Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Lembaran Baru


__ADS_3

"Aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian! Berani melangkah keluar dari rumah ini, sama saja kau sudah memutuskan hubungan dengan kami!"


"Tidaaaak!"


"Sayang, kamu mimpi buruk lagi?"


"Hmm," jawabnya mengangguk, keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.


"Minumlah," menyerahkan segelas air putih di samping tempat tidurnya.


"Tenanglah, itu hanya bunga tidur. Kita akan baik-baik saja," memeluk isterinya yang masih terisak.


Sudah lima tahun lamanya, setelah mereka menikah secara diam-diam. Mimpi itu seringkali datang, membuatnya semakin merasa bersalah karena sudah membuat suaminya putus hubungan dengan keluarganya.


Bukan Tyas yang mau, tapi Arsen yang meyakinkan Tyas jika mereka adalah pasangan yang di pertemukan Tuhan dalam waktu yang tak baik. Sudah berulang kali, Tyas mengingatkan Arsen untuk jangan mengambil keputusan tanpa persetujuan keluarganya.


Namun Arsen yang keras kepala terus saja meyakinkan Tyas hingga membuatnya luluh dan menerima lamarannya. Sebulan setelah pernikahan, Arsen memboyong Tyas ke pulau kecil yang jauh dari Ibukota.


"Maaf, aku sudah membuatmu seperti ini. Semoga mimpi itu akan hilang dengan sendirinya, dan kamu tidak lagi di hantui rasa bersalah. Karena kamu tidak bersalah, cupp!"


Tyas telah kembali tertidur dalam pelukan Arsen, itulah yang setiap malam ia lakukan untuk bisa menenangkan isterinya. Dan alasan Arsen memilih untuk tinggal di pulau terpencil, tak lain supaya keluarga kecilnya bisa hidup bahagia tanpa bayang-bayang di masa lalu meski harus jauh dari sana saudara.


_________


Malam telah berganti pagi, sayup-sayup terdengar suara ayam berkokok di luar sana. Dengan perlahan Tyas membuka kedua matanya. Sebuah senyuman tersungging di sudut bibirnya yang tipis, saat ia menyadari semalaman tertidur dalam dekapan suaminya.


"Pagi, Mas! Makasih udah selalu menenangkanku,"


Tyas segera beranjak keluar dari kamar menuju kamar sebelah. Malaikat kecilnya masih tertidur pulas disana, setelah merapikan selimut untuk menutupi tubuhnya, Tyas segera berlalu meninggalkan lantai dua.


Sudah menjadi kebiasaannya, setiap pukul 5 pagi ia sudah bangun dan mulai bekerja di kantornya. Menjadi koki untuk kedua jagoannya yang tak pernah bosan dengan nasi goreng seafood buatan Tyas.


"Ibu!" panggil anak kecil yang tau-tau sudah berdiri di belakangnya.


"Pagi Sayang! Anak Ibu yang pintar," pujinya yang selalu merasa bangga dengan jagoan kecilnya.


"Ibu masak apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Nasi goreng seafood, Madav mau?"


"Hole, Madav mau Bu! Madav mau," ujarnya dengan girang.


"Ya Nak, sebentar ya! Kamu duduk dulu gih, Ibu buatkan susu hangat dulu ya,"


Di usianya yang baru menginjak 4 tahun, Madav termasuk anak yang perkembangannya sangat pesat. Meski kadang membuat Tyas kesal dan emosi, semuanya akan mencair ketika senyum manis dan kecupan hangat mendarat di pipi kanannya.


Itulah yang selalu Madav lakukan jika melihat Ibunya sudah menepuk jidat dan berdecak pinggang. Madav akan segera memanggil Ibunya dan memeluk kakinya, setelah Tyas mengambil posisi jongkok Madav langsung mengecup pipi Ibunya dan bilang minta maaf.


"Ibu, teman-temanku punya Nenek dan Kakek. Dimana Nenek dan Kakekku Bu?"


Degg!


Yang selama ini ia takutkan akhirnya datang juga, Tyas sejenak terdiam mencari jawaban yang bisa di mengerti oleh jagoan kecilnya. Butiran bening lolos begitu saja dari sudut matanya, hatinya seperti teriris mendengar putranya yang belum pernah mengenal sosok Kakek dan Neneknya.


