
Dunia fana membentang ditelan kegelapan, lautan yang telah kehilangan kilauan indahnya bergejolak bersama gemaan suara dari langit, langit yang tak lagi memiliki kuasa tanpa adanya bulan, bintang dan mentari menyadarkan kita akan betapa kecilnya makhluk yang disebut manusia.
Merah merona bagai warna darah segar terbuai cahaya bersinar terang menggantikan bulan dalam malam ataupun mentari dalam keseharian, lebih besar dari mentari, lebih terang dari rembulan, Dia tak memberikan kehangatan ataupun perlindungan cahaya itu seakan menelan jiwa dan akal sehat kita sampai ku sadari benda bersinar dilangit itu adalah sepasang mata raksasa yang menatap langsung ke arah kita.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kuasanya menyeretku bagaikan gravitasi dan membuatku bertekuk lutut kepadanya tanpa perlawanan.
Gemerlap indah yang dimiliki senja telah direbut oleh sepasang mata raksasa yang membuatku terpuruk seketika dan berserah diri kepadanya setiap kali menatap kilauannya.
Gema suara yang menggetarkan bumi dan langit menyuarakan
perintah kepada manusia,
“Pujalah aku!”
“Berserah dirilah padaku!”
__ADS_1
“Ikutilah aku!”
Ia bukanlah makhluk dunia ini, makhluk tanpa identias dengan kuasa tanpa batas, mereka memanggilnya dengan sebutan ‘Dewa’.
Ia yang pertama datang menjanjikan kekuatan,
Ia yang kembali datang menjatuhkan hukuman,
Manusia telah punah,
Dunia telah dirubah,
Menghapus keberadaan makhluk hina yang merenggut segala yang ada,
Diriku dimasa ini sudah pergi ke masa lalu tempatku berada, kini posisi kita berbalik.
Walau hanya sebatas pengamat dalam masa depan yang tak memiliki raga aku sama sekali tak bisa berkutik di bawah tatapan sang ‘dewa’. Vista menjadi manusia terakhir yang bertahan hidup di dunia hanya bisa bersujud padanya tenggelam dalam tangisan keputusasaan.
“Terlahir dari ketakutan, Tumbuh dengan kelemahan, Hidup dalam keputusasaan. Diriku yang mendambakan kekuatan bersumpah akan membalaskan dendam pada sang ‘Dewa’, kembali ke masa lalu dan menyerap seluruh kekuatan Exceed di penjuru dunia demi persiapan melawan sang ‘Dewa’.” Ujar Dion dari masa depan yang menarikku paksa kembali ke masa waktuku yang sebenarnya.
Ia melepaskan genggaman tangannya dan langsung membuatku berlutut lemas di atas meja kelas A.
Jantung yang berdetak kencang, wajah pucat, tubuh tiada henti bergetar, keringat bercucuran, bayangan ‘Dewa’ itu terus melekat dalam otakku mengukir dan meninggalkan sebuah bentuk ketakutan yang begitu mendalam.
Dengan nafas terengah-engah pria itu menarik daguku ke atas menghadap wajah topengnya.
“Kita memang orang yang sama, namun kita berada di jalur yang berbeda. Kau yang berpijak menjadi musuh umat manusia sedangkan diriku yang berpijak membela umat manusia.” Bisik kecilnya dengan aura intimidasi,
“A.....A-Ku......tidak pernah menjadi...musuh umat manusia.” Tolakku menepis dan melepaskan daguku dari tangannya lalu kembali berdiri dengan perlahan bersama tubuh yang masih gemetar ketakutan tak bisa melupakan
“Aku.... Aku bertekad.... untuk....menghapuskan kasta Exceed....dari dunia!” Jawabku padanya dan kembali berdiri tegap menghadapnya, “Aku memanglah manusia biasa tanpa kekuatan, namun aku tak pernah menjadikan kelemahanku sebagai alasan untuk berhenti berjuang mewujudkan idealismeku.”
Sebuah tawa kecil terdengar dari balik topeng pria itu lalu mengulurkan tangannya padaku,
“Kita punya misi yang berbeda namun dengan visi yang sama, aku datang kemari untuk menyerap seluruh kekuatan Exceed di masa ini dan kau yang ingin menghapuskan kasta Exceed dari dunia ini. Dengan bantuanku aku yakin kau bisa meraih tujuanmu lebih cepat, aman dan terjamin, punya partner kuat adalah hal yang bagus bukan? Jadi, mau bekerja sama denganku?” Ia menawarkan sebuah jabatan tangan padaku,
“Bolehkah aku bertanya satu hal?” Tanyaku padanya,
Dalam kerjasama atau negosiasi sudah sewajarnya kedua belah pihak mendapatkan keuntungan, jika ia hanya memberi tau efek positifnya bagiku tanpa memberi tau efek positif baginya hal itu sangatlah mencurigakan. Aku hanyalah manusia biasa, satu-satunya yang bisa ku andalkan hanya insting dan kepintaran otak untuk bertahan hidup di dunia yang tak masuk akal ini.
