
Bagai dongeng, tuan putri yang tertawan diatas menara meratapi ketidakmampuannya disetiap doa-doa yang ia lanturkan kepada sang penguasa surga. Ia hanya berdoa bukan karena dia menyerah, namun dia menyadari apa yang disebut dengan ‘batasan’.
Manusia adalah makhluk yang lemah,
Mereka tak diberkahi sayap dipunggung mereka bagai elang untuk terbang.
Mereka tak diberkahi taring yang besar nan kuat bagai singa untuk memangsa.
Mereka tak diberkahi tubuh kuat dan keras bagai badak untuk bertahan.
Satu senjata yang dimiliki manusia yaitu kecerdasan otak,
Namun kecerdasan itu menghasilkan logika yang menjadi bumerang bagi kami, saat dihadapkan dengan kekuatan diluar logika kami menjadi kembali menjadi lemah.
Di bawah sorotan bulan dan diawasi puluhan bintang lagi-lagi ku di pertemukan dengan ‘batasan’ yang dimiliki umat manusia. Jika gedung lantai 70 ini adalah sebuah menara maka aku adalah sang putri yang tertawan itu, perjuanganku melawan Exceed pada akhirnya sama seperti yang mereka katakan.
Apa yang mereka katakan?
Tidak ada....
Tak ada satupun kata yang terucap dari mulut mereka saat mendengar penyataan perangku terhadap Exceed.
Yang kudengar hanyalah suara tawa dimana-mana, Saat ku berpikir akan ada orang yang mendukung dan setuju denganku aku terus berharap menapaki jalan menjadi bahan tawa.
Waktu terus berputar hingga akhirnya kusadari tak ada satupun orang yang mengikutiku, ku angkat wajahku mencari orang yang bisa kusebut sekutu namun harapan itu menamparku dengan keras.
Suara tawa yang semakin keras itu ternyata tak hanya datang dari Exceed yang kumusuhi, namun suara itu juga tercampur dari para Seed yang sedang kulindungi.
Lagi-lagi aku dipaksa untuk tunduk menatap tanah seumur hidupku dan mengabdikan hidup demi melayani para Exceed.
Bertahun-tahun kujalani hidup memendam dendam sambil terus berpegang teguh pada kepercayaanku pada potensi manusia untuk mengalahkan Exceed.
Kupanjang jauh ke depan, hanya terlihat langit yang dipenuhi gelapnya malam bertabur bintang. Exceed adalah makhluk yang memiliki potensi diluar nalar akal sehat, lalu apa yang bisa manusia lakukan untuk melawannya?
Bisikan cakrawala dibalut dinginnya malam membelai seluruh wajah dan rambutku hingga beterbangan, tetesan keringat tanda kelemahan dan ketakutan telah menghilang tanpa sisa, ku hidup panjang udara yang ada membulatkan tekad yang ada.
“Aku sudah menapaki jalan menjadi bahan tawa, mana sudi ku biarkan suara tawa itu berlanjut ke pemakamanku!” ku tatap langit dan memejamkan mata dan mendengar kembali suara tawa yang tak pernah hilang dari ingatanku kala itu.
Bersama lembutnya hembusan cakrawala dalam bisu tercampur suara kecilku.
“Seed adalah makhluk yang lemah.”
“Seed takkan bisa menandingi Exceed.”
“Jika mereka dikharuniai kekuatan diluar logika.” Kubuka kedua mataku perlahan, “Maka yang perlukulakukan adalah membuang logikaku.”
*Wuusshhh*
Kulempar tubuhku keluar dari jendela gedung lantai 70, dalam sekejap sekujur tubuhku langsung ditarik kebawah dengan kecepatan tinggi oleh alam, suara angin tebal yang memenuhi kedua telingaku, kuhadapkan tubuhku kebawah terjun langsung ke arah bawah dengan mata merah bagai elang yang mengejar mangsa aku melesat dalam gelapnya langit malam.
Setelan pakaian hitam membuatku menyatu dengan langit malam dan hanya terlihat sepasang titik merah dari mataku dan di selingi suara teriakanku.
“JANGAN ANGGAP REMEH POTENSI MANUSIA!”
*Dak.......Sreeetttttt!
__ADS_1
Ku tancapkan pisau trisulaku ke dinding gedung sampingku untuk mengurangi kecepatanku sesaat bagian dasar gedung mulai mendekat.
*Cetar! Cetar! Cetar!*
Ku tekan terus trisulaku dan mengukir garis vertikal sempurna dari dinding hingga melewati setiap kaca dan memecahkannya. Potongan-potongan kaca itu menemani perjalananku dengan memantulkan cahaya-cahaya kecil dan menjadi sebuah bintang kecil.
Suara keras geseran trisulaku ke dinding gedung, suara pecahan kaca dan berjatuhan bagai serpihan bintang bersama suara teriakanku membuatku menjadi sorotan mata oleh penduduk sekitar dibawah. Diwaktu yang sama kulihat gerakan pihak keamanan yang bergerak cepat dari lampu sirine mereka yang berdatangan dari
berbagai arah jalan dibawah menuju ketempatku.
“Andai saja pihak keamanan ditempatku secepat mereka.” Gumam kecilku,
Ku ubah rencana menarik trisulaku dan menunggu momen lalu langsung menancapkannya dengan sekuat tenaga ke dinding dan berhasil menghentikan tubuhku. Di saat tubuhku menggantung ku ayunkan tubuhku maju mundur dan menciptakan momentum untuk menendang jendela kaca terdekat.
*Cetar!*
Tanpa membuang waktu langsung ku ayunkan tubuhku melesat masuk ke dalam ruangan itu dengan meninggalkan trisulaku menancap di dinding luar karena tak ada waktu untuk mengambilnya sebelum pihak keamanan datang
menangkapku.
