Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Tawaran Kedua


__ADS_3

Senyumannya membuatku merasa bersalah karena harus berbohong padanya. Ya Tuhan, bantu aku jika aku harus mengatakannya kebenarannya malam ini juga. Tapi jika belum waktunya, buatlah isteriku bisa memahami bila waktunya tiba nanti.


"Mas, apa kamu tidak mendengarku? Mas baik-baik aja kan?" tanyanya dengan cemas. Terlihat jelas raut wajahnya sangat mencemaskanku.


"Sayang," hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.


______________


"Iya Mas? Ada apa?" ujarnya menatap mata suaminya.


"Apa kamu akan marah padaku?" tanya Tuan Arsen semakin membuat Tyas bingung karenanya.


"Marah? Untuk apa aku marah Mas? Aku tidak akan marah tanpa ada sebab, dan Mas tau itu kan?" ujarnya dengan senyum manis mengembang di wajahnya.


"Sayang ... otak di balik kejadian penculikan putra kita adalah ibumu. Dia yang menyuruh mereka untuk mengambil Madav, dan kamu tau? Ternyata Ibumu merupakan bagian dari sindikat jual beli anak kecil," ujar Tuan Arsen mulai menjelaskan dengan perlahan, berharap isterinya akan memahaminya setelah ia menjelaskan semuanya nanti.


"A-apa? Aku tidak menyangka, jika Ibu yang melakukannya Mas. Padahal Madav tidak tau apa-apa," ucapnya dengan sedih.


"Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuk putra kita begitu saja. Dan, sebelum aku mangatakan ini. Aku minta maaf dulu padamu,"


"Minta maaf untuk apa Mas? Katakan padaku," ujarnya menggenggam kedua tangan suaminya dengan erat.


"Ibumu meninggal, gedung tempat kami membawa Ibumu sore tadi kebakaran," ujarnya perlahan.


"Ya Tuhan! Ampuni dosa Ibu, dia belum sempat bertaubat tapi waktunya sudah habis lebih dulu," ucapnya terisak.


"Maafkan aku Sayang, maafkan aku ... ." ujarnya memeluk Nyonya Tyas dengan erat.


"Kamu gak salah Mas, gak perlu minta maaf," ucapnya.


Tuan Arsen memeluk isterinya dengan erat. Setidakmya dia sudah mengatakan jika mertuanya sudah meninggal sore ini. Angin kembali berhembus menggoyangkan dedaunan di sekitar taman rumahnya.


Suasana terasa syahdu malam itu, entah kenapa tidak ada perasaan sedih yang mendalam saat Nyonya Tyas mendengar kabar tentang Ibunya. Bukan karena kebenciannya, melainkan ia sudah terbiasa hidup tanpa Ibunya dan membuatnya tidak merasa kehilangan.


Di dalam rumah ... .


Dewi menemani Madav main dengan beberapa mainan kecilnya di sana. Gelak tawa terdengar lumayan kerasa mengisi suasana rumah yang tampak lengang karena hana mereka berdua yang berada di dal rumah yang begitu besar.


Madav membuat Dewi kagum karena kecerdasan dan kepolosannya yang tidak di buat-buat. Bahkan dia tak sedikitpun menanyakan gadget pada kedua orangtuanya semenjak Dewi datang.


"Tante, apa Tante teman sekolah Ibu?" tanya Madav.


"Bukan, Tante adalah teman kerja Ibu dulunya ... ." jawabnya.


"Kerja dimana Tante?"

__ADS_1


"Di Cafe Nak! Dulu setiap pulang kerja, Tante dan Ibu selalu pulang bersama. Ibumu orang yang baik," ujarnya memuji sahabatnya di depan anaknya.


"Tante benar, Ibu orang yang baik. Tapi," ujarnya dengan sedih membuat Dewi terkejut melihat perubahan mimik wajah Madav dari yang ceria sampai di tekuk seperti matahari yang murung karena awan mendung datang untuk menutupinya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dewi dengan lembut.


"Tante, apa Tante Dewi tau dimana itu Jepang?" tanyanya.


"Hmm, memamg ada apa?"


"Kata Ibu Kakek dan Nenek berada disana. Apakah Jepang sangat jauh?" tanyanya dengan polos.


"Ya, sangat jauh Nak! Madav yang sabar ya," ujar Dewi berusaha mengalihkan perhatian Madav.


"Apakah Kakek dan Nenek menyayangiku?"


"Tentu saja! Madav adalah anak yang baik, smemua orang menyayangimu. Termasuk aku," jawab Dewi.


"Tante, seperti apa Kakek dan Nenekku?" tanyanya lagi membuat Dewi kehabisan kata-kata untuk menjawabnya.


