
Gadis itu terus mendekatkan tubuhnya ke arahku dengan wajahnya yang menyeramkan, ia terus memaksakan pertanyaannya seperti seorang Ilmuwan gila yang haus akan keingintahuan. Berkali-kali ku coba untuk mengabaikannya namun dia sama sekali tak menunjukkan untuk berhenti memaksaku buka mulut.
“Hey........hey..............hey...” Panggil bisiknya sambil terus memutar-mutar kepalanya mengikuti ke arah mataku menatap.
Saat perhatianku mencoba keras untuk mengacuhkannya tiba-tiba pergelangan tanganku di genggaman olehnya. Ia menarik lengan jasku melihat lengannya secara langsung. Ia mulai bergumam dengan sangat cepat bertanya pada dirinya sendiri sesaat melihat lenganku,
“Aku jadi penasaran dengan tubuh orang yang sudah mati ini...”
“Apa warna darahmu?”
“Bagaimana Organmu bekerja?”
“Jika aku mengambil jantung dan paru-parumu apa yang akan terjadi dengan tubuhmu?”
“Sampai batas mana otakmu bisa berkerja?”
“Mengapa tubuhmu bisa terlihat seperti manusia normal?
Air liur menetes dari mulutnya dengan ekspresinya seperti orang yang tidak waras dan disaat yang sama keluar sebuah pisau bedah dari lengan baju panjangnya. Tanpa membuang waktu sedetikpun ia langsung menggerakkan tangannya dengan lihat untuk membuka kulit lenganku.
Kuputar pergelangan tanganku dan langsung merebut pisau bedah dari tangannya, sebelum ia bereaksi ku lempar pisau itu ke atas. Saat matanya mengikuti kemana pergiku pisau itu dengan cepat ku genggam rahang bawahnya dan membuka mulutnya dengan paksa menghadap langit.
“Pernahkah kau perfikir apa yang terjadi jika manusia menelan pisau bedah?” tanyaku dengan menatap tajam ke arahnya,
__ADS_1
Mata gadis itu terus terpaku pada pisau bedah yang perlahan jatuh ke arah mulutnya yang terbuka.
“Urus urusanmu sendiri dan lupakan semua ini, paham?”
Keringat bercucuran saat melihat pisau itu berjarak beberapa meter lagi lampai ke mulutnya, tanpa berfikir dua kali ia langsung mengangguk kecil memberikan jawaban setuju.
*Set!*
Ku tangkap pisau itu tepat di atas mulutnya dengan kepala pisaunya yang sudah melewati gigi bagian dalamnya. Kutarik pisau itu keluar dan melepaskan wajah gadis pucat itu kembali ke posisi semulanya.
Sepertinya aku memang harus bersiap menghadapi situasi tak terduga seperti ini, aku tak ingin rencana ini gagal, terutama kepada wali kelasku, Kak Rendi. Sepertinya orang-orang dari Top Class yang paling berbahaya terhadap misiku.
Ku lirik di belakangku dan juga 2 orang di depanku yang termasuk sebagai Top Class. Dari data yang kubaca gadis tadi bernama [Lily], dia terlahir memiliki mata penerawang itu namun tak ada deskripsi lebih detail dengan kemampuan matanya walaupun sekarang aku sudah tau kemampuan matanya tapi tak ada jaminan kalau itu adalah satu-satunya kemampuan matanya, masih ada kemungkinan kemampuan lain dari matanya yang belum ku ketahui.
Exceed kelas S adalah tingkat kelas atas yang tak bisa diraih oleh sembarang orang. Jika [13 Dewan Exceed] tidak dihitung maka hanya ada 10 orang kelas S di dunia ini dan 2 diantaranya ada di kerajaan Celestia ini.
Berdiri diantara barisan Exceed membuatku tiada henti untuk terus waspada karena tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Sampai akhirnya seluruh mata kembali ke pusat acara guru di mimbar.
“Event pertama kita ada Last Standing, simpelnya ini adalah eliminasi, dari seribu orang di Aula ini akan disaring hingga tersisa 100 orang.
