TERJERAT PESONA OM TAMPAN

TERJERAT PESONA OM TAMPAN
Semakin Menyebalkan


__ADS_3

Arya yang kesal dengan Sekar meninggalkan Sekar di ruang perawatan. Sekar menangis karena tingkah om Arya yang semakin menyebalkan. Sekar merasa sikap om Arya terlalu posesif terhadapnya padahal om Arya sudah jelas menolak rasa cintanya yang telah diungkapkannya.


“Dasar laki-laki. Bukankah dia sudah punya Santi si tante-tante Sinting itu?” gumamnya kesal. Sekar hanya bisa menangis meratapi ponselnya yang dibanting oleh om Arya.


“Tok-tok,” suara pintu ruang perawatannya diketuk oleh seseorang. Sekar mengusap air matanya dan dengan panik menyembunyikan puing-puig pecahan ponselnya di bawah ranjang rumah sakit.


“Masuk,” ucap Sekar dan mulai membaringkan tubuhnya kembali di ranjang.


“Selamat siang Sekar?” ucap Cindi yang mendekati Sekar dan diikuti oleh Andika temannya satu kelas. Cindi tak lupa meletakan cemilan dan buah kesukaan Sekar.


“Siang Cin, Dika. Alhamdulilah aku sudah baikan, mungkin besok pagi aku boleh pulang,” jawab Sekar yang berusaha duduk dan dengan segera Andika berusaha membantu Sekar. Andika memegang tubuh Sekar dan membantunya untuk bisa duduk di ranjang. Jarak mereka begitu dekat sehingga bisa membuat cemburu bagi orang yang melihatnya. Di saat yang bersamaan om Arya masuk ke ruangan dan dengan perasaan kesal dan jengkel berusaha menjauhkan Andika dari Sekar.


“Sekar, kamu belum pulih betul. Janganlah kau paksakan untuk duduk!” ucap om Arya yang sudah berdiri di dekat Sekar dan menghalau andika hingga Andika mundur beberapa langkah.


“Sial, kenapa omnya Sekar terlihat jutek dan mengesalkan,” gumam Andika dalam hatinya. Sementara Cindi yang berdiri di samping Andika berusaha memecahkan keheningan diantara mereka.


“Om, kenalkan ini Andika, teman kita satu kelas,” ucap Cindi diikuti Andika yang mengulurkan tangannya namun dicuekin oleh om Arya. Andika menarik kembali tangannya dan merasa sakit hati dengan om Arya. Andika yang tidak mau mengecewakan Sekar berusaha menahan rasa kesal dan amarahnya.


“Iya. Aku tahu,” jawab Arya dingin. Entah mengapa Arya merasa cemburu dengan Andika padahal dia tahu Andika hanya teman Sekar dan tidak ada hubungan Sepecial dengan Sekar.


“Maaf kalau besuk jangan lama-lama, Sekar butuh istirahat!” ucap om Arya kembali hingga membuat Andika mengepalkan tinjunya karena kesal. Cindi yang tahu itu berusaha memegang tangan Andika agar tidak terjadi perkelahian.


“Iya, om. Aku tahu, karena kita sudah tahu keadaan dan kesehatan Sekar maka kita minta izin pulang?” ucap Cindi yang tidak mau memperkeruh keadaan.

__ADS_1


“Tapi Cin, aku masih ingin ngobrol dan ditemani kamu?” ucap Sekar sambil menahan nafasnya karena menahan kekesalannya terhadap om Arya.


“Besok kita akan kembali besuk kamu, istirahatlah. Kita akan pulang karena ada persiapan yang harus kita siapkan untuk kegiatan ospek!” jawab Cindi yang hanya alasan mengelabuhi om Arya karena sebetulnya ospeknya masih seminggu lagi. Cindi juga tidak tega kalau di depan Sekar mereka berdua ribut.


“Baiklah,” ucap Sekar sambil memanyunkan bibirnya. Cindi mendekati Sekar kemudian mencium pipi kanan dan kiri Sekar dan pergi meninggalkan ruangan diikuti oleh Andika.


Setelah mereka berdua pergi suasana ruang perawatan nampak sunyi karena Om Arya maupun Sekar tidak mengungkapkan sepatah maupun duapatah kata. Mereka berdua seolah mematung diam seribu bahasa hingga akhirnya perawat jaga yang memeriksa kondisi Sekar datang.


