TERJERAT PESONA OM TAMPAN

TERJERAT PESONA OM TAMPAN
Kencan


__ADS_3

Sementara itu Arya menjemput Santi untuk dikenalkan kepada orang tuanya. Arya dengan perasaan riang bersenandung didalam mobilnya sambil mendengarkan lagu-lagu cinta. Setelah beberapa menit Arya sampai ke apartermen Santi.


“Ting…, tong!” Arya memencet bel apartermen milik Santi. Santi dengan cekatan membukakan pintu untuk Arya. Santi merupakan gadis supel yang bekerja di perusahaan sebagai manajer keuangan. Santi langsung bergelayut manja di lengan Arya. Arya secara spontan memegang pinggang Santi kemudian mencium bibir Santi yang merah merekah.


Namun disaat Arya mencium Santi yang ada justru bayangan Sekar. Arya semakin terobsesi dengan Sekar hingga akhirnya Arya bergerak lebih agresif  dengan mencium leher jenjang Santi.


“Ah…! Sayang ini terlalu sakit,” ucap Santi tiba-tiba tak kala Arya tanpa sadar menggigit leher jenjang Santi.


“Maaf sayang, aku terlalu semangat,” ucap Arya berbohong karena sebenarnya dirinya keal karena disaat dirinya bercumbu dengan kekasihnya yang ada dalam bayagan pikirannya hanya ada Sekar seorang.


Santi yang tidak mau kalah langsung menyerang Arya dan menariknya masuk hingga mereka berdua rebahan di atas sofa.


“Sayang, kamu cantik sekali. Aku suka kamu dan aku tidak sabaran untuk segera menikahi kamu. Makanya nanti kamu aku kenalkan dengan kedua orang tuaku,” ucap Arya yang terbata-bata karena menahan nafsunya. Arya yang tahu diri berusaha menolak keinginnnya dan mengontrol nafsunya. Arya dengan cepat langsung mendorong tubuh Sekar hingga hampir jatuh dari sofa.


Arya langsung berdiri dan mengandeng Santi dan membawanya pergi.


“Maaf, sayang! Ayo kita pergi, kalau tidak segera pergi bisa-bisa kita terjerumus ke dalam hal maksiat,” bisik Arya dengan suara lirih.


“Iya sih! Ini gara-gara kakak!” ucap Santi sambil mencubit pinggang Arya. Mereka berdua keluar dari apartermen dengan bergandengan sambil bersenda gurau. Arya dan Sekar nampak begitu romantis hingga semua orang terlihat iri memandangnya.


Setelah sampai di parkiran Arya membukakan pintu mobilnya untuk kekasihnya Santi. Arya menyalaka mobilnya dan tidak lama lagi suara gaung kendaraanya berbunyi membelah jalanan berasapal. Mereka berdua terdiam seolah ada sesuatu yang mereka pikirkan.


“Sayang, gadis kecil kemarin itu siapa? Maaf aku baru bertanya?” tanya Santi kepada Arya.


“O…, itu Sekar. Sekar itu yang dulu aku adopsi ketika kedua orang tuanya meninggal. Dan satu-satunya kerabatnya justru menyerahkannya kepadaku,” jawab Arya berusaha menjelaskan kepada Santi.

__ADS_1


“Sekar? Aku rasa gadis itu cantik juga! Dan aku lihat dia juga tipe gadis yang pantang menyerah,” ucap Santi berusaha mencari informasi tentang Sekar.


“Sayang, sudahlah. Sekar itu hanya gadis kecil yang tidak perlu kau takutkan!” ucap Arya berusaha menghentikan Santi agar tidak melanjutkan topik pembicaraan mereka yang membahas tentang Sekar.


“Gadis kecil menurutmu. Tapi sikapnya sangat meresahkan! Bahkan dia dengan terang-terngan menunjukan suka terhadap kamu,” ucap Santi sambil memanyunkan bibirnya yang merah.


“Sudahlah sayangku. Kita lupakan Sekar, kita fokus dengan masa depan kita” ucap Arya berusaha mereda kegalauan hati Santi. Arya yang romantis tiba-tiba mengambil tangan Santi dan menciumnya dengan penuh kasih.


“Kak, lampu merah!” ucap Sekar mengingatkan Arya ynag hampir menabrak kendaraan yang ada di depannya.


“He…, iya aku sudah perhitungkan. Buktinya kita tidak menabrak,” ucap Arya yang kembali fokus mengemudi.


Setelah beberapa menit mereka berdua sampai di rumah orang tua Arya. Arya memarkirkan kendaraannya di halaman rumahnya. Rumah orang tua Arya terkesan besar dan sejuk. Mama Arya suka sekali tamanan hias dan anggrek.


