Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Seperti Mimpi


__ADS_3

"Sayang, katanya Lukman sedang menjemput sahabatmu. Siapa yang berkunjung?" tanya Tuan Arsen setelah mereka tiba di rumah.


"Oh iya, aku lupa tidak bilang ke kamu Mas. Dewi yang kesini, Mas tau kan? Dua hari yang lalu dia mengirim pesan bilang mau kesini, aku pikir itu hanya bercanda. Tapi tadi siang dia menelepon ku dan katanya sudah di Bandara," ujarnya menjelaskan.


"Mas tidak marah kan?" imbuhnya menggigit bibir bagian bawahnya.


"Untuk apa Mas marah, toh dia hanya main kan? Bukan mau mengajakmu pergi ke Ibukota sana," tersungging sebuah senyuman tipin di sudut bibirnya membuat Tyas merasa senang saat melihatnya.


"Hmm, makasih ya Mas. Pun, kalau dia mengajakku aku tidak akan bisa pergi tanpa izin dari Mas kan," celetuknya.


"Iya Sayang, Mas percaya kok sama kamu. Ya sudah ayo masuk, sepertinya anak kecil ini mulai mengantuk," mengusap rambut putranya yang sejak tadi sudah menguap.


"Ayah, aku Madav. Panggil aku Kakak Madav," ocehannya berhasil membuat Tuan Arsen dan Nyonya Tyas tertawa dibuatnya.


"Wah, Bu. Kode kita harus kasih dia adik," celetuknya sembari mengedipkan sebelah mata pada isterinya.


"Ih, Mas. Ada anak kecil, sudah ayo masuk. Mas juga harus istirahat kan sedang tidak enak badan,"


Mereka segera masuk dan naik ke lantai atas menuju kamarnya. Setelah berganti pakaian dengan baju rumahan, ketiganya berbaring diatas ranjang melemaskan otot-otot yang seharian menegang di dalam tubuhnya.


Dalam waktu sekejap, Madav sudah tertidur dalam pelukan Ibunya. Nyonya Tyas segera menyelimuti putranya dan hendak bergegas turun menyiapkan segaa sesuatu untuk menyambut kedatangan sahabatnya yang sudah lama tidak dijumpainya.


"Sayang, mau kemana?" tanyanya dengan manja.


"Aku mau turun, Mas. Sebentar lagi Dewi akan sampai, Mas istirahat saja sama Madav. Atau mau aku buatkan minuman hangat?" ucapnya menawarkan diri.


"Tidak, terimakasih. Apa sebaiknya kamu tidak istirahat dulu saja?"


"Aku sudah istirahat sejak pagi Mas, bahkan di Rumah Sakit aku hanya duduk saja. Sudah, aku turun dulu ya. Selamat berisitirahat, Sayang. Cup!!" mengecup kening Tuan Arsen sebelum berlalu pergi meninggalkan kedua jagoannya untuk istirahat siang.


Sementara itu,


"Sudah Pak! Ayo kita lanjut," ajak Dewi setelah memasang seatbelt dengan benar.


"Baik, Nona!"

__ADS_1


"Astaga, kaku sekali dia. Apakah dala peraturan kerjanya harus seperti itu?" gumamnya dengan suara lirih.


Jalanan tampak lengang, mungkin karena masih jam kerja. Waktu menunjukkan pukul 15.00, di sepanjang jalan tampak sepi hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang berpapasan dengan mobil yang di naikinya.


"Sepi sekali disini, pantas saja Tyas betah. Situasinya berbeda jauh dari hiruk pikuk Ibukota yang tidak pernah ada sepinya. Kecuali malam hari itupun masih ada yang suka nongkrong di bahu jalan," batinnya memandangi kiri dan kanan di sepanjang perjalanan.


"Coba saja Vera ikut denganku, tapi sayangnya diabjuga repot sama anak-anaknya. Hah! Nasib ... nasib, punya sahabat yang sudah jadi ibu rumah tangga, akunya kesepian," gumam Dewi seraya menyandarkan kepalanya pada kaca mobil.


Gerimis tiba-tiba turun, kaca mobil secara perlahan basah oleh tetesan air yang turun semakin deras. Entah kenapa kali ini rasanya sedikit berbeda, ada rasa tenang yang menyelimuti perasaannya.


"Lihat, hujan pun tak mau kalah ingin menyambut kedatanganku di kota ini,"


"Pak, boleh saya buka kaca mobil? Sedikit saja," ujarnya meminta izin seperti anak kecil.