“Selamat sore? Maaf ini waktunya periksa kondisi pasien,” ucap perawat tersebut sambil memeriksa tekanan darah Sekar. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan perawat tersebut berusaha menyampaikan hasilnya.


“Permisi pak, keadaan mbak Sekar sudah mulai membaik. Cukup istirahat sja yang cukup,” ucap perawat tersebut sambil pamitan keluar ruangan.


“Iya, terimakasih,” jawab om Arya datar tanpa ekspresi.


“Apa mbak!” tanya Arya dengan muka sangar hingga membuat perawat tersebut ketakutan.


“Tidak pak! Ini hanya menyampaikan besok mbak Sekar boleh pulang karena keadaan sudah stabil,” jawab perawat tersebut dengan muka ketakutan dan cemas.


“Iya, aku tahu,” ucap Arya sambil beringsut duduk di dekat Sekar. Sementara itu Sekar yang tidak mau melihat om Arya langsung memalingkan mukanya menghadap ke tembok.


“Gila, benar-benar keras kepala!” gumam om Arya lirih setelah kepergian perawat tersebut. Arya kemudian berpikir keras bagaimana membuat Sekar bisa kembali ngobrol dengannya karena bagaimanapun dia yang salah karena tidak berusaha memberinya pengertian terlebih dahulu.


“Hem…, dia kan takut sama cicak,” gumam om Arya dalam hatinya.

__ADS_1


“Hus…, Hus…, dasar cicak tidak tahu malu asal nempel saja di dinding. Ayo pergi! Kasihan Sekar takut sama kamu!” ucapnya basa-basi berusaha mengelabuhi Sekar.


“Cicak, mana cicaknya,” ucap Sekar langsung terbangun dan melompat menabrak om Arya untung infusnya tidak lepas dari tangannya.


“Ha…, ha…, tenyata kamu masih takut sama cicak ya? Kamu kan sudah besar Sekar?” ucap om Arya terkekeh melihat ulah Sekar yang sudah berada dalam pelukannya.


“Ih…, om Arya menyebalkan! Awas ya? Aku cubit kamu!” ucap Sekar dan langsung mencubit pinggang om Arya hingga mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal dan tanpa disadari Sekar sudah di atas pangkuan om Arya. Om Arya yang menyadarinya langsung memindahkan posisi Sekar agar turun dari pangkuannya dengan berpegangan pinggang Sekar diangkatnya dan dipindahkan kembali ke tempat tidur.


“Sudah. Kamu tidur dulu ya? Maaf yang tadi, om terlalu keras sama kamu! Untuk ponsel nanti biar dibelikan sama Riki. Nanti biar dipilihkan ponsel terbaru dan limited edision,” ucap Arya sambil menyelimuti Sekar. Sekar yang sudah mulai mencair hatinya hanya menganggukkan kepalanya.


“Terimakasih om!” ucap Sekar sambil memasang senyuman yang paling menawan menurutnya. Dan benar saja Arya dilihat gugup mendapat senyuman dari Sekar hingga hatinya berdebar begitu kencang.


“Astaga, ada apa dengan aku. Apakah aku sudah mulai mencintai Sekar?” gumamnya lirih. Arya yang tidak kuat dengan senyuman manis Sekar langsung berjalan menuju sofa dan mengerjakan beberapa data perusahaan yang belum terselesaikan.


“Om, meskipun tidak sakit, om Arya juga harus istirahat!” ucap Sekar yang berusaha memberi perhatian kepada om Arya.


“Iya, terimaksih! Tidurlah! Sebentar lagi Riki sama bibik  juga akan kesini! Kamu minta apa biar aku sampaikan!” tanya om Arya berusaha menghilangkan kegugupannya karena jantungnya berdebar begitu erat.


“Salad buah sama seafood kepiting!” ucap Sekar sambil berusaha memejamkan matanya karena pengaruh obat yang dimasukan oleh perawat tadi mulai bereaksi.


“Iya. Pasti nanti dibelikan,” ucap Arya mulai mengirimkan permintaan Sekar ke Whatshap milik Riki. Dan tidak begitu lama langsung terkirim karena Riki sedang online. Riki yang sedang repot pun mau tidak mau harus berangkat ke rumah sakit dan memenuhi pesona bosnya.


“Benar-benar tidak membuat yaman aku saja!” gumam Riki dalam hatinya namun tetap berangkat juga.

__ADS_1


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?


__ADS_2