
Tanah yang bersimbah oleh warna hijau rumput bersama pohon rindang, kota yang dipenuhi lampu-lampu disetiap titik bagai bintang, perkebunan yang di penuhi kilauan cahaya embun disetiap buah yang terlahir dalam sekali kedipan semua telah menghilang dan berubah sepenuhnya.
Tanah tandus kering tanpa warna hijau dengan retakannya, kota yang menjadi puing-puing tak ada satupun cahaya ataupun gedung, rumah atau bangunan yang berdiri utuh lagi bagai reruntuhan kota hantu, Perkebunan yang terlibas dtertimbun oleh lautan tanah dan memendam segala yang ada membuat Kerajaan Celestia terlihat seperti kerajaan terbengkalai.
Merangkak keluar dari Bola Cahaya yang melindungi tubuh kami berdua sambil menyeret Aktifia keluar bersamaku. Berbeda denganku, walaupun kita berada di dalam barrier Bola namun sepertinya sebelum Barrier itu tercipta Aktifia sudah melindungiku dari berbagai hal dengan tubuhnya, terlihat jelas dengan tubuhnya yang tertancap puluhan benda kecil dan juga luka yang dilapisi darah disekujur tubuhnya.
Ku sandarkan tubuh lemasnya ke sebuah pohon yang sudah mati tak ada satupun daun diatasnya dan juga tubuh kayunya yang terbungkus debu. Saat kuseret tubuh Aktifia meninggalkan jejak berupa darah yang menjulur dari kepala, tubuh hingga ke kakinya.
Hembusan nafasnya terdengar semakin melemah, ia menatap tanah dengan tatapan kosong dengan kedua telinganya.
Tanpa ragu atau membuang waktu kurobek baju yang pakai menjadi beberapa bagian dan melilitkannya ke setiap luka yang terbuka untuk menghentikan darah yang terbuang sia-sia. Tak ada waktu untuk berfikir kugunakan semua yang kupunya untuk menutup semua lukanya dengan kain dari bajuku namun seketika ia memegang tanganku seakan menyuruhku untuk berhenti dengan menggelengkan kepalanya perlahan.
Nafas yang semakin lemah, tangan yang semakin dingin dan juga genangan darah yang menebal menyiaratkan keadaan sebaliknya dari yang ia katakan. Dengan nada yang begitu lemah ia bertanya “Apakah kita berhasil
membunuhnya?”
Ku gapai dan menggenggam tangan pucat itu dengan kedua tanganku, karena suara tak lagi bisa ia dengar maka ku anggukkan kepalaku menjawab pertanyaannya. Bukannya senyuman atau rasa syukur ia justru melempar pertanyaan lagi dengan mulut yang berlumur darah, “Dion, bisakah kau berjanji padaku?”
Ku anggukan kepala sekali lagi tanpa memberikan jeda keraguan. Apapun, apapun rela kulakukan demi menebus kesalahanku karena dirikulah yang sudah membuatnya menderita luka separah ini.
Wanita itu mengangkat wajahnya dengan perlahan dan melihat ke depan bersama tangan kirinya yang meraba-raba udara mencari wajahku. Melihatnya meraba-raba udara dengan tangan pucat berlumur darah yang tak sesuai dengan apa yang sedang ia tatap membuatku menyadari dia sudah juga sudah kehilangan penglihatannya. Ku raih tangan yang itu dan menempelkan kedua tangan miliknya ke kedua sisi pipiku. Saat itupun dia tersenyum dan memutar kepalanya searah dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Tolong....jaga....Artia...” Ku pegang erat-erat kedua tangannya dan ku anggukkan kepala dengan tangannya yang masih memegang pipiku membuatnya menyadari jawabanku untuknya.
Dengan wajah lega ia menutup kedua matanya dan menyandarkan kepalanya kepohon yang sudah layu itu. Angin lembut berhembus membawa suara bisikan kecil dari mulut kecilnya, “Terima kasih.” Saat kusadari dia sudah ‘pergi’ dengan wajah bahagianya.
Aku baru bertemu dengannya hari ini, aku tak mengenal dirinya maupun juga dengannya yang tak mengenalku namun walau begitu dia menaruh kepercayaan tinggi padaku. Lebih memilih terus membawaku dan mengorbankan kedua gendang telinganya, Lebih memilih untuk menerima semua serpihan-serpihan benda yang melayang terbang ke arah kami untuk melindungiku, Lebih memilih membuat Barrier untuk melindungiku dari pada menutup kedua matanya.
(Catatan : Saat mata Exceed tertutup ia tak bisa menggunakan kemampuannya.)
Aku tak mengenalnya, Namun aku sangat tau betapa besar kasih sayangnya demi ingin membuat adiknya tersenyum bahagia. Hanya untuk keselamatan 1 pecundang, ia tak ingin membuat adiknya menangis dan menderita lagi sampai berbuat sejauh ini.
