Terlemah Yang Tak Terkalahkan

Terlemah Yang Tak Terkalahkan
Chapter 5 : Kehampaan sempurna


__ADS_3

Bagai langit malam tanpa ditemani rembulan maupun bintang, begitu hampa, kosong dan juga terasa begitu sepi, untuk pertama kalinya langit menyerupai perasaanku. Tak ada sedikitpun cahaya yang terlihat, begitu sunyi sampai membuatku merasa menjadi manusia terakhir didunia hampa ini.


Tak bisa kurasakan tubuhku namun perlahan demi perlahan indraku mulai kembali memihakku, Tercium bau seperti sebuah besi, kurasakan tanganku memegang sesuatu yang bergerak-gerak seperti makhluk hidup, terasa asin dan juga bercampur sedikit rasa manis dimulutku, perlahan-lahan telingaku menerima suara.


“PERKUAT PENGHALANGNYA ROLAND!!!” Terdengar suara teriakan Theodor yang sangat keras sampai terdengar jelas dengan telingaku yang masih beradaptasi ini,


“Dion......” Suara yang begitu kecil dan lemah seakan berjarak puluhan meter jauhnya,


*BRUAK!*


*DUAR!*


Kenapa berisik banget sih, mereka g bisa tenang dikit g sih?


“Dion....” Lagi-lagi suara itu kembali dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya, tiada henti suara itu terulang-ulang di dalam kepalaku dengan suara yang semakin keras dan keras bersamaan dengan kembalinya sepenuhnya indra pendengaranku.


“DION SADARLAH!!!!”


Apa yang dia bicarakan? Tanyaku dengan kebingungan


“DION LEPASKAN GENGGAMANMU!!!”


Genggaman? kenapa sih nih orang-orang pada ganggu banget ketenanganku.


Seluruh indraku telah kembali kecuali mataku yang terus tertutup oleh kegelapan tanpa batas. Namun walaupun begitu aku sama sekali tak bisa menggerakkan anggota tubuhku, aku bisa merasakan apa yang ku makan namun


ku tak bisa mengontrol mulutku, aku bisa merasakan apa yang tanganku pegang namun tak bisa ku gerakkan sesuai keinginanku.


“ASTREA SEGERA POTONG TANGAN DION!” Lagi-lagi terdengar suara berisik Theodor,


Eh tunggu apa maksud anak kurang ajar itu buat motong tanganku? Sial andai saja aku bisa bangun dari dunia mimpiku ini akan ku tabok wajahnya.


*Sring!*


Tiba-tiba aku aku kehilangan indraku di tangan kanan tanpa mengetahui penyebabnya.


“BAWA SEMUA ORANG PERGI MENJAUH DARI SINI, ROLAND BERAPA SISA WAKTU KITA?!”


“30 DETIK LAGI SAMPAI BOM DI JATUHKAN KESINI!”


Bom? Kenapa mimpi kali ini terasa begitu aneh dari biasanya. Ada beberapa suara yang tidak pernah ku dengar tiba-tiba muncul.


“ASTREA CEPAT TELEPORT SEMUA ORANG PERGI DARI SINI KECUALI AKU DAN ROLAND.”


“T-TAPI, THEO-“

__ADS_1


“LAKUKAN!”


.


.


.


.


.


“Roland, bisakah kau memotong kedua kaki dan juga tangan kirinya? Tidak perlu memikirkan penghalangnya lagi, disini hanya tersisa kita berdua. Aku kan melawan dia sebentar.”


Dalam sesaat aku kehilangan semua indraku di kedua tangan dan kakiku, berkali-kali kucoba untuk membuka mataku namun pemandangan sama sekali tak berubah hanya diisi kegelapan.  Perlahan demi perlahan indra di kaki dan tanganku mulai kembali dan membuatku semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


Satu hal yang ku tahu, ini bukanlah mimpi.


Dalam sepersekian detik semua pemandangan menjadi begitu terang, sangat terang hingga membuatku tak bisa melihat apapun namun di sela-sela cahaya menyilaukan itu terlihat 2 orang pria berdiri didepanku dengan tubuh mereka yang terlihat kacau dengan darah.


Sesaat pandanganku di butakan oleh cahaya sepenuhnya langsung di ikuti oleh suara satu ledakan hebat sampai bisa menggetarkan tanah dan menghancurkan gendang telingaku hingga mengembalikanku ke ketenangan dan kesunyian.


Perbeda dengan seluruh pengalamanku diambang kematian, kali ini aku tak merasakan sakit baik fisik maupun mental. Tak ada yang salah hanya terasa seperti tenggelam dalam dunia mimpi seperti biasa.


