
Sesampainya di resto Pelangi, Kemal dan Tuan Arsen segera menuju Private room dimana Aura sudah berada disana sejak 30 menit yang lalu.
"Selamat Pagi, Tuan Arsen!" Sapanya dengan sangat manis.
"Pagi, Nona Aura! Maaf membuat anda lama menunggu," ujarnya berbasa-basi.
"Tidak apa, Tuan. Silakan duduk!"
Kemal segera memundurkan kursi untuk Tuan Arsen, dan setelah itu dia ikut duduk di sampingnya tanpa memperdulikan Aura yang memberikan isyarat untuk Kemal sebaiknya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa Nona meminta kami untuk datang? Bukankah besok lusa juga ada pertemuan?" tanya Kemal menatapnya dengan tajam.
"Tidak, hanya ada sedikit yang perlu saya bicarakan dengannya," jawabnya tanpa menoleh pada Kemal sedikitpun.
"Maaf, bisa tinggalkan kami sebentar saja?" imbuhnya dengan acuh.
"Dan maaf, Nona! Tapi Tuan Arsen meminta saya untuk stay disini,"
Tak ada obrolan penting sebenarnya, hanya alasan Aura saja supaya bisa bertemu dengan sang pujaan hatinya. Dan Tuan Arsen hanya banyak menyimak serta mendengarkan walaupun sebenarnya merasa bosan dan ingin pergi jauh.
...Neo Hotel...
Setibanya di Main Entrance, beberapa pria dengan jas berwarna hitam rapih berdiri berjejer menyambut Tyas yang mobilnya baru saja tiba. Tidak heran, dia bisa menebak pasti suruhan suaminya, siapa lagi kalau bukan dia.
"Selamat datang, Nyonya!" Ucap salah satunya di ikuti dengan beberapa pria di belakangnya yang membungkukkan badannya secara bersamaan.
"Terimakasih, tapi kenapa banyak sekali? Padahal hanya pertemuan biasa," tanya Tyas pada salah satu pria yang berdiri di depannya.
"Kami hanya menjalankan tugas, Nyonya!" jawabnya tegas.
"Oh, baiklah!"
Mereka segera mengawal Tyas berjalan menuju lobby hotel dan langsung diarahkan menuju lift khusus yang langsung terhubung dengan meeting room.
Sementara itu,
"Apakah itu orang penting di kota ini? Atau artis yang ingin menyewa hotel ini untuk syuting?" ujar wanita paruh baya yang tak sengaja melihat kerumunan pria berjas rapih sedang mengawal seseorang.
"Mungkin saja, udah jangan kepo. Mereka punya privasi," ujar suaminya.
"Aku kan hanya penasaran saja, sebentar ya!" bergegegas menuju receptionist table.
"Mba, maaf mau tanya. Itu tadi artis ya?" tanyanya ingin tau.
"Bukan, Bu! Tapi Bu Tyas. Pemilik hotel ini," jawabnya dengan ramah.
"Wah, apakah setiap hari dia juga di kawal seperti ini? Btw, namanya Tyas, apakah orang yang sama atau hanya kebetulan namanya sama ya," batinnya penasaran.
"Oh, begitu. Ya sudah, terimakasih ya Mba!"
__ADS_1
"Sama-sama, Bu!"
Iapun kembali ke suaminya yang sudah berdiri di lorong menuju pintu keluar.
"Udah?" tanyanya.
"Hmm, ayo!" ajaknya menggandeng lengan suaminya.
Hari ini mereka berencana untuk mengunjungi kediaman rekan kerja Billy yang kebetulan sudah lama tidak berjumpa karena memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dan memulai kehidupan yang baru dikampung halaman.
...PELANGI RESTO...
"Sudah selesai, bukan? Kalau begitu, aku izin pergi ... ."
"Kenapa buru-buru?" tanyanya tanpa merasa bersalah.
"Maaf, Nona Aura. Hari ini Tuan Arsen akan menjemput isteri dan putranya," ujar Kemal membantu menjawab.
"Aku tidak tanya padamu, Kemal!" ujarnya dengan ketus.
"Tapi saya ingin menjawab, mohon maaf. Silakan, Tuan!" mempersilakan Tuan Arsen untuk berjalan lebih dulu.
"Hei, apa-apaan ini? Bukanya aku sudah bilang mau bertemu dengannya seharian?" ucapnya setengah berbisik.
"Aku pikir, ada sesuatu yang penting. Tapi ternyata tidak ada. Saya hanya ingin menyelamatkan Tuan Arsen supaya beliau tidak tersiksa karena harus berlama-lama dengan anda,"
"Lebih tepatnya menahan hasrat ingin meremukkan tulang manusia yang tidak tau diri. Permisi,"
"Huh! Awas saja,"
Kemal segera melenggang pergi meninggalkan Aura begitu saja. Dengan langkah cepat ia segera menyusul Tuan Arsen yang hampir sampai ke mobil. Sebelum tangan Tuan Arsen menyentuh gagang pintu mobil, Kemal dengan cepat segera meraih gagang pintu lebih dulu dan membukakannya untuk Tuan Arsen.
