
Sekar sangat tidak senang dengan sikap dosen wanita yang nempel dengan Arya. Bahkan dosen tersebut terkesan jelas ingin memanipulasi keadaan untuk mendapatkan Arya. Sekar sangat jelas melihat mereka berdua karena mereka sedang mengunjungi ruangan yang kebetulan Sekar ada di dalamnya mengikuti seminar.
Sekar membisikkan sesuatu kepada sahabatnya Cindi. Sekar merencanakan Ingin balas dendam kepada dosen wanita tersebut. Cindi mengingatkan agar Sekar hati-hati terhadap dosen tersebut. Cindi berharap balas dendam segar tidak akan membawa dampak buruk ke depannya. Karena bagaimanapun wanita tersebut dosen di dalam kampusnya.
“ Ngapain mesti takut, dengarkan Cin! Aku tidak takut sama siapa pun. Aku yakin pasti om Arya akan membelaku,” ucap Sekar dengan penuh percaya diri. Segar langsung undur diri untuk pergi di dekat pintu keluar diikuti oleh Cindi. Sekar yakin karena sebentar lagi rombongan pasti akan berjalan menuju pintu keluar ruangan.
Di saat keluar ruangan, Sekar yang berada di dekat pintu keluar berusaha menghalangi dosen tersebut dengan menjulurkan kakinya sehingga dosen tersebut terhubung dan jatuh di lantai.
“ Maaf, aku tidak sengaja!” ucap Sekar dengan santai tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
Ibu dosen tersebut sangat marah dan berdiri hendak menjambak Sekar akan tetapi Arya dengan sigap menarik Sekar dalam pelukannya.
“Maaf, anda jangan sekali-kali menyentuhnya. Karena dia adalah satu-satunya orang yang aku sayangi!” ucap Arya di hadapan semua orang sehingga timbul rasa penasaran oleh beberapa orang dengan sikap Arya termasuk rektornya. Namun diantara mereka tidak berani menanyakannya lebih jauh.
“ Terima kasih Om Arya,” ucap Sekar yang kemudian dengan santai dan beraninya mencium pipi Arya di hadapan semua orang. Semua orang yang ada di situ semakin penasaran dengan sikap Sekar. Namun Arya seperti halnya Sekar tidak memperdulikan apa yang ada di sekelilingnya. Arya Dengan santai memerintahkan Sekar untuk kembali mengikuti kegiatan. Arya juga memberi pesan bahwa nanti pulang kuliah dia akan menjemput Sekar.
Sekar dengan senang hati mengajak Cindy untuk kembali ke tempat semula. wajah Sekar tampak ceria karena dirinya merasa tersanjung dengan perlakuan Arya hari ini.
Semua mahasiswi yang ada di ruangan tersebut merasa iri dengan Sekar. Arya merupakan idaman semua wanita telah dibuat bucin oleh Sekar.
“ Sekar, gila banget. Kenal in dong ke kita? Ada nggak stok lama untuk kita?” ucap salah satu mahasiswi yang membuat Sekar berhenti di hadapan mahasiswi tersebut. Sekar dengan gerak refleks langsung membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Mahasiswi tersebut.
“ Hai…, kalau berucap itu yang sopan! Emangnya kau anggap apa aku ini?” tanya Sekar dengan wajah yang penuh emosi.
“ Wanita murahan lah! Bukankah itu om-om?” Ledek Mahasiswi tersebut karena iri dengan kedekatan Sekar dan Arya. Dalam hatinya pun dia sesungguhnya ingin seperti Sekar diperhatikan dan disayang seperti itu.
__ADS_1
“Murahan? Siapa yang murahan? Emang kenapa kalau om-om?” tanya balik segar terhadap Mahasiswi tersebut.
“Hello…, bukankah itu Arya yang kaya Raya itu? Tapi di usianya yang hampir 30 tahun belum menikah? Pasti dia hombreng dech! Ich..., mau-maunya kamu pacaran dengan dia?” tanya mahasiswi tersebut semakin membuat Sekar marah. Sekar hendak menampar mahasiswi tersebut namun dari arah belakang tiba-tiba ada tangan seseorang yang menahannya dan mengajaknya pergi dari situ.
“Om Arya? bukankah tadi sudah keluar?” tanya Sekar penasaran.
“Iya…, tapi aku mengkhawatirkan dirimu! Aku yakin kamu mesti diledek sama teman-teman kamu!” bisik Arya dengan cepat membawa Sekar ke luar ruangan.
Sementara itu yang ada di dalam ruangan semakin bertambah penasaran dengan hubungan mereka berdua.
