
Disuatu tempat,
Dibawah tangisan langit terdapat 2 bayangan orang dari atas gedung, menatap dunia yang sama namun pikiran dan hati mereka mengarah ke hal yang berbeda. Namun walaupun begitu mereka punya kesamaan, yaitu hidup dalam penyesalan dengan alasan yang berbeda.
Gadis yang memiliki penyesalan yang terlahir dari ke egoisan diri....
Dan,
Pria yang memiliki penyesalan yang terlahir dari kemurahan hati.....
Pertemuan mereka membuat mereka berdua menyadari apa yang harus mereka perbuatan.
Dengan sisa waktu yang mereka miliki, mereka bertekad untuk menebus penyesalan itu.
“Dunia ini sedang dilanda kekacauan, bagi mereka yang berpegang pada logika takkan bisa bertahan dengan seleksi kehidupan.
Tak ada seorangpun yang bisa menjadi hakim dan memutuskan mana yang benar dan yang salah. jika kedua belah pihak menyetujuinya, mereka akan memalingkan mata dibalik ‘Keadilan’ yang mereka buat.
Walaupun nyawa seseorang menjadi taruhan, jika mayoritas menunjuk jari padanya takkan ada yang peduli dengan kebenaran yang ada, tak peduli seberapa keras kau berteriak dan menolaknya takkan ada yang mendengarkanmu.
Begitulah bagaimana ‘Keadilan’ Bekerja , Itulah ‘Keadilan’ yang mereka lindungi.
Begitulah dunia tempatku berada.”
Artia :”Apa kamu membenci duniamu?”
“Benci? Tidak, aku tidak membencinya, aku hanya menyesal, kenapa waktu itu aku tidak memusnahkan mereka pada waktu itu. Namun kali ini berbeda, takkan kubiarkan semua kembali ke titik itu.”
Artia :”Apakah itu takdir yang menantiku?”
“Selama masih aku bernafas, Takkan kubiarkan hal itu terjadi.”
Keesokan harinya ditempat yang berbeda,
Mentari bersinar terang, menghangatkan dunia dan membuka lembaran baru yang diisi oleh setiap makhluk di dunia tanpa ada yang tau apa yang akan tertulis pada kertas kosong yang disebut ‘Takdir’ itu.
Mengawali pagi seperti biasa, sarapan seperti biasa, berangkat sekolah seperti biasa, melewati jalan yang sama seperti biasa, mengulang segalanya berulang kali, walaupun sudah kulakukan selama bertahun-tahun namun ini adalah pertama kalinya kumerasakan rasa sepi disetiap langkahku ini.
Hanya satu,
Hanya ada satu perbedaan bisa membuat semuanya terasa sangat asing dan sedikit membosankan. Lorong kelas spesial yang selalu kulewati dengan rasa bahagia saat melewatinya, menghitung langkah demi langkah menuju kelas sambil memikirkannya.
__ADS_1
Namun saat tanpa adanya dirinya,
Lorong ini hanya menjadi lorong kelas biasa, ku langkahkan kaki tanpa menghitung ataupun berekspetasi apapun. Ku ikuti ketenangan yang ada bersama suara langkah kakiku dengan diiringi bayangan tubuhku dari cahaya yang
melewati jendela.
Suara gema disetiap langkahku mengisi setiap kesunyian yang ada, sudah menjadi kebiasaan untuk berangkat sangat pagi, semua kulakukan hanya demi menyisahkan waktu untuknya, namun kali ini aku tak lagi memiliki alasan lagi, sebuah bergerak tubuhku yang mengingat semua kebiasaanku dan menjalankannya tanpa ada arti dibaliknya.
Ku buka pintu kelas dan teringat bayangannya yang duduk di bangku belakang melambai kearahku sambil tersenyum. Ku hela nafas panjang dan berjalan menuju kursiku, belum ada satu orangpun yang datang, tak ada satu orang pun yang tau apa yang sudah terjadi.
Semua sudah berlalu...
Dan ketika semua berakhir semua akan kembali seperti dulu...
Ku genggam erat cincin yang ku ku kalungkan dengan rantai kecil di leherku sambil menatap jauh keluar jendela.
Benarkan, Tia....
Setelah kejadian itu, dimalam yang sama ku bawa Vista kerumah sakit milik papa, setelah itu aku tak mengingat apapun. Saat aku tersadar dan membuka kedua mataku ku rasakan kehangatan dikedua tanganku, saat ku lihat ada Kak Rendi yang menggenggam erat tangan kiriku dan juga Kak Paula di tangan kananku mereka berdua terlihat begitu kelelahan sampai tertidur diatas tanganku.
Disaat kedua tanganku terkunci ku Ku putar kepalaku melihat sekitar dan melihat Papa yang tiba-tiba berdiri dari duduknya dan berjalan kearahku.