Arya menggandeng Santi masuk ke dalam rumahnya dan langsung menemui mamanya yang berada di ruang tengah.


“Sayang, tumben kesini!He…, ini saipa?” tanya mama Dewi begitu melihat sosok Santi.


“Santi ma! Ini pacar Arya dan sebentar lagi kita mau tunangan. Kita ke sini minta restu dari mama dan papa!” jawab Arya menjelasakan kepada mamanya.


“Iya tante. Kenalin aku Santi,” ucap Santi yang masih canggung berkenalan dengan orangg tua Arya.


“Benarkah? Bagus itu! Sebentar lagi mama akan dapatkan cucu! Pa…, papa! Ayo kesini pa, ada calon mantu kita!” teriak mama Dewi memanggil suaminya. Papa Hari keluar dari ruang kerja dan menghampiri mereka untuk ngobrol dengan mereka.


“Wah, beneran nich kita akan segera menikahkan kalian!” ucap papa Hari sambil beberapa kali melirik Santi. Papa Hari sebagai orang tua selama  ini selalu mendudkung anaknya agar dirinya segera dapat cucu.

__ADS_1


“Benar dong pa? masa iya aku berbohong sama papa!” jawab Arya sambil duduk di dekat papanya. Namun tiba-tiba papanya mengajaknya ke taman belakang.


“Arya…, lama kamu tidak main ke sini! Ayo temani papa olahraga di belakang!” ucap papa Hari dan langsung pergi meninggalkan mereka diikuti oleh Arya.


Sementara itu mama Dewi mengajak ngobrol Santi sambil sesekali mengamati gerak-gerik Santi. Mama Dewi terlihat menyimpan suatu kecurigaan terhadap Santi tapi mama Dewi tidak bisa mengungkapkan. Mama Dewi juga tidak bisa berkata apa-apa karena bagaimanapun dia harus menghargai pilihan putranya.


“Nak Santi? Maaf sebelumnya, untuk keluarga nak Santi tinggalnya dimana?” tanya mama Dewi basa-basi.


“Eh…, papa dan mama tinggal di luar negeri ma! Mereka akan kembali ke sini biasanya tiga bulan sekali,” jawab Santi dengan santai menjelaskan ke calon mertuanya.


“O…, terus bagaimana kita kalau silaturahmi ke rumah nak Santi?” tanya mama Dewi penasaran.


“Tante kalau mau ke rumah, papa dan mama siap pulang! Sebelumnya aku juga sudah menghubungi papa dan mama karena kak Arya sudah mengutarakan keinginanya!” ucap Santi penuh percaya diri.


“Begitu ya?” ucap mama Dewi setengah tidak percaya kenapa putranya langsung mengambil keputusan tanpa harus membicaraknnya terlebih dahulu dengan papa dan mamanya.


“Iya ma!” jawab Santi yakin dengan keputusan Arya karena bagaimanapun dia memang sangat mencintai Arya. Menikah dengan Arya memang dari dulu merupakan impiannya yang harus diwujudkan. Namun Arya bukanlah lelaki yang peka dan memahami pasangannya, mereka pacaran hampir 5 tahun belum pernah sakalipun dikenalkan dengan orang tuanya. Jadi hari ini merupakan pertama kalinya Santi kenal dengan orang tua Arya demikian pula ornag tuja Arya.


“Nak…Santi, waktu sudah hampir siang, ayo ikut ibu ke dapur. Kita masak makanan untuk makan siang,” ucap mama Dewi memecahkan keheningan. Mama Dewi memang sengaja ingin mengetahui lebih dalam tentang calon mantunya.


“Maaf ma! Santi tidak bisa memasak!” jawab Santi tanpa harus menyembunyikan apapun kepada calon mertuanya. Santi memang terkesan sepeti gadis metropolitan yang tidak mengenal dapur.


“Hem…, bisakah anak aku hidup dengan perempuan seperti ini? Aku lihat dia sepertinya mereupakan gadis manja dan egois. Penampilannya glamor dan terlihat seperti wanita murahan,” gumam mama Dewi lirih hingga tanpa sadar membuat Santi galau.


“Tante…, ada apa ya?” tanya Santi tiba-tiba hingga membuat mama Dewi tersadar.

__ADS_1


“Tidak nak! Ayo kita masak. Tidak apa-apa tidak bisa masak, nanti paasti bisa masak. Kita harus belajar, dengan belajar kamu pasti bisa,” ucap mama Dewi berusaha menghiburnya meskipun dalam hatinya sngat berat menerima keputusan putranya yang sangat tiba-tiba.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?


__ADS_2