
Dunia ini dipenuhi oleh ujian, dan Tuhan tak mungkin membuat ujian diluar kemampuan orang itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa dibutuhkan, kehadirannya di dunia membuatku sangat gembira.
Momen saat ia memanggilku “Kakak” untuk pertama kalinya, membuatku bersumpah untuk membimbing dan melindunginya dari apapun di dunia ini.
Tapi aku gagal,
Pada ulang tahunnya yang ke 6 di pelukan mama dan papa, tanpa bisa melakukan apapun aku hanya berdiri menatap dia yang semakin lemas hingga akhirnya berhenti bergerak dan menututp kedua matanya untuk selamanya.
Tuhan sudah memberiku ujian dan aku gagal,
Tiada henti mama memanggil namanya di dalam gendongannya, Dengan melihat pemandangan yang menyayat hati itu aku dan papa memeluk mama bersama dengannya.
Alat medis, obat, perawatan dan pengawasan dokter, semua menuju ke titik yang sama, sebuah titik kematian yang tak bisa dihindari.
Hanya bisa diam melihat anak berusia 6 tahun berjalan lurus ke ajalnya tanpa bisa mencegahnya. Dengan segala pengetahuan, kemampuan serta usaha kami, bahkan kami tak bisa memberikannya tambahan waktu untuk hidup, walaupun itu hanya 1 menit saja kami tak bisa.
__ADS_1
Aku hanya bisa memejamkan mata dan terus berdoa pada keajaiban, keajaiban besar, cukup besar untuk menghidupkan satu-satunya adikku tercintaku.
Pada saat itu aku kembali mengukir sumpah, takkan lagi mengulang kesalahan yang sama. Aku akan lebih mengawasinya, menyayanginya, melindunginya walaupun sampai mempertaruhkan nyawa takkan kubiarkan dia terluka.
Dan saat kubuka mataku aku pun terkejut saat mataku dan matanya saling bertatapan, Keajaiban telah terjadi.
Tuhan telah memberikan kesempatan kedua.
Sejak saat itu mataku tak pernah lepas darinya, ku pertaruhkan segala hal untuknya. Walaupun dengan ambisi dan prioritas itu Paula tetap menerimaku dan membantuku. Aku, Paula dan Papa kita bertiga menaruh sepenuhnya mata kami padanya.
Tetapi, aku gagal lagi.
Aku maju satu langkah dan mengeluarkan sesuatu dari saku, ku temukan benda itu bersama dengan jasadnya, cincin yang seharusnya ada sepasang kini hanya tersisa satu. Ku tunjukkan cincin itu ke depan makamnya dan bertanya,
Rendi :”Ini punyamu kan?” Ku letakkan cincin yang ku pegang itu ke atas batu nisannya.
__ADS_1
Rendi :”Ini aku kembalikan padamu. Kakak berjanji akan segera menemukan gadis pemegang cincin yang satunya.” Kubalikkan badan meninggalkan Papa dan juga Paula yang terdiam dibawah hujan.
Tanpa melihat kebelakang aku terus berjalan dan tiba-tiba terhenti memandang langit gelap tertutup awan hujan seakan teringat sesuatu.
Air mata? Atau air hujan? Tak ada yang tau, apa yang membasahi kedua pipiku saat ini. Kututup kedua mataku dan bergumam seorang diri.
Rendi :”Kalau punya impian jangan berhenti ditengah jalan, dasar goblok.”
Saat aku membuka kedua mataku tekadku pun sudah bulat dengan keputusanku,
Rendi :”Tak ada pilihan lain, akan ku wujudkan impian itu untukmu. Aku akan jadi guru terhebat sepanjang masa, cukup hebat sampai membuatmu tersenyum disurga sana. Dan saat itu juga akan ku sebarkan namamu dan kelak
mereka akan mengingat nama Asterit Diona sebagai adik dari guru terhebat sepanjang masa.” Ku kepalkan tanganku ke padanya di surga sana,
Kak Rendi :”Selamat jalan, wahai adikku, Kakak akan berjuang disini.”
__ADS_1
Ini adalah akhir dari bagian pertama yaitu pembukaan cerita, Mulai dari sini akan masuk ke Inti cerita.bagi pembaca yang masih ada yang bingung dengan beberapa titik silahkan tanyakan di komentar atau di PC ke author, Author akan menjawab segala pertanyaan yang berhubungan mulai dari prolog sampai bab ini.