Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
'Lebih Bebas'


__ADS_3

"Terimakasih Sayang," ujarnya seraya membelai istrinya dengan lembut.


"Ya sudah, aku ke bawah dulu ya Mas! Takut Madaav nyariin nanti. Selamat bekerja Mas, cup!"


Selepas kepergian Tyas dari ruang kerjany, Arsen terdiam sejenak melihat istrinya yang perlahan menjauh dari tempatnya berada saat ini. Di tengah kesibukannya ketika kedatangan dua orang sahabatnya, Tyas masih memprioritaskan dirinya.


Semakin yakin untuknya mengajak Tyas juga Madav menemui Daddy juga Mommy di Ibukota. Meski tidak lama, setidaknya ia sudah menepati janjinya untuk putra kesayangannya.


"Hufff! Aku sudah tidak sabar untuk itu," batinnya dengan senyum tipis di wajahnya.


***


"Ibu, malam ini aku tidur sama Kakak cantik saja ya Bu! Katanya Kakak cantik mau bacakan dongen untukku," ujarnya dengan logat khas anak kecilnya.


"Iya Sayang, sudah mau tidur?" tanyanya seraya melirik ke arah jam dinding, memang sudah waktunya untuk Madav tidur saya ini.


"Hmm," mengangguk dengan pelan.


"Baiklah, sini peluk Ibu dulu!"


"Selamat malam Ibu,"


"Selamat malam Sayang, mimpi indah ya! Harus nurut sama Kakak cantik, Okay?"


"Iya Ibu,"


"Manda jangan lupa ajak Madav untuk gosok gigi ya,"


"Iya Bu!"


Tyas bergegas ke dapur membuat tiga cangkir minuman panas untuk mereka bertiga. Sepertinya kedua sahabatnya belum ada yang mengantuk, jadi kebetulan sekali karena Tyas juga belum mengantuk saat ini.


Tanpa menunggu lama cokelat panas sudah siap untuk dihidangkan, bersama camilan yang ia buat sendiri beberapa waktu lalu.


"Belum mengantuk kan?"


"Belum!" jawabnya secara kompak.

__ADS_1


"Heh! kompak sekali kalian! Aku buatkan cokelat panas untuk kalian, semoga suka ya!"


"Wah! Ibu Tyas memang jago memanjakan perut kami yang kedinginan," celetuk Dewi.


"Ibu ... Ibu! Sejak kapan aku nikah sama Papamu," sahut Tyas ketus. Diikuti dengan gelak tawa dari Dewi dan Vera.


Malam itu Tyas, Dewi dan Vera menghabiskan malam bersama di teras belakang rumah yang nyaman untuk berlama-lama di sana. Ditambah lampu taman yang menyala di setiap sudut halaman dengan jarak yang sepertinya sudah di ukur. Karena tidak ada yang lebih jauh maupun berdekatan.


Hembusan angin malam beberapa kali menyibakkan rambut ketiga wanita tersebut. Rona wajah kebahagiaan tak bisa disembunyikan kala itu, tanpa disengaja Tuhan menyatukan kembali tiga sahabat yang sudah lama terpisah.


"Ver, aku beberapa hari lagi ada keperluan ke Ibukota, kamu mau ikut atau di rumah saja?" tanya Tyas.


"Aku di rumah saja deh Yas, kasihan kan kalau rumah di tinggal. Kalina tidak lama kan?"


"Sepertinya tidak sih! Hanya beberapa hari saja, tidak sampai satu minggu kok!" jawabnya.


"Eum ya sudah! Aku di rumah saja ya, aku masih takut bertemu orang banyak Yas! Kamu tau sendiri kan?" ujarnya dengan tatapan sendu.


"Hmm, ya sudah! Tapi kamu janji tidak akan kemana-mana Ya Ver? Aku tidak mau lagi kehilangan kamu, cukup sama Dewi aja kita jauhan, tapi kamu tidak boleh!"


"Heh! Kok aku?" celetuknya.


"Wi ... Ver! Dew ... aneh sekali," gumamnya tak terima.


"Baiklah Wi," ucapnya mengulangi.


"Huhhh! Coba saja ada kantor cabangnya Kak Denny juga di sini, pasti aku sudah memilih untuk mutasi saja ke sini,"


"Tapi sayangnya kan tidak ada, dan aku tidak mungkin kan pindah ke Ibukota. Secara rumah kami di sini," ujar Tyas.


