Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Mengakhirinya


__ADS_3

"Cih! Gombal ... Ya sudah, jangan lama-lama. Sebelum waktunya makan malam Mas harus sudah sampai rumah," rengeknya.


"Iya Sayang, Mas pergi dulu ya. Cupp!"


"Maaf ya Wi kita tidak ada maksud pamer kok," ucapku padanya.


"Heh! Tidak apa, anggap saja aku batu Kak!" jawabnya membuat kami tertawa sore itu.


_________


Seperginya Tuan Arsen, kini Madav yangbmenjadi ousat perhatian dua wanita yang berstatus sahabat. Tak henti-hentinya Dewi memuji ketampanan Madav si anak kecil yang tidak mau di anggap kecil lagi.


"Yas, anakmu lucu sekali. Masih kecil aja udah tamoan ... gimana nanti gedenya," ujar Dewi melempar pujian entah berapa kali tak terhitung lagi.


"Terus saja kamu puji Wi, nanti anakku jadi ke-Ge-eR-an loh!" celetuk Tyas melirik putranya yang sedang asyik menikmati secangkir teh hangat dengan cookie buatannya.


"Tante, aku sudah besar. Tante juga panggil aku Kakak ya," celetuknya sambil mengunyak cookies.


"Aaihh! Astaga, anak kecil ini. Hei Nak, nikmati masa kecilmu sepuasnya. Sebelum kamu mengalami galau dan patah hati seperti anak remaja pada umumnya," timpal Dewi dengan gemas.


"Tapi kamu sepertinya tidak akan pernah galau atau patah hati sih. Yang ada para gadis yang akan kamu bikin baper. Aku saja bisa baper sama kamu sekarang" imbuhnya.


"Bu, Tantenya lapar. Emang Ibu sudah masak?" celetuknya dengan polos.


"Ah, baiklah. Ibu akan masak untuk makan malam kita. Madav main gih, tapi jangan keluar rumah. Okey?" ujar Tyas.


"Hmm, aku main ya Bu. Bye Tante," ucapnya seraya bergegas pergi.


"Masih polos tapi gak mau di panggil anak kecil, Astaga! Apakah semua anak kecil selucu itu Yas? Kalau iya aku mau satu," rengeknya seperti anak kecil yang meminta permen pada Ibunya.


"Hais!! Yaudah gih nikah Wi, biar nanti kamu punya anak kecil yang lucu,"


"Ayo bantu aku masak," ajaknya pada Dewi.


"Kamu gak ada ART Yas?" tanya Dewi seraya berjalan mengikuti Tyas menuju kantor kebesarannya.


"Belum kepikiran sih Wi, aku masih bisa mengurua suami, anak dan rumah sendiri. Tapi besok aku ada syuting promo Hotel, jadi gak tau deh kedepannya mau gimana," jawab Tyas sekenanya.


"Hotel siapa?" tanya Dewi.

__ADS_1


"Punya Ayahnya anak yang di limpahkan ke aku Wi," jawabnya dengan pelan.


"Hmm, Nah kan! Sahabatku yang satu ini jadi Ibu Pengusaha," ujarnya membanggakan sahabatnya.


"No! Aku cuma Ibu Rumah Tangga, karena sejujurnya aku tidak pernah datang di beberapa pertemuan yang di selenggarakan beberapa waktu yang lalu,"


"Terus saja merendah Yas, sampai aku gak tau lagi gimana caranya memujimu,"


Mereka tertawa bersama, Dewi membantu Tyas menyiapkan makan malam. Sementara itu Madav di ruang bermainnya, entah apa yang dia lakukan disana. Yang pasti dia sedang main saat ini.


Sementara itu,


Mobil memasuki area sepi, sebuah gudang terbelangkai berada di depan mata. Hanya ada beberapa penjaga suruhannya yang berjaga disana, selain itu tidak ada yang berani memasuki pagar besi tua.


Tuan Arsen meraih kacamata hitamnya dan turun untuk segera melihat orang yang sudah membuat dirinya murka karena kejadian kemarin. Tanpa banyak bicara, seseorang di antara beberapa penjaga segera mempersilakan Tuan Arsen untuk memasuki gudan tersebut.


Terlihat Kemal sedang berdiri menatap terduga dengan tatapan tajam seolah ingin memangsanya. Mendengar suara derap kaki yang ia kenal, Kemal segera berbalik badan dan membungkukkan sedikit badannya.


"Selamat datang, Tuan!" ucapnya dengan sopan.


"Apa dia berbuat macam-macam?" tanya Tua Arsen.


"Tidak Tuan, bahkan dia dengan sukarela mau ikut dengan kami. Jadi sepertinya dia sudah mengikhlaskan nyawanya jika hari ini melayang," ucapnya masih dengan bersikap tenang.


