
Setiap orang adalah cerminan dari bagaimana dunia memperlakukan mereka. Jahat atau baik, lembut atau kasar, perhatian atau cuek, ceria atau suram, bahagia atau depresi, semua bergantung bagaimana dunia memperlakukanmu. Hanya dengan melihat sifat orang itu kita bisa mengetahui dunia seperti apa yang ia tinggali, Hidup seperti apa yang ia jalani dan perlakuan apa yang ia dapatkan.
Tak ada manusia yang terlahir dengan jiwa iblis, semua bayi terlahir suci dan polos bagai kertas tak ternodai.
Tapi,
Tak peduli seberapa keras dan jauh ku melangkah mengikuti arus sungai dalam pikiranku aku masih tak memahaminya,
Dunia seperti apa yang gadis ini tinggali.......
Jleb
“AAARRGHGHHH!!!”
Dengan paksa tangan kananku disatukan dengan lantai bersama pisau yang menembus tanganku hingga menancap kuat dilantai kayu tersebut.
“Ah, maafkan aku.... pasti sakit ya.... maafkan aku, habisnya kamu terus menjauh dariku.” Dengan wajah yang sangat khawatir ia langsung duduk di atas kedua kakiku yang memberontak menahan rasa sakit dan memeluk kepalaku yang meronta kesakitan itu dengan penuh kasih.
Air mata mengalir dengan deras tak kuat menahan rasa sakit dan seketika otakku tak lagi bisa dipakai berfikir jernih dengan semua kesakitan ini.
Sakit!
Sakit!
Sakit!
Sakit!
Darah tiada henti mengalir membasahi lantai hingga membentuk sebuah genangan yang menciptakan cerminan bayanganku yang duduk bersandar ke tembok meronta kesakitan bersama gadis itu yang memeluk kepalaku dengan lembut penuh kasih sayang.
“Cup...Cup....Cup....gpp – gpp aku disini kok.” Bisik lembutnya sambil mengusap-usap rambutku dengan perlahan.
Dak!
Dak!
Dak!
Suara kakiku yang menghantam lantai meronta - ronta menahan rasa sakit, semakin lama kedua kakiku semakin melambat dan melemah.
Tangan kanan yang terpaku pisau ke lantai, tangan kiri yang berlubang, darah yang terus mengalir menutupi sekujur bayangan tubuhku membuat diriku merasakan rasa lemas yang tak terukur disetiap sela rasa sakit yang terus menyiksaku tanpa henti.
Kok ruangan ini jadi makin gelap..... Apa cuma perasaanku saja?
Setelah tubuhku tak lagi memiliki energi yang tersisa aku hanya terdiam bagai boneka dengan pasrah, yang bisa kulakukan hanya berusaha sekuat tenaga untuk bernafas walau dengan ritme yang tak beraturan dan sangat cepat.
“Nah gitu, tenang ya. Dionku pasti.....” bisik lembutnya ditelingaku namun suaranya terdengar terpotong-potong.
Apa? Apa yang dia bilang? Aku tak bisa mendengarnya dengan jelas.
Suaranya terdengar semakin kecil dan terputus-putus terasa bagaikan mendengar didalam air walaupun terdengar namun sangat tak jelas karena gangguan suara aliran laut namun bedanya ini bukanlah suara aliran laut melainkan suara jantungku sendiri.
Dug!
Dug!
Dug!
Dug!
Dug!
Suara jantung yang semakin lama semakin besar jeda yang ada disetiap detakannya.
Bruak!!
Terdengar suara pintu terbuka dengan keras, saat ku angkat wajahku dengan perlahan mencoba meliriknya ku sadari bahwa semua sudah terlambat, mataku sudah tak lagi bisa menampilkan apapun kecuali warna hitam pekat.
Terdengar suara orang berbicara namun sangat tak jelas dan otakku tak lagi sanggup untuk memproses dan merakit potongan-potongan suara yang ada lalu hanya berujung mengabaikan suara tak jelas itu, yang jelas suara itu cukup keras hingga sampai ke telingaku yang sudah sangat lemah ini.
Si-Sial! Ke...sadaran...ku.....
__ADS_1
Plak!
Sebuah tamparan mentah mendarat ke pipiku dan berhasil membuat kesadaranku terjaga namun hanya berlaku untuk sesaat.
Plak!
Lagi-lagi sebuah tamparan mendarat dan memaksaku kembali ke dunia nyata dengan kesadaran yang ada. Disisi lain kurasakan kehangatan yang terpancar dari seluruh pusat luka di tubuhku, tak lama kemudian rasa sakit yang
selama ini menguburku dalam penderitaan perlahan demi perlahan tak lagi terasa.
