TERJERAT PESONA OM TAMPAN

TERJERAT PESONA OM TAMPAN
Hubungan yang Tidak Semestinya


__ADS_3

Setelah mendapatkan obat untuk Sekar, sesuai instruksi dokter membawa Sekar pulang. Sekar yang manja masih juga memanfaatkan sakitnya untuk diperhatikan oleh Arya. Sekar bahkan minta gendong Arya dengan alasan tidak bisa berjalan padahal dokter mengatakan kalau sebenarnya sudah bisa digunakan untuk berjalan.


“Om…, gendong,” rengek Sekar sepeti anak kecil Sambil menodongkan kedua tangannya ke arah Arya. Perawat yang jaga langsung mengambilkan kursi roda untuk Sekar agar bisa digunakan membawanya menuju mobil namun ditolak oleh Arya. Arya dengan sikap langsung menggendong Sekar menuju parkiran mobil. Sekar Memanfaatkan peluang tersebut dengan melanjutkan tangannya di leher Arya.  Semua orang yang tahu mengira bahwa mereka merupakan sepasang kekasih yang memang lagi kasmaran.  Bahkan yang jomblo nampak iri dengan keromantisan mereka, termasuk Riki.Cindi hanya nyengir melihjat ke arah Riki. Cindi dengan perasaan gemetar mengikuti Riki berjalan di sampingnya. Riki menyeringai senang karena harin ini behasil menggoda Cindi.


Riki dengan cekatan membuka pintu mobil begitu Arya sudah sampai di dekat mobil. Kemudian Riki langsung menuju ke belakang kemudi diikuti oleh Cindi. Begitulah Cindi selalu mengikuti Riki jika mereak berempat sedang jalan. Disepanjang jalan mereka berempat hanya diam tidak komentar apapun. Setelah beberapa menit disibukan dengan aktivitas di jalan raya mereka sampai di rumah Arya. Arya langsung menggendong Sekar menuju kamarnya, bibi yang  biasa tinggal di situ panik melihat Sekar kembali sakit.


“Non, kenapa lagi? Kenpa non kembali sakit? Non hati-hat to non?” ucap bibi sambil terlihat berkaca-kaca menahan air matanya. Sementara Sekar yang berada di gendongan Arya nampak biasa-biasa saja. Sekar berusaha tersenyum agar bibi tidak kuatir terhadapnya.


“Sudahlah bi, Sekar tidfak apa-apa. Ini kaki Sekar hanya terkilir doang!” ucapnya yang masih di gendongan Arya. Kemudian Arya pelan-pelan menurunkan Sekar untuk dibaringkan di ranjangnya. Arya dengan pelan menurunkannya kemudian menata bantal untuk ditinggikan agar Sekar bisa berbaring nyaman.


Bibi kembali keluar kamar mengambilkannya minum dan makanan untuk Sekar. Bibi menyuapi Sekar degan kasih sayang.


“:Non, kamu pasrti tadi tidak Sarapan ya hingga non tidak konsentrasidi jalan. Dan non meleng tidak lihat-lhat jadi kecelakaan waktu jalan,” ucap bibi yang terus menyuapi Sekar. Sementar itu Cindi yang berda di dekat Sekar merasa ngiri dengan  Sekar. Cindi melihat meski Sekar tidak memiliki orang tua tapi dikelilingi oleh orang-orang yag menyanyaginya. Cindi yang bengong dikejuitkan dengan suara bibi yang menyuruhnya sarapan.


“Cin, kalau mau sarapan pergi sana di meja makan! Ajak Riki ya?” ucap bibi yang mengagetkan Cindi.Cindi pun yag tidak konsentrasi langsiung gelagapan menjawab pertanyaan bibi.


“Baik bi,” ucap Cindi langsung pergi ke ruang makan yan gternyata di sana sudah ada Arya dan Riki.


“Cin, ayo gabung sarapan dengan kita!” ucap Arya yang sedang menikmati sarapan dengan roti, sementara Riki sarapan dengan nasi rendang yag dibuat oleh bibi.

__ADS_1


“Ayo Cin, sini! Nasi rendang buatan bibi mantap!” ucap Riki yang dengan lahapnya makan nasi rendang buatan bibi.


Disaat mereka makan tiba-tiba bunyi bel berbunyi.Dan tidak lama kemudian terdengar suara derap langkah seseorang menuju ke tempat mereka makan di ruang makan.


“Arya, kamu itu ya jaga Sekar saja tidak bisa! Ada apa lagi dengan Sekar?” ucapnya cerewet ngomel-ngomel tidak ada hentinya yang ternyata mamanya Arya. Tanpa menunggu jawaban dari Arya mamanya langsung menuju ke kamar Sekar.


