
Hari ini hari libur, Sekar ingin berolahraga di sekitar alun-alun. Sekar meminta Cindi juga ikut dengannya.Cindi yang memang sahabatnya langsung meluncur menuju rumah Sekar. Sedngkan Sekar sudah menunggu Cindi dengan baju olahraganya duduk di teras. Arya memperhatikan gerak-gerik dari Sekar kemudian Arya berguman dalam hatinya.
“Pasti dia mau olahraga, daripada bete lebih baik aku ikutin saja Sekar!” kemudian Arya kembali ke kamarnya untuk menganti bajunya dengan baju olahraga. Setellah semuanya siap Arya ke luar menuju teras. Namun Arya yang egois dan agar tidak terlihaat mengikuti Sekar, pura-pura olahraga di halaman depan. Sementara itu Sekar tidak memperhatikanArya dan pura-pura cuek dengana aktivitasnya yang memegang ponsel. Arya semakin kesal dengan Sekar dan hendak menghampirinya namun beleum sempat melampiaskan kekesalannya tiba-tiba Cindi datang.
“Pagi om Arya? Lagi olahraga ya? Om gabung yuk dengan kita? Jogging ke alaun-alun!” ucap Cindi centil menyapa Arya sehingga membuat Sekar cemburu dengan Cindi. Sekar merasa temannya itu ada yang aneh. Sekar memandaangi Cindi dengan penuh rasa curiga dan berbisik pada cindi.
“Awas ya kalau kamu bekerjasama dengan om Arya dan Riki! Aku paling tidak suka kalau sahabat aku menikun aku daari belakang!” ucap Sekar kepada Cindi sekaligus mengancamnya.
“Ih…, jangan berprasaangka buruk dulu! Aku tidak besekongkol dengan mereka! Buktinya kak Riki juga atidak ada di sini!” ucap Cindi belum selesai pembicaraanya tiba-tiba Riki nongol dengan kendaraannya dan langsug memarkirakan kendaraanya menuju tempat yang teduh.
“Tuh kan si Clurut anteknya om Arya sudah dartang,” ucapSekar sekenanya hingga membuat Cindi kesal.
“Apa? Kau mengatakan kalau kak Riki itu clurut? Sekar kamu payah banget ya? cowok ganteng kayak gitu dikatakan Clurut?” ucap Cindi yang tiba-tiba menjadi pembela Riki. Sekar pun hanya bengong memandangi sahabatnya itu. Sekar merasa bahwa sekarang dirinya tidak ada yang membantunya apalagi temannya sudah berteman dengan mereka berdua.
“La habisnya kalian menyebalkan! Apalagi kamu Cin sudah tidak mau membela aku lagi!” ucap Sekar kesal dengan Cindi. Arya yang mengetahu posisi mereka berdua, dengan cepat langsung memutuskan untuk segera jogging menuju alun-alun.
“Riki…! Kita beragkat, tolong mobilnya di keluarkan! Kita pakai mobilku saja!” ucap Arya sekaligus memberikan kunci pada Riki. Riki pun dengan cekatan langsung mengambil kunci mobil milik Arya dan lansung menghampiri mereka yang sudah ada di depan.
“Ayo naik!” ucap Arya membuka pintu mobil bagian belakang untuk Sekar. Sekar masih manyun terbawa keadaan. Sekar dengan gontai masuk ke dalam mobil. Sementara itu Cindi otomatis masuk di bagian depan di samping Riki.
“Jangan ikut-ikutaan manyun, aku tidak suka dengan orang yang mukaanya ditekuk ae!” bisik Riki kepada Cindi. Cindi menyebikan bibirnya kemudian membuang mukanya menghadap ke kaca melihat pemandangan luar.
__ADS_1
“Awas ya? Kalau ke depannya kamu jatuh cinta sama aku, tidak akan aku lepaskan. Tiap hari kamu akan aku mangsa!” ancam Riki kepada Cindi hingga akhirnya Cindi menempatkan posisinya seperti semula. Riki pun tertawa senang melihat perubahan Cindi.
Sementara itu Arya masih diam dengan posisinya termasuk Sekar masih nerawang tidak jelas dengan pikirannya. Sekar tidak habis pikir kalau acaranya pagi ini dikacaukan oleh Arya dan Cindi temanya yag diam-diam bersekongkol dengan Arya.
“Sudahlah jangan manyun aja! Ciptakan suasana pagi hari ini dengan senyuman dan penuh keceriaan biar rezekinya lancar!” bisik Arya memulai pembicaraan.
