
Sekar di rumah sakit setidaknya menguntungkan dirinya meskipun dirinya sangat kesakitan. Sekar semakin manja terhadap Arya. Sekar memanfaatkan situasi tersebut untuk menarik perhatian Arya.
“Om, Sekar sakit om. Sekar tidak mau makan, setiap makan ingin muntah,” ucap Sekar sambil meringis kesakitan.
“Sekar, ini sudah dua hari kamu dalam perawatan, kalau kamu seperi ini tidak akan sembuh. Makanlah!” ucap Arya lembut dan berusaha menyuapi Sekar. Sekar yang tahu kecemasan Arya, berusaha makan makanan yang disuapkan oleh Arya. Sedikit demi sedikit akhirnya makanan Sekar habis. Setelah habis Arya menyodorkan beberapa obat untuk di minum dan buah pelengkap sebagai penutup menu sarapan Sekar.
“Om…, Sekar jenuh. Sekar mau keluar di taman,” ucap Sekar setelah makan dan memiliki kekuatan.
“Sekar kamu masih sakit, biar om ambilkan kursi roda saja. Om yang dorong kamu untuk pergi ke taman,” ucap Arya kemudian memanggil perawat untuk mengambil kursi roda. Tak lama kemudian datang perawat yang membawakan kursi roda untuk Sekar.
“Pak, ini kursi rodanya. Biar aku bantu untuk memindahkan non Sekar ke kursi Roda,” ucap perawat tersebut kepada Arya.
“Tidak usah suster, aku bisa sendiri!” ucap Sekar yang mulai terbangun dan hendak turun dari ranjang dan dengan pelan berjalan menuju kursi roda. Arya yang tidak tega melihat Sekar langsung menghampirinya dan menuntunnya duduk di kursi roda.
“Benar-benar keras kepala! Dasar anak manja!” ucap Arya sambil bersungut-sungut memarahi Sekar.
“Biar, aku keras kepala kayak gini juga karena om Arya! Aku dari kecil kan yang mendidik om Arya, jadi karakter aku mewarisi dari om Arya,” ucap Sekar yang tidak mau kalah.
“Iya terserah kamu saja! Ayo aku dorong ke luar. Kita ke taman samping kamar ini!” ucap Arya yang dengan pelan mendorong Sekar. Arya mencarikan tempat yang nyaman untuk duduk mereka berdua. Sementara itu Santi tiba-tiba datang dan hendak menghampiri mereka namun tidak disadari Arya yang kebetulan duduk dihadapan Sekar.
Sekar yang mengetahuinya segera menjalankan aksinya dengan pura-pura klilipan untuk menarik hati arya dan memanasi Santi.
“Om…, ach mata aku klilipan,” ucap Sekar ketika angin yang begitu kencang menghampirinya.
Arya dengan cekatan langsung duduk jongkok dihadapan Sekar dan memegang dagu Sekar kemudian pelan-pelan meniup mata Sekar.
__ADS_1
“Om…, perih!” ucap Sekar pelan merintih kesakitan.
“Iya…, ini sudah om bersihkan. Anginnya begitu kencangnya ayo kita masuk ke kamar saja!” ucap Arya dan langsung kembali berdiri dan memutar badannya hendak kembali ke kamar.
“Baik om, sebenarnya aku ingin duduk di sini lebih lama, apalagi ada om di sini,” ucap Sekar berusaha menghibur dirinya.
“Sial, ternyata gadis ini tidak bisa dipandang remeh. Dia terlihat polos tapi punya trik tertentu untuk memikat pria,” gumam Santi yang sudah berada di belakang Arya. Santi berusaha menahan emosinya agar dirinya terlihat baik dimata Arya.
“Sayang ternyata kalian di sini ya? Aku bawakan makanan special buat kamu, ayo kita makan,” ucap Santi yang sudah memegangi beberapa kotak makanan.
“Kita baru saja maka tante, tadi om Arya yang menyuapi aku!” ucap Sekar yang sengaja disampaikan biar Santi cemburu.
“Benarkah begitu asayang?” tanya Santi kepada Arya dengan tatapan yang begitu tajam.
“Ok.., lain kali makan sendiri gadis kecil jangan merepotkan om Arya ya?” ucap Santi setengah mengingatkan.
