
Menatap sang pena menari - nari dengan bayangan yang tercipta dari sang mentari, ku buka kedua telinga mendengar alam, kubuka kedua mata memandang pena, kubuka kecil mulut menyuarakan fana, ku buka hati
membuatnya bergerak bersama tangan dengan seirama.
Diatas lembar kertas buku diary kecil ku ukir segala bentuk suara hati yang tak tersalur.
“Papa, anakmu sekarang berhasil meraih hutang 15 milyar dengan sukses, keren kan? rumah sakit milik papa aja harganya pasti g sampe segitu apalagi kakak yang g pernah bisa punya hutang, cupu banget. Berkat hutang ini hidupku kini kian menarik dan menegangkan. Ternyata benar seperti kata pepatah ‘Dengan hutang hidup menjadi lebih menantang.’ Untung saja disini semua serba gratis jadi aku bisa nabung dan-“
Sesaat kalimatku terhenti berkat pena yang sedikit error, ku kocok-kocok ke udara dan mencobanya untuk menulis kembali namun tetap tak ada yang keluar.
*Dak! Dak! Dak!*
Ku hantamkan kepala pena ke meja berkali-kali namun tak ada tanda-tanda kehidupan yang tersisa, awalnya kucukup curiga dengan gelaja yang di alami pena tersebut karena tak menemukan cara untuk membuka isi perut pena kuputuskan pakai cara lama.
*KRATAK!”
Hanya dengan sentuhan spesial kedua tanganku pena itu kusulap patah menjadi 2 bagian, dengan berhasilnya operasi ku buka dan melihat isi perutnya yang ternyata tak ada tinta yang tersisa yang terlihat pada dirinya.
“Ngapain si Adelia simpan pena sekarat kyk gini.”
*Wussh!*
Tanpa ragu ku lempar pena itu ke tong sampah di pojok ruangan dan membuka kotak alatnya lagi mencari pena Adelia yang lain. Setelah mencarinya beberapa menit tanpa hasil ku balikkan kotak membuatnya memuntahkan
semua isi peralatan yang ada ke meja dengan berantakan.
“Pena, Pena, Pena. Kok g ada.... Nih bocah ngaku bangsawan tapi pena aja g ada cadangan miskin amat.”
Setelah lelah mencari kuputuskan untuk menyerah berhenti menulis dan menutup buku Diary kecil yang berlabel nama ‘Adelia’, tak lupa juga ku kunci kembali dengan kunci yang ku ambil dari bawah bantalnya.
Ku tatap mentari di luar jendela, dengan suhu kejam bersama sinar yang menyilaukan masa depan kelamku nampaknya hari sudah menjadi siang waktunya makan siang.
Sesuai kesepakatan yang tertulis setiap siswa Akademi Lotus tak diperbolehkan keluar dari zona yang disediakan, dengan kata lain tak pernah ada pilihan untuk pulang karena semua kebutuhan akan disediakan oleh pihak Akademi dan terkecuali, namun karena sedikit kesalahanku Top Class jadi berakhir seperti ini. Untuk para pria sih bisa dimana saja namun berbeda dengan murid cewenya, mereka menjadikan beberapa ruangan sebagai kamar mereka dan UKS ini adalah salah satu ruangan yang mereka kuasai karena ada kasurnya empuknya.
“Masa hari ini makan kentang lagi, mulai bosen juga sama menunya, kayaknya gua mesti mulai cari akal biar Adelia mau nanam tanaman lain di lahannya deh.” Kututup kedua mataku berjalan menuju lahannya Adelia buat
ngambil kentang selagi berfikir mengatur siasat untuknya.
*Jeduar!*
__ADS_1
Sesaat aku berjalan dilorong tiba-tiba terdengar suara ledakan besar dan dikuti getaran kuat hingga membuat seisi bangunan tua ini bergetar.
Dari suaranya kayaknya dari lantai 2, pasti apollo. Siapa lagi yang bisa buat ledakan dahsyat gitu kecuali dia Suara laju langkah kaki yang cukup ramai terdengar tepat di atasku, karna kupikir dengan ledakan seperti itu nampaknya situasi menjadi gawat dan kuputuskan untuk ke atas.
Ku hela nafas panjang menutup kedua mata sambil melompat-lompat kecil pemanasan, setelah 3 lompatan kecil kubuka mataku dan melompat setinggi mungkin ke arah langit-langit lorong.
*BRAK!*
Dengan sedikit pukulan saja tanganku langsung menembus kayu tua yang menjadi lantai di lantai 2, bagai zombie yang bangkit dari kuburan, sesaat tanganku muncul di permukaan lantai 2 kulanjutkan dengan tanganku yang satunya lalu menarik tubuhku seutuhnya ke atas dan dengan sukses menciptakan lubang baru di lantai tersebut.
Kesan pertamaku saat ke lantai 2,
Bagai neraka,
Sebuah lubang sebesar mobil tercipta pada dinding dan menjadi jendela baru yang sangat besar untuk melihat pemandangan hutan dengan sangat jelas, tak hanya ukurannya namun desain jendela itu cukuplah estetik dengan berbingkai kobaran api membuat jendela itu menjadi multi fungsi yakni bisa bersinar dalam gelapnya malam.
Ingin ku puji Apollo dengan ide kreatifnya namun semua orang tak terlihat demikian,
“WOY PADAMIN APINYA! BANGUNAN INI BISA KEBAKAR KLO DIBIARKAN!”
