
Brian masih dengan rasa bersalahnya berusaha menebus kesalahannya dengan tetap menunggu Sekar di klinik hingga Sekar siuman dari pingsannya. Sekar pelan-pelan membuka matanya dan dengan lirih meminta air untuk minum. Brian yang ada di smpingngya langsung mengambilkan minum dan membantu Sekar untuk minum air putih yang ada di tanganya. Setelah minum Sekar dibantu Brian untuk kembali berbaring di ranjang.
Setelah itu Brian keluar dari ruangan untuk menemui dokter. Brian kemudian menanyakan kepada dokter apa Sekar harus dirujuk ke rumah sakit. Dokter tidak gegabah menjawab pertanyaan Sekar, kemudian dokter memeriksa ulang keadaan Sekar. Setelah memeriksa pasien dokter mengatakan kalau Sekar akan baik-baik saja asalkan istirahat total. Sementara itu Cindi yang cemas menelpon om Arya dan memberitahu kalau Sekar pingsan di kampus. Cindi menceritakan detailnya dan kemudian menutup ponselnya begitu dokter selesai memeriksa ulang Sekar.
Arya yang panik ataas pemberitahuan Cindi tentang Sekar meraaih kunci mobilnya untuk segera pergi menuju kampus Sekar. Riki yang tahu bosnya akan pergi segera mengikutinya dan mengambil kunci mobil dari tangan bosnya. Riki pegang kemudi untuk mengantar bosnya ke kampus Sekar. Arya meminta Riki untuk mengemudikannya dengan cepat dan kencang karena dirinya ingin segera tahu keadaan Sekar. Arya tidak ingin terjadi sesuatu yang mengganggu kesehatan Sekar.
Riki pun tak kuasa memenuhi permintaan Arya bosnya, dengan kecepatan tinggi mobil mereka membelah jalanan berasapal. Beberapa menit kemudian mereka sampai di kampus. Kedatangan Arya dan Riki menjadi pusaat perhatian semua penghuni kampus terutama yang cewek-cewek. Penampilan mereka berdua yang elegan dan berwibawa begitu membuat mereka terpesona. Salah satu dari mereka terang-terangan mengikuti langkah mereka berdua berjalan menuju klinik.
“Gila ini cowok manusia darimana?” gumam mereka bergerombol mengikuti mereka hingga halaman klinik banyak cewek-cewek berkumpul. Arya masuk ke ruangan dan langsung melihat Sekar dengan penuh rasa kuatir.
“Sekar, kamju kenapa? Ayo pulang saja kamu tidak usah mengikuti Ospek! Nanti aku akan pamitkan ke rektor kampus kamu!” ucap Arya yang saangt ketakutan kalau terjadi apa-apa dengan Sekar.
“Tidak apa-apa om! Aku paling kecapekan saja!” ucap Sekar menjawab pertanyaan Arya. Arya langsung terlihat murka mendengar penjelasan Sekar yang katanya kecapekan.
__ADS_1
“Hai…, kecapekan? Memangnya apa yang kalian lakukan dengan Sekar?” tanya Arya kepada salah satu pendamping yang ada di situ yang kebetulan Brian.
“Maaf, tadi Sekar aku hukum mengelilingi lapangan karena tidak membawa perlengkapan Ospek,” ucap Brian membalas pertanyaan Arya.
“Gila, Ospek macam apa ini? Kenapa hukuman fisik masih diterapkan?” tanya Arya dengan nada yang tinggi karena amarahnya.
“Maaf tadi memang kita buat sepakatan dengan Sekar, Sekar juga setuju kalau mengelilingi lapangan. Dan Sekar juga tidak mnyampaikan kalau dirinya habis operasi,” ucap Brian dengan santai meski nyalinya agak ciut melihat Arya yang marah. Arya terlihat matanya merah berapi-api menahan kemarahannya.
“Om…, sudahlah. Aku memang tidak menyampaikan kalau aku saakit. Jadi om jangan marah-marah!” ucap Sekar lirih. Arya dengan tanpa basa-basi langsung mengendong Sekar untuk dibawanya ke rumah sakit. Arya meminta Cindi mengurus izin kepulangan Sekar. Arya mengikutinya dari belakang kemudian di susul oleh Cindi.
