
Di dalam mobil Sekar masih merintih kesakitan hingga akhirnya Arya tidak tega dan membawanya ke rumah sakit. “ Riki kita langsung ke rumah sakit!” perintah Arya kepada Riki.
“Aku tidak mau di rumah sakit, Aku baru saja masuk rumah sakit! Aku benci obat dan disuntuk!” ucap Sekar sambil merengek kesakitan. Cindi yang ada di depan bersama Riki tidak dekat melihat temannya merintih kesakitan.
“ Sekar kamu harus nurut apa yang dikatakan oleh om Arya! Kaki terkilir kalau dibiarkan nanti bisa menyebabkan infeksi! Jadi lebih amannya kita harus pergi ke rumah sakit dan bisa segera diketahui kira-kira kakinya patah atau tidak!” ucap Cindi berusaha membujuk Sekar.
Setelah mendengar kata-kata Cindi, Sekar terdiam namun masih juga merintih kesakitan. Arya yang tidak tega langsung memerintahkan rigi untuk mempercepat kendaraannya. Sementara itu Sekar menahan sakit dengan keringat dingin membasahi dahinya. Arya sangat sayang dan sabar mengusap keringat dingin yang membasahi dahi Sekar dengan sapu tangannya.
“Om…, sakit Om!” rintih Sekar dengan badannya meringkuk di pelukan Arya. Arya berusaha menenagkan Sekar dan mengusap-usap dahi Sekar. Cindi melihat pemandangan tersebut sangat iri terhadap Sekar. Dalam hati Cindi merasa Sekar sangat beruntung karena mendapatkan kasih sayang dari Arya yang sangat berlebihan. Bahkan Sekar diperlakukan seperti putri. Hal itu tidak lepas dari perhatian Riki.
“Iri ya? Bisa lho? Aku memperlakukan kamu lebih dari perlakuan Pak Arya terhadap Sekar!” Bisik Ricki kepada Cindi yang tentunya tidak didengar oleh Pak Arya. Kalau didengar oleh Pak Arya pasti akan dimarahi oleh Pak Arya. Cindy hanya melengos mendengar perkataan dari Riki. Cindi tahu itu hanya bentuk rayuan gombal dari Riki. Riki yang merasa tidak dihidupkan oleh Cindi langsung memegang tangan sini dan di taruhnya di depan dadanya.
“ Ih genit banget,” ucap Cindi berbisik sambil melotot ke arah Riki. Cindi pun juga berusaha melepaskan tanganya dari genggaman Riki. Sementara itu Riki tidak menghirauakan Cindi dan terus memegangi tangan Cindi hingga terjadai tarik menarik. Hal itu tidak lepas dari pemantauan Arya. Arya juga merasa jengkel melihat situasi tersebut karena Sekar sedang esakitan menahan sakit.
“Kaliaan itu berisik banget! Riki awas ya nanti aku pecat kamu! Tidak tahu orang sakit malah ribut sendiri!” bentak Arya kepada baawahannya karena dirinya sangat kuaatir dengan Sekar.
“Maaf pak! Kami hanya terbawa situasi!” jawab Riki berargumentasi. cindi yan gtahu diri langsung menarik tangannya dan diam seribu bahasa menghadap ke jendela. Untung saja mereka sampai di rumah sakit jadi Arya langsung fokus dengan Sekar tidak marah-marah laagi. Riki memarkir kendaraannya di depan UGD.
Setelah kendaraan berhenti Arya membuka pintu mobilnya dan langsung menggendong Sekar menuju UGD. “Dokter, tolong segera tangani! Aku takut terjadai apa-apa dengannyaa!” ucapnya panik dan langsung merebahkan Sekar di ranjang.
Dokter yang tahu kalau itu Arya langsung mengambil tindakan untuk menangani Sekar. Arya memang disegani di daerahnya. Arya juga punya andil besar di rumah sakit terrsebut. Sebagian saham dari rumah sakit tersebut milik Arya.
__ADS_1
“Baik pak! Maaf bapak tunggu dulu. Kami akan memeriksanyaa!” ucap dokter tersebut dengan nada penuh hormat. Arya kemudian beringsut agak menjauh dari Sekar memberi ruang untuk daokter agar bisa memeriksa Sekar. Dokter langsung ngecek kaki Sekar kemudian menyampaikan kepada Arya kalau Sekar hanya terkilir saja tidak aada ayang perlu dikawatirkan.
