Terlemah Yang Tak Terkalahkan

Terlemah Yang Tak Terkalahkan
Prolog Dimeria Elsie : Bagian 1


__ADS_3

Kala hari itu bulan yang senantiasa menjadi pendamping malam yang dipenuhi keheningan dan ketenangan tak lagi berlaku, seisi istana dipenuhi kepanikan dan kebahagiaan. Diantara keributan itu terdengar suara tangisan sang bayi, sebuah gadis. Itu adalah momen yang tak terlupakan dan paling bersejarah bagi keluarga mereka dan juga rakyatnya, kelahiran tuan putri pertama dan juga satu-satunya itu di sambut dengan hangat oleh semua orang.


Gadis itu diberi nama, Dimeria Elsie.


Itulah namaku,


Tak ada seorangpun yang membenciku, aku dibesarkan dan didik dengan sangat baik, etika, moral, pengetahuan, seni dan juga penampilan, dengan cepat aku mengusai semua itu dalam waktu singkat dan menjadi gadis sempurna.


Sopan, Ceria, Cerdas, Berbakat dan juga Cantik. Hanya dalam sekejap aku telah menjadi kebanggaan semua orang, merekapun sama sekali tak meragukan dan sangat lega jika kelak aku mewarisi tahta menjadi pemimpin kerajaan ini.


Namun perlahan lahan-lahan hal itu mulai berubah,


Orang pertama yang tidak menyetujuiku menjadi pemimpin justru orang paling dekat denganku, ia yang selalu bersamaku setiap waktu ia yang lebih ku kenal dari pada orang tuaku sendiri membuatku merasakan tamparan untuk pertama kalinya dalam hidupku, ia adalah Rudolf, seorang pelayan pribadi yang senantiasa disisiku sejak aku lahir hingga kini berusia 7 tahun.


Aku sendiri juga tak mengerti kenapa dia menamparku,


Hari itu adalah hari dimana aku kehilangan hewan peliharaanku si Poco, anjing yang senantiasa menjadi teman pertamaku sedari kecil hingga dia sudah besar, pada pagi itu ku temukan dia tergeletak di atas kakiku saat bangun pagi.


Saat aku bertanya pada rudolf dengan berhati-hati ia memberitauku bahwa Poco sudah mati. Mendengar hal tersebut akupun menyuruh rudolf untuk membuang jasad Poco sebelum membusuk, pada saat itu wajah rudolf langsung berubah antara kaget, syok dan juga bingung padaku.


Setelah kejadian itu perlakuan rudolf semakin baik padaku, ia membelikanku jajanan manis tanpa ku minta, menemaniku bermain disaat aku bosan, selalu menuruti permintaanku yang tidak masuk akal tanpa protes seperti biasanya, hari – hari itu sangatlah bahagia namun aku tak tau kenapa bisa berakhir seperti ini.


Setelah 1 bulan berlalu rudolf mendekatiku dan menanyakan hal yang tidak aku mengerti,


“Tuan putri, maaf kalau terdengar lancang, tapi kenapa tuan putri tidak pernah mengunjungi makan Poco?”


Hanya dengan 1 jawaban pendekku wajah rudolf langsung berbanding terbalik dari sebelumnya,


“Untuk apa?”


*Plak!*


Sebuah tamparan hingga meninggalkan bekas merah di pipiku membuatku membatu dalam sesaat karena kaget. Saat kusadari rasa sakit mulai terasa dan membuatku menangis seketika, jika di ingat-ingat itu adalah tamparan pertama dalam hidupku, bahkan kedua orang tuaku tidak pernah menampar atau meninggikan suaranya saat bersamaku.


Rudolf mendapat panggilan dan di adili, namun sampai akhirpun ia menolak untuk meminta maaf ia bahkan lebih memilih untuk kehilangan nyawanya dari pada meminta maaf, tak ada secuilpun penyesalan diwajahnya. Karena jasa Rudolf yang sangat banyak Ibunda membela Rudolf, dari pada di hukum mati ia merubah hukumannya menjadi di asingkan dari kerajaan.


Aku sama sekali tak mengerti jalan pikirannya, kenapa dia tak mau minta maaf padahal jelas-jelas dia yang salah.


