
Arya mengajak Santi ke kamarnya untuk mengganti bajunya yang kotor. Arya mengeluarkan hemnya dan diberikan kepada Santi. Santi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Santi setelah beberapa menit melakukan aktivitasnya, keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di tubuhnya. Arya yang duduk di sofa pura-pura tidak menghiraukan Santi. Badan mulus Santi tidak bisa membuatnya tergiur untuk melakukan sesuatu yang menyesatkan. Arya menahan nafasnya menahan gejolak yang ada di hatinya.
Santi sengaja melakukan jebakan untuk membuat Arya agar segera menikahinya. Santi berjalan menuju ke tempat tidur seolah-olah tidak tahu kalau Arya ada di sofa. Entah sengaja atau tidak tiba-tiba handuk yang melilit tubuhnya melorot dari tubuhnya hingga jatuh ke bawah. Tubuhnya yang ****, montok dan berisi terlihat bersih bisa membuat setiap lelaki yang memandangnya pasti ingin menikmatinya.
Arya semakin tidak menentu namun dirinya berusaha menahannya sekuat tenaga agar tidak tergiur. Arya kemudian berdiri mendekati Santi. Santi sangat berharap umpan yang diberikan untuk Arya bisa terlaksana dengan mulus. Namun di luar dugaan Santi aapa yang diharapkan tidak terjadi sama sekali. Arya mendekatinya kemudian melilitkan handuk itu kembali ke tubuh Santi.
Wajah Santi nampak merah menahan malu, ternyata pikirannya tentang Arya di luar bayangannya. Arya memang lelaki idaman para wanita meskipun seperti itu tidak terpengaruh oleh pesona kecantikannya yang begitu menggoda. Meskipun Arya sendiri sangat sulit untuk berdamai menguasai hatinya, namun Arya berusaha untuk melawannya.
“Sayang, jangan seperti ini! Mancing-mancing saja!” kata Arya dingin sedingin kulkas. Arya kemudian keluar dari kamarnya dan kembali ke ruang kerjanya. Arya melanjutkan semua pekerjaannya di ruang kerjanya.
Santi memakai baju yang telah disediakan oleh Arya keudian mengeringkan rambutnya tapi dia biarkan agak lembab. Santi ke luar kamar kemudian pura-pura mencari bibi yang sedang ada di kamar Sekar.
“Bi…, aku minta tolong bisa! Bisa gak belikan vitamin rambut di minimarket depan. Ini rambut aku keihataanya kaku banget setelah keramas!” ucap Santi yang sengaja menekankan keramas agak kencang dengan harapan Sekar mendengarnya. Sekar yang pura-pura tertidur tidak terpancing sama sekali. Santi yang actinggnya merasa tidak ada tanggapan daari Sekar langsung berbalik lagi untuk kembali ke kamar Arya sambil memberi uang bibi untuk membei vitamin rambut.
“Bi, ini uangnya! Tolong dibelikan ya? Aku tunggu di kamar kak Arya!” ucap Santi melempar uang tersebut ke arah bibi sambil berjalan berlenggak-lenggok meninggalkan kamar tersebut.
__ADS_1
Bibi bengong dengan tinggkah Santi yang seperti itu. “Dasar tidak sopan! Tobat-tobat mimpi apa tuan muda akan menikah dengan wanita tersebut!” gumama bibi lirih, namun tiba-tiba ada suara Sekar yang mengumpat tentang Santi.
“Dasar, tante-tante girang. tidak punya tata krama!” ucap Sekar yang kembali membuka matanya.
“Sudahlah non! Biarkan saja,” ucap bibi santai kemudian keluar kamar hendak membelikan pesanan Santi. Sekar diam sejenak kemudian merencanakan sesuatu kemudian memanggil bibi kembali. Sekar berbisik kepada bibi tersebut. Sekar juga reques untuk membelikan lem cair yang bening yang senada dengan vitaamin rambut.
