
Bagai malam namun tanpa bintang, melaju tanpa ragu melewati puing-puing kota secepat yang kubisa, tanpa pertahanan dan hanya membawa sebatang besi tumpul sepanjang 1 meter sebagai satu-satunya senjata melawan sang ‘Dewa’ dengan tubuh 20 meter yang belum sempurna karena bagian bawah tubuhnya belum tercipta.
Sebelum mengambil posisi lebih dekat agar tidak ikut terserap jiwaku ku ambil ku tunggu timing yang tepat, tidak terlalu jauh atau terlalu dekat.
*DAK!*
Ku lubangi tangki bensin motor dengan tongkat besiku lalu menancapkannya ke celah lubang di jalan yang hancur dan melompat dari motor membiarkannya melaju lurus ke arahnya dengan meninggalkan jejak bensin.
“Halo, Diriku sendiri,” Salamku ketika mata kami saling bertemu.
Di tengah kota yang hancur terdapat banyak sekali batang besi dari sisa-sisa bangunan yang berceceran atau masih menancap dalam beton. Ku ambil salah satu batang besi yang terlepas dari betonnya dengan ukuran yang
sama yaitu 1 meter.
*Sring*
Dalam sekejap ia menciptakan kurungan yang terbuat dari Es dan mengurungku didalamnya.
Exceed Es..... aku sudah muak dengan elemen Es..
“Haahhhh......Arrgggg,” erangan terdengar dari berbagai sisi dan saat ku lihat puluhan zombie datang dari arah kuburan.
Exceed Necromancer .... Kekuatan si Mumi itu ternyata sudah direbut, bikin repot saja...
Ku hantamkan kedua tongkat besiku satu sama lain diatas lintasan bensin yang ditinggalkan motorku dan menciptakan percikan kecil berhasil menyulut api besar yang terus menjalar. Munculnya api besar yang panas membuat lubang sel besar dan diwaktu yang sama ku manfaatkan api itu memanaskan tongkat besi ditangan kiriku.
Gerombolan zombie memenuhi jalan tak memberiku celah untuk pergi setelah keluar dari Sel Es, berfikir cepat ku lemparkan tongkat besi panas ke arah tangki bensin mobil yang terjungkir diantara para zombie dan meledakkannya.
Tak membuang waktu tepat setelah ledakan diantara kobaran api ku lewati celah tersebut melewati gerombolan dan masuk ke dalam lubang gorong-gorong.
“Jika rencana ini berhasil maka kemenanganku sudah terjamin ....,” gumam kecilku terus berlari ke arahnya dari bawah dengan membawa kunci Elsie.
Sementara di permukaan makhluk itu memporak-porandakan semua bangunan yang ada demi mencariku. Agar perhitunganku tidak salah aku terus berlari sekuat tenaga sedekat mungkin ke arahnya dari bawah tanah sebelum alarm yang kutinggalkan dipermukaan berbunyi.
3...
2....
1......
*BOOM!*
Api yang kunyalakan dari bensin sudah mencapai motor dan meledak di tubuhnya menggetarkan tembok gorong-gorong, dari suara ledakan dapat ku ukur seberapa jauh jarakku dengan makhluk itu dari bawah setelah jaraknya
cukup ku gigit jariku dan melumuri kunci Elsie dengan darah lalu membuat lubang dan menancapkannya ke bawah.
“Semoga berhasil...”
Getaran tak kunjung berhenti dari permukaan, beberapa jalan di gorong-gorong sudah tertimbum oleh runtuhnya jalanan dan bangunan dari atas ditengah pencarianku akhirnya kutemukan sebuah lubang besar untuk keluar dan
__ADS_1
saat ku lalui kutemukan diriku berada di tengah-tengah perempatan jalan dihadapannya.
Tak kenal ampun makhluk itu langsung melemparkan sebuah gedung ke arahku, ingin ku berlari namun dengan ukuran sebesar itu sangatlah mustahil disisi lain sekujur tubuhku terasa sangat berat sampai-sampai dipaksa
untuk berlutut.
Exceed Gravitasi?
Ku tenangkan diri melihat gedung yang melayang ke arahku. Memanfaatkan tarikan gravitasi kuat itu ku berdirikan kedua tongkat dikedua sisi tubuhku yang sedang berlutut.
Dari apa pengalamanku efek ini akan hilang ketika target keluar dari pandangannya.
*Doom!*
Tanah bergetar bersama puluhan kaca pecah seperti bintang-bintang, disaat yang sama efek kekuatannya hilang saat tubuhku tertimbun gedung. Dalam kegelapan kubuka kedua mataku dan berdiri.
