
Sementara itu Cindi celingukan mencari adiknya Riki dengan identitas yang disebutkan dalam ponselnya. Cindi berguman daam hatinya mencari cewek yang berhijab hijau dan membawa rangsel warna biru. Dan tidak lama kemudian dirinya mengetahui seseorag dengan ciri-ciri tersebut.
“Mega!” teriak Cindi memanggil cewek tersebut. Cewek tersebut langsung menoleh menuju dirinya. Kemudian menghampirinya diikuti oleh seorrang ibu yang seumuran dengan mamanya. Cindi salah tingkah dengan ibu tersebut yang dengan sengaja memperhatikan dirinya dari atas hingga bawah tubuhnya. Cindi semakin kikuk tak kala sang ibu langsung menghampirinya.
Cindi kemudian mengulurkan tangnya dan mencium punggung tangan wanita tersebut.
“Cindi tante!” ucapnya kemudian tante tersebut menarik Cindi dalam pelukannya dan membisikan sesuatu kalau Cindi merupakan sosok wanita yang coco menjadi menantu idamannya. Wajah Cindi semakin memerah karena Cindi tidak menyangka bakal bertemu keluarga Riki yang diam-diam memang dia kagumi.
“Mama, kasihan kak Cindi. Jangan digodain ma!” ucap Mega yang melarang mamanya untuk menggoda Cindi.
“Lo, memang begitu lo sayang? Aku lihat Cindi memang cocok kalaau berdampingan dengan kakakmu,” ucap mama Winda menegur putrinya.
“Iya dech terserah mama!” ucap Mega yang kemudian memperkenalkan dirinya kepada Cindi. Setelah saling mengenal satu sama lain Cindi meminta tass mama Winda untuk dibawanya masuk ke mobilnya.
“Tante, tasnya saya bawakan!” ucap Cindi yang meraih tas mama Winda.
“Sayang, panggil mama saja!” ucap mama Winda yang terkesan akrab dengan Cindi. Cindi menganguk tanda menyetujuinya. Mereka pun berjalan menuju parkiran dimana kendaraan Cindi berada.
Cindi mempersilahkan mama Wind duduk di depan bersamaa dirinya, sedangkan Mega menempatkan posisinya untuk duduk dibangku belakang.
Cindi langsung menyalakan kendaraannya kemudian berangkat menuju rumah Riki yang sudah dikirim alamat ya oleh Riki mlalui ponselnya. Cindi dengan terampil mengemudikan kendraanya. Mama Winda merasa senang dengan Cindi. Sesekali mama Winda melirik Cindi.
“Sayang, tahun depan kamu nikah sama Riki ya?’ ucap mama Winda yang mengejutkan Cindi.
__ADS_1
“Maaf tante…, eh mama. Aku masih kuliah dulu! Lagian mana bisa kita bersatu. Kita berdua kalau bertemu selalu bertengkr. Jadi kayakya tidak sejalan,” ucap Cindi yang tidak berharap banyak dengan Riki meskipun dirinya dalam hati sangat berharap menjadi kekasih Riki.
“Santai saja kakak! Aku yakin kakak Riki sebenarnya juga sayang sama kak Cindi,” ucap Mega dengan mulutnya nyerocos tidak jelas. Sementara itu mama Winda sangat senang duduk di depan dan membayangkan kalau Cindi akan jadi menantunya.
“Ma…, kita sudah sampai!” ucap Cindi dan langsung masuk ke halaman rumah Riki. Cindi sangat mengagumi Riki yang ternyata pria tersebut tergolong pria yang sudah mapan di usianya yang masih muda. Terlebih lagi Riki merupakan sosok laki-laki perantauan yang tidak mengenal lelah. Setahu dia sejaak berteman dengan Sekar Riki selalu mengikuti Arya sebagai asistennya.
“Terimaksih nak!” ucap mama Winda yang hendak turun dari mobil. Sementara itu Cindi keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk mama Winda. Mama Winda tersenyum simpul dengan sikap Cindi.
Tidak lama kemudian datanglah pembantu rumah Riki menghampiri mereka.
“Mari masuk, nyonya! Tadi tuan muda menaympaikan kalau non Cindi mau pulang di suruh menunggu di rumaah sampai tuan muda pulang!” ucap bibi tersbut ambil membawakan tas nyonya besar.