Bibi keluar ruangan kemudian pergi ke minimarket depan rumah. Bibi membeli sesuai pesanan mereka berdua. Bibi agak ragu dengan pesanan Sekar namun bibi akhirnya dengan berat hati mengambilnya. Setelah semua pesanan kedua orang tersebut bibi kembali ke rumah. Sekar sudah menghadang di depan bibi ketika bibi masuk ke rumah. Sekar meminta semua barang yang di beli bibi kemudian dengan cekatan menyampur kedua barang tersebut kemudian sebagian dimasukan ke dalam botol vitamin rambut tersebut.
“Bi, tolong segera berikan si nenek lampir ya? Jangan bilang kalau aku oplos seperti ini! Biar tahu rasa salah sendiri sok ingin mnguasai perasaan om Arya,” ucap Sekar dengan mata menyala-nyala yang penuh dengan kebencian. Si bibi ragu dengan keinginan Sekar. Bibi bengong sejenak hingga akhirnya Sekar menyampaikan kalau semua hal yang ia lakukan akan dia pertanggungjawabakan sendiri. Sekar menyakinkan kalau dirinya tidak akan melibatkan bibi.
“Sayang, rambut aku rusak. Ini lem bukan vitamin rambut!” ucap Santi sambil berusaha mengurai raambutnya dengan sisir agar tidak mengggumpal. Arya pun dengan sigap berusaha membantunya, namun tidak bisa juga. Arya pun akhirnya memutuskan mengantar Santi ke salon.
Di sepanjang jalan Santi menyumpahi bibi dan Sekar. Santi merasa kesal dengan sikap Sekar yang berani mencelakainya. Santi juga merasa kesal ternyata Arya tidak mememarahi Sekar sama sekali. Arya justru meminta Santi untuk memaafkan kekonyolan Sekar.
“Sayang, aku ingin bertemu dengan Sekar. Anak kurang ajar, berani-beraninya dia mengerjaiku!” ucap Santi ngomel-omel sambil keluar dari kamar.
__ADS_1
“Sudahah sayang, Sekar masih sakit. Nanti Sekar biar aku yang urus!” jawab Arya berusaha menenangkan Santi. Arya dengan sayang menggandeng Santi menuju ke mobil. Tidak lama kemudian mereka sudah meluncur di jalanan menuju Salon yang tidak jauh dari rumah mereka.
Santi malu dengan kondisi rambutnya, hingga pelayan di salon tersebut menertawakannya. Mereka nampak menahan tawanya ketika Arya tiba-tiba muncul di belakang Santi.
“Mbak tolong ini rambunya di permak sedemikian rupa, usahakan kembali normal!” perintah Arya kepada pelayan tersebut yang ternyata salon itu milik mamanya Arya.
“Baik, tuan muda. Akan kami usahakan dengan baik dan sempurna!” ucap pelayan tersebut dan langsung bersiap mengambil peralatan dan mulai membersihkan rambut Santi. Sementara itu Arya langsung mencari mamanya di ruang kerjanya.
“Ma…,” panggil Arya ke tika masuk ke ruang kerja mamanya. Arya langsung mendekati mamanya dan mencium punggung tangan mamanya.
“Sayang tumben ke sini! Ada perlu apa dengan mama?” tanya mama Dewi kepada Arya anak kesayangannya.
“Ngak ma. Aku mengantar Santi, rambutnya rusak karena ulah Sekar!” ucapnya memberi tahu mamanya hingga mamanya kaget dengan perkataan Arya. Mama Dewi merasa kalau Sekar berbuat seperti itu pasti ada sesuatu yang tak beres. Mama Dewi punya feeling kalau Sekar cemburu karena Arya akan menikahi wanita lain. Jadi mama Dewi mengasumsikan kalau itu merupakan bentuk proters Sekar karena kuatir kasih sayang Arya akan terbagi dengan Santi.
Mama Dewi menghela nafasnya dan menyarankan agar Arya memberi pengertian kepada Sekar maupun Santi agar mereka berdua tahu batasan masing-masing sesuai posisinya.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?