Bagaimana aku bisa selamat? Tanpa bergerak hanya menancapkan kedua tongkat besi yang tingginya melebihiku semua sudah cukup, sesuai perhitungan posisiku berlutut tepat disebuah jendela kaca gedung yang dihancurkan oleh tongkatku dan menciptakan lubang yang membuatku selamat tanpa luka.
*Ctar!....Ctar!....Ctar!”
Terdengar suara kaca pecah berturut-turut dan menciptakan jalan keluar dari gedung, benda pertama yang terlihat adalah tongkat yang kulempar lurus dan diikuti diriku yang berlari memutarinya sambil melempar tongkatku yang lain.
*Stab!.... Stab!*
Kedua tongkatku menancap bersandingan tepat dibawahnya, tak membuang waktu disela-sela aku berlari memutarinya ku cari dan kuambil tongkat besi sebanyak-banyaknya lalu melemparnya mengelilingi makhluk itu.
Saat ada gerombolan Zombie ku tancapkan tongkat dan melompat diatasnya menuju tempat tinggi yang tak dapat mereka raih seperti lantai 2 bangunan atau diatas mobil, berpindah pindah sambil terus melempari tongkat membuat bentuk lingkaran yang memutari tubuh makhluk raksasa itu.
Diluar zona zombie ku ambil sebuah pintu mobil yang terlepas menjadikannya perisai menghindari tatapan matanya agar tidak terkena efek kekuatan gravitasi. Saat satu persatu kekuatan sudah mulai kuatasi dengan akal muncul kekuatan lain yang menggangguku.
Tembok terbuat dari api mengurungku dari segala arah dengan suara zombie dibelakangnya, jika menerobos tembok api itu hanya akan membakar tubuh sendiri dan membuat semakin mudah ditangkap oleh zombie dibelakang, jika berdiam disini terus hanya masalah waktu kehabisan oksigen atau terpanggang. Kupantau tempat sepetak yang tersisa dan hanya melihat sebuah mobil.
Menerobos dengan mobil adalah tindakan bodoh, bagaimana jika mobilnya meledak saat melewati api itu jika tidak meledak tak ada jaminan satu mobil bisa menembus gerombolan zombie yang bahkan tak ku ketahui berapa lapis
yang menunggu dibalik sana.
Keringat terus bercucuran menahan panas dan kutemukan solusinya, namun sebelum itu ku kumpulkan beberapa tongkat besi yang ada disekitarku.
Ku taruh berjejer tongkat besi diatas mobil dan terakhir ku taruh perisai pintu mobilku diatasnya, dengan menyisahkan 1 tongkat di tanganku ku lepaskan pintu mobil itu dan menjadikannya perisai baruku.
“OK, semua sudah siap!”
Ku duduk diatas jejeran tongkat besi dan perisai lamaku yang ada diatas mobil, ku lubangi tangki bensin mobil itu dan mengalirkannya hingga ke tembok api. Setelah bensin itu sekali menyentuhnya, api menjalar dengan sangat cepat.
“Duar!”
Mobil dibawahku itu meledak, tumpukan tongkat besi dan perisai lamaku kujadikan penghalang agar tubuhku tak terkena ledakan yang mengenai organ vitalku. Memanfaatkan daya ledakan kupakai perisai pintu mobil untuk membuatku terbang ke langit bersama tongkat-tongkat besi yang sudah kukumpulkan.
Tak membuang waktu sebalum menyentuh tanah ku ambil satu persatu tongkat dan menyelesaikan lingkaran yang kuciptakan dari jejeran tongkat besi mengelilingi tubuh raksasa itu. Ku sisahkan satu tongkat untuk mendarat, ku tancapkan tongkat ke sebuah tembok gedung untuk mengurangi kecepatan jatuhku dan berhasil.
__ADS_1
Dengan lihai aku berlari keluar masuk bangunan mencoba lepas dari pandangannya sambil mencari truk atau mobil yang masih bisa dipakai. Waktu terus berlalu menguras seluruh tenagaku, setelah menemukan semua kendaraan dengan jumlah yang sesuai aku bersembunyi disebuah gedung saat terlepas dari pandangannya.
“Hah.....Hah....Hahh.... .” Dengan nafas terengah-engah kucoba mengembalikan energi yang sudah terkuras habis sambil merancang rute untuk serangan akhir. Ku pantau jam dinding 1 jam telah berlalu sejak pertarunganku dengannya dimulai.
Waktu segitu pasti sudah cukup buat persiapannya....