“Tante kenapa yang keberatan? Om saja tidak keberatan kok?” balas Sekar seenaknya dan berusaha membelokan kursi rodanya hendak menuju ke kamar.
“Sudah…, kalian jangan bertengkar. Ayo kit ake kamar saja, lihatlah semua orang memperhatikan kalian,” ucap Arya langsung mendorong kursi roda Sekar menuju kamar pasien. Sesampainya di kamar, Sekar bikin ulah lagi sehingga membuat Santi naik pitam.
“Om…, gendong. Sekar tidak bisa pindah ke ranjang,” ucap Sekar manja sambil merentangkan kedua tanngannya. Arya yang tahu Sekar keras kepala dan daripada ada keributan diangkatnya kemudian pelan-pelan ditaruhnya di ranjang.
“Terimakasih om,” ucap Sekar di saat Arya membungkuk hendak melepas pelukannya tiba-tiba Sekar mencium pipi Arya hingga wajah Arya memerah menahan malu.
“Iya…, sayang kamu istirahatlah. Om sama tante akan ngobrol sebentar di luar,” ucap Arya sopan tanpa ada niat hendak menyakiti Sekar. Sekar yang tahu situasi langsung menganggukan kepalanya.
__ADS_1
“Hem…, aku harus mengalah dulu demi mencapai kemenangan. Aku yakin om Arya pasti akan mencintaiku. Dan lampir satu itu pasti tersingkirkan. Dasar lampir gembel hendak naik tahta menjerat om Arya hanya untuk mencari harta dan perushaan om Arya,” gumam Sekar lirih.
“Baik om! Jangan lupa pintunya ditutup, Aku takut kalau ada orang gila nyasar kesini,” ucap Sekar pedas yang tidak terlihat mengalah tapi justru terlihat sengaja memanas-manasi Santi. Santi yang mendengar dan melihatnya merasa jengkel dan pansas. Santi yang berada di dekatnya benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya dan hendak menampar Sekar namun ditahan tangannya oleh Arya.
“Hai… gadis. Kamu menyindir aku ya?” tanya Santi tiba-tiba hingga menyulut emosi Sekar.
“Lo siapa yang menyindir tante? Apakah tante merasa tersindir? Baguslah toh kenyataannya seperti itu. Om tinggalkan tante Santi, carilah yang baru. Dia dekat sama om karena ingin mendapatkan perusahaan om Arya,” ucap Sekar berceloteh tidak menentu.
“Sekar jaga sikap kamu, om selama ini diam karena menjaga perasan kamu dan tidak ingin menyakitimu!” ucap Arya berusaha menghentikan ucapan Sekar.
“Om jahat, om tidak lagi menyanyangi Sekar dan lebih mempercayai lampir jelek itu!” ucap Sekar dengan suara terbata-bata dan mulai meneteskan air matanya. Arya mulai panik, karena kalau Sekar ngambek pasti penyakitnya kan kambuh lagi.
“Sayang, maafkan om Arya. Om tidak bermaksud seperti itu. Om juga sayang sama kamu jadi om tidak mau kamu kasar sama orang yang lebih tua,” jelas Arya kepada Sekar namun Sekar tetap juga ngambek tidak mau mendengar perkataan Arya.
Arya kemudian mengandeng Santi ke luar dari ruangan dan memberinya pengertian.
“Sayang…, maafkan Sekar. Jadi untuk sementara kamu pualang dulu. Dan maaf aku harus menenangkan Sekar terlebih dahulu,” ucap Arya sopan dan mengecup kening Santi.
Lagi-lagi Santi tidak berdaya, Santi pulang dengan perasaan tidak menentu. Santi merasa kalah dengan gadis kecil seperti Sekar. Santi tersenyum sinis dan merencanakan sesuatu. Santi yakin dirinya bisa mendapatkan apa yang diinginakanya.
Santi mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Santi kemudian memutuskan untuk pergi menemui mamanya Arya. Santi yakin dengan sepenuh hati akan mengambil hati mama dan papanya Arya.
Santi mampir ke toko oleh-oleh yang kebetulan dekat dengan rumah sakit, Santi membelikan beberapa oleh-oleh dan buah untuk mama dan papa Arya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?
__ADS_1