Setelah kepergian rudolf hari-hari yang dipenuhi kebosanan kembali lagi,

__ADS_1


Tak lebih dari 2 hari pengganti Rudolf pun muncul, Pelayan perempuan yang ternyata seusia denganku 7 tahun. Dengan tubuhnya yang gemetaran ia memberi salam kepadaku yang tengah bosan, aku tak paham kenapa dari sekian banyak orang kenapa ibunda memilih dia sebagai pengganti Rudolf.


Ia tak bisa membuat teh manis, selalu telat membangunkanku, tak bisa membuat kue, ataupun merapikan pakaianku, sungguh pelayan terburuk yang pernah ada, setiap ia yang ia laksanakan berubah menjadi lebih buruk dari situasi sebelumnya.


Saat aku meminta pergantian pelayan kepada ibunda ia malah tersenyum dan menolaknya dengan lembut, sekali lagi aku tak mengerti jalan pikir orang dewasa padahal jelas-jelas dia pelayan yang sangat buruk tak bisa melakukan perkerjaan apapun dengan benar.


Namun ada satu hal yang membuatku heran,


Sesaat aku duduk memandang langit dengan bosan gadis itu tiba-tiba pergi dari sampingku tanpa ijin menuju ke arah kucing yang terluka. Dengan tangan kecilnya ia mengangkat kucing itu walau harus menerima beberapa cakaran diwajahnya, mata gadis itu berubah menjadi hijau dan bersamaan tubuh kucing itu bersinar mengeluarkan cahaya yang sama dengan matanya.


Exceed? Tapi kok bisa? Bukannya exceed itu menjadi bangsawan? Lantas kenapa dia malah melakukan tugas seorang Seed menjadi pelayan?


Ia bisa menyembuhkan luka makhluk lain tapi tak bisa menyembuhkan luka pada dirinya sendiri tak hanya itu namun setiap dia menggunakan kekuatannya ia selalu jatuh pingsan.


Untuk apa dia menyembuhkan makhluk lain jika hanya membuatnya pingsan, sangat tak sepadan dengan harganya, Sungguh kekuatan yang cacad.


Berkat hal itu dia jadi sering pingsan dari pada bekerja, dengan semua kecerdasan yang kupunya aku tak bisa menemukan alasan kenapa ibunda menjadikan dia sebagai pelayan pribadiku. Jika Ibunda tak mau menggantinya maka tinggal membuatnya mengundurkan diri saja.


Selagi mengusir kebosanan, ku bawakan satu persatu hewan yang berbeda-beda yang terluka padanya, tanpa bertanya apapun dia langsung menyembuhkan setiap luka pada hewan itu walau pada akhirnya pingsan juga.


Sungguh anak yang aneh.


Tak hanya itu, disetiap kelalaian tugasnya ku berikan berbagai kejutan kecil padanya, ember penuh air yang terjatuh membasahinya disetiap kali ia datang terlambat membangunkanku, ular mainan yang kuselipkan ke saku pakaianku yang hendak ia cuci dan membuatnya terkejut, Disaat rasa kebosananku mulai berkurang karena mengerjainya sambil berharap ia segera menyerah namun walau begitu ia sama sekali tak marah atau menyerah dan semakin lama semakin terbiasa menghindari segala perangkap yang kusiapkan.


Lagi-lagi kebosanan yang baru saja berkurang kini kembali lagi.


Tiba-tiba datang seorang dokter untuk memeriksa keadaannya, Dokter itu datang dengan membawa anak laki-laki berusia 6 tahun, dengan cepat ku datang untuk menyambut mereka berdua. Ku perkenalkan diri dengan sopan dan di ikuti oleh mereka.


“Selamat siang, Tuan putri Elsie. Perkenalkan saya ada Dokter dari keluarga Asterit.”


Asterit? Oh iya, kalau tidak salah mereka adalah mantan keluarga bangsawan dari kerajaan Celestia, dari cerita para pelayan sih semua karena anak itu, kalau tidak salah namanya adalah....


