TERJERAT PESONA OM TAMPAN

TERJERAT PESONA OM TAMPAN
Panik


__ADS_3

Arya turun dari mobilnya buru-buru langsung masuk ke dalam rumah dan melupakan Santi yang masih dalam mobil.


“Gila begitu beraartinya gadis kecil itu hingga melupakanku, aku tidak akan tinggal diam. Bagaimanapun aku tetap nomor satu di hatinya. Aku akan menyingkirkan gadis kecil itu dari hidup kak Arya,” gumam Santi lirih dan pelan-pelan turun dai mobilnya dan mengikuti Arya yang panik.


“Sayang,  kamu sakit apa?”  tanya Arya begitu sampai di depan Sekar yang sedang meringkuk di dalam ranjang dengan selimutnya.


“Om…, Arya! Sakit, kepala aku pusing dan badan aku panas!”Jawab Sekar dengan tubuh yang menggigil dengan mata yang masih terpejam.  bahkan Sekar tanpa sadar memanggil-manggil nama kedua orang tuanya. Arya yang mendengar Segar seperti itu tidak tega dan langsung mendekapnya kemudian diangkat tubuhnya untuk dibawa ke rumah sakit.


“Bik…,   tolong siapkan baju Segar dan peralatan lainnya, kita akan membawa Sekar ke rumah sakit,” ucap Arya sambil menggendong Sekar menuju ke mobil.


“Baik pak!” jawab sang bibik dan bergegas mengambil beberapa baju Sekar untuk dimasukan dalam tas. Sementara itu Santi yang berjalan menuju ke rumah berpapasan dengan Arya. Dan Arya langsung memerintahnya untuk memegang kemudi.


“Santi,  keadaan darurat jadi tolong kamu pegang kemudi nya!  Kita mau ke rumah sakit!” perintah Arya yang tidak mampu ditolak oleh Santi. Dengan perasaan dongkol Santi berbalik arah berjalan menuju mobil area yang masih diparkir di halaman.


“Benar-benar sial nasibku hari ini.  Awas kau gadis kecil,  Kamu tidak akan aku biarkan merebut kembali Kak Arya dari tanganku,” gumam Santi lirih.


“Tuan ini baju dan kelengkapan lainnya milik non Sekar!” Ucap pipit tiba-tiba yang menyadarkan lamunan Santi.


“Terima kasih Bik!  Do’akan Sekar tidak parah sakitnya!” ucap Arya penuh rasa kuatir berada di dalam mobil memangku tubuh Sekar yang menangis menahan sakit.


“Sayang, ayo segera jalankan mobilnya! Kita jangan sampai terlambat!” perintah Arya kembali dan membuat hati Santi sakit teriris seperti teriris sembilu.


“Iya…kak! Sebentar!” Santi langsung tersadar dari lamuannnya dan langsung menyalakan mobilnya dan mengemudi menuju rumah sakit terdekat.


Begitu sampai rumah sakit, Arya dengan panik membawa Sekar menuju IGD.


“Dokter…, tolong bantu keponakan saya!” teriak arya begitu sampai di depan pintu IGD. Seseorang yang mengenali Arya yang merupakan pemilik rumah sakit tersebut langsung menghampirinya dan memeriksanya.


Arya menunggu Sekar dengan perasaan cemas dan tidak menentu.

__ADS_1


“Sayang, Bagaimana keadaan Sekar sekarang?”  tanya Santi pura-pura mencemaskan  Sekar.


“Kita masih menunggu hasil  pemeriksaan dari dokter jaga,  Terima kasih kamu juga membantuku untuk menyelamatkan Sekar,” ucap Arya yang duduk di sebelah Santi di ruang tunggu.


“Iya…, kamu yang tenang. Sekar pasti selamat, dia sudah ditangai oleh dokter yang profesional!” ucap Santi pura-pura menghibur Arya padahal dalam hatinya dia berharap Sekar tidak selamat.


Santi memegang tangan Arya dan pura-pura menguatkannya. Arya sesekali menghela nafasnya dan mengusap rambutnya beberapa kali. Arya nampak galau jika Sekar sakit, entah karena Sekar sejak kecil bersamanya atau karena dirinya juga memendamperasaan terhadap Sekar.


Dan tidak lama kemudian dokter memanggilnya, dan Arya mengikutinya masuk di ruang khusus.


“Dokter, bagaimana keadaan Sekar? Sekar sakit apa,  hingga dia seperti itu?” tanya Arya cemas.


“Sebenarnya keadaan segar tidak begitu mencemaskan,  akan tetapi mintanya sedikit terganggu sehingga mempengaruhi kesehatannya. Sekar menderita penyakit lambung akut karena makannya yang tidak teratur  dan terlihat dirinya memandang sesuatu ,” jelas dokter jaga kepada Arya.


