
"Aahh! Sa-sakit Tuan. Baik saya akan minum," meraih botol minuman dari tangan Kemal.
Dan beberapa saat setelah minum, wanita tersebut mulai kejang-kejang.
"Kemal, apa yang kau lakukan?" tanyanya.
"Seperti yang Tuan perintahkan, memisahkan nyawa dengan raganya," jawabnya enteng.
________________
"Astaga! Kenapa secepat ini," gumamnya tak habis pikir.
"Tuan, sebaiknya kita segera pergi dari sini. Dalam waktu 5 menit bagunan ini akan runtuh," ujarnya lagi.
"Memang ada apa? Ada gempa?" tanyanya lagi.
"Nanti akan tau sendiri, silakan Tuan!" ucapnya mempersilakan.
Tanpa banyak bertanya, Tuan Arsen segera berjalan keluar di ikuti Kemal dari belakang. Setelah sampai di halaman gudang terbengkalai, Kemal mengarahkan yang lainnya untuk sedikit menjauh dari bangunan.
Dan saat mereka baru saja samoai di dekat pagar, terdengar ledakan yang cukup keras membuat semuanya terkejut. Sementara itu Kemal masih bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa saat ini.
"Ini yang kamu maksud?" tanya Tuan Kemal.
"Benar Tuan!" jawabnya memebenarkan.
"Astaga! Kemal, apa yang kamu lakukan?" ujarnya tak tau lagi appa yang harus ia lakukan pada asisten yang satu ini.
"Maaf Tuan! Ini adalah satu-satunya cara meninggalkan jejak. Polisi tidak akan mendapatkan barang bukti kecuali tulang belulangnya saja," ujarnya dengan tenang.
"Hah! Urus sajalah, aku harus segera kembali sebelum waktu makan malam," ucapnya.
Kemal mengantarkan Tuan Kemal sampai ke mobilnya. Stelah mobil semakin menjauh dan hilang dalam pandangan, Kemal segera kembali masuk ke pagar dna meminta anak buahnya untuk segera pergi dari tempat ini dan tidak membocorkan pada siapa-siapa.
__ADS_1
Bangunan gudang tua hancur dalam seketika. Untunglah lokasi jauh dari pemukiman warga, Kemal dan yang lainnya segera bergegas pulang kembali ke rumahnya masing-masing.
Sementara itu,
Kemal pulang ke apartemen lebih dulu untuk membersihkan badannya dan berganti pakaian sebelum pergi ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Amanda. Beberapa pesan masuk dari anak buahnya yang baru saja membebaskan beberapa anak kecil di kediaman Nyonya Mayang.
Sebelum mandi, Kemal memilih untuk membuat susu hangat vanila yang biasa dia buat setiap sedang merasa lelah. Setelah minuman jadi, ia membawanya dan duduk memandangi langit malam yang kosong tanpa adanya bintang disana.
"Semoga kamu baik-baik saja disana, 3 tahun lamanya kita tidak berjumpa. Aku masih ingat saat mengantar kepergianmu di Bandara waktu itu. Apakah kamu masih ingat denganku?" batin Kemal menyandarkan kepalanya di kursi.
Susu Vanila hangat dalam gelas sudah habis tanpa sisa, sejenak matanya terpejam mengistirahatkan syaraf pusatnya yang sejak tadi bekerja dengan sangat keras.
"Aih! Sudah berapa lama aku tertidur. Aku harus segera ke Rumah Sakit," ujarnya segera tersadar.
Ia segera beranjak dari kursi pijitnya, dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Tanpa berlama-lama, ia segera mengakhiri mandi malam ini sebelum malam semakin larut.
Dengan langkah cepat, Kemal segera pergi meninggalkan apartemen mewah miliknya.
Di tempat lain,
"Mas, akhirnya kamu pulang," ujar Tyas segera bangun dari duduknya.
"Iya Sayang, maaf ya aku baru pulang. Kebetulan lokasi lumayan jauh dari sini," jawabnya.
"Ya sudah, kamu bersihkan badanmu dulu. Kita tunggu di bawah ya," ucapnya.
"Baiklah. Aku ke atas dulu," ujarnya segera berlalu menuju kamarnya.