Penderitaan yang terus menyiksaku langsung berubah menjadi ketenangan, bagai genangan air yang terguncang oleh arus gelombang di permukaan dan kini perlahan mulai kembali pada kestabilannya.
Kerutan dahi diwajahku mulai terlepas dengan sendirinya, namun walaupun begitu rasa lemas dan juga indraku tak lagi kembali.
Mata yang tak lagi berfungsi dan juga telinga yang kesulitan mendengar begitu juga otak yang tak lagi kuat untuk bekerja membuatku berakhir menjadi boneka yang tak bisa melihat, mendengar, berpikir ataupun bergerak dan juga berhasil mengantarku menuju tidur lelap yang tak pernah kutau kapan aku terbangun.
Cetar!
Terdengar suara keras pecahan kaca, cukup keras untuk membuatku membuka kedua mataku.
Sebuah langit-langit ruangan putih tanpa motif ataupun gelombang yang sangat asing, kuputar kepalaku menyadari diriku yang terbaring di atas ranjang dengan angin lembut yang berhembus membelai wajahku dari jendela kaca yang pecah.
“Rumah sakit?” gumam kecilku yang tiba-tiba mendapatkan jawaban dari arah sebaliknya ku menatap.
“Lebih tepatnya kamarku sih.”
Saat ku putar kepalaku ternyata suara itu berasal dari gadis itu lagi, dengan santai ia duduk memandangiku sambil menyandarkan kepalanya ke telapak tangan halusnya. Lagi-lagi kehadiran masker diwajahnya membuatku tak bisa
menebak ekspresi apa yang tercipta dibaliknya hingga membuatku kesulitan membaca segala motif disetiap tindakan dan perkataannya.
Saat ku keluarkan tanganku yang hendak mengankat tubuhku dari selimut tiba-tiba kutemukan sebuah pipa kecil berwarna merah yang melekat pada pergelangan tangan kiriku, disaat yang sama ku lihat pipa yang sama tersalurkan di pergelangan tangan gadis itu.
“Gpp diam aja g usah gerak dlu, mau makan sesuatu? Aku suapin kok.”
Ku ikuti perintahnya dan kembali menyandarkan kepalaku ke bantal empuk itu dan menatap langit merah menjelang malam dari luar jendela.
“Sekarang aku ada dimana?”
“Kerajaan Dimeria.”
"Sudah berapa lama aku tertidur?"
"Cukup lama hingga membuat mentari pergi dari pandangan kita."
Kesunyian tercipta dalam beberapa saat lalu gadis itu menghancurkannya dengan membuat memberiku sebuah pilihan lain.
“Hey, Dion. Menyerahlah menjadi Raja di Celestia. Dengan wewenangku disini aku bisa saja mengangkatmu menjadi raja di Dimeria dengan mudah. Dengan begitu kau tak lagi harus mempertaruhkan nyawamu, disini kau akan aman karena bersamaku.” Tawarnya sambil memutar kepalaku ke arahnya dan perlahan mendekatkan wajahnya tanpa masker padaku.
***Kehidupan damai******\, adalah hal yang paling kudambakan di dunia ini**. Jauh dari rasa sakit\, Jauh dari penderitaan\, jauh dari kesengsaraan\, hanya menikmati detik demi detik menebar kebahagiaan dan tertawa lepas memandang hijaunya alam tanpa adanya setetespun darah diatasnya.*
Saat aku aku terfokus dalam pikiranku jarak diantara bibir kami semakin kecil.
Sebuah surga yang selama ini ku impikan, aku sudah cukup berjuang sangat keras dan kini bolehkah aku bersantai dan menjauh dari hari-hari yang dipenuhi darah itu?
Saat ku ingin menerima tawarannya tiba-tiba terdengar suara seseorang dari dalam memori otakku.
“Dion.”
Sebuah pemandangan lama, ingatan yang hampir terkubur oleh kenangan berlumur darah.
Untuk siapa sebenarnya aku berdiri?
Untuk siapa aku berjuang selama ini?
Untuk Siapa apa aku selama ini melawan maut?
Benar.....
Semua itu hanya demi satu nama...
Dialah yang kucinta,
__ADS_1
Dialah yang harus kulindungi,
Dialah yang menjadi arah hidupku,
Satu nama yang membuatku bisa terus bangkit berkali-kali dan menantang maut....
Artia....
Aku mencintaimu....
Disaat bibir kami hendak bertemu kubuka mulutku dan berkata,
“Kembalikan aku.” Dengan tekad yang sudah bulat ku lemparkan jawabanku dan menghentikan gadis itu.
Pertama kalinya aku bisa melihat wajahnya dengan jelas tanpa masker namun sayang sekali kesan pertama itu harus di isi dengan wajah terkejut bercampur kecewa.
