Terlemah Yang Tak Terkalahkan

Terlemah Yang Tak Terkalahkan
Arc 4, 3 Of Us : Janjiku dan Janjimu


__ADS_3


Berlari menerjang di dalam kota bisu, tanpa arah, tanpa rencana, tanpa melihat kebelakang, ku hanya terus berlari. Satu persatu lampu jalanan bersinar menggiring setiap arah langkahku, ketika aku berhenti dan melihat kebelakang yang tersisa hanyalah satu bayangan milikku seorang. Berawal dari 3 bayangan melakukan hal bodoh dan menertawakan kebodohan kita sendiri lalu kini hanya tersisa 1 bayangan karena kelemahan dan ketidakmampuanku.


Berhenti menangis!


Hari-hari damai penuh warna, kini sudah mulai memudar menjadi kenangan semata. kita sudah kehilangan segalanya, suara tawa penuh kebahagiaan, waktu berharga yang tak tergantikan, impian tinggi penuh idealisme, sosok kehadiran kalian, semua sudah tak ada lagi dan suatu saat kesedihan dan ketakukan ini hanya akan berubah menjadi sebuah ingatan masa lalu, hanya sebatas kenangan yang pernah berlalu.


Hanya berdiam diri selama 2 detik kumulai merasakan mati rasa dikakiku, Menerjang dinginnya malam yang tak biasa dengan bertelanjang kaki adalah tindakan bodoh, Semua tempat yang ku tempuh semakin lama semakin


dingin.


Memandang langit dengan pikiran kosong dan muncul sebuah kabut kecil saat aku menghembuskan dengan mulutku cukup tebal untuk bisa kulihat dengan kedua mataku secara langsung.


Kulihat ke samping kiri, dari balik kacamata yang sudah kotor itu terlihat sebuah kaca besar disebuah toko yang sudah tutup memantulkan bayangan seorang pemuda memeluk kotak kado dengan seragam kusut dan beberapa bagian yang sudah terbasahi oleh darah itu membuatnya tak bisa menelan ludahnya sendiri. Tampilan itu...... Sungguh mengerikan, cukup mengerikan hingga membuat orang-orang ketakutan saat melihatnya.


Walaupun tak ada satu orangpun terlihat disekitarku ini namun aku bisa membayangkan bagaimana wajah orang-orang saat melihat wujudku yang seperti ini.


Saat membayangkannya dan mencoba tersenyum di depan cermin aku teringat kejadian hari ‘itu’ dan seketika menghapus senyumanku.


Membayangkan? Kenapa aku membohongi diriku sendiri, itu bukanlah membayangkan, tapi hanya menggali ingatan lama.


Kututup kedua mataku dan menenangkan diri mencoba mengalihkan seluruh pikiranku dan menghapus kejadian lama itu.


Maaf, maafkan aku, Vista.... aku sudah meninggalkanmu.


Aku pasti akan memenuhi janjiku,


Aku pasti akan menemukan Artia dan melindunginya,


Oleh karena itu........

__ADS_1


Kau juga harus menepati janjimu.....


Mengeluarkan hp dan memasukkan memori yang diberikan Vista


padaku, Setelah menghidupkan kembali Hpku terlihat sebuah file rekaman suara


yang berasal dari kartu memori itu...


[Untuk kalian yang abadi]


Untuk kalian yang abadi? Judul yang aneh....


Ku tekan tombol ‘Putar rekaman’ setelah menghela nafas panjang dan juga mempersiapkan mental.


[Rekaman diputar]


Rekaman dengan suara Artia :”A-a-a, Halo? Eh ini udh ngerekam belum? Eh timernya udah jalan, ehem.... Aku tidak tau siapa yang berhasil menemukan rekaman ini,tapi jika kau berasal dari Executor utusan papa kalian tak akan menemukan apapun disini. Dan jika yang menemukan memori ini adalah kalian berdua *Menghela nafas dalam* Maaf ya, sepertinya aku tak bisa mewujudkan mimpiku, aku tau kalian pasti marah dan ingin penjelasan darik- Eh? Apa ini? ‘maksimal rekaman 2 menit’? langsung ke intinya, pertama untukmu dulu, terima kasih sudah menemukan memori ini,”


‘Untukmu’? oh maksudnya Vista soalnya dia yang menemukan memori ini..


“Selanjutnya, apakah ‘Dia’ ada disana?  Jika iya tolong pause rekaman ini dan tinggalkan kami berdua.........


