
Hari ini Cindi berangkat pagi karena harus ke rumah Sekar untuk berangkat bersama. Om Arya sengaja meminta Cindy untuk menjemput Sekar karena memang kondisi Sekar sedang dalam proses penyembuhan.
Cindi Memang sahabat Sekar sejak mulai dari kecil sehingga mereka berdua saling tahu kelebihan dan kelemahan masing-masing. Dan yang terpenting om Arya namat mempercayai Cindi karena memang Cindi orangnya baik dan tidak pernah membuat onar dengan siapapun.
Dengan kendaraan spotnya Cindi sudah berada didepan rumah Sekar. Cindi dengan tergesa-gesa menghampiri Sekar yang masih santai di depan terasnya. Cindi merasa jengkel dengan sikap Sekar yang super santai bahkan kelewat santai. Sekar dengan seenaknya masih menggunakan baju tangtop dengan rok mininya.
“Hai…, ayo lekas siap-siap. Ayo berangkat!” omel Cindi dengan memanyunkan mulutnya.
Sekar dengan santai menjawab kalau hari ini dia malas kuliah karena perutnya masih sakit dan badannya masih lemah. Cindi semakin jengkel dengan sahabatnya kemudian Cindi pun berjalan masuk ke ruangan dan dengan omelannnya dia berusaha mengadu kepada om Arya kalau Sekar tidak mau kuliah.
“Om…, gimana tuh keponakan kesayangan om tidak mau pergi kuliah! Benar-benar menyebalkan dan menjengkelkan!” ucap Cindi nyerocos tanpa melihaat orang yang diajaknya ngobrol.
“Ya sudah! Kamu kan sahabatnya! Kamu rayu dia dong? Masa begitu saja tidak bisa!” jawab orang tersebut yang dikira Arya.
“Ih!Menyebalkan, ternyaata bukan om Arya! Dasar perjaka tua!” ucap Cindi tiba-tiba tanpa mempedulikan klau perkataannya itu begitu menyakiti orang tersebut.
“Apa kamu bilang, dasar gadis norak!” ucap orang tersebut ternyata Riki yang memang sedang menunggu bosnya. Riki menghampiri Cindi dan memojokannya hingga Cindi berada dibawah himpitannya yang berhadapan dengan tembok hingga wajah mereka berdua saling beradu. Kurang 1 inci bibir Riki hampir menyentuh bibir Cindi. Entah apa yang dipikirkan Riki dengan cepat Riki langsung mencium bibir Cindi yang merah. Cindi merasa gelisah dan hendak menolaknya namun entah apa yang merasuki jiwanya Cindi nampak menikmatinya.
__ADS_1
“Hem…, hem! Apa yang kalian lakukan?” tanya Arya yang tiba-tiba berdehem dan muncul dihadapan mereka. Seketika itu juga Riki melepaskan Cindi. Cindi dengan segera mengambil kesempatan dan berjalan tergesa-gesa menuju ke tempat Arya dengan muka yang sudah memerah karena menahan malu.
Sekar memperhatikan gelagat Cindi sambil mengamati wajahmya yang sudah mulai memerah seperti kepiting rebus. Sekar menanyakan kepada Cindi apa yang terjadi sehingga Cindi nampak seperti orang linglung. Cindi dengan kata-katanya yang menyakinkan berusaha cara mengatakan pada Sekar kalau dia tidak apa-apa.
Sekar tidak percaya begitu saja karena Sekar yakin kalau Cindi telah menyembunyikan sesuatu terhadap dirinya. Dan tidak lama kemudian Om Arya dan Ricky keluar dari ruang tamu dengan suasana Riki yang terlihat dengan ekspresi senyum sendiri seperti mendapat sebuah lotre. Riki dengan tangannya mengusap bibirnya seolah menunjukkan kalau dirinya merasa senang dan puas dengan apa yang dilakukan dengan bibirnya.
“Om Riki apa yang kamu lakukan dengan Cindi?” tanya Sekar seolah ingin tahu kejadian yang dialami ol eh mereka berdua. Riki dengan santai menjawab kalau diantara mereka tidak terjadi apa-apa. Bahkan Riki berlalu begitu saja melewati mereka berdua menuju ke mobil karena harus segera pergi untuk meeting bersama bosnya.