Ku pindahkan kunci Hitam Elsie ke saku celana dan membuka sarung tangan kananku lalu menatap sebuah cincin yang terpasang disana sembari memberikan keberanian. Sebuah keberanian untuk merubah kebohongan yang kubuat kepada Aktifia menjadi kenyataan bukan hanya sekedar kebohongan.
“Apakah kita berhasil membunuhnya?” Pertanyaan itu menggema dalam otakku, sebuah kebohongan telah ku buat dari pertanyaan tersebut namun tak ada penyesalan sedikitpun yang muncul dalam hatiku dari kebohongan itu. Ku balikkan badan menatap kota pusat kurajaan Celestia yang menjadi kota reruntuhan.
Kenapa kota itu masih tersisa?
Kenapa pulau ini masih ada dengan turunnya Tombak Surgawi?
Jawabannya tepat pada hal yang sedang kulihat.
Tombak cahaya itu tepat mengenai wajah sang ‘Dewa’ dan menghancurkan topengnya sampai tak tersisa namun serangannya terhenti oleh mulutnya. Di hentikan oleh mulutnya ia mengambil Tombak itu dengan kedua tangannya dan mengeluarkan uap panas dari tangannya ketika memegang Tombak cahaya raksasa itu.
__ADS_1
Mata merah menyala mengunci target ke sebuah markas yang ada di arah langit arah Tombak itu berasal dan melemparkannya kembali dengan kecepatan luar biasa hingga membuat tanah bergetar bersama gelombang udara yang tercipta dari kecepatan laju Tombak itu melesat.
Aku sama sekali tak mempedulikan keselamatan 13 Dewan, namun saat melihat makhluk itu membuang dan membuat serangan yang sudah Elsie siapkan dengan nyawanya menjadi sia-sia membuatku termakan oleh emosi.
Berhadapan dengan ‘Dewa’ yang menciptakan Exceed tak membuatku gentar sedikitpun karena amarah yang menguasai tubuhku. Berawal dari langkah kaki yang ditiap langkahnya semakin cepat hingga akhirnya aku berlari
sekuat tenaga kembali ke kota dengan pertahanan nol.
Jas anti peluru sudah kuberikan ke Elsie sejak di Aula olahraga saat Game, Baju pelindung khusus sudah ku pakai untuk mengobati luka Aktifia dan tangan kanan tanpa sarung tangan pelindung. Membuat tubuh bagian atasku tak menyisahkan pertahanan sedikitpun, terkena satu kali serangan melawan raksasa bayangan bermata merah yang memiliki kekuatan Exceed tak terhitung membuat kematianku sangat terjamin hanya dengan satu kesalahan, namun walau begitu aku tak mengurangi sekecilpun kecepatanku berlari kembali ke kota.
Di tengah jalan kutemukan sebuah motor tergeletak tertimbun debu, dengan beberapa bagian yang penyok dan goresan dimana-mana ku berdirikan benda itu dan mencobanya. Motor Harley berwarna hitam, sesuai dengan warna jalan hidupku yang begitu kelam. Benda itu menjawab harapanku dan menyala, ku kendarai motor itu dengan kecepatan penuh menuju kota.
Dunia yang dipenuhi kegelapan hanya mengandalkan sebuah sinar kecil dari cahaya lampu motor kutemukan sebuah bilah besi dari tulang bengunan yang hancur. Ku ulurkan tangan kebawah dan mengambilnya disaat ku melewatinya, bersama tongkat besi tumpul di tangan kananku sebagai satu-satunya senjata aku berhasil masuk kembali ke kawasan Kota dan mendapatkan perhatian penuhnya.
Merah dengan Merah, mata yang sama saling memandang, jiwa yang sama saling bertemu, namun jika dinilai dari kemampuan kita berdua tidaklah sama. Walaupun memiliki jiwa Dewa namun semua itu percuma dengan tubuh ini membuatku sama sekali tak ada bedanya dengan manusia biasa. Dewa Exceed melawan Manusia biasa, siapapun yang mendengar hal itu pasti sudah bisa memahami siapa yang akan menang. Tapi semua itu berbeda dengan rencana yang sudah kupersiapkan demi mengalahkannya....
***
Bersambung - Danke guys tak pernah lelah kuucapkan kalimat itu kepada kalian terus menerus, terus simak kelanjutkan novel ini sampai dan semoga bisa menjawab ekspetasi para pembaca. Silahkan tinggalkan kritik dan saran untuk author agar terus berkembang.
Ok, Perhatiannya boleh kupinjam sebentar? Otor ingin memperkenalkan novel genre yang kalian cintai yakni "Romance" yang berjudul [Tiba-tiba menikah] yang ditulis oleh kak [Lena Laiha] sesuai seperti judul kali ini dikisahkan karyawan wanita biasa yang dipaksa menjadi pengantin wanita yang melarikan diri di acara pernikahan bos muda. untuk selebihnya silahkan cek deskripsi dibawah ya,
__ADS_1