Di Rumah Sakit


Kemal tiba di Rumah Sakit pukul 18.45 WIB. Amanda sdedang duduk di dekat jendela menikmati suasana malam disana di temani tiang infus di sampingnya. Kemal segera meletakkan paperbag yang ia bawa.


"Hmm, sudah. Kamu tidak perlu menjagaku malam ini. Aku sudah baikan. Mungkin besok sudah boleh pulang," ucapnya denga tersenyum.


"Aku hanya menjalankan tugas saja dari Tuan dan Nyonya. Ah ya! Aku bawakan jaket kulit untukmu, semoga ukurannya pas," ucapnya mengambil paperbag yang ia letakkan di sofa tadi.


"Benarkah? Harusnya tidak perlu, aku akan mengumpulkan uang gajiku lagi untuk membeli jaket itu," ucapnya.


"Apa susahnya bilan makasih sih? Sudah bagus aku belikan tanpa kamu harus kemana-kemana bukan," celetuknya.


"Hmm, makasih Tuan!" ucapnya.


"Hmmm, lalu kenapa kamu murung?" tanyanya.


"Tadi siang, Nyonya Tyas menawarkan pekerjaan untukku. Menjaga Tuan Madav," ucapnya.


"Tidak perlu, aku sudah menyuruh beberapa anak buah untuk menjaganya. Kau sebaiknya istirahat sampai benar-benar sembuh setelah itu bari bekerja. Menjaga Nyonya Tyas yang sudah mulai bekerja di luar rumah," ucapnya.


"Me-menjaga Nyonya Tyas?" tanyanya tak percaya.


"Hmmm, Pekerjaan yang baik bukan? Jarang-jarang orang bisa bertemu dengan Nyonya Tyas, dan aku memberimu kesempatan untuk itu pikirkan baik-baik tawaranku ... ."


"Karena kesempatan ini tidak datang dua kali," imbuhnya dengan serius.

__ADS_1


...AMANDA POV...


Menjaga Nyonya Tyas? Apa aku bisa? Aku takut akan mengecewakan Tuan Arsen dan yang lain. Tapi katanya benar, kesempatan tidak datang dua kali. Dan aku beruntung bisa mendapatkan pekerjaan ini.


Sejak dulu aku mengidolakan Tuan Arsen karena sikapnya yang bijaksana. Dan aku juga penasaran dengan pendamping beliau yang pasti bukan orang sembarangan. Dan ternyata benar, Nyonya Tyas berhati mulia tidak kalah seperti suaminya.


Tapi, pekerjaanku? Aku masih terikat kontrak dengan pekerjaan lamaku. Mana mungkin aku menghilang begitu saja dan bekerja di tempat baru. Astaga! Kenapa aku baru ingat dengan pekerjaanku.


______


"Aku sudah memutuskan kontrak kerjasamamu dnegan tempat kerjamu yang lama," celetul Kemal.


"Heh? Benarkah? Bagaimana bisa?" pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ia tanyakan lolos begitu saja dari mulutnya.


"Kenapa tidak? Pekerjaanmu yang lama juga mulia dan halal, tapi sepertinya kurang cocok. Dan untuk menjadi asisten Nyonya Tyas kau bisa sekalian melatih keahlianmu dalam mukul memukul bukan?" ucapnya lagi dengan wajah yang datar.


"Astaga! Ternyata dia sudah maju 6 langlah di depanku. Kalau sudah begini mana bisa aku menolak," bayin Amanda.


"Kau tidak perlu mengatakan terimakasih, aku melakukan ini untuk membalas budi karena kamu sudah mengorbankan hidupmu untuk Tuan Muda kita," ucapnya lagi.


"Hey! Tapi aku melakukannya dengan tulus. Aku tidak mengharap balas budi dari kalian," ujar Amanda.


"Turunkan nada bicaramu," ujarnya.


"Ma-maaf. Tapi aku tulus melakukannya," ucapnya dengan gugup.


"Aku tau itu, dan aku tulus menawarkan posisi yang langka ini untukmu," sahutnya tak mau kalah.


Sementara itu,


Karena sudah malam, dan angin malam sepertinya sudah tidak kondusif lagi. Tuan Arsen dan Nyonya Tyas memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Ternyata Madav sudah tertidur dalam pangkuan Dewi.


Tuan Arsen segera memindahkan putranya ke kamar, sedangkan Tyas masih tinggal di sana bersama Dewi.


"Wi, ada apa?" tanyanya.


"Putramu bertanya tentang Tuan Gavin dan Nyonya Kayana, mertuamu ... ." jawab Dewi.


Deg!!!


_____


Terimakasih banyak yang sudah mampir, maaf untuk sementara Terpaksa Menikah Tanpa Restu libur dulu ya, insyaAllah next time di lanjutkan lagi😊


Jangan lupa mampir juga ke KEKASIH KONTRAK TILL JANNAH dari Eps. 187😍🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2