
Acara nonton bareng sesuai dengan skenario Arya dan Riki. Mereka berdua menang dengan ide-ide mereka sehingga bisa memeluk wanita yang mereka cintai. Di luar sepengetahuan Cindi dan Sekar kedua pria tersebut telah merencanakan sesuatu.
Setelah film di bioskop selesai. Arya dan Riki berencana ke restoran terenal yag biasa jadi langganan mereka berdua. Arya masih menggandeng Sekar dengan mesra, diikuti oleh Riki dan Cindi. Mereka berdua serasa mengikuti tuan putridan pangeran yang sedang jatuh cinta.
Riki memandang Cindi seolah memohon untuk diperbolehkan menggandenganya. Riki dengan tanpa malu langsung nyelonong menggandeng Cindi. Entah bagaimana Cindi pun membiarkan Riki mengandenganya. Tangan Cindi terasa dingin sepertinya sedang merasakan getar-getar cinta di dalam hatinya.
Mereka berempat masuk restoran dan mencaari temapt duduk yang strategis menghadap ke luar. Arya meminta pelayan untuk segera datang. Mereka berempat memesan makanan sesuai selera mereka masing-masing. Untuk Arya selalu Sekar yang memilihkan menu masakannya.
Tidak lama kemudian menu makanan yang mereka pesan datang, sebelum menyantap makanan mereka Arya mengucapkan selamat ulang tahun kepada Riki kemudian diikuti oleh Sekar dan Cindi.
Setelah ucapan selamat yang mereka berikan, Riki dengan tiba-tiba mengeluarkan kotak kecil yag ada di sakunya diikuti dengan ucapan yang ditujukan untuk Cindi.
“Cindi Sayang, dengan bertambahnya usia aku. Aku menginginkan hari-hariku selanjutnya dipenuhi warna bersamamu. Maukah kau menjadi pelabuhan hatiku? Menjadi calon ibu dari anak-anak kita kelak?” ucap Riki yang berjongkok di hadapan Cindi yang masih duduk di kursinya.
“Terima! Terima! Gila om Riki gokil banget!” ucap Sekar diikuti oleh pengunjung restoran yang lain untuk memnita Cindi menerima lamaran Riki. Sedangkan Arya yang tidak mengerti apa-apa, dalam pikirannya mengatakan kalau ternyata asistennya bergerak cepat maju mendahulinya. Sedangkan dirinya dengan Santi semakin tidak jelas karena Santi sekarang nampak beda. Sedangakan perasaannya terhadap Sekar terhalang oleh statusnya yang memang awalnya Sekar diangkat olehnya sebagai keponakannya. Dulu dia tidak tega dengan nasibnya yang kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.Bahkan papa dan mamanya pun menyanyangi Sekar sebagai cucunya sendiri. Bahkan rasa sayangnya melebihi raasa sayang terhadapnya. Jika kedua orang tuanya tahu pasti mereka tidak merestuinya. Mungkin mamanya kan merestuinya tapi papanya yang kolot pasti akan menolaknya.
“Om…, ternyata om Riki gentelmen juga ya?” ucap Sekar yang membuat dirinya terhenyak sadar dari lamunannnya.
“Iya. Riki memang sangat gentelmen. Aku yakin Cindi pasti akan menerimanya karena aku lihat juga ada cinta untuk Riki,” ucap Arya memprediksi kisah mereka berdua. Dan benar saja Cindi menganggukan kepalanya dan Riki langsung memakaikan cincin yang dibawanya.
__ADS_1
“Wah, selamat ya om. Cindi! Mudah-mudahan kalian segera menikah!” ucap Sekar kemudian mengangkat air minumnya untuk tos dengan mereka diikuti oleh Arya.
Suasana gembira telah meliputi suasana Restoran, semua yang datang di traktir oleh Riki. Rasa senang dan gembira telah dinikmati oleh semua pengunjung di restoran tersebut. Bahkan mereka berempat juga bernyannyi menyanyikan agu-lagu cinta penuh kegembiraan yang kebetulan konsep restorannya seperti cafe dengan diberi sekelompok penyanyi yang selalu ada menghibur pengunjung. Riki menyanyi lagu “Cinta Mati” yang dipersembahkan untuk Cindi. Sorak sorai pengunjung menghantaran kemeriahan acara mereka. Setelah puas dengan perayaan ulang tahun Riki yang diikuti dengan acara menembak Cindi mereka berempat hendak pulang. Riki mengajak Arya ke kasir.
