
Meskipun mama Dewi ada ganjalan terhadap calon menantunya, sebagai orang tua Dewi tidak mau membuat Arya resah. Mama Dewi dengan telaten mengajari Santi memasak. Mereka berdua terlihat sangat akrab, mama Dewi nampak tersenyum puas melihat Santi yang naampak berusaha mengerjakannya.
Sementara itu Arya dan papanya sedang ngobrol di taman setelah melakukan aktifitas olahraga. Antara papa dan anak terlihat sangat akrap.
“Arya, kamu sudah memikirkannya masak-masak? Menikah itu tidak mudah, perlu persiapan yang matang secara lahir dan batin,” tanya papa Hari sedemikian rupa saambil menhela nafasnya agak panjang.
“Iya pa! Aku juga sudah lama pacaran dengannya. Kami sudah saling mengenal satu sama lainnya. 5 tahun kita pacaran. Baik buruknya kami saudah memikirkannya pa?” jawab Arya tegaas,
“Ok…, baguslah kalau begitu. Papa dan mama tinggal mendukungmu!” ucap papa Hari kepada putra satu-satunya.
“Terimaksih pa! Papa memang papa yang mengerti perasaan putranya! Wejangan papa sangatlah berarti,” ucap Arya santai.
“Arya…, Sekar kemana? Kenapa tidak sekalian saja diajak kesini? Papa lama tidak bertemu dengannya.
“Sekar tadi keluar sama temannya pa! Sekar mencari perlengkapan untuk ospek,” ucap Arya berbohong.
“Wah Papa senang, Sekar sudah kuliah dan sudah dewasa. Papa berharap Sekar bisa jadi wanita yang sukses tanpa bergantung pada laki-laki. Dan besok Sekar bisa menemukan jodoh yang tepat! Dan kamu Arya harus bisa menjaga jarak dengan Sekar. Sekar pasti akan merasa kehilangan jika kamu menikah,” ucap papa Hari sambil mendesah pelan. Papa Hari selalu terbayang dengan sikap manja Sekar.
“Terimakasih pa, mudah-mudahan Sekar bisa bersikap baik,” ucap Arya sambil menghela nafasnya karena kuatir dengan tingkah nekad Sekar.
“Arya, kamu kenapa? Adakah sesuatu yang kamu sembunyikan dari papa?” tanya papa Hari mulai curiga.
“Tidak pa! Arya tidak menyembunyikan sesuatu! Arya lagi fokus untuk persiapan tunangan,” ucap Arya berbohong.
“Baiklah Arya! Papa pikir, kamu memang harus segera menikah. Papa sudah tua jadi papa ingin segera menimang cucu. Papa hanya bisa kamu. Untuk Sekar tolong kamu pikirkan masa depannya. Bagaimanapun Sekar itu anak yatim piatu. 15% persen saham perusahaan kita tetap kamu berikan kepada Sekar. Papa tidak ingin setelah menikah nanti keberadaan Sekar bisa memicu perselisihan dengan istri kamu,” ucap papa Hari berusaha memikirkan keberadaan Sekar. Rasa sayangnya terhadap Sekar memang seperti anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
“Iya pa…, aku akan segera memanggil pengacara keluarga untuk mengesahkan saham milik Sekar,” ucap Arya menyakinkan papanya.
Disaat mereka berdua sedang asyik tiba-tiba ponsel Arya berbunyi. Arya segera mengangkatnya ponselnya yang ternyata telpon dari rumah.
“Tuan muda, non Sekar Sakit. Badannya panas dan badanya menggigil?” suara bibik yang tinggal di rumah.
“Iya bik, aku akan segera pulang. Tolong bibik rawat Sekar dulu,” jawa Arya penuh rasa kuatir. Meskipun sempat marah dengan Sekar tapi dirinya merasa kaaasihan kalau Sekar sakit.
“Maaf pa, aku pulang dulu. Sekar sakit katanya badannya panas,” ucap Arya minta izin pamit orang tuanya.
“Iya, kau rawat dia baik-baik. Papa kasihan dengan Sekar. Anak itu baik, papa yakin kelak dia akan menjadi seorang wanita yang sukses,” ucap papa Hari. Kemudian Arya pamit kepada ayahnya dan berjalan menemui mamanya yang sedang asyik ngobrol sama Santi.
“Ma…, Arya pulang dulu. Sekar tiba-tiba sakit,” ucap Arya yang pamit mamanya.
