
Bagaimana cara kita mempercayai orang? dari cara dia berbicara? dari apa yang dia bicarakan? dari apa yang ia janjikan? atau dari apa yang ia berikan?
TIDAK!
Tak ada jawaban dari pertanyaan tersebut. Mempercayai orang hanyalah akan menanamkan sebuah bom yang tak ada yang tau kapan akan meledak. Aku pernah berada di posisi mempercayai orang lain dan berakhir menyakitkan. Karena itulah.....
“Aku membenci kalian semua.” Suaraku bergema mengisi setiap sisi Aula, dihadapan seluruh murid Akademi Lotus dari atas mimbar.
“Tak ada niatan secuilpun untuk berkawan dengan para budak seperti kalian, terutama bagi anj*ng politik yang kalian sebut dengan Exceed. Berbeda dengan kalian aku takkan berakhir menjadi budak kerajaan, namun aku akan menjadi kerajaan itu sendiri. Kutegaskan sekali lagi, Aku akan menjadi Raja dikerajaan Celestia ini dan tugas kalian hanya cukup menjadi batu loncatan untukku meraih semua itu.”
Suasana Aula yang diisi oleh seribu orang langsung berubah dengan drastis,
Berbeda dengan Seed yang hanya menatapku penuh kebencian dan emosi, Seluruh Aula berubah dengan 180 derajat dengan respon para Exceed. Puluhan pedang muncul di atas kepalaku, api yang berkobar memutariku, langit-langit yang dipenuhi bongkahan Es runcing di atasku, tarikan gravitasi kuat yang terus memaksaku untuk bertekuk lutut, dan banyak lagi hal diluar logika muncul dengan tiba-tiba mengarah ke arahku semua.
“Sekedar mengingatkan, di sini kita dibebaskan dengan segala aturan bukan? Itu artinya walaupun kita saling membunuh itu juga diperbolehkan, kan?”
Salah satu guru muncul dan maju dari barisan mereka dan berbicara,
“Memang benar, tempat ini tidak memiliki aturan apapun, kalian bebas melakukan segala hal. Jika kalian terbunuh di tengah-tengah proyek ini, itu sudah menjadi kelalaianmu sendiri, dan itu berarti kalian tidak memiliki kemampuan untuk memimpin kerajaan ini. Seperti kontrak awal sebelum kalian mendaftar kesini, segala hal yang terjadi akan menjadi tanggung jawab kalian sendiri. Ngomong – ngomong seluruh tindakan kalian akan terekam dan disiarkan ke seluruh wilayah di kerajaan ini.” Setelah guru itu berbicara ia langsung kembali ke barisannya dan tak mengambil tindakan sedikitpun meredakan suasana ini, dari pada guru mereka lebih seperti seorang pengawas.
“Begitulah, walaupun dengan semua yang kalian punya ini kalian takkan bisa membunuhku, tapi....” ku ambil Stand mic didepanku dan memukulkannya ke arah pedang diatasku dan terpotong dengan mudahnya menjadi runcing dibagian pucuknya seperti tombak bambu lalu ku panaskan gagang besi itu ke api disekitarku hingga merubah warna besi itu menjadi merah karena panas.
“Jika aku melempar gagang ini secara acak sudah dipastikan salah satu dari kalian akan menderita luka berat, jadi gimana? Mau dilanjut? Serangan kalian semua melawan satu seranganku yang sudah pasti mengenai salah satu dari seribu orang didepanku?”
Di saat ku arahkan tongkat panas itu ke arah seribu orang mataku tiada henti memperhatikan sekitar satu persatu murid dan tak membutuhkan waktu lama akhirnya kutemukan orang yang kucari. Dengan kemampuan mereka, mereka mungkin berfikir bisa membunuhku dengan sempurna,
Lingkaran api mencegahku untuk lari,
__ADS_1
Tarikan gravitasi membuatku tak bisa menggerakkan kedua kakiku untuk menghindar,
Puluhan pedang melayang yang siap menusuk tubuhku
Dan juga bongkahan es runcing yang sanggup melubangi setiap tubuhku dari atas.
Dengan situasi seperti ini mereka semua pasti percaya diri bisa membunuhku dan sama sekali tak ada pemikiran untuk menghentikan serangannya, tapi maaf saja aku sudah berkali-kali menghadapi situasi hidup dan mati seperti ini.
Ku manfaatkan daya tarik gravitasi di kedua kakiku menjadi tumpuan kekuatan dan melempar tongkat besi panas itu ke arah satu orang yang selama ini kutarget.
