
Pagi hari suasana terlihat begitu cerah, sejarah harapan Sekar karena hari ini kemungkinan dirinya boleh pulang ke rumah. Arya yang berada di dekatnya nampak begitu perhatian terhadap Sekar. Arya menyuapi Sekar dengan makanan yang sudah siap disediakan oleh rumah sakit.
Sekar nampak begitu ceria karena perhatian Arya hari ini sungguh di luar dugaannya. Arya terlihat tanpa beban menyuapi Sekar, sesekali Arya bercanda dengan Sekar seolah melupakan kejadian kalau Sekar berharap terhadapnya.
“Sekar, Hari ini kamu boleh pulang! Tadi Om sudah ah ngobrol dengan dokter kalau kesehatan kamu sudah baik. Untuk kontrol berikutnya nanti hari Rabu,” ucap om Arya membuka pembicaraan dengan Sekar.
Sekar yang masih mengunyah makanannya hanya bisa menganggukkan kepalanya dan menatap om Arya dengan penuh rasa gembira.
Setelah selesai menyuapi makan Sekar, Arya kembali ke sofa duduk untuk mengerjakan pekerjaan kantornya. Kemudian meringkasi semua hasil pekerjaan untuk di taruh di dalam tasnya. Dan tidak berapa lama kemudian Arya menelpon Riki untuk menjemputnya.
Arya selama Sekar sakit tidak ke kantor namun hari ini Arya akan pergi ke kantor karena ada klien yang hendak teken kontrk bersamanya. Sekar memperhatikan Arya dan sedikit ada rasa kecewa setelah mendengar telpon Arya dengan Riki.
“Sekar, nanti mang Akri dan bibi akan menjemput kamu, jadi maaf om tidak bisa mengantar kamu pulang. Klien om di kantor sudah menunggu,” ucap Arya sambil memasukan beberapa dokumen ke dalam tasnya.
“Baik, om!” ucap Sekar yang sesungguhnya hatinya terasa sakit karena harapan untuk berdua dengan om Arya di rumah hanyalah bayangan belaka. Arya nampak tidak mempedulikan apa yang berkecamuk di dalam hati gadis itu. Arya kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti bajunya dengan baju kantor yang kemarin suda disediakan Riki.
Setelah selesai bersiap, Arya kembali mendekati Sekar yang masih berbaring di pembaringan. Sekar kemudian berusaha duduk di tepi ranjang dan hendak berdiri menuju ke kamar mandi. Entah sengaja atau tidak sengaja tiba-tiba dirinya terhuyung jatuh ke dalam pelukan Arya. Sekar nampak meringis kesakitan menahan kakinya. Arya dengan sigap menangkap tubuh Sekar hingga mereka berdua saling memandang.
Arya membuang mukanya dengan mengalihkan perhatian memindahkan Sekar duduk kembali di atas ranjangnaya.
“Sekar, kamu kenapa?” tanya om Arya dengan penuh rasa kuatir.
__ADS_1
“Ini om, tiba-tiba kaki Sekar terasa sakit dan ngilu!” ucap Sekar sambil memegangi kakinya yang terihat memerah.
“Ini namanya kram. Miungkin karena kamu terlalu banyak tidur dan kaki kamu kaku karena lama tidaj digerakan,” ucap Arya dengan telaten memijit kaki Sekar. Sekar nampak meringis kesakitan menahan sakit di kakinya.
Di saat kurang tepat Riki datang dan Arya merasa kikuk kemudian menyudahi aksi memijaat kaki Sekar.
“Bro, semua yang diminta sudah aku siapkan di mobil,” ucap Riki begitu sampai di hadapan bosnya.
“Baik, terimaksih. Kita bernagkat menunggu si bibi datang,” ucap Arya yang sudah kembali di sofa ngobrol dengan Riki.
Riki membisikan sesuatu di telinga bosnya. Riki mengatakan kalau Santi hari ini juga menghadiri rapat dengannya karena klien itu atasan Santi.
“Tidak masalah!” ucap Arya sambil melirik ke arah Sekar yang berbaring di ranjang. Sekar sudah asik dengan ponsel barunya. Sekar kemudian menelpon Cindi untuk segera datang ke rumah sakit untuk menjemputya kaena sebentar lagi dirinya boleh pulang.