Ada salah satu teman Sekar yang dulu waktu SMA sering bermain di tempat segar sehingga tahu betul hubungan mereka sesungguhnya. Namun karena memang mereka itu tidak tahu hubungan sesungguhnya antara segar dan area sehingga mereka cenderung berdiam diri.
“Cindi…, tidak ikut juga dengan temanmu itu?’ tanya mahasiswi yang usil tersebut.
Mahasiswi dan teman-teman perempuan mereka baru paham bahwa mereka itu merupakan pasangan kekasih yang saling mencintai.
Akhirnya semua kasak kusuk pun berhenti dengan sendirinya, karena bagaimanapun mereka merupakan orang yang terpandang dan menjadi donatur di kampus tersebut. Namun tidak dengan ekar yang masih dongkol dengan ulah dosen wanita tersebut. Jadi Arya menjadi amukan Sekar karena rasa cemburunya. Arya yang melihat suasana hati Sekar tidak menentu berusaha menetralkan keadaan. Arya berusaha membujuk Sekar untuk tidak buat onar lagi. Dari kecil Sekar memang susah untuk dikendalikan kalau lagi marah.
Karena Sekar masih juga ngambek tidak jela akhirnya Arya berinisiatif minta izin kepada rektor untuk pergi meninggalkan kampus diikuti oleh Ricki, Sekar dan Cindi.
Di tengah perjalanan Sekar masih manyun juga. Arya yang tahu cara menenangkan Sekar di dalam mobil bagian belakang langsung merengkuh Sekar ke dalam pelukannya. Arya membisikan sesuatu kepada Sekar.
“Sekar kamu jangan marah, itu semua di luar kendali om! Bu dosen saja yang memanfaatkan keadaan. Lagi pula om Arya tidak ada perasaan apa pun dengannya!” ucap Arya lirih berusaha memberi penjelasan.
“Apanya bu dosen saja yang memanfaatkan keadaan? tapi aku lihat om Arya juga menikmatinya? Iya kan om Riki?” ucap Sekar minta dukungan kepada Riki. Riki yang bingung mau mendukung mana masih terdiam tidak menjawab. Sekar yang masih labil langsung berteriak memanggil Riki lagi hingga membuat Riki mengiyakan pertanyaan Sekar.
__ADS_1
“Iya…, kelihatannya pak Arya menikmatinya! Mana mungkin ada kesempatan dengan wanita cantik disia-siakan!” ucap Riki yang ternyata semakin membuat Sekar kesal. Sekar pun dengan dongkolnya menghentak-hentakan kakinya hingga Arya pun kembali menenangkannya.
“Sudahlah Sekar kamu jangan kayak anak kecil. Pokoknya om akan selalu menyangyangimu! Tidak akan menggantikan rasa sayang om ini ke siapa pun! Tapi rasa sayang om hanya sebatas om ke keponakannya!” ucap Arya yang justru membuat Sekar semakin bersedih.
“Menyebalkan! Kalau hanya sebatas itu saja aku gak mau!” ucapnya lunglai, karena lagi-lagi dirinya di buat shock dengan ungkapan om Arya.
“Sekar…, sudahlah! Kamu jangan menuntut lebih dari om!” ucap Arya yang sebenarnya hatinya tercabik-cabik menyampaikan hal tersebut. Sesungguhnya Arya sendiri tidak mengerti apa yang ada di hatinya.
Arya merasakan kepedihan yang sangat dalam ketika mengucapkan hal tersebut. Arya beberapa kali menghela nafasnya karena dirinya sebenarnya merasakan ada getar-getar aneh yang ada di dalam hatinya. Arya sangat mencintai Sekar tapi Arya masih ragu dengan perasaannya. Arya ingin memastikan rasa cinta itu sebagai rasa cinta om terhadap keponakannya atau rasa cinta seorang laki-laki normal ke seorang wanita.
Riki yang tahu keadaan mereka berdua, berusaha menambah kecepatannyab iar segera sampai ke rumah dan menghindari mereka agar tidak terus bertengkar.
Sesampainya di rumah, Sekar masih manyun dan ngomel-ngomel tidak jelas. Sekar masih menunjukkan rasa amarahnya.
“Dasar laki-laki kalau suka harusnya bilang saja suka! Aku tidak mengerti, aku rasa om Arya benar-benar jaim!” ucap Sekar sambil masuk ke kamarnya diikuti oleh Cindi. Cindi sahabatnya berusaha menenangkan pikirannya.
Terima kasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya? Kalau waktu longgar boleh lo kepo tentang cerita kita yang lain 👍
1. Misteri Menantu Pengganti
2. Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
3. Buah Hati Ceo Pendendam
4. Si Buruk Rupa Mengejar Cinta
__ADS_1