Setelah selesai mengatur rute serangan dan memulihkan sebagian energi ku paksa tubuhku berdiri walau enggan karena berat. Semakin lama waktu yang kubuang semakin besar kemungkinan rencanaku berhasil, jika kedua kakinya sudah tercipta rencana ini sudah pasti gagal. Berburu melawan waktu kutinggalkan tempat persembunyianku dengan tenaga yang pulih hanya sebagian.
Ku jalankan satu persatu mobil dan truk lalu mengarahkannya ke gedung atau bangunan didekatnya dan keluar dari kendaraan membiarkannya menabrak dan menghancurkan pilar bangunan hingga meruntuhkannya.
Ku ulangi langkah yang sama dengan 4 kendaraan dan meruntuhkan bangunan ke arah makhluk itu. Bangunan yang bahkan setinggi dengan ukuran tubuhnya sama sekali tak menjangkau setengah dari tubuhnya, tapi bukan itu yang kuincar.
Bangunan dan gedung itu runtuh dan mengenai jejeran tongkat besi yang melingkari raksasa itu, seperti konsep palu dan paku, dengan tongkat yang menjadi paku dan gedung menjadi palu, serangan itu berhasil menghancurkan jalan tempatnya berada dan membuatnya jatuh kebawah.
Dan tepat dibawahnya adalah rencanaku yang sebenarnya,
Sebuah portal hitam raksasa menuju dimensi Elsie terbuka lebar menangkap makhluk itu masuk kedalamnya. Kunci yang muncul dari kekuatan Elsie ternyata adalah benda khusus untuk membuka portal dengan darah sebagai
harganya.
Sekuat apapun makhluk itu, jika ia tak punya kekuatan Elsie atau akses dimensi tersebut ia takkan bisa keluar dari sana.
Kulihat dia jatuh tertelan dimensi kehampaan lalu mencabut kunci itu dari gorong-gorong. Seketika portal itu tertutup rapat menghilang bersama kehadirannya.
Dengan lemas ku kembali kepermukaan dan tergeletak menatap langit yang perlahan kembali menjadi normal. Terik mentari muncul seakan setelah bersembunyi dibalik awan, dunia malam tanpa bintang ataupun bulan menghilang bagai tak pernah ada.
Aku berhempus lembut membelai rambut dan tubuhku yang penuh luka dan lelah, kilauan mentari memaksaku untuk menututup mata.
“Aku berhasil, Elsie... ,”gumam lirihku memeluk kuncinya di dadaku,
Tepat sebelum mataku tertutup rapat terlihat sebuah cahaya kecil yang semakin membesar dan membentuk sebuah tubuh manusia yang diikuti sebuah suara.
“Dion!” Suara tak asing yang sering kali muncul dalam ingatan masa lalu terdengar kembali,
Saat kusadari cahaya itu berubah menjadi seorang gadis dan langsung memelukku, di lain sisi kulingat sosok bayangan pemuda dengan dua bedang di punggungnya yang duduk bersila disampingku.
“Yo, Lama tak jumpa.”
Banyak hal yang terjadi, banyak tragedi yang menghalangi, memisahkan kita, menghancurkan harapan kita dan memaksa kita untuk tumbuh dalam kesendirian. Namun sekarang semua luka dan penderitaan itu seakan terobati dengan kehadiran mereka berdua.
Dengan senyuman lebar penuh kebahagiaan aku berkata, “Senang bertemu kalian lagi, Artia, Vista.”
***
Bersambung - Terima kasih sudah membaca chapter ini, Chapter selanjutnya akan menjadi chapter terakhir dari novel 'Terlemah yang tak Terkalahkan.' Silahkan ditunggu dan disimak sampai akhir. jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar jika berkenan... sampai ketemu di chapter selanjutnya..
Anyways, chapter ini disponsori oleh sebuah novel romance, komedi, drama balada kehidupan pasangan pasustri dadakan, hari-hari yang diisi kekonyolan serta kadang pertengkaran membuat merekanya berpikir dua kali untuk melanjutkan hubungannya atau justru bubar. Novel karya kk [Nunuk Pujiati] yang berjudul [Mendadak Menikah] patut untuk di nikmati oleh kalangan pemuda - pemudi untuk bersiap jikalau menghadapi takdir yang tak terduga ini, siapa juga yang bakal tau kalau besok atau 2 jam dari sekarang anda bakalan nikah kah? langsung simak saja novel ini untuk pembekalan menghindari syok, check deskripsi lengkapnya dibawah....
__ADS_1