
Setiap malam ku diberikan sebuah mimpi dan juga harapan menuju masa depan, namun saat siang aku dibuat terjaga oleh keputusasaan dan kekecewaan kenyataan yang ada. Setiap orang punya ambisi dan juga keinginan yang mengarahkan mereka menuju apa yang mereka impikan, tanpa mempedulikan idealisme orang lain dan menggunakan segala cara demi meraihnya tak toleransi untuk kegagalan, jika kau gagal dalam impian dan idealismemu maka kau sama tak ada bedanya dengan mayat hidup yang hanya berjalan tanpa arah dan tujuan. Oleh karena itu....
Aku tak boleh tumbang ditempat ini!
Setinggi apapun burung terbang pada akhirnya akan kembali ke tanah.
Sekuat apapun singa jika kehilangan taring dan cakarnya dia takkan bisa berbuat apa-apa.
Secepat apapun citah berlari jika mereka kehilangan kaki mereka, mereka akan sangat lemah.
Sama halnya dengan Exceed,
Lahir dengan hanya melatih kekuatan mereka akan membuatnya menjadi Exceed yang sangatlah kuat, namun disisi lain mereka juga manusia yang sangatlah lemah.
Tak peduli seberapa tak masuk akalnya kekuatan mereka, jika mereka tak bisa memakainya mereka tak lebih dari sekedar bayi.
Stamina, Otot, gerakan, teknik bela diri, dan juga reflek mereka semua sangatlah lemah. Itulah hasil dari hidup sebagai bangsawan manja, mereka tak pernah mengerti arti dari rasa sakit, kegagalan dan yang paling penting mereka tak punya tekad untuk mengorbankan sebagian tubuhnya disetiap pertarungan.
Celestia Ren :“Dasar para anak manja....” gumamku sambil berdiri dengan sempoyongan di tengah jalan raya yang sudah tak lagi berbentuk.
Darah merah semerah mataku mengalir dari dahiku dan menutupi penglihatan mata kananku hingga merubah mata kanan menjadi berwarna merah sepenuhnya tanpa adanya warna lain.
Dengan nafas terngah-engah ku hitung orang yang terus bertambah entah dari mana yang mengepungku dari segala sisi dengan 3 lapisan.
Lapiasn pertama, Para Exceed kemampuan jarak dekat dengan kekuatan yang berbeda-beda penciptaan senjata, memperkuat tubuh, tubuh yang bisa mengeluarkan diri, tubuh slime dan juga beberapa Seed yang dipersenjatai lengkap oleh Exceed penciptaan seperti pedang, tombak, rantai, dan juga kapak.
Lapisan kedua, Exceed dengan kemampuan yang mempersulit gerakanku, ilusi yang membuat indra mataku sama sekali tak bisa dipercaya lagi, Gravitasi yang membuat tubuhku lebih berat 2x lipat dari biasanya, Penghasil gelombang khusus seperti kelelawar yang membuat gendang telingaku kesulitan mendengarkan sekitar.
Lapisan Ketiga, berada sangat jauh dibelakang mereka dari atas bangunan dan juga gedung yang kemampuannya belum ku ketahui namun terlihat jelas mereka bersiaga mungkin mencegahku agar tak bisa lari.
Game baru saja dimulai 5 menit masih tersisa 23 jam 55 menit lagi dan tubuhku sudah sempoyongan dipenuhi luka.
Celestia Ren :”Game macam apa ini, tingkat kesulitannya sangat tidak masuk akal.” Lagi-lagi mulutku bergumam,
Tiba-tiba mereka semua tertawa,
“Apa? Mau menyerah dek? Hahahahaha!!”
"Jika kau mau meminta maaf pada kita dan menjilat kaki kami semua mungkin kita membiarkanmu tetap hidup dengan beberapa tulang yang patah. HAHAHAHAHAHAAHA!"
“Banyak gaya padahal lemah bet! Haahahahahahah!”
“Jangan sombong mentang-mentang dari keluarga Celestia, dasar lemah!”
“Kau adalah bangsawan terlemah dan juga seorang Seed yang tak berguna!”
“Kau hanyalah aib bagi para bangsawan seperti kami! Sadari posisimu bangsawan Palsu!”
“Hahahahahaha!”