"Selamat Sore, Nyonya!" sapa Tuan Arsen.


"Tuan Arsen, selamat datang. Tapi maaf kenapa saya di ikat? Bukankah Tuan mau membeli beberapa anak jalanan dari kami?" tanyanya.


"Membeli anak jalanan?" tanya Tuan Arsen dengan ragu


"Ya, Tuan! Mereka ada sindikat jual beli anak. Bukan saya yang memaksanya, tapi dengan sukarela wanita ini ang menjelaskannnya sendiri tanpa saya minta," ucap Kemal menjelaskan.


"Jadi, kau berusaha menculik putraku untuk kau jual kembali pada orang lain? Kau pikir putraku apa?" ujarnya dengan menahan sedikit emosinya.


"Ma-maksud Tuan?" ujarnya tak mengerti.


"Apa kau lupa dengan kejadian 2 hari lalu? Saat itu mobilmu terparkir di seberang sekolah, dan kau ... ." ujarnya enggan melanjutkan ucapannya, karena hatinya seperti teriris jika membayangkan putanya dalam suasana yang menegangkan.


"Ma-maaf, tapi saya meminta mereka untuk mengambil cucu saya Tuan! Saya tidak bohong," ujarnya berkata jujur.

__ADS_1


"Saya tau siapa kamu, dan tolong tarik kembali ucapanmu. Wanita sepertimu tidak pantas menyebut putraku dengan cucu," ucapnya berusaha untuk tetap tenang.


"Ja-jadi wanita itu ada hubungan darah dengan keluarga Tuan? Bagaimana bisa?" batin Kemal yang sejak tadi mendengar perbincangan keduanya.


"Ma-maksud Tuan?"


"Seorang gadis yang malang, dia kehilangan Ayah dan Adiknya secara tragis. Dan tidak di sangka pelakukanya adalah orang yang sangat dia hormati," ucapnya tanpa memandang wanita di depannya.


"A-apa hubungannya dengan saya Tuan? Sa-saya tidak mengerti dengan cerita Tuan," sahutnya.


"Gadi itu yang kau lahirkan 25 tahun yang lalu. Kau sudah membuatnya banyak menderita dan menciptakan trauma yang mendalam untuk gadis seusianya. Sampai sini kau belum mengerti juga?" bentaknya dengan menatap tajam.


"Ja-jadi Tuan adalah menantuku?" ujarnya terkejut.


"Sssttt! Mulutmu tak pantas berkata seperti itu, bagiku kau bukanlah seorang Ibu. Dan aku tidak akan pernah membiarkan kamu menyentuh bahkan melihatnya sekalipun,"


"Tuan, maafkan saya. Ini semua saya lakukan untuk menyambung hidup, dan saya hanya ingin memeluk cucu saya. Saya berkata sejujurnya Tuan," ujarnya mengiba berharap Tuan Arsen akan merasa kasihan.


"Maaf Nyonya! Menurutku tidak ada sifat atau sikap yang menggambarkan seorang Ibu dalam dirimu. Aku pikir kau sudah jera setelah 10 tahun hidup di balik jeruji besi, tapi apa ... kau malah sekarang melanggar hukum lagi, dan jelas-jelas kau pergi ke pulau ini pasti untuk mengincar isteri dan anakku bukan?"


"Jangan harap kau masih bisa hidup setelah berada dalam genggamanku," ancamnya dengan tatapan yang tajam.


"Tuan, jangan kotori tangan anda. Biar saya yang mengurusnya," ujar Kemal.


"Hah! Uruslah, pastikan nyawa dan raganya sudah terpisah hari ini. Dan jangan sampai ada jejak yang tertinggal," perintahnya.


"Baik, Tuan. Serahkan pada saya," jawabnya dengan patuh.


"Tuan ... tolong ampuni saya, biarkan saya memeluk anak dan cucuku," ucapnya mengiba.


"Diam! Minumlah ini, cepat!!" hardik Kemal dengan keras.


"Tidak, saya tidak ingin minum. Tapi saya ingin memeluk anak dan cucu saya," jawabnya dengan keras kepala.


"Aisshh! Minum dulu, supaya kerongkonganmu tidak kering dan kau bisa lanjut lagi berteriak sepuasmu hari ini," ujarnya mencengkeram lengannya dengan kuat.


"Aahh! Sa-sakit Tuan. Baik saya akan minum," meraih botol minuman dari tangan Kemal.


Dan beberapa saat setelah minum, wanita tersebut mulai kejang-kejang.

__ADS_1


"Kemal, apa yang kau lakukan?" tanyanya.


"Seperti yang Tuan perintahkan, memisahkan nyawa dengan raganya," jawabnya enteng.


__ADS_2