Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Selalu Bersyukur


__ADS_3

"Ayah, Ibu kenapa?" tanya Madav yang sudah berdiri di belakang mereka dengan tatapan bingung.


"Gak, Sayang! Ibu gak apa-apa, tadi kelilipan sedikit. Iya kan Yah?"


"Iya, Nak! Tadi Ayah tiupin mata Ibu," jawabnya terpaksa berbohong.


"Ayo, kita sarapan. Supaya kalian tidak telat!" ajak Tyas pada keduanya.


Mereka menikmati sarapan dengan tenang, tanpa bicara sedikitpun. Tyas merasa bersyukur, memiliki keluarga kecil yang selalu bisa membuatnya tertawa dengan tingkahnya yang sedikit aneh dan di luar dugaan.


"Sayang, kita berangkat dulu ya! Kamu hati-hati di rumah,"


"Iya Mas! Mas juga hati-hati di jalan, selalu berdoa sebelum mengerjakan sesuatu. Dimanapun dan kapanpun itu," pesan Tyas pada suaminya.


"Hmm, pasti Sayang! Cupp!"


"Ibu, aku sekolah dulu ya," ujarnya sembari menarik daster Ibunya.


"Iya Nak! Belajar yang rajin ya, jangan usil dan habiskan bekal yang Ibu buat," ujarku berjongkok di depan putranya.


"Iya Bu, aku kan pintar. Kalau besar nanti aku mau jadi pilot, biar bisa terbang ke Jepang, ke rumah Nenek dan Kakek," celetuknya membuat Tyas dan Arsen tertegun saat mendengarnya.


"Iya Sayang, apapun yang kamu inginkan semoga tercapai ya! Dah sana berangkat! cupp!" di ciumnya seluruh wajah Madav hingga membuatnya tertawa karena geli.


"Udah Bu! udah, geli ... ." rengeknya minta di bebaskan.


"I Love You jagoan Ibu,"


"I Love You too Ibu!" sahutnya.


"Aku enggak?" celetuk Ayah.


"I Love you, Ayah!"


"I Love you too, Sayang! Cupp!"


Setelah Madav mencium punggung tangan Ibunya, dia segera berlari kecil menuju mobil. Dan Tyas segera berdiri untuk mencium punggung tangan suaminya sebelum pergi bekerja. Mereka melambaikan tangan sebelum mobil keluar dari halaman rumah.


Tyas masih berdiri di depan pintu hingga mobil tak terlihat lagi dari pandangan.


"Tugas list ke tiga sudah selesai, lanjut tugas selanjutnya ... ." batin Tyas berjalan ngeluyur ke dalam rumah.

__ADS_1


Waktunya bersih-bersih rumah dan merapikan tempat tidur Madav juga tempat tidurnya. Tyas sengaja tidak memperkerjakan ART supaya dia bisa mengerjakan tugasnya sebagai Ibu Rumah Tangga.


Dan alasan lainnya adalah supaya anak dan suaminya tidak bergantumg pada orang lain, bahkan lebih dekat dengan ART daripada dirinya sendiri. Tyas hanya ingin menjadi Isteri dan juga Ibu yang baik buat keluarga kecilnya.


Sementara itu,


Mobil telah berhenti tepat di depan sekolahan PAUD, Arsen segera membukakan pintu bagian kiri untuk putranya. Setelah turun, dan mengantarnya sampai pintu masuk. Memastikan ada guru yang sudah menjemputnya di depan, Arsen segera mengecup kening Madav.


"Sekolah yang rajin ya jagoan Ayah! Perhatikan Bu Guru, tidak boleh lari-larian," ucapnya.


"Iya Ayah! Madav sekolah dulu, Ayah semangat kerjanya," mencium punggung tangan Ayahnya.


"Iya Sayang, I Love you!"


"I love you too, Ayah!" sahut Madav berlalu meninggalkan Ayahnya mendekati guru yang sudah berdiri di sana menunggunya.


Setelah melihat Madav di gandeng gurunya dan diajak masuk ke kelas, Arsen berbalik badan kembali ke mobil. Tak berapa lama kemudian, mobil mulai bergegas meninggalkan halaman sekolah.


1 bulan pasca menikah, Arsen berjuang mendirikan usaha kecil-kecilan di bidang furniture. Lambat laun, usahanya semakin melesat dan banyak kolega yang berdatangan untuk mengajak kerja sama.


6 bulan berjalan, usahanya semakin maju dan berubah menjadi Perusahaan yang lumayan besar. Meski begitu, Arsen tak pernah menganggap apa yang ia dapatkan saat ini adalah hasil kerja kerasnya. Melainkan berkat doa isteri, rezeki anaknya yang saat itu masih berusia 7 bulan dan juga kerja keras para karyawannya yang selalu siap siaga membantunya dalam keadaan apapun.