Mega dengan cepat langsung menggandeng Cindi untuk membawanya masuk ke dalam rumah Riki. Megaa merasa senang karena dirinya akan mendapakan kakak ipar sesuai dengan seleranya.
Ketika mereka bertiga tertawa lepas ketika membahas tentang Riki tiba-tiba Riki datang dan seketika itu juga mereka berhenti membicarakan Riki.
“Ma…, ini pasti membicarakan aku ya?” ucap Riki yang mendekati mamanya kemudian Cindi ameluk dan mencium mamanya.
“Kamu itu kak, dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Kakak selalu berprasangka buruk,” ucap Mega menimpali kakaknya.
Riki pun dengan seketika langsungg menjitak kepalaa adiknya. Mereka berdua nampak akrab satu sama lainnya.
“Kak, sakit nich! Sebagai pengganti rasa sakit kakak harus menggantinya dengan mentraktir kita makan di restoran! Kita sudah lapar!” ucap Mega kepada kakaknya.
__ADS_1
“Maaf, aku tadi sudah pesan makanan, karena aku pikir kalian lapar jadi aku sudah pesan lewat aplikasi Go Food,” ucap Cindi dengan polosnya.
Mega dan mamanya saling memandang, kemudian mama mengucapkan terimaksih terhadap Cindi. Mama Winda semakin yakin untuk menjadikan Cindi sebagai menanatunya.
“Wah bener-bener calon menantu idaman! Gimana Rik?” ucap mama Winda menggoda putranya.
“Hem…, boleh sich ma! Tapi Cindinya apa mau!” ucap Riki yang diucapkan kencang agar terdengar langsung oleh Cindi. Cindi menundukan kepalanya dengan wajah yang mereona erah menahan malu. Semantara itu Mega yang paham dengan kondisi Cindi langsung menggandengnya menuju kamar tamu. Mega terlihat akrab dengan Cindi dan itu membuat Riki nampak senang ternyata perintah bosnya untuk tetap tinggal mengerjakan pekerjaan di rumah bosnya membuat dirinya berkah.
“Ma…, gimana kalau minggu depan kita melamar Cindi,” bisik Riki nakal di telinga mamanya. Mama Winda tertawa lepas mendengr bisikan putranya.
“Memang kamu sudah jadian?” goda mama Winda terhadapa putranya.
“Belum!” ucap Riki santai. Riki pun menyakinkan kalau sebenarnya Cindi pasti akan menerima lamarannya. Mama pun menjelaskan kalau sudah niat tidak maslah tapi lebih baik membuat kesepakatan kedua belah pihak. Mama juga mengatakan dirinya dan keluarganya tidak mau kalau nanti sudah lamaran tapi ditolak oleh keluarga Cindi.
Riki tertawa lepas dan langsung duduk di dekat mamanya. Riki kemudian memegang tangan mamanya dana mengatakan kalau dirinya berjanji akan menjadikan Cindi sebagai istrinya. Riki pun dengan terang-terangan meminta restu mamanya untuk memulai hubungan dengan Cindi. Riki mengatkan kalau memang dirinya mengagumi Cindi tapi belum berani menembaknya kaarena memang Cindi merupakan wanita yang susah di tebak.
Mama Winda senang mendengar penjelasan dari putranya karena dirinya hanya menunggu waktu yang tepat untuk seger mengesahkan Cindi sebagi menantuunya. Mama Winda juga memberi penjelasan kepada Riki tentang perbuatan Cindi yang mereka sukai.
Di saat mereka asyik membahas Cindi tiba-tiba Mega dan Cindi muncul dari kamar tamu. Kemudian mereka bergabung dengan mama Winda dan Riki. Tidak lama kemudian go food yang Cindi pesan datang. Cindi dan Mega menyiapakan hidangan tersebut di ruang makan. Mereka berempat makan hidangan tersebut sambil sesekali ngobrol.
Cindi pun semakin akrab dengan mereka bahkan Cindi sesekali berani mengungkapkan kat-kata untuk menyindir Riki. Riki hanya tersenyum tipis mendengar Cindi yang meledekanya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?
__ADS_1