
" Sertifikat UI?" Kaget Astir ketika melihat sertifikat Kampus favoritnya yang ternyata milik keluarganya.
Flashback off
Satu tahun yang lalu...
Sambil duduk di jendela, Astir termenung menatap sekelompok orang yang asik bermain volly sembari tertawa dan bersuka ria, tatkala berhasil mematikan bola lawannya.
" Sekarang saya sudah kelas tiga, dan tahun depan semua orang akan memilih kempusnya masing-masing, ada yang akan pergi ke surabaya, ke semarang, ke bandung, bahkan ada juga yang akan pergi ke jakarta. apa saya bisa seperti mereka, yang bisa memilih kampus sesuai dengan keinginanku sendiri." Ucap Astir pada dirinya sendiri sembari termenung mengingat semua ucapan teman-temannya saat di tanya kampus pilihan mereka.
" Ada begitu banya kampus yang bagus dan berakreditas tinggi di Indonesia, termasuk di Universitas Internasional yang ada di Jakarta Selatan, kampus yang hanya bisa di masuki oleh orang-orang yang bertahta dan memiliki kemampuan otak di atas rata-rata, sedangkan aku, aku siapa?"Ucap Astir.
Bukannya Astir ingin merendahkan ekonomi keluarganya, dan bukannya ingin merendahkan kemampuan otaknya, secara Ekonomi dan Kemampuan otak, dia memiliki keduanya, akan tetapi Astir memiliki sifat mandiri, beda dengan yang lain, tidak suka merepotkan keluarganya, walau sebenarnya keluarganya tidak merasa di repotkan.
*******
Dert...dert...dert.
Sambungan terhubung.
" Halo bos." Sapa Sokyung kepada V di seberang telephone.
" Iyya kenapa Sokyunga, kenapa kamu menelphone?" Tanya V balik kepada Sokyung salah satu Bodyguardnya.
" Adik anda bos" Ucap Sokyung dengan nada sedih, yang membuat V merasa khawatit dengan jawabannya.
" Apa maksud mu sokyunga, ngomong yang jelas toh, jangan membuat orang merasa khawatir seperti ini." Ucap V dengan menaikkan sedikit nada suaranya kepada Sokyung.
" Maaf Bos, Adik anda sepertinya lagi sedih" Ucap Sokyung.
" Sedih...Sedih kenapa?" Tanya V.
Sokyung lalu menceritakan semua keluhan dari Astir adik kandungnya termasuk Universitas Internasional yang ada di Jakarta yang menjadi fakultas favoritnya.
" Jadi itu masalahnya" Ucap V.
" Iyya Bos." Jawab Sokyung.
# Flashback on
__ADS_1
" Iyya Tir...Kampus yang kamu minati selama ini saat kamu masih duduk di awal semester kelas tiga, apa kamu masih ingat! saat kamu duduk di jendela sambil melamun dan meracau, tentang kampus yang akan kamu masukkan setelah kamu lulus Sekolah." Ucap V kepada Astir.
Astir memicingkan sebelah alisnya mencerna Ucapan V sambil mengingat-ingat ucapannya.
" Jadi selama ini, kemanapun aku pergi, kamu selalu mengikuti setiap langkahku." Tutur Astir kepada V kakak kandungnya.
" Iyya..." Jawab V dengan singkat.
" Sejak kapan, apa jangan-jangan" Ucap Astir dengan memotong kalimatnya sendiri.
" Iyya saat kamu masih berumur 4 tahun sampai sekarang" Jawab V.
" Ckk...ckkk." Pantas saja, setiap kali aku keluar dari rumah, Aku merasa seperti ada yang ngikutin dari belakang, bahkan setiap kali aku pulang ke rumah mobil besar selalu ngikitin aku dari belakang, anehnya itu setiap hari, dan ternyata semua ini ulah kamu ternyata." Ucap Astir masih tidak percaya dengan semua ucapan V Hyungnya.
" Mau gimana lagi, V tidak punya pilihan lain selain memantaumu dari jauh melalui bodyguard kepercayaan V, Hampir setiap minggu V menerima kabar dari kamu." Jawab V dengan mengatakan yang sebenarnya kepada Astir adiknya.
Asdar yang mendengar percakapan V dan Astir sahabatnya pun masih tidak percaya dengan semua ucapan Park Soo kang dan V Hyungnya.