“Habisnya om sich! Ngapain juga ikut-ikut di acara kita!” ucap Sekar sinis kaena Sekar masih kecewa dan ngambek atas sikap Arya yang dekat dengan bu dosen di kampusnya.
“Dasar! Anak kecil! gitu saja ngambek! Awas cepat tua lo? Nich uban kamu sudah mulai tumbuh! ucap Arya menggoda Sekar dengan menunjuk rambut Sekar yang ada benang putih nyangkut di rambutnya. Sekar pun dengan sigab langsung mengambil benang tersebut tersebut.
“Ih …, ini mah cuman benang. Tadi kan aku lagi ngobrol sama bibi yang lagi menjahit!” ucap Sekar hingga akirnya mengundang tawa orang yang ada di depannya.
“Aku kira kamu sudah ubanan! Aku panggil mbah Sekar dong?” ucap Cindi nyambung ucapan Arya untuk menggoda Sekar. Sekar semmakin panas dengan kata-kata sahabatnya. Sekar masih memanyunkan bibirnya karena rasa jengkelnya.
“Kamu itu kalau seperti ini buat om gemas! Awas manyun lagi om akan berbuat sesuatu agar kamu bisa ceria seperti biasanya! Om akan…!” Arya menghentikan ucapannya karena Arya menyadaari kalau disekelilingnya ada orang lain.
“Akan apa om?” tanya Sekar polos dengan bibirnya yang masih manyun.
“Akan meninggalkanmu di jalan! Seperti dulu kamu ingat gak mas minta dibelika balon tapi sama gerobak dan orangnya! Jadi om tinggalin kamu dengan penjual balon! Kamu pun akhirnya menangis kejer lari mengejar om!” ucap Arya mengingatkan kenangan Sekar waktu kecil.
“Iya. Sekar ingat sebenarnya yang membuat kesal om ituj bukan membeli balonnya! Tapi aku minta penjual balon untuk tinggal di rumah kita dan setiap hari harus meniukan balon warna-warni sesuai warna Pelangi.
__ADS_1
“Ih kamu ternyaata bandel juga ya?” uvap Cindi yang tiba-tiba ikut nimbrung lagi hingga akhirnya Riki mengingatkan Cindi dengan bisikannya.
“Hem…, bisa diam tidak? Berilah kesempatan mereka untuk mengungkapkan isi hati mereka. Dan kamu cukup jadi pendengar seia saja. Dan yang terpenting kau fokus sama aku!” ucap Riki sambil terus fokus mengemudi.
“Tidak bakalan! Aku tidak akan fokus sama kamu! Enak aja main suruh-suruh aja memangnya akubawahan kamu!” ucap Cindi gregetan dengan tingkah Riki yang lama-lama menyebalkan tingkat tinggi.
“Udah jangan ngobrol aja! Kita sudah sampai ayo segera turun! ucap Arya meberi peringatan kepada Riki dan Cindi. Riki dengan cekataan langsung mencari tempat parkir yang aman dan nyaman utuk kendaraannya. Setelah memarkirkan kendaran mereka langsung olahraga lari kecil mengitari alun-alun.
Arya selalu mendampingi Sekar sementara itu Cindi mengikuti di belakanngnya diikuti oleh Riki. Mereka berempat nampak bahagia dan menikmati keindahan di pagi hari di alun-alun. Sudah 3 putaran mereka mengelilingi alun-alun namun tiba-tiba Sekar merintih kesakitan karena kakinya tiba-tiba asuk di lubang biopori yang tutupnya entah hilang kemana.
“Aduh, sakit! Kaki aku tidak bisa digerakan!” ucap Sekar sambil merintih menahan sakit. Arya pun dengan cekatan menarik kaki Sekar dan memijitnya. Arya memerintahkan Sekar untuk mencoba berjalan namun baru beberapa langkah Sekar meringis menahan sakit. Arya yang tidak tega langsung kembali menggendongnya.
“U’dah kamu diam! Ayo kita pulang saja! Riki kita pulang!” perintah Arya tegas hingga Riki yang mendengar tidak au menundanya dan langsung menuju mobil diikuti Cindi.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya? Kalau waktu longgar boleh lo kepo tentang cerita kita yang lain 👍
Misteri Menantu Pengganti
Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Buah Hati Ceo Pendendam
__ADS_1
Si Buruk Rupa Mengejar Cinta