Tanpa kata ia langsung mencium dahiku dengan lembut kurasakan sebuah tetesan air mata diantaranya.
Ku ikuti kata hatiku dan meminta maaf disela-sela tangisku karena aku sudah membuat mereka khawatir.
Pada akhirnya aku tak bisa menepati janjiku pada Kak Paula dan Kak Rendi untuk menghadiri pernikahannya bersama Tia.
Pada pagi harinya saat mereka berdua bangun ku kembalikan kedua cincin itu pada mereka sambil berkata bahwa aku belum siap tanpa memberitau alasan yang sebenarnya. Mereka hanya terdiam saling memandang dalam bisu dan mengembalikan cincin itu padaku.
Hanya dalam satu malam tubuhku dengan anehnya kembali putih total, tak ada bekas luka diwajah dan juga di bagian tubuhku yang lain, semua seakan kembali ke kondisi primaku.
Ku buang pemikiran anehku dan mengabaikan sepenuhnya kejadian itu.
Saat dia membuka matanya aku sudah berada didepannya,
Vista :”Gua dimana?”
Dion :”Rumah sakit Papa.” Jawab entengku sambil menarik kursi duduk di samping ranjangnya
Vista :”HAH?!” Vista terkejut dan langsung bangun dari ranjangnya dengan tiba-tiba
Dengan reflek cepat ku genggam wajahnya dan membantingnya kembali ke bantalnya.
__ADS_1
Dion :”Elu! Kalem ngapa! Ini rumah sakit bukan rumah hantu, ngapain kaget.”
Dengan wajah pucat dan tangan gemetaran ia menjangkau pundakku,
Vista :”I-Ini bi-biayanya gratiskan? Kita kawankan?” tanyanya dengan nada terbata-bata,
Perlahan ku lepaskan tangan Vista dan menepuk lembut pundaknya balik,
Dion :”Yang tabah.”
Kutinggalkan Vista yang sedang syok itu dan langsung pulang kerumah bersiap untuk berangkat sekolah sebelum matahari terbit.
Ku duduk sambil menggenggam erat cincin yang ku ku kalungkan dengan rantai kecil di leherku sambil menatap jauh keluar jendela beberapa saat lalu menatap ruang kelas yang di isi olehku seorang. Ruang kelas tempat dimana kita bertiga berkumpul bersama kini hanya tersisa diriku yang tanpa henti berharap semoga semua segera kembali ke sedia kala, Ke masa dimana kita bertiga bisa tertawa bersama.
Setidaknya, Kunikmati saja kedamaian yang ada saat ini.
Semua berjalan seperti hari normal yang tak terjadi apa-apa, pelajaran berlangsung normal, walaupun aku sudah membolos berhari-hari ternyata Kak Paula membuatkan surat izin untukku yang mengatakan karena sakit dan membuatku terbebas dari hukuman, tak ada kejadian aneh, hanya kedamaian biasa, tak ada lagi Exceed.
Saat ku kira semua sudah kembali tenang dan damai lagi-lagi aku menyadari ke naifanku,
Hanya dalan waktu tak lebih dari 30 menit, gedung sekolahku langsung berubah menjadi puing-puing tak berbentuk. Teriakan, kepanikan dan ketakutan menjalar dengan cepat seperti api.
Dan di tengah kekacauan itu muncul satu orang lagi di depanku, seorang gadis berbaju militer itu duduk diatas puing-puing itu, ia menanyaiku beberapa hal dan hingga sampai pada kesimpulannya,
Gadis Militer :”Sesuai perintah yang diturunkan sang Raja.****Asterit Diona\, Hari ini\, ditempat ini\, kau dinyatakan mati.”
Jleb
Sebelum ku jawab sebuah darah mengalir dari mulutku dan saat kusadari ada sebuah bilah pedang yang menembus dadaku dari belakang.
Sret
Saat pedang itu ditarik keluar darah terus bercucuran dan mengalir dengan deras hingga membuat tubuhku merasakan rasa sakit yang hebat dan menguras habis tenagaku.
Brak
Ku terjatuh menyatu dengan kabut yang dipenuhi oleh debu-debu itu, perlahan pandanganku mulai memutar, disaat terakhir sebelum ku menutup kedua mataku aku mendengar perkataannya.
Gadis Militer :”Saat kami datang semua sudah terlambat, kami hanya bisa menemukan potongan – potongan sisa tubuh dari murid yang bernama Asterit Diona. Kupikir itu narasi yang cukup bagus untuk para wartawan.”
Bersambung - Selanjutnya [Arc 4, 3 Of Us : Hilangnya Asterit Diona dari Dunia Part 2]
__ADS_1