Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Kamu adalah Paket Lengkap


__ADS_3

Tyas mengajak Vera untuk ikut pulang dengannya, dia tak tega jika harus meninggalkan sahabatnya terlontang kantung sendirian di jalanan. Di sepanjang jalan, mereka saling diam, tapi tangan yang berbicara. Ketiganya saling menggenggam, seolah tidak ingin terpisahkan untuk kedua kalinya.


Perjalanan menempuh waktu sekitar 2 jam, sesampainya di rumah ... mereka segera menggandeng Vera. Mengajaknya masuk ke dalam rumah Tyas.


"Jangan takut, ini rumahku! Kamu akan aman, daripada kamu sendirian di luar sana ... aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi sekarang," ujar Tyas.


"Ibu ...!" teriak Madav yang langsung berhamburan lari saat mendengar suara mobilnya mulai memasuki pintu gerbang.


Namun langkahnya terhenti, ketika melihat sosok Vera yang saat itu terlihat mungkin menyeramkan untuk anak kecil seusianya. Tapi Madav tak berkata apapun, padahal biasanya dia selalu nyeletuk dengan apa yang dilihatnya saati ini.


"Hai Sayangnya Ibu ...!" sahut Tyas.


"Bu ...!" ujar Madav dengan lirih.


"Madav, kenalkan ini Tante Vera. Teman Ibu dan Tante Dewi ... ." ucap Tyas memperkenalkan Vera pada putranya.


"Ha ... Hay Tante!" ujar Madav mencoba tetap tersenyum meski ia merasa sedikit takut.


"Dia putramu?" tanya Vera.


"Hmm,"


Tak lama kemudian, Tuan Arsen juga keluar dari ruang bermain Madav setelah merapikan mainannya. Sama seperti Madav, Tuan Arsen hanya terdiam untuk beberapa saat mencari jawaban dari istrinya meski mulutnya tak bersuara.


"Mas, kamu ingat Vera kan? Ini Vera Mas, kami tidak sengaja bertemu dengannya, boleh ya Mas Vera tinggal di sini!" ujar Tyas.


"Vera? Sahabatmu yang dari Jakarta bukan? Wah, sudah lama ya kalian tidak bertemu ... tentu saja boleh Sayang! Ver, bagaimana kabarmu?" tanya Tuan Arsen seraya menyodorkan tangannya.


"Aku baik, tapi maaf ... tanganku kotor," jawab Vera menolak untuk menyambut uluran tangan Arsen.


"Baiklah, kalau begitu ... silakan masuk,"


Mereka segera masuk ke dalam rumah. Madav langsung berhambur ke Ayahnya, memegang tangannya dengan erat.


"Kamu kenapa?" tanya Tuan Arsen pada putranya.


"Tidak, aku tidak apa-apa Ayah ...!" jawab Madav.


"Ayah mau pesan makanan, kau mau makan apa Nak?"

__ADS_1


"Terserah Ayah saja," seraya sesekali melirik ke arah Vera.


"Sini ikut Ayah ...! Ayah ingin mencari jaringan," ajak Tuan Arsen yang melihat putranya terus melirik ke arah Vera.


"Hmm, baiklah!" sahut Madav dengan pasrah.


Sesampainya di kursi besi di area taman, Tuan Arsen mengajak putranya untuk duduk di sana. Memberikan pengertian kepada putranya tentang siapa Vera, dan bagaimana pertemanannya dengan Ibunya dulu.


Madavpun mendengarkannya dengan seksama, tak berani menyela sebelum Ayahnya memperbolehkan untuknya bertanya. Mereka berada di taman, sampai driver ojol datang mengantarkan pesanan makanan mereka datang.


"Sudah datang, ayo kita masuk! Pasti kau sudah lapar kan?" tanya Tuan Arsen.


"Hmm ...!" jawabnya mengangguk.


Di dalam sana, Vera sudah membersihkan dirinya, memakai pakaian yang lebih bagus dan kulitnya menjadi lebih bersih. Madav langsung tersenyum lebar saat melihatnya, ternyata apa yang ada dibayangannya tidak benar.


"Wah, sepertinya ada yang pesan makanan ... boleh Ibu minta?" celetuk Tyas yang baru turun dari kamar.


"Tentu saja, kami memesan banyak makanan Bu. Iya kan Ayah? Kita mau makan bersama malam ini ... ." ujar Madav dengan suaranya yang lantang.