“Jadi kau masih memilih Artia, ya.” Gumam kecilnya,
“Karena dia, kau harus melalui semua penderitaan ini.” Ia terus bergumam sendiri dengan suara kecil hingga tak bisa kudengar.
Walau tak bisa mendengarnya namun aku merasakan ada yang janggal seluruh atmosfir disekitarku seakan bergetar, semua barang-barang di ruangan tiba-tiba mulai melayang dengan tubuh gadis itu yang diselimuti aura
hitam.
Krak!
Tembok dibelakang gadis itu tiba-tiba retak dengan sendirinya.
“KUBUNUH GADIS ITU!” Ia langsung mencabut pipa di pergelangan tangannya dan langsung melesat melompat keluar melalui jendela lantai tinggi dengan sangat cepat hingga mengacak-acak ruangan hanya dengan gelombang udara saat ai melompat.
Dalam sekejap ia langsung menghilang dalam gelapnya malam yang bercampur cahaya rembulan.
Satu kalimat yang tak main-main dengan tatapan mata benar-benar serius di penuhi murka dan denam itu terus terukir dalam otakku.
Namun sesaat sebelum ia menghilang dari balik jendela aku melihat sebuah lubang hitam di sampingnya yang mengeluarkan sebuah pedang. Hanya dengan pemandangan singkat itu semua pertanyaanku terjawab.
Siapa gadis itu?
Bagaimana dia mengatasi 4 orang yang mengepungku dengan cepat?
Dari kekuatannya tak salah lagi, hanya ada 1 orang yang mempunyai kekuatan itu didunia,
***[Dimeria Elsie\, Satu-satunya Exceed kelas S dikerajaan Dimeria]** *
Dia termasuk dalam catatanku salah satu orang yang tidak boleh sampai menjadi lawan dan harus di waspadai.
Tanpa kusadari aku telah membuat ancaman baru bagi Artia dan disaat aku menyadarinya gadis itu sudah menghilang tanpa jejak.
Kucoba untuk mengejarnya namun,
Brak!
Dengan kedua kaki lemahku aku bahkan tak sanggup untuk menopang tubuhku sendiri dan berakhir tersungkur dilantai porselen yang memantulkan wajah menyedihkanku dan tak berdaya.
Aku tau aku memanglah bukan orang yang sempurna, aku juga sadar aku adalah orang yang lemah baik fisik maupun mental, hanya seorang bocah yang berusaha keras melindungi 1 gadis.
Hidupku hanya dipenuhi oleh kegagalan, namun berkat kegagalan itu membuatku melupakan arti dari kata menyerah.
Ku kepalkan kedua tanganku dan menarik sekujur tubuhku dengan paksa ke arah jendela, beberapa pecahan kaca yang tersebar dilantai menancap dan ikut terseret oleh tubuhku namun jika dibandingkan dengan luka-luka yang selama ini ku derita luka kecil seperti itu masih bisa ku tahan.
Setelah beberapa saat akhirnya aku berhasil meraih tembok ujung ruangan, ku angkat tanganku setinggi-tingginya hingga akhirnya berhasil meraih bingkai jendela. Dengan seluruh tenaga yang ada ku tarik tubuhku ke atas dan berpegang pada bingkai jendela, Disaat itulah aku menyadari perbedaan kemampuan ku dengan gadis itu.
Kusadari bahwa aku sedang berada dipuncak gedung lantai 70 yang sangat tinggi hingga tak lagi terlihat dasar bangunan, dan gadis itu bisa melompat tanpa ragu.
"Jika mengejarnya saja sudah mustahil bagaimana aku bisa menghentikannya?! SIALAN!!"
***
Bersambung - Saya selaku sebagai sebagai seorang yang bisa disebut penghalu g jelas ibu sekaligus ayah dari sebuah karya tulis sederhana namun membutuhkan konsentrasi ekstra untuk mengenalnya yang memiliki status hak dan kewajiban sebagai sebuah makhluk pilihan Tuhan untuk menyuratkan isi ide cerita yang mungkin kalian sebut sebagai Author mengucapkan berkata menyampaikan kepada para semua pembaca novel kecil ini yaitu Arigathanks terima danke untuk kalian semua.
Sebelum menginjakkan kaki ke chapter selanjutnya, turuntuk kalian yang sedang pusing ingin rehat otor ingin memperkenalkan novel yang cocok buat itu yang berjudul [Balas Dendam Istri yang Tak Di Anggap] nah loh, apa kesan kalian dari judulnya dulu nih? cukup menarik buat kalian yang punya dendam mendalam sampai nereka terdalamkan? Nopel dengan ciri khas sensasi satispaing ini ditulis oleh kk [Kiss]. Sinopsis? Coretan gambaran? dari pada tebak menebak yang g ada doorprizenya mending simak aja info resmi dari ortu kandung nopelnya dibawah ini....
__ADS_1