Brian akhirnya memutuskan untuk kembali bergabung dengan teman-temannya. Sementara itu Sekar yang manja langsung memanfaatkan kesempatan dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang om Arya dan tangannya berbelayut manja di leher om Arya. Arya dengan pelan meletakan tubuh Sekar di ke dalam jok mobil bagian belakang kemudian Arya masuk dan menopang tubuh Sekar dengan tubuhnya. Cindi yang hendak mengikuti meraka disuruh masuk mobil bagian depan duduk bersama Riki.
“Ayo, cepat ke rumah sakit terdekat!” perintah Arya kepada Riki dengan cemas. Sekar hanya bisa melirik Arya yang penuh kepanikan. Sekar sedikit tersenyum setidaknya Arya sangatlah mencemaskan dan perhatian terhadapnya.
__ADS_1
Sekar merasa geli dengan tingkah Arya yang begitu posessif dengan dirinya. Sekar degan lirih membuka mulutnya kalau sebenarnya dirinya sudah tidak masalah. Sekar tadi memang hanya makan sedikit kue dan kemarin juga tidak maakan malam sehingga asam lambungnya kambuh lagi. Arya tidak menghiraukan perkaataan Sekar, bahkan Arya menyuruh Riki untuk mempercepat laju kendaraannya. Riki yang tahu kalau bosnya sangat mencemaskan Sekar maka dengan cepat Riki langsung melaksanakan perintahnya. Riki tahu persis Arya klau berhubungan dengan Sekar akal sehatnya pasti tidak bisa berjalan dengan normal. Sebelum Arya murka, Riki tanjap gas kendarraanya dengan kecepatan di atas rata-rata. Cindi nampak ketakutan melihat aksi Riki yang menyalip banyak mobil di depannya.
Riki melirik Cindi yanng ketakutan. Riki menghela nafasnya dalam-dallam, andaikan dirinya sendirian pastinya akan segera merengkuh Cindi untuk bersandar dalam dadanya. Arya yang tahu otak ngeres anak buahnya langsung menjitaak kepala Riki dari belakang.
“Rik, konsentrasi! Jangan punya pikiran macam-macam! Ku potong gaji kamu baru tahu rasa!” ucap Arya setengah mengancam. Riki tersedak kerongkongannya karena tiba-tiba dirinya secara tidak sengaja tersedak air liurnya sendiri.
“Baik pak! Dasar bos sok, masa iya punya asumsi ngeres teerhadap anak buahnya!” gumam Riki lirih. Arya yang tahu Riki sedang berguman, dengan deheman Arya bermaksud memberi peringatan.
Riki menambah kecepatan mobilnya sehingga dalam jangka waktu beberapa menit mobilnya sudah sampai ke rumah sakit. Arya langsung mengangkat Sekar untuk dibawa ke UGD. Kemudian dokter jaga langsung memeriksa Sekar. Dokter jaga bilang kalau ini hanya penyakit lambung yang bisa obat jalan jadi tidak perlu opname. Arya merasa lega dengan penjelasan dokter.
Dokter memberi resep yang harus ditebus untuk pengobatan Sekar. Arya menyuruh Riki untuk menebus obat Sekar diikuti oleh Cindi. Mereka berdua berjalan seolah seperti adik kakak. Riki tanpa sadar mneggandeng Cindi berjalan menuju apotek yang ada di dalam rumah sakit.
Setelah semuanya beres Riki kembli ke ruang perawatan Sekar dan langsung pulang ke rumah Arya karena dokter memperbolehkan mereka untuk pulang dan tidak perlu opname. Lagi-lagi Riki tanpa kata-kata menggandeng Cindi untuk berjalan menuju parkiran. Sedangkan Arya menggendong kembali Sekar menuju mobilnya. Kursi roda yang ditawarkan oleh perawat ditolaknya mentah-mentah karena dirinya cukup mampu menggendong Sekar. Semua perawat dan dokter wanita nampak iri merlihat kedekatan mereka. Mereka diam-diam mengaumi ketampanan Arya dan tubuh atletis Arya.
__ADS_1
Arya yang tahu menjadi obyek pengamatan mereka nampak biasa saja jadi semakin membuat mereka penasaran. Tidak jarang mereka langsung memperbincangkan Arya dimana merupakan pemilik perusahaan terkenal di kota mereka.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?