"Ada apa dengannya? Sepertinya ada yang dia sembunyikan dariku. Mungkinkah dia sednag ada masalah? Semoga nanti dia akan menceritakannya padaku, supaya dia tidak menanggung masalahnya sendiri," batinnya sebelum kembali bersama sahabat dan putranya.
Setelah menunggu satu jam lamanya, akhirnya Tuan Arsen turun sudah dengan kaos polos dan celana pendek selutut. Nyonya Tyas segera menyiapkan makan malamnya di bantu oleh Dewi.
Usai makan malam, Nyonya Tyas menitipkan Madav pada Dewi sebentar. Dia ingin mengajak suaminya untuk jalan sebentar di taman rumahnya, menghibur sedikit agar suaminya tidak larut dalam masalah.
__ADS_1
Di Taman
"Mas, sudah lama ya kita gak jalan-jalan kayak gini. Ternyata rasanya masih seenak dulu," ujarnya menggandeng tangan suaminya.
"Iya Sayang! Sepertinya kita perlu liburan sebentar, tapi tidak tau ada waktunya kapan. Semoga ada waktu,"
"Pasti ada waktu Mas. Aku yakin itu, kita duduk disana yuk ... ." ajaknya menunjuk sebuah bangku panjang di taman.
Mereka duduk di taman, menikmati semilir angin yang berhembus di sekitar taman. Langit sedang bersih malam ini, entah kemana para bintnag yang biasanya berkelip di atas menemani langit agar tak kesepian.
"Mas, apakah ada yang mau kamu bicarakan?" tanyanya dengan lembut.
"Ma-maksudmu?" sahutnya dengan gugup.
"Kamu gak bisa bohong Mas. Aku tau kamu lagi ada masalah, semua terlihat jelas di matamu. Aku isterimu kan? Bukahnkah tugas isteri selain memasang, mengurus anak, melayani suami ... juga bertugas mengurangi beban sang suami?" ucapnya menatap kedua matanya lekat-lekat.
"Ya, sudah ku duga. Kamu pasti akan menanyakannya. Entah dari mana aku harus mengatakannya, Sayang!" ujarnya menghela nafas dengan panjang.
"Kalau kamu belum siap, gak apa-apa kok. Yang harus mas ingat, aku disini untuk Mas. Aku selalu siap mendengarkan dan menjadi pendengar yang baik," ujarnya menggenggam tangan suaminya.
...ARSEN POV...
"Apa yang aku ucapkan padamu Sayang? Haruskah aku bilang, baru saja aku melihat Ibumu sekarat di depan mataku. Dan aku cuma diam tak menolongnya? Bahkan akulah yang menyuruhnya, tapi ternyata kejadian begitu cepat berlangsung ... ." batinku menatap kedua bola mata isteriku yang indah.
Melihat wajahnya, membuat lidahku kelu. Mana sanggup aku mengatakan dengan gamblang kalau aku sudah berbuat kriminal dan membuat Ibunya meregang nyawa.
Tapi aku tidak mungkin bisa menyimpan rahasia ini terlalu lama. Cepat atau lambat, isteriku akan tau kejadian yang sebenarnya. Dan dia akan sangat kecewa atau bahkan meninggalkan aku sendirian disini.
Aku berada dalam situasi yang tidak memungkinkan. Aku belum siap untuk mengatakannya, tapi aku juga tidak tau sampai kapan aku akan bisa merahasiakannya dari wanita di hadapanku ini.
"Mas, kamu kenapa melamun? Apa ucapanku menjadi beban untukmu? Kalau iya, aku minta maaf. Lupakan apa yang aku ucapkan barusan ya," ujarnya tersenyum padaku.
Senyumannya membuatku merasa bersalah karena harus berbohong padanya. Ya Tuhan, bantu aku jika aku harus mengatakannya kebenarannya malam ini juga. Tapi jika belum waktunya, buatlah isteriku bisa memahami bila waktunya tiba nanti.
__ADS_1
"Mas, apa kamu tidak mendengarku? Mas baik-baik aja kan?" tanyanya dengan cemas. Terlihat jelas raut wajahnya sangat mencemaskanku.
"Sayang," hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.