Terlemah Yang Tak Terkalahkan

Terlemah Yang Tak Terkalahkan
Chapter 7 : Game termudah yang pernaha ada!


__ADS_3

Satu hal yang kutakutkan disela nafas yang kuhembuskan disetiap langkah yang kuambil, hal itu bukanlah kegagalan, pengkhianatan ataupun kematian, Namun hal itu adalah diriku yang mulai terbiasa melangkah maju tanpa kehadiranmu.


Dulu aku yang tak bisa mengawali hari tanpa melihat wajahmu, kini mulai bisa melangkah tanpa adanya bayanganmu disekitarku.


Hal itu membuatku takut pada diriku sendiri,


Setelah cukup lama dipisahkan oleh takdir yang kejam demi menggapai hal yang disebut ‘keadilan’ masing-masing yang kita percayai, kini kita tak lagi bersebrangan. Pada awalnya aku sangat ragu, tak percaya diri dan juga lemah, Namun perlahan demi perlahan aku mulai bisa berkembang.


Tapi semakin kusadari perkembangan ini justru membuat rasa takutku semakin besar dan besar.


Aku takut, jika suatu saat nanti aku akan benar-benar melupakan tentang dirinya. Senyumanmu yang bisa membuatku terus berjuang tanpa kenal lelah dan menyerah, Tawa manismu yang bisa mengusir mimpi burukku dari setiap masa lalu yang ingin kubuang, pelukan hangat yang bisa melelehkan hatiku yang sudah membeku sejak kepergian ibuku dan juga janji kita bersama  yang memberiku harapan untuk menggapai hari esok.


Ketika aku mulai bisa terbiasa untuk dapat menikmati hari-hari tanpamu, aku sangat takut jika terus seperti ini tanpa ku sadari suatu saat namamu akan terhapus dari memori dalam otakku.


Artia....


Iya....


Namanya adalah Artia....


Aku masih mengingatnya.....


Aku tak boleh sampai melupakan namanya, walaupun kita takkan bisa bersama lagi setidaknya aku takkan melupakan si penyelamat hidupku.


Namaku ini, tubuhku ini, nyawaku ini, masih ada disini berkat pertolongan dari dirinya, oleh sebab itu akan ku persembahkan semua yang kupunya demi membantunya mewujudkan impiannya.


Sungguh 12 tahun yang penuh kebahagiaan, walau hanya sesaat setidaknya aku bisa melihat tempat seperti apa yang ingin kau ciptakan dimasa depan.


Tapi sekarang tak ada waktu untuk memikirkan hal itu, aku harus fokus menghadapi pertarungan yang ada didepanku saat ini.


Walau aku sudah menggenggam wajah pemimpin mereka namun masih ada orang yang masih berdiri menantangku. Mereka ada 4 orang, berdiri disetiap sisi, depan, belakang, samping kanan dan kiriku. Tanpa melepaskan atau melonggarkan sedikitpun cengkramanku ku lirik satu persatu wajah orang itu dan aku pun yakin.


Mereka adalah 4 orang yang berada di lapisan ketiga yang mengawasi dari tempat jauh, apa mereka tidak memikirkan keselamatan pemimpin mereka?

__ADS_1


Tak ada tanda-tanda keraguan pada mereka, mata mereka semua fokus tertuju hanya padaku dan tak ada secuilpun dari mereka yang melihat ataupun mengkhawatirkan orang yang kuangkat ini.


Ku perkuat cengkramanku sampai membuatnya menjerit kesakitan namun mereka tak ada niatan untuk mundur “Apa kalian tidak memikirkan keselamatan pemimpin kalian?” tanyaku tanpa memalingkan pandanganku pada mereka dengan waspada.


“Pemimpin? Enggk – enggk, kita g ada hubungannya sama dia, awalnya kami hanya memanfaatkan mereka untuk mengalahkanmu dan merebut kalung Top Class dari mereka, Tapi yah....” Ia mengangkat kedua bahunya sambil memandang sekitar


“Siapa yang mengira mereka semua bisa dikalahkan secepat ini oleh 1 orang, apalagi melawan seorang Seed.”


Tak ada tanda-tanda darinya berbohong, mereka benar-benar tak ada hubungannya dengan kelompok yang menyerangku ini. Tapi sepertinya mereka memiliki tujuan yang sama yaitu menjadikanku sebagai targetnya.


Kulepaskan cengkramanku dan melempar pimpinan itu mejauh, tanpa mengatakan apapun ia langsung berlari menjauh bersama para kelompoknya dan meninggalkan kami ber  5 di tempat itu.