........ sudah?..... emmm, halo.... Aku tau setelah kejadian kemarin sekarang jadi canggung rasanya, tapi aku ingin kamu tau sebenarnya-“


Hah? Kok terpotong?!


Saat ku lihat ternyata Hpku sudah mati kehabisan baterai. Layar hitam memperlihatkan wajah menyedihkanku, kuusap bekas air mata di pipiku dan tiba-tiba terdengar suara lonceng besar dari arah alun-alun.


Petunjuk terakhir yang diberikan Vista sama sekali tak ada petunjuk dimana keberadaan Artia. Jangankan petunjuk bahkan dalam pesan rekaman itu dia begitu berhati-hati sampai tak menyebutkan nama kami berdua,


SIAL!

__ADS_1


Bahkan disituasi seperti itu dia masih saja melindungi kami berdua,sebenarnya apa yang sedang kau lakukan, Tia?!


Ku tatap jam yang ada di dalam toko menunjukkan pukul 7 : 38 malam, tgl 25 Desember 2021. Rasa kesal di diriku langsung mereda, tanpa jaminan, petunjuk ataupun teori. Seketika aku mengetahui dimana aku bisa bertemu dengan Artia.


Dari rekaman itu ada banyak sekali pertanyaan dalam benakku,


Siapa sebenarnya keluarga Artia?


Kenapa Papanya mengutus Executor menarget putrinya sendiri?


Siapa sebenarnya Artia?


Dan juga siapa sebenarnya Vista itu?


Dia memang kurang ajar, jail, tidak peka, dan licik, tapi dia bukanlah orang yang suka mengingkari janji.


Ku masukkan Hpku dan berjalan ke arah Alun-Alun dengan kedua kakiku yang sudah mati rasa karena kedinginan.  Hampir ku terjatuh disetiap langkahku, berjalan dan mempertahankan keseimbangan dengan kaki seperti ini bagaikan berjalan di atas benang, sangat sulit dan menyakitkan. Tapi jika diujung tujuanku bisa bertemu dengannya hal seperti ini tidak ada apa-apanya.


Bermula dari berjalan dengan sedikit cepat dan mulai melambat hingga akhirnya aku berakhir menyeret kaki. Tubuhku serasa sangat berat ku kerahkan seluruh yang kupunya untuk mempertahankan tubuhku tetap berdiri, disisi lain Kaki kiriku telah mencapai batas dan tak dapat lagi kurasakan atau kugerakkan, pandanganku mulai kabur cahaya-cahaya lampu yang menyinari langkaku perlahan mulai memudar dan semua mulai berubah menjadi berwarna abu-abu, rasa dingin yang menyelimutiku selama ini mulai berubah menjadi rasa sakit yang menyengatku disetiap kuseret tubuhku, jantungku mulai berdetak melambat dari biasanya hingga membuatku kesulitan untuk mengatur lemahku, bahkan bibirku tak kuat lagi untuk kubuka dengan kedinginan ini.


Kosong,


Otakku tak lagi dapat berpikir jernih hanya kekosongan semata, aku bahkan tak mengingat kemana aku harus pergi.


Vista dengan ceria berjalan disampingku sambil memulai ocehannya tanpa peringatan seperti biasa.


Ku abaikan dan terus menyeret kakiku dengan berusaha keras mempertahankan tanganku agar tak menjatuhkan kotak kado ini di samping jalan menuju Alun-Alun, sepanjang jalan tak terlihat orang sedikitpun, nampaknya mereka semua sudah berkumpul di Alun-Alun.


“Kalau aku sih sudah jelas, pergi beli permen kapas dulu lah, ritual wajib setiap ada event itu mah!” Rintihku dengan bibirku yang sudah mulai tak lagi bisa kurasakan,


Seketika aku tersadar dan langsung menghentikan langkahku, Ku lirik ke sebelah kananku dengan terkejut karena baru menyadari keberadaannya saat kulihat wajahnya aku hanya bisa terdiam syok.

__ADS_1


Artia :”Kenapa, Dion? Kok kamu keliatan terkejut kayak gitu? Kayak ngeliat hantu aja. Hahahaha.” Kata Artia dengan tawa sambil mengacak-acak rambutku


Dion :”T-Tia?” suara hati yang tak tertahankan keluar begitu saja saat melihat wajah dan juga rambut ungunya,


__ADS_2