"Bu, kenapa Ibu diam? Apa Kakek dan Nenek sudah tidak ada? Kemana mereka pergi?" tanyanya lagi.


"Nenek dan Kakek Madav masih ada, tapi mereka sangat jauh. Maaf ya Sayang, Ibu dan Ayah belum ada waktu untuk mengajakmu berkunjung ke sana," jawab Tyas.


"Apakah Nenek sama Kakek di luar negeri? Kakek dan Neneknya Aura juga katanya di luar negeri Bu," celetuknya.


"Hore! Aku mau ke luar negeri, luar negerinya dimana Bu?" tanyanya lagi membuatnya semakin bingung.


"Di ... di Jepang Nak!" celetuk Tyas secara spontan.


"Jepang jauh ya Bu?"


"Nasi goreng sudah siap, kamu mandi dulu gih! Ibu mau siapkan bekal untukmu," ujar Tyas mencoba mengalihkan pehatian putranya.


"Iya Bu," segera turun dari kursi dan lari menuju kamarnya.


"Hati-hati Sayang, awas jatuh!" teriak Tyas pada putranya.


"Maafkan Ibu, Sayang! Tidak seharusnya Ibu bohong sama kamu, tunggu saatnya tiba ya Nak!" gumam Tyas menyandarkan drinya pada wastafel dan menyeka air matanya.


Sementara itu,

__ADS_1


Alarm telah beberapa kali berbunyi, membuatnya perlahan bangun dari tidurnya. Dengan malas, tanganya meraih ponsel untuk mematikan alarm, dan bergegas mandi untuk bersiap-siap kerja.


Dengan menahan sedikit rasa kantuk, ia terus berjalan menuju kamar mandi. Di nyalakannya shower untuk menyiramkan air ke seluruh tubuhnya.


"Astaga! Aku lupa tidak melepas baju," celetuknya segera membuka kedua matanya dan menghindar dari shower.


Kebiasaan yang selalu membuat Tyas kesal di pagi hari ketika mendapati baju kotor yang basah bukan karena hujan. Melainkan ulah suaminya yang suka lupa setiap mandi di pagi hari.


Setelah melepas pakaiannya, ia kembali masuk ke ruang kaca berdiri di bawah air shower yang mengalir. Perlahan rasa kantuknya telah hilang di guyur dinginnya air dari shower. 10 menit kemudian, ia keluar dengan melilitkan handuk di pinggangnya.


Setelan kerja sudah disiapkan Tyas sejak semalam supaya tidak lupa karena pagi setelah bangun dia langsung turun ke dapur setelah melihat Madav di kamarnya.


"Hmm, tidak salah aku memilihmu sebagai isteriku, ibu dari anak-anakku ... ." gumamnya meraih setelan kemeja yang di cantolkan pada gagang pintu lemari.


Dengan sedikit berdendang, Arsen mulai memakaian satu persatu pakaian yang sudah Tyas persiapkan. Tinggal dasi yang belum terpasang dan juga jas yang langsung ia ambil di bawa turun mendekati isterinya.


"Bu, pakaikan!" ucapnya setelah tiba di meja makan.


"Hmm ... sini," ujarnya segera berbalik badan.


"Kamu kenapa? Apa jarimu kena pisau? mana?"


"Gak, Sayang! tadi kelilipan," ujar Tyas mengelak.


"Gak, kamu bohong. Kamu kenapa?"


Tangisnya pecah, teringat dengan Madav yang tadi menanyakan keberadaan Nenek dan Kakeknya. Arsen memeluk dan mengusap punggungnya, memberikan sedikit waktu untuk menuntaskan kesedihannya.


"Ceritakan padaku," ucapnya dengan lembut.


"Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya, Mas!" ujarnya terisak.


"Apa?"


"Madav menanyakan dimana Kakek dan Neneknya. Cepat atau lambat Madav pasti akan menanyakannya. Lalu apa yang harus kita katakan padanya?"


"Maaf, aku belum bisa membawa kalian pada keluargaku ... ." ucapnya merasa bersalah sudah membuat anak isterinya tidak merasakan kebahagiaan yang seharusnya mereka dapatkan.

__ADS_1


"Gak, Mas! Ini bukan salahmu, kami udah bahagia. Sangat bahagia,"


"Makasih, Sayang! Udah melengkapi hidupku dengan adanya kalian di sisiku,"


__ADS_2