Arya menghela nafasnya dalam-dalam,  ia merasa bersalah karena Sekar sakit pasti karena penolakan dirinya terhadap Sekar.


“ Sekar harus opname,  dan kita juga harus observasi keadaan Sekar kedepannya,” ucap dokter kepada Arya.


“Baiklah,  apapun yang terpenting terbaik buat Sekar.  Tolong selamatkan Sekar!” ucap Arya meminta kepada dokter tersebut.


“Kita akan berupaya semaksimal mungkin,  akan  tetapi semua semuanya tergantung atas kemauan dan semangat Sekar. Karena bagsimanapun yang terberat adalah masalah mentalnya. Kemungkinan Sekar tidak mau makan karena depresi berat,” ucap dokter tersebut menjelaskan.


“Baiklah, aku akan segera membujuknya. Terimakasih dokter, untuk perawatan Sekar tolong pindahkan di kamar VVIP!” ucap Arya memberi perintah, karena bagaimanapun itu juga rumah sakit Arya.


“Baik, perintah akan kami laksanakan!” ucap dokter tersebut kemudian memanggil perawat untuk memindahkan Sekar di ruang perawatan. Arya kemudiaan mengikuti perawat tersebut menuju ruang perawatan Sekar diikuti oleh Santi.


Setelah dalam ruangan Sekar nampak tertidur karena pengaruh obat yang telah ddimasukan melalui injeksi inpus. Arya duduk disamping ranjang Sekar dan memegangi tangan Sekar. Hal itu tidak lepas dari pengamatan Santi hingga dia cemburu melihat pemandangan tersebut.


Santi berkali-kali menghela nafasnya kemudian meminta izin Arya untuk pulang. Arya terperanjat kaget karena dirinya terlalu mengkawatirkan Sekar hingga melupakan Santi kekasihnya.

__ADS_1


“Sayang, kalau kamu pulang tunggu Riki dulu. Aku meminta Riki untuk mengantar kamu!” ucap Arya enteng tanpa mempedulikan perasaan Santi.


“Sayang aku pacar kamu, kenapa Riki yang harus mengantar aku?” tanya Santi agak emosi.


“Sayang, aku mohon pengertian kamu. Sekar sakit dan membutuhakan aku. Aku tidak mungkin meninggalkannya, lihatlah badannya begitu lemah!” ucap Arya memang terlihat mencemasakan Sekar. Santi yang mengetahui itu merasa kalau hubungannya dengan Arya akan hancur jika dirinya bersikeras minta diantarkan Arya pulang. Santi kembali terdiam namun matanya berkaca-kaca menunjukan rasa kecewanya dia.


“Aku harus mengalah dulu, bagaimanapun aku harus bisa menikah dengan Arya. Aku harus sabar toh sebentar lagi aku akan tunagan dengannya,” gumam Santi lirih sambil mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh Arya.


“Biklah! Bagaimanapun Sekar masih tanggungajawab kamu. Aku paham itu, kamu yang membesarkannya sejak kecil!” ucap Santi berusaha menghibur dirinya.


“Terimakasih sayang, kamu begitu pengertian,” ucap Arya sambil mencium kening Santi. Semantara itu Sekar yang terbangun pura-pura merintih kesakitan berusaha menarik perhatian Arya. Arya yang kaget dan mendenar rintihan Sekar langsung berbalik menghadap ke arah Sekar.


“Sekar sayang, kamu sudah terbangun. Yang sakit mana?” tanya om Arya yang langsung memegangi tangan Sekar dan mencoba mengecek suhu badannya dengan menempelkan tangannya ke kening Sekar.


“Om…, pusing, mual dan nyeri! Sekar rsnya mau muntah,” ucap Sekar hendak duduk di ranjang.


“Hai…, kamu mau kemana?” tanya Arya cemas kemudian membimbing Sekar untuk turun dari ranjangnya.


“Aku mau ke kamar mandi om,” ucap Sekar yang pelan-pelan mau turun dari rnajang. Santi yang merasa terusik dengan sikap Sekar kemudian mendekati Sekar dan menggantikan Arya mengantarkan Sekar ke kamar mandi.


Sekar yang begitu membenci Santi langsung muntah di depan Santi dan membasahai baju Santi.


“Ah…, apaan ini Sekar! Kamu kurang ajar sekali, kamu sengaja ya memuntahkannya ke bajuku?” tanya Santi penuh emosi.


“Sayang, kamu yang sabar. Sekar lagi sakit!” ucap Arya mendelik dihadapan Santi. Santi yang teringt misinya hanya terdiam dan berusaha meredam emosinya.


Dan kebetulan sekali Riki datang, kemudian Santi meminta Riki untuk segera mengantarnya pulang. Setelah pamit basa-basi Santi langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?

__ADS_1


__ADS_2