“Tentu saja! Tanyakan saja apapun padaku.” Jawabnya penuh percaya diri,
“Apa keuntunganmu bekerja sama dengan orang lemah sepertiku?”
“.....” Diam tak ada jawaban,
“Kalau tak mau menjawabnya biarkan aku mengganti pertanyaanku, jika kau sudah mendapatkan semua kekuatan Exceed dan menghapus semua keberadaan Exceed di dunia ini ‘Dewa’ mana yang akan kau lawan? ‘Dewa’ di duniaku ini atau ‘Dewa’ di duniamu dimasa depan?” Mengkerutkan kening ku perhatikan responnya,
Jika dia hanya merebut kekuatan Exceed di dunia ini lalu kembali ke masa depan itu sama saja melucuti senjata kami saat hendak berperang, suatu saat nanti kalau ‘Dewa’ benar-benar bangkit di dunia ini kita benar-benar tak bisa melawannya dan hanya berpasrah menghadapi pembantaian sepihak dari sang ‘Dewa’ tanpa bisa melawan balik.
“.....” Lagi-lagi tak ada jawaban darinya,
*PLAK!*
__ADS_1
Ku tepis tangannya yang menunggu jabatan tanggan itu,
“Pergi dari sini!” Ku arahkan mulut pistolku ke arah kepalanya,
“Kelak kau akan berada diposisiku saat sudah mengerti semuanya dan saat itu terjadi hanya penyesalan yang tersisa.” Tubuhnya menghilang begitu saja dan meninggalkan suara yang menggema mengisi ruangan.
Disaat gema itu tak lagi terdengar tiba-tiba roda waktu yang selama ini terhenti tiba-tiba kembali berputar.
*Dorr!*
Suara tembakanku yang mengarah ke mahkota ketua kelas A dan tepat menuju kepalanya,
Tanpa di beri waktu untuk memikirkan semua yang telah ku alami di antara pembekuan waktu bersama misteltein aku dihadapkan kembali ke situasi hidup dan mati melawan kelas A yang berjumlah 20 Exceed berada di satu
ruangan denganku.
Sebuah uap kecil tercipta dari bekas tembakan pistolku menjulang ke udara meninggalkan suara gema tembakan yang perlahan mengecil, disaat perhatianku tertuju pada 19 orang yang mengepungku tiba-tiba terlihat sebuah pantulan cahaya kecil dari belakang leherku, tanpa berfikir secara reflek aku menundukkan tubuhku.
*WUSSHHH*
Sebuah gergaji mesin melintas tepat di atas kepalaku, andai aku tak merespon menunduk sudah dipastikan kepalaku akan terbang terpisah dari tubuh ini.
Tanpa membuang waktu ku tembakan pistolku ke belakangku,
*Dorr!*
Suara tembakan sudah terlepas namun ayunan gergaji mesin itu sama sekali tak melambat atau terhenti, ku putar tubuhku selagi menghindari ayunan brutal gergaji itu dan melihat Ketua kelas A yang tersenyum lebar sambil terus mengayunkan gergaji mesin mencoba mengincar leherku.
*Dorr! Dorr!*
2 tembakan ku lepaskan tanpa ragu ke arah matanya,
Saat ia menutup mata atau mengindari tembakan itu akan ku manfaat waktu itu untuk mundur.
*Tang! Tang!*
Sebuah percikan api kecil tercipta bagai menembak bongkahan besi tebal, di saat sibuk menghindari tebasan gergaji mesin darinya sesaat aku melihat kulitnya berubah menjadi besi dan tak meninggalkan sedikitpun goresan dari bekas tembakan.
Di selip senyum lebarnya terlihat sebuah pecahan besi di antara mulutnya,
[Ketua kelas A]
[Nama : ????]
[Kasta : Exceed – tingkat A]
[Kekuatan : Bisa menciptakan objek dari bahan yang ia makan.]
***
Bersambung - Thx buat semua yang udah baca chapter ini. Mas budi bersama Dinda, Berdua dipisahkan jendela, Terima kasih sudah membaca, jangan segan meninggalkan kata. dua tiga totop botol g tutup botol bodo amat g nyambung selaku author ku nantikan pertemuan kita di bab berikutnya.
Selagi menanti hari esok yang semoga ada updatenya otor ada endorse kualitas sedap - sedap gurih. Berbeda dari biasanya, teruntuk pembaca yang suka beralibi "Gudluking sih pantes dpt cwo gudluking jg." siap-siap menelan ludah kalian sendiri, tutup mulut dan buka mata anda. Memperkenalkan novel berjudul [Akulah Malaikat Penolongmu.] karya kk [Ummi asya].... g gudluking gimana cara dapat jodoh cool? nih simak, pelajari dan hayati...
__ADS_1