“Pak tidak apa-apa! Ini hanya terkilir saja besok juga sudah baikan!” ucap dokter memberi tahu keadaan Sekar.
“Tidak apa-apa bagaimana? Oranya kesakitan seperti ini?” jawab Arya emosi dan melototi dokter tersebut dengan rasa jengkel. Dokter pun memberi penjelasan dengan sabar kemudian memberikan resep obat untuk Sekar.
Setelah resep obatnya ada, Arya langsung merintahkan Riki untuk membeli obat di apotik. Cindi yang tidak enak melihat kedekatan mereka juga mengikuti Riki.
“Cin…, kamu tuh ngapain? Ngikut aja tidak ada kerjaan?” ucapa Riki yang merasa keberatan diikuti oleh Cindi.
“Ikut kakak, tidak enak hati melihat mereka bawaannya pingin saja!” ucap Cindi asal ngomong dan tanpa sadar bergelayut manja memegang tangan Riki. Riki pun tidak keberatan dengan santai melenggang pergi menuju Apotik. Riki merasa berbesar hati dan cengar-cengir karena ada cewek cantik yang mengandengnya. Semua orang menatp Riki dengan perasaan aneh. Cindi yang menyadarinya langsung melepaskan gandenganya kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Mas beruntung banget, istrinya cantik dan muda!” ucap ibu-ibu yang sedang berdiri di dekat Cindi.
“Terimakasih! Tapi ini masih calon!” ucap Riki menanggpi ibu-ibu tadi.
“Wah masih ada peluang dong, Ibu punya putri cantik lo dan dokter di sini,” jawab ibu-ibu pun juga konyol dan nekad menanggapi perkatan Riki.
“Ibu, ini saja susah naklukan! Ini baru jadian bu! Do’anya semoga kita segera menikah!” ucap Riki kepada ibu-ibu tersebut. Si ibu pun terdiam dengan perkataan Riki. tapi kemudian berucap lagi.
“Janur belum melengkung nak? Masih ada peluang dong untuk putri ibu?” tanya ibu itu tanpa ada rasa malu. Sementara itu Cindi yang gemas dengan tingkah ibu tersebut merasa terusik dengan reflek semakin memeluk erat Riki seolah tidak mau dilepaskan.
__ADS_1
“Lihat bu, ini saja tidak mau dilepas mana bisa aku menikahi putri ibu!” ucap Riki cengar-cengir melirik Cindi. Cindi pura-pura tidak tahu kalau Riki meliriknya.
“Pak ini obatnya!” ucap kasir apotik membuyarkan imajinasi mereka berdua. Riki langsung mengeluarkan debit cardnya untuk membayar obat tersebut. Kemudian mengajak Cindi pergi namun setelah jauh dari ibu-ibu tersebut Cindi melepas tanganhya dari Riki. Riki tertawa lebar melihat tingkah Cindi.
“Sayang kenapa mesti di lepas? Bulan depan kita nikah ya?” goda Riki hingga membuat Cindi semakin malu hingga akhirny Cindi agak berlari meninggalkan Riki. Riki pun mengejar Cindi hingga akhirnya menarik tangan Cindi hingga Cindi berhenti dan berbalik menghadap ke Riki. Riki dengan spontan langsung memeluk Cindi dan berbisik.
“Sayang, aku benar-benar cinta sama kamu? Boleh dong kita pacaran dan besok kita menikah?” ucp Riki mengejutkan Cindi. Cindi yang mendapat kejutan tersebut nampak bingung dan tidak bisa berbut apa-apa.
“Sudah gak usah binngung dan gak usa di jawab sekarang!” ucap Riki yang kemudian mencium kening Cindi di koridor rumah sakit. Arya yang merasa kelamaan menunggu Riki berusaha menghampirinya namun yang didaptkan justru kemesaraan mereka berdua.
“Hai? Mana obatnya ditunggu malah ayik pacaran?” ucap Arya kesal dengan tingkah meraka. Riki yang tidak ingin mendapat amukan dari bosnya langsung berlri menuju ruangan Sekar dan memberikan obat tersebut pada Arya untuk segera diminumkan untuk Sekar.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya? Kalau waktu longgar boleh lo kepo tentang cerita kita yang lain 👍
Misteri Menantu Pengganti
Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Buah Hati Ceo Pendendam
Si Buruk Rupa Mengejar Cinta
__ADS_1