“Jadi.... Mau langsung dimulai saja?”  kataku dengan mengawasi satu persatu kekuatan mereka.


Tak terduga orang yang didepanku langsung menggelengkan kepalanya,


“Enggk-enggk, kalau bisa kami ingin menghindari pertarungan, game masih lama kami ingin menghemat energi kami sebisa mungkin sampai ujung game. Yang kami inginkan hanya kalung Top Class milikmu, bisakah kau menyerahkannya pada kami?” Ia menjulurkan tangannya padaku,


*Sring!*


Sebuah tembok Es besar dari berbagai sisi tercipta dalam sekejap, jika itu Es tipis maka kita bisa melihat apa yang ada dibaliknya namun Es ini berbeda, mungkin karena ketebalan dan kekerasannya membuatnya terlihat seperti batu yang sama sekali tak tak menunjukkan pemandangan diluar tembok.


Udara dingin menyerang dan memperlambat aliran darah dari setiap luka ditubuhku, udara dingin itu terpusat dari orang di belakangku, tak salah lagi dialah si Exceed dengan kemampuan penciptaan Es.


Di sisi lain kedua Exceed disampingku juga cukup menyeramkan,


*Set!*


Kedua sisi bagian depan dan juga belakang leherku sudah ada pedang yang tercipta dari petir dan juga air.


Di sebelah kananku adalah Exceed Listrik terlihat jelas dengan tubuhnya yang tiba-tiba dilapisi sebuah Armor Ksatria yang tercipta dari petir.


Sedangkan di sisi kiriku adalah Exceed Air yang menggunakan Armor Samurai dari Air.

__ADS_1


Mereka adalah Exceed dengan level yang berbeda dari gerombolan cecunguk tadi, mereka tidaklah bodoh, walaupun sudah memojokkanku mereka tak lupa juga meningkatkan pertahanan mereka. Semua situasi sudah mereka perhitungkan, Mereka ini...... Cerdas.


“Kalau begitu biarkan aku bertanya satu hal padamu, keputusanku akan ku tetapkan dari jawabanmu.” Dengan santai ku utarakan sebuah pertanyaan yang terpaku dalam benakku selama ini. DIsisi lain aku harus terus mempertahankan wajah tenangku walaupun aku sudah sangat berjuang sangat keras hanya mempertahankan kedua kakiku untuk berdiri dengan tubuh yang kehilangan cukup banyak darah ini, jika aku menunjukkan sisi lemah diriku mereka takkan segan-segan dan mewaspadaiku, selagi mereka waspada padaku aku harus menggali informasi dari mereka.


“Bagaimana cara kalian semua menemukan posisiku dengan cepat? Padahal game baru saja dimulai tidak mungkin secara kebetulan bertemu.”


Sial penglihatanku mulai kabur akibat terlalu banyak kehilangan darah.


“Bukankah sudah jelas, dari radar kan..... pertanyaan macam apa itu.”


“Radar?” ulangku kebingungan,


Orang itu tiba-tiba mengeluarkan benda yang seperti radar seukuran genggaman tangan kepadaku, dari layar radar itu mengedipkan sebuah gelombang yang terus diperbarui setiap 1 detik dan menunjukkan berbagai titik berwarna putih bergerak dan ada satu titik berwarna merah di bagian tengah layar. Akupun menyadarinya dalam sekejap karena hanya titik berwarna merah yang memiliki label di atasnya.


Dan label itu bertuliskan ‘Celestia Ren’


Jika titik putih itu adalah kalung bias berjumlah 1 poin maka titik merah adalah kalung khusus yang dimiliki Top Class, tak hanya itu ada nama pemiliknya jika itu dari Top Class.


Dari pada Eliminasi, Game ini sudah seperti tes kempuan para Top Class saja. Jika seperti ini sudah dipastikan semua murid akan berdatangan padaku.


Tunggu sebenar, bukankah game ini lebih mudah daripada yang kukira?


“Jadi bagaimana jawabanmu?” Tanya orang itu sekali lagi sambil memasukkan radarnya kembali ke sakunya.


“Sudah kuputuskan...” Jawabku dengan suara penuh percaya diri,


*Sring!*


Muncul puluhan duri Es runcing dari tembok yang mengurung kita,


*Jeduar!*


Disisi lain Exceed listrik itu menciptakan sebuah perisai listrik besar ditangan kirinya dan mengambil kuda-kuda memotong leherku dengan pedang yang sedari tadi terdiam di depan leherku, begitu juga sebaliknya disisi kiriku Si Exceed air itu menciptakan pedang keduanya dan sudah siap dengan perlengkapan bertarungnya secara sempurna.

__ADS_1


__ADS_2