnya membuat Arya semakin gemas dengan Sekar. Namun Arya yang dari awal ingin komitmen dengan Santi langsung menepisnya karena bagaimanapun dia merupakan lelaki yang setia sama pasangannya.
“Sekar, itu tidak mungkin. Om sayang sama kamu kaena om menganggap kamu sebagai keluarga sendiri,” ucap Arya sambil menghela nafasnya agak panjang.
“Ok, kalau om bersikeras seperti itu lebih baik om Arya pulang saja, aku akan telpon Cindi saja biar kesini,” ucap Sekar marah kemudian mengambil ponselnya dan memencet no Cindi. Tidak lama kemudian terdengar suara Cindi yang nyempreng dari seberang.
__ADS_1
“Sekar, katanya bibi kamu sakit. Aku tadi ketemu bibi di pasar. Kamu sakit apa? Kenapa kamu yang kuat bisa tumbang fan sakit?” tanya Cindi nyerocos tidak jelas.
“Bawel, sudah tahu temannya sakit, kenapa tidak segera di besuk?” tanya Sekar sambil manyun lewat vidio call.
“Iya, aku mau kesana. Ini Andika juga mau ikut? katanya kangen juga sama kamu?” ucap Cindi dan langsung menutup ponselnya saking senangnya karena akan bertemu dengan Sekar.
“Astaga bukanya aku belum tahu ruangannya?” gumam Cindi lirih sambil mengetik ponselnya untuk meminta Sekar Share lokasi.
Sekar yang tahu kebiasaan Cindi langsung share lokasinya, seolah nyambung dengan angan-angan Cindi. Cindi tertawa senang karena temannya tahu apa yang dimau.
Sementara Arya yang masih duduk mematung di dekat Sekar langsung bertanya kepada Sekar tentang Andi.
“Sekar, kamu jangan main-main. Siapa Andika?” tanya Arya dengan sedikit emosi, namun Sekar cuek dan tidak mempedulikannya. Arya yang emosi dengan tiba-tiba merebut ponsel Sekar dan membantingnya.
“Brak…, prenk!” Ponsel Sekar berserakan di lantai menjadi beberapa bagian. Sekar matanya berkaca-kaca dan meneteskan air matanya melepaskan rasa kecewanya.
“Benar-Benar, Om Arya jahat. Hik…, hik…, ponsel Sekar rusak!” ucapnya sambil menangis.
“Siapa suruh ditanya orang tua tidak memperhatikan? Apa itu baik? Apa seperti itu kalau bersikap sama orang yang lebih tua?” tanya om Arya penuh emosi dan tubuhnya berguncang menahan rasa amarahnya.
“Biarin. Salah sendiri om Arya menyebalkan dan selalu menyakitkan Sekar. Bukankah om yang mulai? Dan apa peduli om sama teman Sekar? Bukankah Sekar berhak memilih teman?” tanya Sekar kepada om Arya sambil menangis dan sesekali mengusap air matanya. Dan Sekali lagi Arya merasa kasihan dan direngkuhnya Sekar dalam pelukannya kemudian diusap-usap punggungnya untuk menenangkannya. Arya kembali menghela nafasnya karena bagaimanapun kalau Sekar menangis yang ada dirinya terasa sakit.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?
__ADS_1