"Iya iya ... tapi kalian sering-sering ke Ibukota dong! Jengukin aku, atau jalan-jalan ... ."


"Akan kami usahakan tapi tidak janji ya Wi, aku kan tidak tau kapan jadwal liburku,"


"Hmm, dan kamu pasti selalu sibuk jadi Nyonya Arsen Yas! Apalagi ada peluang untukmu tampil lebih banyak di Televisi. Aku kalau kangen kamu cuma bisa diam saja menatap layar Televisi,"


"Ya mau gimana lagi Wi! Masa iya kamu mau pasang layar tancap di kamarmu,"

__ADS_1


Perbincangan ketiganya harus berhenti setelah waktu menunjukkan pukul 11 malam, yang mana menandakan ketiganya telah mengahiskan waktu selama hour 2 jam lamanya.


Dewi dan Vera akhirnya masuk ke dalam kamar mereka setelah Tyas juga meninggalkan lantai satu untuk menuju kamarnya di lantai dua. Rupanya Arsen sudah kembali dari ruang kerjanya, duduk di atas kasurnya seraya memainkan game di ponselnya.


"Sudah selesai Sayang?" tanya Arsen tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Sudah Mas ...! Maaf ya aku baru selesai ngobrol sama mereka," ujar Tyas serta melepas ikatan rambutnya.


"Tidak apa kok! Oh iya kemana anak kecil itu? Kok tidak ada di kamarnya?"


"Kayak tidak tau saja gimana anak kita kalau sudah ada Kakak cantiknya Mas! Tadi bilang mau tidur sama Kakak cantik, ya sudah aku izinkan saja," jawabnya seraya berlalu menuju ruang ganti untuk ke wastafel membersihkan wajah dan menggosok giginya.


Setelah selesai dengan rutinitas malamnya yang lumayan panjang, Tyas pun kembali ke kamar untuk menyusul suaminya yang mungkin sudah tertidur. Namun rupanya Arsen masih terjaga dengan game yang sepertinya sedang asyik sekali.


"Game terus Mas! Sejak kapan kamu kenal sama game?" tanya Tyas serta menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya.


"Heheh! Belum lama ini Sayang. Lagian kan hanya sesekali saja, tadi aku nungguin kamu jadinya ya main game, eh kamu kembali pas aku lagi setengah main," jawabnya yang lagi-lagi masih fokus dengan game yang Tyas tidak mengerti sedikitpun.


"Jadi kau yang salah karena kembali terlalu cepat?" gumamnya.


"Bukan begitu Sayang! Gamenya yang salah kenapa tidak selesai-selesai ... Kamu mana pernah salah, cup!" kecuoan singkat mendarat di pipi kanan Tyas karena Arsen sepertinya sedang berkejaran dengan waktu dalam game.


Meski Tyas tidak mengerti soal game, setidaknya ia bisa terawa melihat tingakh suaminya yang seperti anak kecil, kadang mirip sekali dengan Madav jika sudah fokus dengan gadgetnya.


Selama hampir 15 menit, Tyas terus menatap suaminya tanpa bosan. Hingga tanpa disadarinya Arsen sudah mematikan ponselnya karena game sudah berakhir.


"Kok dimatikan Mas? Sudah?" tanya Tyas terkejut.


"Hmm, Mas suruh main lagi nih?"


"Jangan, sudah malam! Tidur atau besok telat ke kantor," ujar Tyas seraya merebut ponsel dari tangan Arsen.


"Aish, istri rasa Ibu!" gerutunya seraya memeluk Tyas dari belakang.


"Eh? Kok gini sih Mas, susah tau aku ini ...!" ujarnya setengah berbisik mengingat waktu sudah hampir tengah malam.


"Kamu belum tidur karena menginginkannya kan?" bisiknya dengan tatapan yang bisa ditebak apa maunya saat itu.

__ADS_1


"Dih! Bukan begitu, tapi ... ." belum selesai Tyas menjawab, bibir Arsen langsung menyambar bibir sensual Tyas hingga membuatnya susah bernafas.


Keduanya lanjut bergulat malam itu, selagi Madav tidak satu ruangan dengan mereka. Yang mana mereka akan lebih bebas lagi tanpa harus menahan suara seperti biasanya.


__ADS_2