Di dalam dunia hampa itu terlihat sepasang mata putih berdiam diri di depanku, ia hanya menatapku tangan melakukan apapun. Tubuhnya seperti sebuah bayangan hitam berbentuk manusia namun tak memiliki mulut, hidung, telinga maupun rambut. Bagai bayangan yang memiliki dua mata berwarna putih, ia tak berkedip ataupun berekspresi.


“......”


Tak ada jawaban,


“HAH?!” Teriakku dan langsung terbangun sepenuhnya,


Saat aku sadar kutemukan diriku di atas ranjang dengan keringat yang bercucuran deras menetes ke selimut dan tangan gemetaranku.


“Haaahhh....haaahhhhh.”  Nafas terengah-engah sambil mengusap keringat dan memandang sekitar,


“Kenapa aku harus memimpikan kejadian itu lagi?” Ku turunkan kedua kaki menyentuh lantai dan berpegang pada pinggiran kasur mencoba menenangkan diri.


Kutatap pisau trisula di sampingku dalam bisu. Setiap saat aku melihat benda itu selalu muncul ketakutan dan keraguan dalam diriku.


Apa yang terjadi jika tragedi itu terulang kembali?


Bisakah aku kembali seperti semula?


Atau aku akan terjebak terjebak didunia hampa itu untuk selamanya?

__ADS_1


Dengan penuh gemetar tanganku mendekati pisau itu namun seketika terhenti saat melihat gelang Akademi Lotus yang terpasang di pergelangan tanganku.


*Plak*


Ku tepuk kedua pipiku dengan keras dan mengabaikan segala pemikiran negatif yang terlintas.


“Fokus! Fokus! Ada misi yang harus ku jalankan, hari ini adalah hari H Game Last Standing dimulai!”


Tak ada pengumuman ataupun informasi lebih detail tentang jam dimulainya event tersebut, yang bisa kulakukan hanya stand by di tempat dan bersiap mendapatkan panggilan.


*Ding! Dong!*


Sebuah Bel dari pintu apartemen ku berbunyi,


“Ngapain ragu, ada pertarungan serius yang harus kumenangkan hari ini.”  Setelah membuang beban yang tidak penting dan memfokuskan diri pada game yang akan datang aku berjalan ke arah pintu dan tak menemukan siapapun dibaliknya, hanya terlihat sebuah kotak kardus kecil se ukuran tanganku.


Paket? Untukku? Keliatannya begitu.


Saat kubuka paket itu hanya muncul sebuah kalung dan secarik kertas.  Tanpa memberikan ekspetasi apapun kubaca surat itu dan sekita membuat tubuhku bergerak sendiri menuju kamar mengambil jas dan sarung tanganku dengan panik.


“SIAL!”


*Dang!*


Sebuah bongkahan Es raksasa runcing menembus dan menghancurkan pintuku dalam sekejap, tanpa mencoba mencari arah dari pemilik kekuatan itu aku berfokus meraih seluruh peralatanku yang tertinggal namun langkahku di ikuti oleh bongkahan es itu yang semakin melebar dan memanjang memenuhi ruangan apartemen kecilku.


“Game sudah dimulai!”


*Tap*


*Tap*


*Tap*


Dengan kecepatan tangan kuraih jas dan juga sarung tanganku dengan waktu yang bersamaan ku ambil pisau trisulaku menggunakan mulutku. Tanpa melihat kebelakang terdengar suara bongkahan es runcing yang semakin membesar dibelakangku.


*Ctarr!!*


Tanpa ragu aku langsung melompat dan memecahkan kaca jendela kamar apartemenku yang berada di lantai 4, di sela-sela terapung di atas langit ku pasang kedua sarung tanganku dan langsung turun dengan menggenggam tiang


listrik untuk mengurangi kecepatan jatuhku.


Ku tinggalkan kamar apartemen ku yang sudah hancur dengan pemandangan bongkahan es runcing menjulang tinggi ke langit keluar dari jendelaku.


“Memang sudah semestinya akan menjadi seperti ini.” Gumam kecilku yang menyadari diriku berdiri di tengah jalan dengan di kepung puluhan Exceed dari setiap sisi.

__ADS_1


Ku kancingkan jas dan juga menarik merapikan dasi dengan kedua tangan yang berbalut sarung tangan hitam.


“Jika menghajar kalian semua adalah tindakan kejahatan, maka aku rela menjadi seorang penjahat. asalkan gadis itu bisa selamat.”


__ADS_2