Mobil segera melaju menuju Neo Hotel untuk menjemput isterinya lebih dulu, setelah itu mereka baru akan menjemput Madav. Sudah lama mereka tidak menjemput Madav bersama, dan mereka yakin Madav akan sangat senang saat melihatnya.
"Jangan pernah lagi seperti ini!" ujarnya melepas kaca mata hitam yang di pakainya.
"Baik, Tuan!" jawabnya dengan gugup.
"Apakah kejutan untuknya sudah siap?" tanyanya lagi.
"Sudah Tuan, hadiah sudah sampai di rumah ... ."
"Kerja bagus,"
Tak perlu waktu yang lama untuk mereka tiba di Neo Hotel, dengan cepat Kemal segera turun lebih dulu dari mobil dan membukakan pintu untuk Tuan Arsen. Beberapa anak buahnya sudah menunggu di depan pintu masuk utama hotel.
Mereka segera mengantar Tuan Arsen menuju isterinya yang saat ini masih di meeting room.
Di sisi lain,
__ADS_1
"Okey, pertemuan untuk hari ini saya rasa sudah cukup. Masing-masing bagian sudah ada tugasnya, saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik saling mem-backup satu sama lain,"
"Sejauh ini masih ada yang mau di tanyakan? Silahkan," imbuhnya dengan tegas.
"Maaf, Nyonya!" mengangkat tangan kanannya.
"Ya, silahkan ... ."
"Untuk promosi kita menggunakan media elektronik berupa iklan, lalu siapa bintang iklan dalam iklan tersebut?" tanyanya dengan sedikit ragu.
"Ya, itu yang tadi juga mau saya tanyakan. Perwakilan dari divisi pengiklanan silahkan dijawab,"
"Terimakasih atas waktunya, jadi begini ... ." mulai menjelaskan satu persatu kandidat yang rencananya akan mereka pakai sebagai model.
"Kira-kira seperti itu, apakah ada masukan lain mungkin dari divisi lain atau Nyonya Tyas," ujarnya dengan sopan.
"Hmm, kalau saya setuju saja. Selagi kalian bisa menghandle dan memastikan mereka setuju dengan kesepakatan sebelumnya. Bagaimana? Apakah ada masukan lagi?" ujarnya memberikan kesempatan kepada yang lain untuk berpendapat.
"Izin menjawab, Nyonya!" ujarnya mengangkat tangan kanannya.
"Oh, ya ... silakan!"
"Terimakasih, menurut saya pribadi. Bagaimana kalau kita (maaf) memakai pemilik Neo Hotel untuk menjadi bintang iklannya saja? Bukankah itu akan lebih menarik? Karena selama ini, tidak sedikit para pengunjung yang bertanya siapa pemilik hotel ini, dan seperti apa beliau,"
"Ide yang bagus, aku setuju!" sahutnya yang baru keluar dari lift.
"Tu-tuan," semua berdiri dan menundukkan kepalanya dengan hormat melihat kedatangan Tuan Arsen.
"Mas, apa maksudmu?" ujar Tyas dengan bingung.
"Apa aku kurang jelas? Akan lebih baik jika pemilik hotel ikut andil dalam promosi ini, ya anggap saja membantu para divisi yang sudah bekerja keras menyiapkan segalanya untuk memajukan hotel ini,"
"Ta-tapi kan, Mas ... ." ucapnya dengan lirih.
"Siapa tau, setelah ini banyak job berdatangan Sayang!"
"Haih! awas saja nanti kamu Mas," ancamnya setengah berbisik.
"Untuk pertemuan kali ini cukup sampai disini dulu ya, karena kami harus menjemput Madav," ucap Tyas.
"Kalian tenang saja, aku akan membujuknya dan memastikan isteriku menyetujui tawaran ini. Kalian persiapkan saja semuanya, ya!" ucap Tuan Arsen dengan percaya dirinya tanpa menghiraukan Tyas yang memijit keningnya yang tak sakit.
Setelah semua keluar, dan tinggal Tyas dan suaminya. Mereka terdiam untuk beberapa saat, Tyas sedikit kesal dengan suaminya yang malah menyetujui ide dari bagian divisi pemasaran.
"Kok Mas gitu sih?" ujarnya kesal.
"Kenapa, sayang? Aku hanya ingin membantu mereka saja," jawabnya dengan enteng.
"Tapi kan, Mas ... bukan gitu caranya," ujarnya berusaha mengelak.
__ADS_1