*Sret!*
Di waktu yang sama semua serangan mereka juga dimulai, lingkaran api yang mulai mengecil, kekuatan gravitasi yang semakin kuat, pedang yang mulai bergerak, begitu juga bongkahan es runcing yang mulai jatuh ke arahku.
Dalam sekejap mimbar tempatku berdiri dipenuhi oleh uap, seisi murid terdiam.
“Inilah perbedaan kemampuan kita.” Kataku dengan mic dan didengar seluruh siswa yang terkejut aku selamat tanpa luka dan bahkan tak bergerak satu langkahpun dari tempatku berdiri.
“Kalian terlalu meremehkanku hanya karena aku seorang Seed. Bagaimana rasanya tak bisa melawan satu orang Seed yang selama ini kalian rendahkan? Dasar bodoh.” Saat semua orang kebingungan seluruh mata beralih ke arah orang yang ku lempar tongkat besi panas.
Tongkat besi itu terhenti tepat di depan wajahnya berjarak beberapa centi saja, tongkat itu berhasil dihentikan dengan seluruh pedang yang awalnya di tunjukan padaku, ia mengganti prioritasnya dari menyerang menjadi bertahan dan menarik seluruh pedangnya untuk melindungi dirinya.
Mencari seorang pengguna dari setiap kekuatan yang diaktifkan tidaklah sulit, setiap kemampuan memiliki warna masing-masing dan saat kemampuan itu aktif mata seorang pengguna akan bersinar sesuai warna kemampuannya.
Dan untuk serangan Es, lingkaran api dan juga gravitasi bukanlah masalah, Lingkaran api yang muncul cukup lama itu berhasil memanaskan udara sekitarku dan menghasilkan suhu yang sangatlah panas cukup panas untuk merubah bongkahan Es di atasku menjadi uap panas.
Karena mereka terlahir dengan kemampuan yang menentang hukum alam mereka hanya memfokuskan diri untuk melatih kemampuannya tanpa memperluas pengetahuan mereka.
__ADS_1
Dengan kata lain mereka hanyalah sekumpulan orang bodoh yang hanya menggunakan kekuatan mereka*\, seperti bayi yang di berikan sebuah pisau\, tanpa pengetahuan dan hanya kekuatan mereka bukanlah masalah.*
“Namaku Celestia Ren dari Top Class, sekian dariku.” Dengan santai ku melangkah pergi dari mimbar dan kembali ke barisan Top Class setelah mengembalikan mic ke guru yang terdekat.
Saat melewati barisan Murid beberapa ada yang memendang emosi, ada yang takut, ada yang netral tidak peduli, namun diantara semua itu terlihat pancaran kepercayaan diri para Seed yang meningkat di sela-sela barisan tersebut, Tapi aku sama sekali tak peduli dengan mereka semua karena tujuanku sudah tercapai untuk persiapan langkah selanjutnya.
Dan lucunya dibarisan Top Class hanya berisi 4 orang, murid yang lainnya tidak hadir tanpa keterangan.
Guru mengambil alih dan melanjutkan acaranya, di sisi lain salah satu murid Top Class dibelakangku menarik-narik kecil jas ku mengharapkanku untuk menghadap ke arahnya.
“Ada apa?” Jawabku dengan dingin tanpa membalikkan badan,
Setelah menyerah membuatku berbalik ia dengan sendirinya bergerak dan pindah menyerobot lalu berdiri didepanku.
Seorang gadis dengan ketinggian sampai bahu ku berdiri dan mengangkat wajahnya ke atas menatapku.
“Hey, mungkin ini terdengar aneh tapi aku mau kau menjawabnya. Kau ini......... makhluk apa? Zombie? Hantu? Atau Arwah?” Tanyanya dengan bingung sambil memiringkan kepalanya,
“Kenapa kau bisa bertanya begitu?” Jawab acuhku tanpa menatapnya,
“Kau tau? aku punya mata penerawang. Aku bisa tau kapan orang itu lahir dan juga mati dengan sangat akurat tanpa pernah meleset hanya dengan sekali lihat.” Jawabnya dengan girang,
“Lalu..”
“Aku Cuma heran aja, kenapa kau masih bisa hidup padahal tubuhmu sudah mati 13 tahun yang lalu.”
gadis itu mendekatkan wajahnya ke arahku dengan matanya yang melotot tepat ke mataku ia berbisik padaku dengan aura intimidasinya yang kuat hingga membuat tubuhku sulit untuk digerakkan,
__ADS_1
“Jadi..... Kau ini sebenarnya siapa? Kenapa kau bisa ada ditubuh orang ini?”