__ADS_1
Di kala mereka semua mencaci dan menertawaiku aku justru tersenyum dengan lebar menatap kebawah. Disaat mereka bergembira ria mengolok-olokku mereka tak menyadari sesuatu karena kelengahan mereka.
Aku bisa mendengar lagi......
Ku tatap langit dan menghadap ke arah matahari secara langsung dengan kedua mataku terbuka lebar sambil tertawa terbahak-bahak :”HAHAHAHA! GAME INI SANGAT SERU! SERU SEKALI! HAHAHAHAHA!”
Silau.....matahari terlihat begitu silau....
Mata kananku bisa melihat berkat terlumuri darah, kalau begitu....
Celestia Ren :”HAHAHAHA!”
Ku ambil pecahan kaca di bawahku dan membuka sarung tangan kiriku.
*Sret!*
Seketika semua orang berhenti tertawa dan terdiam karena terkejut melihatku yang tiba-tiba menyayat telapak tangan kiriku dengan pecahan kaca hingga mengalirkan darah segar tanpa henti ke trotoar dan juga ke sepatuku.
*Tik*
*Tik*
*Tik*
Ku angkat tangan kiriku kelangit meneteskan darahnya ke mata kananku dan berhasil memperoleh indra penglihatan mata kananku lagi walaupun pemandangannya berubah menjadi merah semua.
Tanpa kusadari mulutku sedari tadi tertawa tanpa henti seirama dengan jantungku yang berdetak begitu kencang karena rasa adrenalinku yang memuncak dan membuatku tak lagi mempedulikan rasa sakit dan pedih di tanganku dan juga sekujur tubuhku.
“Mau bagaimana lagi kita akhiri saja, segera penggal kepalany-“
Mulutnya langsung tertutup rapat saat kutatap tajam ke arahnya secara langsung.
Tubuh yang sempoyongan kini telah berdiri tegak seakan telah melupakan rasa lelah dan juga lukanya. Kedua mata merah tajam dengan wajah berlumuran darah seakan menjadi topeng bagian atas wajah dan juga senyuman lebar seakan menahan rasa gembira tak terhingga berhasil membuat semua orang menelan ludah mereka sendiri dan tak mereka sadari mereka semua mundur satu langkah saat ku melangkahkan kakiku ke depan.
Celestia Ren :”HAHAHAHAHAHA!!”
“Dia benar-benar sudah menjadi gila.”
Langkah demi langkahku perlahan semakin cepat, cepat dan akhirnya aku berlari sekuat tenaga menerjang langsung ke gerombolan orang didepanku sambil menatap dan menarget orang pimpinan mereka yang berada di lapisan kedua pengendali gravitasi.
Pengendali gravitasi :”B-BUNUH DIA!”
Saat semua ragu dan takut, seorang Seed dengan pedang melesat dan mengayundan pedangnya dengan niat membunuhnya yang terlihat jelas langsung mengarah ke leherku.
*Wuusshhh*
Ku hentikan pedang itu dengan tangan kananku yang terlapisi oleh sarung tangan khusus,
Celestia Ren :”Kemampuanmu lumayan juga. TAPI!”
__ADS_1
*Srat!*
Ku hempaskan tangan kiriku dan melemparkan darahku kearah matanya, sesaat dia menutup matanya.
*Dak!*
“UUUGGHHH!!!”
Kuhantamkan lututku dengan keras ke perutnya dan langsung membuatnya tersungkur ditanah dalam sekejap.
Celestia Ren :”SIAPA SELANJUTNYA??!!!” Teriakku dengan mengarahkan pedang ke semua orang,
Saat semua orang semakin ketakutan ku lembar pedang itu kearah pemimpin mereka namun langsung di halangi dengan cepat dengan perisai besar dari Exceed si penciptaan senjata.
Disaat mata semua orang tertuju pada pedang itu tanpa membuang waktu aku langsung melesat menerjang lapisan pertama untuk menuju lapisan kedua dengan secepat yang kubisa. Ditengah jalanku tiba-tiba muncul orang yang menghadangku.
Pemimpin Si Exceed gravitasi :”JANGAN GENTAR! DIA SEORANG DIRI SEDANGKAN KITA BERSAMA! SERANG DIA DARI SEGALA ARAH!!!”