“Bos, janji bos kan tadi mau membayar acara aku kan?” bisik Riki agar tidak di dengar oleh Cindi.
“Dasar pecundang, masa iya kamu yaang senang dan bahagia yang bayar aku! Nanti potong gaji ya!” ucap Arya kemudian mengeluarkan kartu kreditnya dan memberikan kepada Riki. Riki pun seperti biasa langsung memberikannya ke kasir. Riki memang meruapakan kepercayaan Arya sehingga keuangan Arya Riki banyak yang diketahuinya termasuk pin kartu kreditnya yang selalu diberikan kepadnya. Namun Arya hanya memberi kartu kredi yang khusus untuk operasional pribadinya bukan yang lainnya.
“Terimakasih. Tidak masalah potong gaji yang terpenting hari ini akju mendapatkan cintaku!” ucap Riki dan mengembalikan kartu kreditnya ke Arya setelah dilakukan penggesekan.
“Ok…, ayo pulang!” Mereka berdua menghampiri Sekar dan Cindi kemudian berjalan keluar menuju parkiran. Riki dan Cindi hari ini berbunga-bunga karena telah menemukan cintanya. Sementara Arya dan Sekar sibuk dengan pikirannya masing-masing.
“Sekar, Cindi…, hai kalian di sini juga ya? Tau begitu aku traktir kalian,” ucap pria tersebut yang ternyata dulu ketua Osis di sekolahnya.
“Sore om, kenalkan pacar Sekar waktu SMA dulu dan sekarang!” ucap pri tersebut dengan penuh percaya diri. Sekar dan Cindi memercingkan matanya terlihat tidak suka dengan ulah temannya itu yang dulu ketua Osis di seklahnya. Antok nama pemuda tersebut, wajahnya tak kalah tampan dengan Arya tapi terlihat selengekan.
Antok menjabat tangan Arya, hingga kedu belah pihak bersalaman namun Arya mencengkeram tangan Antok dengan sangat kuat hingga Antok meringis kesakitan. Wajah Antok nampak memerah menahan sakit.
“Sekar ini om kamu kok galak banget ya?” ucapnya celometan tanpa memikirkan perkataannya itu menyakitkan Arya atau tidak.
__ADS_1
“Dengar anak muda, mulai sekarang, besok dan sealnjutnya jangan ganggu Sekar lagi! Sekar sebentar lagi akan menikah!” ucap Arya keras.
“Sekar, benarkah?” tanya Antok lemas. Sementara itu Sekar hanya mengangukan kepalanya membenarkan perkataan Arya. Sekar memang takut kalau Arya marah dan tidak terkendalikan. Sekar takut Antok akan mendapat amukan dari Arya.
Antok seperti anak kecil kemudian berbalik arah meninggalkan Sekar dan yang lainnya.
“Dasar anak-anak! Dapat gertakan begitu saja sudah menyerah. Mana bisa seperti itu jadi suai yang bertanggung jawab,” ucap Arya keras sengaja menyindir Sekar agar menjauh dai lelaki sepertia itu.
“Om…, aku masih hormat sama om karena menghargai om yang sejak kecil merawat aku. Tapi tolong om, jangan terlalu mencampuri urusan Sekar!” ucap Sekar sambil meneteskan air matanya karena kecewa terhadap Arya.
“Sekar, aku tidak ingin laki-laki sepertiitu menjadi pendamping kamu! Aku lihat dia msih kekanak-kanakan!” ucap Arya bermaksud menyadarkan Sekar.
“Memang kenapa om, itu urusan Sekar. Memang sewajarnya harusnya sekar belajar mencintai laki-laki yang usianya sejajar dengan aku. Seharusnya aku juga tidak mencintai laki-laki yang sudah om-om,” ucap Sekar sekenanya higga membuat Arya meras tersindir oleh Sekar.
“Udah, ayo masuk Sekar. Kalian jangan berdebat dilihat oleh orang banyak!” ucap Riki mengingatkan. Setelah mereka masuk Riki menyalakan mobilnya dan langsung meluncur di tempat masing-masing.
“Iya, Sekar! Ayo segera masuk,” ucap Cindi menguatkan omongan Riki. Seteah situasi aman tidak ada perdebatan akhirnya meninggalkan mol dengan posisi Arya dan Sekar duduk di belakang. Mereka berdua nampak seperti sepasang suami istri bertengkar.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?
__ADS_1