" Maaf...kalau Asdar lancang menanyakan ini, kalau boleh tau, sejak kapan bapak membeli kampus sebesar dan seelit UI?" Tanya Asdar kepada Soo kang.
" Satu tahun yang lalu" Bukanya soo kang yang menjawab pertanyaan yang di lontarkan Asdar, melainkan V.
" Jangan bilang, alasan papah membeli ini karena Astir" Ucap Astir kepada V Hyungnya.
Aryo dan Boni kaget setengah mati tatkala mendengar alasan kenapa Soo kang membeli Kampus semahal dan seelit UI ( Universitas Internasional) di Jakarta Selatan.
" Itu artinya Kampus yang akan gua masuki punyanya Astir sekarang" Monolog Aryo dalam hati.
" Jadi Astir anak seorang miliarder ternyata," Monolog Boni dalam hati.
Asdar mengambil Dokumen sertifikat Kampus UI dan di lihatnya.
" Benar ternyata, bahkan nama di dalam sertifikat itu tertulis namamu sendiri." Ucap Asdar kepada Astir sahabatnya.
Astir melihat Soo kang dan Hyuna kedua orang tua kandungnya dengan lekat.
" Untuk apa Papah membelikan semua ini kepada Astir?" Tanya Astir.
" Semua ini belum ada apa-apanya dengan kesalahan yang kami lakukan kepadamu nak pada masa lalu, bahkan bila semua kekayaan yang Aboji miliki berikan ke kamu, itu belum ada apa-apanya sama sekali" Jawab Soo kanh kepada Astir anak kandungnya.
__ADS_1
" Nak...terimalah semua pemberian kami, benar yang di katakan Abojimu, semuanya itu belum ada apa-apanya bila di bandingkan dengan kesalahan yang Eomma dan Aboji lakukan kepadamu, anggap saja itu sebagai permintaan maaf kami." Ucap Hyuna kepada Astir anak kandungnya.
" Iyya Tir...anggap saja itu sebagai permintaan maaf Eomma dan Aboji." Ucap V kepada Astir.
Astir menoleh ke arah Riana istrinya yang sedari tadi hanya diam saja menyaksikan kedekatan keluarga suaminya.
" Sayang...apa mungkin mas lagi bermimpi." Ucap Astir kepada Riana istrinya.
" Tidak mas...Mas tidak sedang bermimpi." Jawab Riana.
" Bagaimana mungkin."
" Mungkin ini sudah takdirmu nak, Rezeki dari kesabaranmu selama ini, karena tidak pernah merepotkan Mamah Ani dan Papahmu Maher." Ucap Arumi kepada Astir sambil menoleh ke arah Ani.
Hyuna lalu mendekat ke arah Ani dan memeluknya dengan sedikit erat.
" Terima kasih...karena kalian sudah merawat Astir dengan baik, layaknya seorang ibu yang melahirkan anak darah dagingnya sendiri, kalian hebat, kalian adalah orang tuanya yang sangat hebat." Ucap Hyuna sambil meneteskan air matanya kepada Ani.
Ani meneteskan air matanya tatkala mendengar sebuah pujian dari seorang ibu kandung Astir anak angkatnya.
" Hyuna...Justru kamilah sebenarnya yang harus mengucapkan banyak terima kasih, karena kalian sudah menghadirkan kepada kami bayi malaikat yang sangat tampan dan penurut, karena kalian jugalah kami merasakan bagaimana rasanya saat di panggil Mamah dan papah, orang tua yang seakan memiliki anak kandung. dan kami juga sangat bangga kepadanya, Astir sama sekali tidak pernah merepotkan kami, dari sejak dia masih bayi sampai dia besar sekarang." Jelas Ani dengan panjang lebar kepada Hyuna.
" Astir tumbuh besar dan berakhlak, itu semua dari didikan kalian berdua, kalian memang layak di sebut orang tua Astir, kalian tidak akan parnah tergantikan, Astir adalah anak kalian juga." Ucap Hyuna kepada Ani mamah Angkatnya Astir.
Mereka berdua saling berpelukan sambil menitikkan air matanya.
Dert...dert...dert.
Sambungan terhubung.
" Halo...Apa!!!??." Ucap
Bersambung....
# Agustus
# IAIN KENDARI
@Agusjhi103
__ADS_1
Ig@ Agus_arya_tirta
Makin seru nih guys...tinggalkan jejak yah😇