Arya yang tahu dengan kejadian mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memberi kode kepada Sekar agar tidak bertanya macam-macam karena akan membuat Cindi malu. Arya kemudian mendekati Sekar dan memintanya segera ganti baju untuk mengikuti kuliah.
Sekar dengan kesal dan mengancam Cindi dengan kepalan tangnnya berjalan menuju ke kamarnya. Sekar membuka bajunya dan memilih sebuah rok dan hem untuk pergi ke kampus. Sekar dengan tubuhnya yang tinggi semampai selalu menunjukan pesonanya apalagi dengan stelan rok jin dan hem casual kotak-kotak berwarna biru. Sekar merias muaknya dengan make up yang tipis sehingga nampak natural sehinngga semakin menunjukan kalau dirinya merupakan gadis yang sangat cantik seperti artis. Kulitnya yang bersih mulus ditunjang dengan perawatan rutin membuat dirinya semakin terlihat cantik natural.
Setelah selesai berganti baju, Sekar mengambil kunci mobil Cindi untuk mengemudikannya. Cindi ketakutan melihat Sekar yang sudah membawa kunci mobil dan duduk di belakang kemudi mobilnya. Cindi berusaha merebutnya kembali namun tidak bisa merebutnya dari tangan Sekar. Sekar dengan sekuat tenaga menghempaskan tangan cindi dan memintanya diam dan tenang.
“Sekar. Biar aku saja yang berada dibelakang kemudi. Aku takut kalau kamu bawa mobinya kebut-kebutan!” ucap Cindi penuh rasa kuatir.
“Kamu yang tenang Cindi? Kamu tidak ingin terlambat kan? Dan kamu tidak ingin dihukum oleh dosen yang killler itu kan?” tanya Sekar kapada Cindi sambil menstater mobilya kemudian melajukan kendaraannya keluar halaman rumahnya. Sekar yang suka dengan balap, segera tancap gas dan melarikan mobil Cindi dengan kecepatan yang cukup Tinggi hingga melewati mobil Arya yang sudah berangkat terlebih dahulu.
__ADS_1
Cindi mulai ketakutan dengan ulah Sekar dan memegangi pegangan yang ada di dekat pintu. Sekar menertawakan sahabatnya yang selalu seperti jika dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Gila kau Sekar! aku tidak mau mati konyol, apalagi mati muda. Aku masih ingin merasakan nikmatnya bercinta!” ucap Cindi tiba-tiba seperti curhat tentang dirinya.
Sekar semakin tertawa lepas dan meledek Cindi kalau sebenarnya Cindi itu sedang curhat dan barusan telah mencicipi bunga cinta dengan berciuman bersama Riki. Sekar juga mengataan kalau sebenarnya mereka berdua cocok untuk menjadi kekasih. Sekar juga melihat mereka berdua ada kecocokan dari bentuk wajah dan postur tubuhnya. Cindi yang tingginya sebahunya Riki membuat mereka berdua nampak serasi dan punya chemistri. Cindi mukanya semakin memerah menahan malu karena apa yang disampaikan sahabatnya itu benar adanya.
“Cin, kalau kamu mau segera jadian sama om Riki, kamu harus sering-sering ke rumah aku!” ucap Sekar tiba-tiba setelah Cindi tenang.
Cindi hanya melotot mendengar ocehan sahabatnya, namun Sekar kembali lagi menertawakan Cindi karena Sekar sebenarnya tahu kalau Cindi memang sangat menyukai Riki.
“Apa…, gak usah melotot!” ucap Sekar yang semakin menertawakan sahabatya yang terlihat mati kutu!
“Sekar! Awas! Ada motor!” teriak Cindi hingga membuat Sekar kaget dan hampir menyerempet motor tersebut.
Yang naik motorpun karena kaget hampir jatuh dari motornya. Sekar karena merasa bersalah turun dri mobil dan menghampiri orang tersebut.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?
__ADS_1