"Sebentar saja," jawabnya singkat tanpa menolehkan wajahnya.


"Okey," segera menurunkan kaca mobil dan mengeluarkan tangannya hingga sebatas siku.


Tangannya menengadah ke atas, menadahi air hujan yang turun. Kedua matanya terpejam merasakan lebih dalam tetesan air yang menyenruh telapak tangannya secara bersamaan.


"Ya Tuhan, terimakasih untuk nikmat-Mu. Sampaikan salam rinduku untuk Ibu disana, katakan aku ingin memeluknya. Meski hanya sebentar, mengobati rindu yang setiap hari semakin menggebu," batinnya seraya menghembuskan nafas panjang melepaskan segala penat di dalam dadanya.


"Heh? Maafkan, Okey. Terimakasih Pak Lukman," ujarnya segera menutup kembali kaca mobil.


"Astaga! bajuku basah," ujarnya baru menyadari.


Mobil mulai keluar dari jalan raya memasuki tugu berwarna hitam di sisi kanan dan kiri jalan. Dewi masih terdiam menatapi tetesan air yang mengenai dedaunan di sepanjang jalan yang di laluinya.


"Kita sudah sampai Nona," ucapnya sudahbberdiri di hadapannya dengan memegang payung hitam berukuran besar.


"Astaga! Sejak kapan kau sudah turun Pak, membuatku kaget saja," ujarnya mengelus dadanya.


"Maaf, Nona!" jawabnya singkat.


"Okey, wait!" ucapnya segera meraih handbag berwarna hitam berukuran sedang.

__ADS_1


...TYAS POV...


Hujan mulai turun, suaranya terdengar dengan jelas jatuh diatas asbes teras belakang. Bau segar tanah yang basah mulai menyeruak menusuk hidungku yang berukuran sedikit minimalis tapi masih terlihat mancung.


Air dalam teko kecil sudah mulai mendidih, aku segera menuangkan ke dalam teko kaca berukuran sedang. Cookie ala dapur Tyas pun sudah siap di dalam toples kecil untuk menyambut kedatangan sahabatku.


Samar-samar terdengar suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah. Aku mengintip dari kaca dapur untuk memastikan siapa yang datang. Ya, itu dia ... Dewi sudah datang. Aku segera berlari untuk membukakan pintu rumah dengan lebar.


Cklekk!


"Welcome, Dew!" ucapku dengan nada khas anak remaja yang baru bertemu dengan sahabatnya setelah sekian lama tak berjumpa.


"Tyas," teriaknya sedikit tertahan, mungkin karena dia masih ribet jalan dengan higheels di kala hujan.


Dewi masih sama seperti dulu, hanya berat badannya yang sedikit bertambah. Mungkin sekitar 3-5kg, pipinya masih terlihat chubby dan badannya sepertinya pinggangnya mulai samar-sama tidak terlihat. Ups!


Sudahlah nanti aku kena pasal body shaming. Yang pasti aku sangat senang, bisa melihat sahabatku secara real di depan mataku. Rasanya seperti mimpi, setelah 5 tahun lamanya kami tidak bertemu, akhirnya waktu yang ku nantikan sudah tiba.


...PUSAT PERBELANJAAN...


......MENTARI (NAMA LAINNYA)......


Sesuai perintah dari Tuan Arsen, Kemal segera pergi mencari jaket kulit pesananya berjumlah 7 pcs. Tiba-tiba ia teringat dengan Amanda yang pagi tadi menanyakan jaket miliknya.


Ia segera mengambil satu buah jaket berwarna hitam dengan ukuran Medium. Tanpa melihat model ia langsung membawanya ke meja kasir dan segera membayarnya karena masih ada urusan lain setelah ini.


Setelah membayar seluruh belanjaan ia segera menenteng 8 paperbag dengan kedua tangannya dan berlalu meninggalkan area pertokoan menuju basement.


Tring!


"Apa kalian sudah menemukan tempatnya?" tanyanya pada seseorang di seberang sana.


"Sudah Tuan! Apakah kami harus langsung membawanya?"


"Tunggu aku, pastikan dia tidak pergi lagi. Segera kirimkan sharelok!"

__ADS_1


"Baik, Tuan!"


Tak lama kemudian setelah panggilan terbuah, sebuah pesan masuk dari anak buahnya mengirimkan sharelok. Tanpa menunggu lama, Kemal segera menginjak gas mulai meninggalkan basement.


__ADS_2