Celestia Ren :”JANGAN MENGHALANGI JALANKU!”
Orang yang menghalangiku langsung meluncurkan pukulannya langsung yang terlihat sangat jelas arah yang ia target yaitu ke perutku. Ku hentikan pukulan itu dengan tangan kiriku dan berakhir beradu kekuatan dengannya yang mendorong pukulannya sedangkan aku yang menahannya namun aku salah memperhitungkan.
*Srott!*
Sebuah duri mencul dari tangan orang itu dan berhasil menembus telapak tanganku, Duri yang sangat keras sekeras tulang dan begitu runcing seperti tombak, saat kakiku ingin mendaratkan tendangan tapi langsung kuhentikan seranganku saat sekujur tubuh orang itu mengeluarkan duri yang berdiri tegak seperti landak,
Di saat tangan kiriku terjebak dengan tertancap jauh ke durinya di arah belakangku terdengar suara langkah kaki yang cukup banyak kearahku bersama teriakannya sedangkan disisi kananku ada Si Exceed yang bisa memperkuat tubuh sekeras besi bersiap menghajarku yang tak bisa bergerak.
Celestia Ren :”JANGAN MEREMEHKANKU!!!!”
Ku genggam erat duri panjang yang menembus tangan kiriku menggunakan tanganku yang satunya, dengan sekuat tenaga ku hempaskan Exceed duri itu ke arah segerombolan orang-orang di belakangku dengan waktu yang sama sebelum ku lepaskan tanganku ku cabut salah dari duri orang itu menggunakan mulutku.
Kututup lubang besar ditangan kiriku menggunakan dasi putihku, ku lilitkan dengan sekuat dan sekencang yang kubisa, dalam sekejap dasi putih itu berubah menjadi merah tanpa memberi kesempatan aku langsung lompat ke arah Exceed bertubuh besi itu dengan senyuman lebar.
Dia yang terkejut langsung kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke trotoar dengan aku duduk diatasnya.
Celestia Ren :”Kau mungkin punya tubuh keras sekeras besi, tapi taukah kau kalau ada satu tempat yang cukup lunak. Cobak tebak dimana?”
Tubuh pria itu langsung membeku ketakutan saat melihat tingkahku seperti seorang maniak pembunuh. Keringat bercucuran dengan sangat deras di atas wajah besinya, mulutnya tak bisa berhenti bergetar dengan wajah pucatnya ia menggelengkan kepala perlahan berusaha menjawab pertanyaanku.
Celestia Ren :”JAWABAN YANG BENAR ADALAH MATA!!!” Tanpa ragu langsung ku hunuskan duri dari Exceed sebelumnya ke mata pria itu,
Dengan kedua tangannya yang ku kunci menggunakan kedua kakiku ia tak bisa memberikan perlawanan atau perlindungan diri, ia langsung menutup mata dan memalingkan wajahnya karena ketakutan.
Disisi lain semua orang yang melihat kejadian dimana aku menghajar lapisan pertama dalam waktu 1 menit membuat mereka semakin ragu dan takut untuk menyerangku. tanpa mereka sadari medan pertempuran telah di telan oleh bayangan ketakutan padaku. Ketakutan adalah kelemahan terbesar para Exceed karena saat mereka diselimuti rasa takut kekuatan mereka takkan bisa keluar secara maksimal atau bahkan tidak bisa di pakai.
Hal itu menyebabkan Si Pencipta Senjata terjatuh ke trotoar dengan kedua kakinya yang tak mampu menumpu tubuhnya yang penuh gemetaran.
Pada kesempatan itu kuputar haluan dari mata pria itu dan langsung melesat kulempar ke arah pemimpin mereka duri tersebut. Dengan panik orang itu menghindari duri yang hampir menancap kepalanya namun hal itu justru membuat gerakannya sangat mudah dibaca, dengan reflek dan juga prediksi simpelku ku tangkap dan ku genggam kuat wajah pemimpin itu lalu mengangkatnya ke atas hingga kedua kakinya melayang di atas trotoar.
__ADS_1
Dari sela-sela jariku terlihat matanya yang melotot tajam ke arahku penuh dendam.
Celestia Ren :”Dasar Lemah!”