Dan kebetulan di saat yang bersamaan bibi datang bersama pak Akri. Arya kemudian pamit untuk berngkat kerjaa dan menyerahkan sepenuhnya pada pak Akri da bibi, Sekar memonyongkan bibirnya sebagai bentuk rasa kecewanya. Arya mengetahui hal itu, tapi dirinya pura-pura tidak tahu.
Sementara itu di parkiran Riki menggoda bosnya. “Hem katanya sih tak cinta, tapi tiap hari nempel terus dan seolah tidak bisa dilepaskan,” ucap Riki yang sudah berada di dalam mobil bersebelahan dengan Arya.
“Ngaco ya kamu? Dia kan sekedar anak aangkat. Lagian aku kan sudah ada Santi,” jawab Arya sekenanya. Namun tanpa disadari Arya telah melupakan Santi ketika berada di rumah sakit. Riki hanya menggelengkan kepalanya dengan jawaban bosnya, karena Riki yain perasaan Arya ke Sekar tidak sekedar om ke keponakannya atau ayah angkat ke anaknya.
Riki tak ambil pusing dengan permasalahan bosnya. Riki menyalakan kendaraannya kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan ke kantor. Dengan pelan Riki mengemudikan kendaraannya keluar dari area parkiran rumah sakit.
__ADS_1
Sementara itu Sekar yang jengkel karena yang mengantar pulang bukan Arya terlihat ngambek dan tidak mau ngobrol sepatah katapun dengan bibi maupun mang Akri sopirnya.
“Non, tadi tuan muda memang ada meeting penting, jadi non Sekar jangan ngambek seperti itu!” ucap si bibi berusaha menenagkan Sekar.
“Meeting apaan? Paling-paling juga ketemu sama tante lampir si Santi!” ucap Sekar jengkel karena rasa cemburunya.
“Iya tidak apa-apa to non? Sebentar lagi mereka kan tunangan dan berlanjut menikah!” jawab bibi semakin membuat Sekar emosi.
“Bibi, om Arya selamanya milik aku! Si lampir Santi ataau siapapun tidak boleh memiliki om Arya!” ucap Sekar dengan kesal membalikan mukanya menghadap ke kaca cendela mobil melihat pemandangan di luar mobil.
Si bibi menghela nafas dalam-dalam, karena bagaimanapun Santi masih remaja dan belum mengenal arti kehidupan sebenarnya. Si bibi kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan menanyakan Cindi yang katanya hendak datang menjemputnya.
Sekar pun mengatakan kalau Cindi ternyata langsung ke rumah karena ada sesuatu yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Si bibi kemudian memilih diam tidak mau berdebat kembali dengan Sekar. Si bibi hanya bisa berharap agar tuannya Arya tidak terlibat cinta yang lazim dengan anak angkatnya.
Mang Akri yang paham dengan situasi juga tidak mau berkata apa-apa. Mang Akri memilih untuk diam dan konsentrasi menyetir karena memang jalanan sedikit ramai.
Setelah kurang lebih 10 menit mereka membelah jalanan beraspal menuju kediaman Arya akhirnya sampai juga. Sekar yang merasa penat berada di rumah sakit meminta bibi untuk menyiapkan ramuan terapi untuk berendam di dalam buth up.
Si bibi yang sudah tahu kebiasaan nona mudaanya segera beranjak pergi menuju kamar Sekar dan menyiapkan apa yang telah diminta oleh Sekar.
Kamar mandi Sekar di desain dengan cukup bagus dan dilengkapi dengan ruang perawatan kecantikan. Arya dari Sekar kecil selalu menyiapkan semua kebutuhan Sekar dengan barng-barnag yang cukup mewah tanpa memperhatikan kalau Sekar sesungguhnya hanyalah anak angkat yang diambilnya saat terjadi kecelakaan.
__ADS_1
Setelah semuanya siap, si bibi memberi kode kepada Sekar untuk segera mandi. Bahkan si bibi memperlakukan Sekar seperti putrinya Sendiri. Semua perelngkapan mandi sudah disiapkan termasuk baju gantinya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?