“Senang bertemu denganmu, Tuan Asterit dan juga Tuan Diona.” Ku rendahkan tubuhku dan mengangkat kecil rokku memberi hormat kepada 2 orang itu,


Setelah itu ku antarkan mereka berdua ke kamar pelayanku. Aku bersama Diona duduk di pojok ruangan menunggu Tuan Asterit melakukan beberapa tes padanya, tak membutuhkan waktu 10 menit pemeriksaan sudah selesai dan memberikan jawaban melegakan padanya yang mengatakan kalau dia baik-baik saja dan hanya membutuhkan istirahat yang cukup saja.


Setelah semua sudah selesai Tuan Asterit berkata ingin bertemu Ibunda untuk memberi salam sebelum pulang dan sesaat mereka sudah kupertemukan tiba-tiba Tuan Asterit mengatakan hal yang berbeda dari yang ia katakan di kamar pelayan itu.


“Jangan sampai anak itu menggunakan kekuatannya lagi, tubuhnya sudah mencapai batas jika dia menggunakan kekuatannya sekali lagi nyawanya akan dalam bahaya.”

__ADS_1


Seketika aku berfikir kembali dan tanpa sadar suara pikiranku bocor dan mengeluarkan suara yang didengar semuanya, “padahal Cuma kekuatan penyembuhan kenapa dia menjadi seperti itu.”


“Itu bukan penyembuhan.” Saut Ibunda dan langsung merebut perhatianku,


“Sudah jelas-jelas itu penyembuhan, mana mungkin aku salah.”


Tuan Asterit menjawab “Kalau begitu ijinkan saya bertanya kepada anda tuan putri, seragam pelayan itu punya rok berenda panjang dan juga lengan panjang yang menutup seluruh bagian tubuhnya kan.”


“He’em, benar sekali lalu apa yang salah dengan itu?” jawabku sambil berusaha memahami maksud Tuan Asterit.


“Pernahkah Tuan Putri melihat apa yang ada dibalik seragam tertutup itu?”


Dalam sekejap semua pertanyaan yang mengganjal dalam benakku tentangnya terjawab,


Kenapa dia tak bisa melakukan semua perkerjaan dengan baik?


Kenapa dia selalu telat membangunkanku? Apa yang dia lakukan?


Kenapa dia tak bisa merasakan rasa manis pada teh yang ia buat?


Semua kekurangan yang ia miliki langsung masuk akal jika jawabanku ini benar.


Jika aku benar maka itu adalah kekuatan yang paling cacad yang pernah ada.


Untuk memastikan benar tidaknya ku utarakan asumsiku pada Tuan Asterit, “Jangan-jangan kekuatannya adalah memindahkan luka pada dirinya sendiri?” jika itu benar maka pantas saja dia tidak bisa menyembuhkan luka bekas cakaran kucing di pipinya pada hari itu,


Tuan Asterit mengangguk dalam bisu dan di lanjut dengan Ibunda yang bertanya padaku,


“Hey, Elsie. Apakah kau tau sesuatu kenapa keadaan Elis bisa sampai seperti itu?”


Aku hanya terdiam, aku tak bisa mengatakan kalau keadaannya karena aku membawakannya berbagai macam hewan yang kulukai agar dia bisa menyembuhkannya hanya demi membuatku punya alasan untuk memecatnya karena terlalu sering pingsan dan tak bisa melakukan tugasnya dengan baik.


Jadi namanya Elis ya.....


******


Ini adalah bagian prolog untuk karakter Dimeria Elsie, bagaimana dia bisa meraih kelas S, kenapa dia sangat tergila-gila kepada Dion/ Ren, Kenapa dia bisa mengenal Artia, dari prolognya kita akan mengetahui apa yang sudah ia alami saat kecil dan bagaimana dia berakhir menjadi orang Elsie yang di kenal saat ini.


Di prolog pertama kita sudah di perlihatkan kalau Dion dan juga Elsie sudah kenal dan ketemu namun kenapa Dion yang sekarang sama sekali tak mengenal Elsie sekarang? (Ini adalah salah satu clue tentang rahasia terbesar identitas asli Dion)

__ADS_1


Sambil nunggu novel One of Us update author ingin memperkenalkan novel milik teman author yang berjudul [Cinta yang di abaikan] yang di tulis oleh Mama Reni,



__ADS_2