“Permisi mbak!” Kuterjang gadis pemilik kamar yang baru terbangun dari ranjangnya,
“Si-SIAPA KAU?!”
Tanpa mengurangi sedikitpun kecepatan kakiku ku raih sebuah kursi dan melemparkannya ke pintu sampai hancur.
*Bruak!*
“AJUIN GANTI RUGI KE ELSIE MBAK!”
Setelah keluar dari kamar gadis itu aku dihadapkan dengan lorong bercabang-cabang bagai labirin dengan karpen merah. Karena berpikir juga tak ada gunanya kuputuskan untuk memilih jalan secara acak sambil menjadi lift atau tangga menuju kebawah.
Suara langka kaki dan suara angin terus menemani kesunyian pelarianku, namun hal itu tak bertahan lama,
“Itu dia! Tangkap penyusup itu!” Teriak para pihak keamanan dari ujung lorong yang kutuju,
Dengan reflek ku putar tubuhku dan menuju cabang lorong yang lain, tak peduli kemana pun aku lari selalu bertemu dengan pihak keamanan aku bahkan tak tau sedang menuju kemana yang kulakukan hanya lari-lari dan lari.
Aku tak boleh menyerang ataupun menyakiti orang-orang ini karena ini berada di kerajaan Dimeria.
Saat aku tengah berlari aku menyadari kejanggalan yang ada,
Perasaan ini lukisan udh kulewati berkali-kali.
Ku lanjutkan pelarianku dan lagi-lagi kembali ke lukisan yang sama,
Exceed tipe ilusi kah, bikin repot aja.....
Melawan Exceed tipe ilusi sangatlah mudah, yang perlu dilakukan adalah jangan mengandalkan mata yang harus dilakukan hanyalah menutup mata dan berjalan sesuai jalan yang kuingat.
Sesaat ku tutup kedua mataku ku aku berlari tanpa ragu,
*Cetar!*
Saat kusadari aku sudah menerobos kaca dan berakhir melayang di luar gedung.
__ADS_1
Eh goblok aku kan g tau denah gedung ini ngapain tutup mata!
Sebelum melihat kebawah tubuhku langsung ditarik paksa oleh alam kebawah.
Mati aku.
Kututup mata menunggu jemputan ajal.
Kesempatan bertemu malaikat pencabut nyawa hanya sekali, dalam sesaat dalam hati kecilku ku berharap semoga malaikat itu cewe cantik.
Tiba-tiba ketenangan telah mencapai tubuhku, aku tak merasakan sensasi jatuh dan suara angin di telingaku sudah menghilang.
Apakah aku sudah mati? Jika iya kuharap malaikat didepanku saat ini cantik seperti yang dikatakan orang-orang
ya Tuhan!
Perlahan kubuka mataku dan langsung dihantam dengan rasa kecewa. Bukannya malaikat cantik yang ada hanya om-om berjenggot memakai setelan putih yang terlihat seperti dokter.
“Cari mati, nak?” Tanya om itu dengan duduk bersila, “udah susah-susah kutolong dari Elsie malah cari mati.”
Sempat kuberfikir bagaimana aku selamat dan jawaban itu ternyata tepat didepan mataku, seorang om-om dengan pakaian dokter itu duduk bersila diatas langit begitu juga diriku, seperti dinding tak kasat mata yang menjadi tumpuan kami berdua, mungkin ini adalah kekuatan dari om ini, tapi aku tak punya waktu untuk menganalisa semua yang ia katakan ataupun apa yang kulihat.
“Hey, kau. Apa kau tau cara tercepat untuk kembali ke Kerajaan Celestia?”
“Klo ada orang tua ngomong dijawab napa, dasar anak jaman sekarang.”
“KUMOHON! INI DARURAT! AKU HARUS KE CELESTIA DAN MENGHENTIKAN ELSIE!” teriakku dengan tatapan serius ke arahnya,
Om itu menghela nafas panjang lalu berdiri mendekatiku,
“Iya-iya, aku tau kok solusi dari kedua masalahmu.” Jawab santainya.
“Serius? Bag-“
*Dap!*
Kalimatku langsung terhenti saat seluruh wajahku tertutup
oleh kakinya,
“Mati sono!”
*Dak!*
Tanpa peringatan ia langsung menendangku jatuh.
***
Bersambung - Selamat datang di check point tempat dimana orang di hadapkan pilihan yang bikin hidup makin ribet, lanjut next atau istirahat?
klo saran author sih istirahat dulu lah, mari simak ocehan otor yang bikin makin pusing namun percayalah setelah 5 tahun setelah kalian baca nopel ini kalian g akan menyesal, bukan karena sangat relate atau baru memahahi maknanya, tapi emng karena kalian pasti udh lupa sih makanya g menyesal.
Tapi jika kalian mau next aku sih g bisa maksa kalian buat stay istirahat tapi sebelum next ada yang mau otor sampai kan....
Bingung, resah, gundah gulana? calm lah, otor ada rekomendasi nopel bergenre [Romance] lagi nih, "Rekomendasi otor romance mlu tpi kok nopelnya gini?" yang nanya kyk gitu tenang dulu, kita bahas lain kali alasannya untuk sekarang fokus ke topik ini dulu. [Cinta untuk Arista] yang ditulis oleh kk [Hesti Rofiah] ini cocok untuk para wanita-wanita yang selalu berandai-andai bertemu dengan orang yang pernah kau sukai dimasa lalu lalu dipertemukan kembali dalam takdir..... Takut spoiler lebih dalam mending check aja info resmi dari pemiliknya dibawah ini...
__ADS_1