“Sakit? Sakit apa dia? Sebentar mama nitip makanan kesukaannya!” ucap mama Dewi dan langsung mengambil makananan yang sudah dia siapkan untuk Sekar.
“Hati-hati di jalan. Tolong sampaikan untuknya kalau mama merindukan Sekar!” ucap mama Dewi sambil berusaha mengantar putranya ke depan. Santi merasa cemburu atas kedekatan mama Arya dengan Santi.
“Kak…, orang tua kamu perhatian sekali sama Sekar ya? Enak juga bisa jadi Sekar, banyak orang yang menyanyannginya?” ucap Santi ambil menghela nafasnya. Santi merasa itu sangat berlebihan.
“Sayang bukankah Sekar itu gadis yang ke kantor kamu tempo hari?” tanya Santi berusaha mengorek keterangan daari Arya.
“Iya…, dulu sekitar 5 tahun kita tinggal bersama dengan orang tuaku. Kemudian aku pindah rumah, Sekar aku bawa serta karena memang tidak bisa pisah dengan aku,” ucap Arya memberi penjelasan.
“Sekar itu kesayanganku dan kedua orang tuku!” ucap Arya tanpa sadar mngucapkannya hingga membuaat Santi cembutu.
__ADS_1
“Kesayangan? Maksudnya bagaimana? Aku tidak mengerti? Bukankah Sekar anak adopsi?” tanya Santi Penasaran.
“Iya, tapi kita semua selalu menyanyaginya?” ucap Arya memberi penjelasan. Namun Santi masih menaruh curiga kalau hubungan Arya dan Sekar tidak hanya sebetas om dan keponakan.
“Wah enak juga Sekar, aku tidak seberuntung dia,” gumam Santi lirih dan tidak terdengar oleh Arya. Arya yang tahu betul perasaan Santi. Dengan pelan sambil menegemudi Arya mengambil tangan Santi kemudian di ciumnya dengan lembut.
“Sayang, kamu jangan marah. Sekar itu sudah seperti anak sendiri bagi keluargaku!” ucap Arya dan terus berkonsentrasi mengemudi. Santi menghela nafasnya karena menurutnya sangat berat masalah tersebut. Dari naluri kewanitaannya menurutnya Sekar menruh hati terhadap Arya. Santi menyimpulkan kalau perasaan anak tersebut beda terhadap Arya calon suaminya.
“Aku pastikan, kalau aku harus bisa menghancurkan anak ingussan tersebut! Aku tidak rela kalau di bisa merebut hati pak Arya!” gumam Santi lirih.
“Sayang, kamu kenapa? Sebentar lagi sampai. Aku minta tolong nanti kamu urus Sekar ya?” Aku ada meeting dadakan. Tiba-tiba klien perushaan menelpon dan harus dikerjakan sekarang.
“Iya kak! Aku akan melaksanakannya dengan baik,” ucapnya sambil mentap pintu cendela mobil,
“Hai…, kamu kenapa?” tanya Arya tiba-tiba dan mengejutkan Santi.
“Tidak kenapa-kenapa! Aku hanya berpikir saja, apakah dia mau nenerimaku jika aku menemaninya?” ucap Santi memberi penjelasan.
“Sayang, percayalah Sekar itu tidak jahat. Di baik dan selalu memeperhatikan perasaan orang lain. Tidak bakalan dia akan menyakitimu!” ucap Arya memberi penjelasaan.
“Baiklah. Mudah-mudahan sesuai harapanmu kak! Soalnya aku lihat kemarin dia terlihat tidak senang dengn kejadian tersebut apalagi setelah melihat kita tidak jadian,” ucap Santi yang membut Arya tidk suka.
“Sayang, sudahlah yang penting perasaan kakak hanya utnuk kamu,” ucap Arya sambil bernafas berat. Arya sendiri bingung mengetaahui sikap Sekar terhadapnya. Namun Arya berusaha menyembunyikannya masalah tersebut dengan orang lain.
Arya tidak suka nanti dirinya diperguncingkan dengan Sekar. Dalam hatinya dirinya berharap Sekar akan berubah dan kembali seperti Sekar kecil dimana selalu manja terhadapnya. Arya menghela nafasnya.
__ADS_1
Arya pikirannya tidak menentu karena Sekar adalah gadis Dewasa yang sudah mengenal cowok dan pacarn. Namun Sekar tidak mau ribet,
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?