“Sayang, ada-ada saja nak! Bener-bener Arya tidak bisa menjagamu. Ayo ikut mama oma saja!” ucapnya setelah berada di dekat Sekar. Mama Dewi berkata seperti itu bermaksud ingin memisahkan Arya dengan Sekar secara halus. Mama Dewi tidak ingin mereka berdua semakin terjerumus dalam hubungan yang tidak semestinya. Mama Dewi merasakan mereka berdua perasaannya semakin dalam satu sama lainnya. Oleh karena itu mama Dewi berusaha mencegahnya.


“Tidak mama oma, Aku di sini saja. Aku tidak tega meninggalkan om sendirian,” ucap Sekar dengan terbata-bata. Sekar nampak sedih dan matanya tiba-tiba berkaca-kaca hendak menangis. Mama yang tidak tega klangsung mendekatinya dan memeluknya dengan kasih sayang.


“Sayang, kamu tidak usah mengkawatirkan om Arya. Om Arya sebentar klagi ada yang merawatnya. Tante Santi juga sebentar lagi jadi istrinya om Arya,” ucap mama Dewi yang justru tidak membuat Sekar tenang tapi justru membuatnya semakin maengis.


“Sayang, jaga omongan kamu! Nanti kalau om Arya dengar kamu bisa kena marah!” bisik mama Dewi dan berusaha meneangkan Sekar.


“Iya non, om Arya pasti tidak terima kalau calon istrinya dikatakan jalan dengan orang lain!” ucap bibi yang masih berada di dekat mereka. Namun tiba-tiba yang dibicarkan masuk ke dalam kamar Sekar.


“Kalian membicarakan aku?” tanyanya dengan dingin dan langsung duduk di sofa memandang tajam ke arah bibi, bermaksud agar bibi segera memberi penjelasan. Bibi hendak membuka mulutya namun tiba-tiba mama Dewi langsung memberi penjelasan terhadap putranya.


“Tidak nak, kita hanya ingin membawa Sekar ke rumah mama, tapi bibi bilang mama harus izin dulu ke kamu!” ucap mama Dewi berusaha membophongi Arya gar Arya tidak mengetahaui apa yang mereka perboincangkan. Arya nampak mengertkan alisnya dan memandangi bibi dan mamanya secar bergantian. Sementar Sekar masih dalam pelukan mamanya dengan tangisnya.

__ADS_1


“Lalu kenapa Sekar menangis ma?” tanya Arya masih bingung dengan situasi yag ada di depannya.


“Karena Sekar tidak mau pindah dan ingin tetap di sini bersama kamu,” ucap mama Dewi memberi penjelasan kepada putranya.


“Ya udah ma, biarkan saja Sekar di sini. Dari dulu Sekar yang ngerawat juga aku!” ucap Arya  membela Sekar.tanpa ada rasa curiga klau sebenarnya mamanya bermaksud memisahkan diriya dengan Sekar. Mama Dewi memberi penjelasan supaya Sekar bisa dirawatnya dan nanti tempat kuliah pun juga dekat dari rumah mama jadi Sekar masih bisa diawasi mama Dewi dengan baik.


“Ma, percayalah sama Arya. Bagaimanapun aku mampu kok menjaga dan mengawasinya!” ucap Arya menghela nafasnya masih tetap mempertahankan Sekar untuk bersamanya. Arya juga melirik Sekar yang matanya sembab karena menagis.


“Ok. Terserah kamu saja, yang terpenting Sekar baik-baik saja dan kamu tidak keberatan,” ucap mama Dewi yang kemudian berdiri dan berlalu meninggalkan mereka. Arya yang tahu kalau mamanya sedang marah, dengan sigag langsung mengikuti mamnya dan berusaha merayunya. Arya seperti anak kecil merengek-rengek meeminta mamanya benar-benar ikhlas kalau Sekar yang merawat dirinya. Mama yang tidak tega dengan putranya hanya bisa mengiyakan kemauan putranya. Msma Dewi juga tidak mau berdebat dengan putranya. Mama berpikir kalau nanti akan menasehati putranyua kalau situasinya memungkinkan.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya? Kalau waktu longgar boleh lo kepo tentang cerita kita yang lain 👍


Misteri Menantu Pengganti


Terjerat Cinta Satpol PP Arogant


Buah Hati Ceo Pendendam


Si Buruk Rupa Mengejar Cinta

__ADS_1


__ADS_2