...CEO's Room...


...Lantai 8...


Tokk tokk tokk!


"Permisi, Pak!" suara sekretaris yang baru bekerja 5 bulan.


"Ya, masuk!" sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.


"Maaf, Pak! Ini laporan untuk bulan kemarin, silakan di periksa dan tanda tangan," ucapnya dengan sopan.


"Ah, ya! Terimakasih ya! nanti saya panggil lagi kalau sudah selesai,"


"Baik, Pak! Saya permisi," ucapnya berlalu keluar dari ruang Ceo.


Arsen segera mendekatkan berkas yang baru saja di bawakan oleh sekretaris barunya. Tak ada masalah, semua berjalan sesuai keinginannya. Arsen selalu percaya pada semua orang, karena menurutnya kepercayaan lebih penting dari apapun. Dia berharap, kepercayaan yang dia berikan tidak akan di salahgunakan untuk hal apapun.


Dan saat ini asistennya sedang ia tugaskan untuk mengamati keadaan di lapangan. Karena ada laporan, beberapa pekerja disana menyalahgunakan kepercayaan yang ia berikan.

__ADS_1


...Di Lapangan...


"Baiklah! Terimakasih untuk penjelasannya. Sekarang keluarlah, dan panggilkan bagian Distributor!" perintahnya dengan tegas.


"Ba-baik Tuan!" segera bergegas pergi dari ruangan gelap yang sangat mencekam.


Tak berapa lama kemudian, datanglah pria paruhbaya berbadan gempal, rambut yang sudah jarang hingga memperlihatkan sebagian kulit di kepalanya. Tanpa disuruh, ia langsung duduk di kursi besi.


"Kau tau kenapa aku memanggilmu kesini?" tanyanya dengan dingin.


"Ti-tidak Tuan," jawabnya tak berani memandang wajah Kemal padahal tampan, tapi tatapannya sangat menakutkan membuat semua orang tergidik jika tak sengaja mata mereka saling berbenturan.


"Jelaskan, apa yang sudah kau lakukan selama sebulan ini?"


"Saya hanya mendisitrisibusikan barang ke lokasi yang sudah tercatat dalam list Tuan!"


"Kau yakin? Apakah ucapanmu bisa di pertanggungjawabkan?"


"Iya Tuan, saya berkata dengan jujur. Kalaupun ada kesalahan, itu tanggung jawab dari ekpeditor Tuan!" mulai mencari alasan untuk menyalahkan bagian ekspedisi.


"Bagian ekspedisi hanya menjalankan tugas sesuai list yang kalian berikan, kenapa kau menyalahgunakan kepercayaan yang sudah kami berikan? Kau tau kan apa akibatnya jika berkhianat?" ujarnya dengan intonasi yang lebih tinggi.


"Kau masih diam rupanya, baiklah. Jangan salahkan aku setelah ini," mulai berjalan maju mendekatinya.


"A-ampun Tuan, maafkan saya!"


"Maaf kau bilang? Semua sudah terlambat,"


Bugg! bugg! bugg! brakk!


Beberapa pukulan mengenai bagian kepala, perut dan kakinya hingga ia berlutut di depan Tuan Kemal yang masih berdiri dengan santainya tanpa merasa bersalah setelah memukulinya. Ia berlutut dan memohon ampun, berharap ia bisa di bebaskan meski harus di pecat dari Perusahaan yang hampr 2 tahun ia mengabdi disana.


"Ampun Tuan!"


"Harusnya kau berpikir sebelum bertindak bo*oh, para pengkhianat sepertimu tak pantas masih bisa menghirup udara segar di dunia ini," ujarnya melayangkan balok memukul punggungnya hingga tersungkur.


"Kalian ... masuklah! Lempar keluar orang ini, pastikan tidak ada barang miliknya yang tertinggal di sini," teriak Tuan Kemal memanggil anak buahnya yang sudah berdiri di balik pintu.


...Tyas POV...


"Huh! Akhirnya selesai juga, aishh bau sekali ... ." celetukku ketika mencium aroma tidak sedap dari tubuh setelah selesai bertugas.

__ADS_1


Aku segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang sudah mandi keringat selama membersihkan rumah dua lantai yang berukuran besar. Meski lelah, tak pernah sedikitpun aku mengeluh. Justru aku bersyukur, bisa mengurus suami, anak dan rumah dengan kedua tanganku sendiri.


Menurutku, pekerjaan seorang wanita yang paling mulia adalah di rumah, melayani suami, anak dan keluarga kecilnya. Untuk pekerjaan di luar, bagiku adalah bonus atau pekerjaan tambahan saja. Tapi sejauh ini belum ada keinginan untukku bekerja kantoran atau di luar rumah.


__ADS_2