"Anak pintar ... sini ... Ibu belum memelukmu!" ujarnya merentangkan kedua tangannya pada Madav.


"Ibu ... sudah! Aku merasa geli Ibu ...!" ujar Madav.


"Habisnya, anak Ibu wangi terus sih! Bagaimana hari ini? Senang ikut Ayah ke tempat kerja?" tanya Tyas.


"Hmm, tapi aku bosan Ibu. Ayah sibuk, Paman Kemal juga ... aku hanya mainan sama robot baruku di sana. Ibu ... besok tidak pergi lagi kan?" tanya Madav dengan penuh harap.


"Memang kenapa kalau Ibu pergi lagi?" tanya Tyas sengaja tidak menjawab pertanyaan putranya.


"Yahh ...! Jadi, aku harus ikut Ayah lagi?" gumamnya dengan lirih.


"Hahah! Ibu besok di rumah Sayang," jawab Tyas mencubit kedua pipi Madav yang chubby.


"Yay! Ibu besok di rumah, aku tidak ikut Ayah lagi ...!" serunya dengan lantang.


"Jadi kamu tidak suka kalau ikut dengan Ayahmu Nak?" tanya Tuan Arsen dari dapur.


"Tidak juga Ayah! Tapi sama Ibu aku lebih senang!" jawabnya.

__ADS_1


"Sayang, sama Kakak dulu ya! Ibu mau bantu Ayah menyiapkan makan malam ...!" ucap Tyas pada Madav.


"Hmm, Iya Ibu ...!"


Madav segera berlari, menjatuhkan dirinya di atas pangkuan Amanda yang tengah berbincang dengan Dewi dan Vera. Madav langsung menjadi sasaran ketiga wanita di sana, hingga membuatnya tertawa lepas karena merasa geli tubuhnya digelitiki oleh 6 tangan.


"Mana yang perlu aku bantu Mas?" tanya Tyas pada suaminya.


"Sudah selesai Sayang, tinggal membawanya ke atas meja ... ." jawab Tuan Arsen.


"Terimakasih untuk hari ini ya Mas, kamu sudah mau mengasuh Madav dengan sabar ...!" ujar Tyas segera memeluk suaminya dari belakang.


"Sama-sama Sayang! Bukankah kita sudah janji untung sama-sama mengasuh putra kita? Saling membantu satu sama lain jika salah satu dari kita sedang sibuk? Toh, ini juga menjadi tugasku sebagai Ayahnya ... kamu tidak perlu berterima kasih," jawabnya seraya memutar badan memeluk istrinya dengan erat.


"Hmm, aku beruntung memilikimu ...!" gumam Tyas.


"Begitupun aku ...! Kamu adalah paket lengkap untukku ...!" kecupan hangat mendarat di kening Tyas.


Mereka segera membawa makanan ke atas meja makan, lalu Amanda datang untuk membantunya menyiapkan makan malam. Madav masih di ruang tengah bersama dua sahabat Ibunya yang sudah lama tidak saling jumpa.


"Mas, kamu apakan Madav? Sampai-sampai dia sekarang sudah bisa dekat dengan orang baru?" tanya Tyas seraya menatap putranya dengan perasaan bangga.


"Tidak ada, hanya menyampaikan apa yang harus aku sampaikan. Dia hanya kaget saja saat melihat Vera dengan penampilan yang seperti tadi. Tapi itu tidak berlangsung lama, kamu senang kan?"


"Tentu saja!" sahut Tyas.


***


Makan malam sudah berkahir sejak 1 jam yang lalu, kini Madav tengah berada di teras belakang bersama Amanda dan yang lainnya. Sedangkan Tuan Arsen sudah berada di ruang kerjanya melanjutkan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda karena harus menemani Madav main setibanya di rumah.


Tok ... Tok ...!


"Mas, kopinya!" ujar Tyas.


"Terimakasih Sayang,"


"Masih banyak ya? Maaf ya gara-gara aku pekerjaanmu jadi tertunda,"


"Heh? bukan begitu, lagian sudah biasa kan aku di sini. Maaf ya, aku selalu membawa pulang pekerjaanku. Aku belum bisa mengajak kalian untuk liburan," ujar Tuan Arsen merasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak apa Mas! Lagian kamu kan kerja juga buat kita ...! Dan ... besok kan kita juga akan ikut ke Ibukota. Itu lebih berarti daripada ajakan liburan Mas," ucap Tyas.


__ADS_2