Aturannya sangat mudah, Kalian hanya akan mengenakan kalung dengan nilai yang sama yakni 1 orang bernilai 1 poin dan saling memperebutkannya dalam kurun waktu 24 jam. Gelang yang kalian pakai dari pendaftaran akan otomatis menghitung poin setiap saat ada perubahan dan akan ditampilkan di papan ranking.
Bagi yang memperoleh ranking diatas 100 akan langsung dikeluarkan dari Akademi. Seperti biasa motto dalam Akademi ini adalah kebebasan yang artinya tak ada larangan dalam melakukan apapun termasuk membentuk kelompok.
__ADS_1
Namun ada 1 hal yang spesial di game ini, yakni ada 13 kalung yang bernilai 100 poin untuk setiap bijinya, dan kalung itu hanya dimiliki oleh anggota Top Class saja. Dengan kata lain jika kau mempunyai satu kalung milik Top Class sudah dipastikan kau akan lolos game ini.
Game akan dimulai besok di wilayah Akademi, sampai waktu selanjutnya kalian diberi waktu untuk persiapan namun untuk kalungnya akan di berikan saat hari H. Sekian seluruh peserta dibubarkan.”
Ku injakkan kaki keluar Aula dengan perlahan sambil mulai berkeliling melihat-lihat wilayah Akademi yang luasnya 1/3 kota utama. Jelas tidak mungkin melihat semua tempat dalam waktu yang tersisa, namun setidaknya aku berharap menemukan suatu tempat yang berguna untuk bertahan.
Game ini memang tentang memperebutkan poin satu sama lain, namun untuk anggota Top Class game ini hanya sekedar tentang bertahan sampai waktu habis, sesuai dengan namanya last standing.
Game yang dimana tak ada aturan, sangat simpel dan terkedangar mengerikan jika melawan para Exceed namun disisi lain untukku ini merupakan keuntungan besar untuk meraih hasil tertinggi.
Takkan ada orang yang mengikuti dan mematuhi pemimpin yang lemah dan bodoh, apalagi karena kebocoran info itu nama keluargaku menjadi tercoreng. Menjadi kandidat Raja dengan menyandang nama Celestia adalah hal yang mustahil walaupun aku bisa memenangkan proyek Akademi Lotus ini namun dengan status nama yang tercoreng tidak akan merubah situasi kerajaan yang tengah kacau ini.
Oleh karena itu ku buat semua murid menjadi musuhku dan membuat mereka menaruh dendam padaku, dengan begitu mereka semua akan menghadapiku dengan segala kemampuan mereka. Dan Saat itu terjadi akan ku hancurkan keinginan mereka dengan kemampuanku dan meraih kemenangan mutlak.
Orang takkan mengikuti pemimpin yang lemah dan bodoh, oleh karena itu aku harus membuktikan dan mendapatkan pengakuan dari mereka semua secara mutlak. Kemenangan milikku sudah di pastikan 100% namun jika bisa aku tak ingin menggunakan benda ini, karna aku sudah membuat janji kalau aku takkan membunuh satu orangpun di misi ini.
Mataku tertuju pada sebuah pisau dengan bentuk trisula ditanganku. Ku pegang erat Trisula itu dan kembali memperkuat tekadku. Dibalik sarung tangan hitam yang kupakai kurasakan kembali sebuah cincin yang penuh akan kenangan.
Dari cincin ini aku mengingat kembali tujuanku berjuang sampai titik ini, alasanku untuk tidak boleh mundur ataupun ragu. Kegagalan, Kehilangan, Pengkhianatan, Kekecewaan, Ketakutan, Ketakutan, semua telah terekam dalam otakku dan cincin inilah yang menjadi saksi disetiap langkahku selama ini.
Aku tak boleh gagal dengan misi ini, aku harus segera menjadi Raja, Karena itulah satu-satunya caraku untuk menyelamatkan Artia.
“Aku tau kita tak bisa kembali seperti dulu, namun jika hanya ada satu orang diantara kita yang bisa kembali ke masa damai itu, aku ingin menjadikanmu orang itu.”
__ADS_1