“PADAMIN PAKE APA? NGAMBIL AIR AJA BUTUH WAKTU 3 JAM PERJALANAN!”
Benar juga, dari sini ke sungai butuh waktu 3 jam perjalanan, kalo dipaksain ngambil air palingan dapat 1 ember dan pas balik nih bangunan pasti tersisa tulangnya doang.
Kayu kecilku berhasil merebut perhatian Adelia beserta semua orang disekitarnya. Dikala semua mata tertuju padaku dan tak ada satupun mulut yang terbuka lagi ku tunjuk jariku ke arah Adelia.
“Del, kekuatanmu itu bisa menghentikan waktu kan?”
Exceed takkan bisa memiliki kekuatan yang sama satu sama lain kecuali dari saudaranya atau kerabat anggota keluar aslinya. Dengan kata lain Adelia adalah Adiknya Theodor namun kekuatannya lebih kuat dari kakaknya.
“Gimana cara Adel padamin api itu?” tanya Adelia dengan kebingungan, Kekuatannya memang hebat namun sayangnya kecerdasannya tak setinggi kemampuannya.
“Hentikan waktu lalu ambil air dari sungai buat madamin. Dengan begitu api g bakal menjalar dan mudah buat dipadamin.” Jawab santaiku,
Seakan mendapatkan berkah ilahi, mata Adelia langsung bersinar-sinar menandakan ia setuju tanpa sedikitpun ragu dengan usulanku namun semua orang jelas tidak setuju karena..... Yah, Adelia itu masih seukuran bocah SMP jangankan fisik tubuhnya aja terpendek diantara kami semua.
Sebelum semua orang membuka mulutnya Adelia langsung melaksanakan apa yang ku katakan dan mengaktifkan kekuatannya. Di sudut pandang kami sebagai orang-orang yang terpengaruh kekuatan Adelia hanya dalam satu kedipan mata Adelia yang sebelumnya berdiri penuh semangat langsung terbaring lemas di lantai dengan keringat yang membanjirinya, namun seluruh api langsung padam.
1 detik telah berlalu, itulah yang kami rasakan untuk mendapatkan hasil api yang dipadamkan dan Adelia yang mandi keringat terkapar dilantai. Namun disudut pandang Adelia 1 detik kami bagaikan waktu berjam-jam, mungkin 12 jam atau bahkan 1 hari penuh bolak balik mengambil air kesungai seorang diri.
__ADS_1
Disaat api sudah padam pandangan mereka semua kambali ke arah Apollo yang terbaring dengan darah yang menggenang di bawahnya.
“Gawat! Apollo, kehilangan banyak darah. Di UKS ada pasokan
darah kan?”
Anggukku kepadanya memberi jawaban, disisi lain para murid cewe menatapku dengan tatapan curiga kenapa aku bisa tau di UKS ada pasokan darah padahal UKS adalah zona kamar mereka.
“Stok darahnya masih bisa dipakai, Alat-alatnya juga masih bisa digunakan mau transfusi darah sekarangpun bisa, nutup lukanya aku juga bisa sekarang masalahnya hanya satu, tipe darah dia apa?” Jelasku,
“Benar juga!” Saut pria yang duduk didekat Apollo lalu bertanya, “Woy, Apollo cepat beritau aku, Tipe milikmu itu apaan?”
Dengan lemas dan terbata-bata Apollo menjawab, “B.....”
“B, kah?” potongnya namun tiba-tiba Apollo melanjutkan kalimatnya,
“B....bahenol, Ca...cantik dan tinggi.”
Seketika semua orang terdiam,
*Plak!*
Salah satu cewe menamparnya lalu pergi dengan kesal, pandangan kami kembali ke Apollo.
“Bukan tipe itu, Tipe darah lu apaan, Apollo?!” tanyanya sekali lagi dengan nada mulai kesal.
Dengan mata setengah terbuka Apollo mengintip luka pahanya dan menjawab, “M-Merah.”
“Udahan yok, kita laporin aja Apollo dah meninggal dimakan beruang ato hilang di hutan gt, siapa tau kita dapat bansos dari para guru.” Ucap pria yang duduk di samping Apollo dengan santainya lalu di ikuti semua orang bubar begitu saja.
***
Bersambung - Danke guys! semoga bisa bertemu di chapter selanjutnya!
Promo time! untuk mengisi dan menghibur waktu santai kalian, author ingin memperkenalkan sebuah novel bergenre [Romance] yang berbobot nih,
Novel yang berjudul [Falling into your trap] atau kalau diartikan bagi kalian yang g bisa bahasa inggris yaitu "Jatuh kedalam perangkapmu." (Kalo salah salahin google translate yang terjemahin) Nopel ini ditulis oleh kk [Choocoya]
Nopel dengan gaya penulisan beraneka warna dan berbagai kata indah dalam setiap diksi membuatmu bisa merasakan secara sempurna emosional tokoh utama dalam menghadapi takdir kejam miliknya. Kalian klo udah baca nih nopel dijamin pikirannya langsung terbuka, merasakan secara aktual emosional tokoh yang lebih nyata dari pada emosional kalian sendiri bikin nih nopel layak di grebek.
__ADS_1
Bocoran? kalian mau bocoran? silahkan simak bocoran resmi dari penulisnya sendiri dibawah sini....