Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Pantai


__ADS_3

Selesai makan siang Madav ikut Ayahnya ke Perusahaan, ini bukan kali pertamanya Madav datang ke Perusahaan Ayah. Biasanya jika Ibunya sedang ada acara rapat atau pekerjaan lainnya seperti hari ini, Ayahnya lah yang dengan siaga menggantikan tugas Ibunya.


Tidak jarang, kadang Kemal yang mewakilinya menjemput Madav di Sekolah dan membawanya ke Perusahaan jika Tuan Arsen sednag ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan seperti pertemuan dengan klien penting.


Sesampainya di Perusahaan, Tuan Arsen ada pekerjaan penting yang tidak bisa dilimpahkan kepada siapapun. Kemal pun mengajak Madav untuk ikut dengannya, ke ruang kerjanya dan memeriksa beberapa laporan yang masuk.


"Tu ...!"


"Madav Paman ...!" sela Madav sebelum Kemal melanjutkan ucapannya.


"Baiklah, Madav ... Duduk di sana ya! Paman akan mengecek beberapa laporan dulu sebentar. Setelah itu Paman akan menemanimu bermain," ujar Kemal.


"Baik Paman, aku duduk di sana!" jawbanya seraya berjalan naik ke atas sofa di sudut ruang kerja Kemal yang tidak terllau besar. Tapi karena penataan ruangan yang rapih memberikan kesan luas dan nyaman untuk singgah berlama-lama di sana.


Madav bermain dengan karakter robot kesukaannya yang baru saja dibelinya saat hendak kembali ke Perusahaan. Bukan Madav yang mau, tapi Tuan Arsen yang berinisiatif untuk membelikannya agar Madav tidak bosan selama beberapa jam ikut dengannya di Perusahaannya.


Sesekali Kemal melirik ke arah sofa dimana Madav berada di sana, memastikan anak kecil itu tidak pergi atau lepas dari pengawasan. Guratan senyum di wajahnya terlihat tipis, mewakili perasaan bangganya terhadap anak kecil itu yang selalu menuruti perintahnya karena untuk kebaikannya sendiri.


***


Sementara itu Tyas dan yang lain pergi ke sebuah tempat pariwisata Pantai yang tak jauh dari lokasi anak cabang Neo Hotel yang baru saja diresmikan beberapa jam yang lalu. Angin sepoi sudah terasa meski saat itu mereka masih berada di area parkiran.


Waktu menunjukkan pukul 13.30, sedang terik-teriknya. Tidak terlihat ada pengunjung yang di luar atau di sekitar area pantai. Mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, tadi saat di lokasi mereka makan hanya sedikit karena waktu yang terbatas.


"Kita makan dulu saja, kalau mau ke pantai masih terik. Sepertinya juga tidak ada yang berani ke area pantai sekarang," ujar Tyas.


"Tentu saja tidak ada, mereka takut kulitnya terpapar sinar matahari yang langsung menusuk ke tulang," sahut Dewi.

__ADS_1


"Hahah! Begitulah wanita, suka ke pantai tapi takut panas," celetuk Tyas.


"Sudah, ayo kita makan dulu ... di sana saja supaya kita bisa sambil melihat pantai ... setidaknya mata kita tetap disajikan dengan pandangan yang indah bukan?" ujar Dewi.


"Baiklah! Ayo Manda ...!" ajak Tyas.


Mereka memilih tempat makan yang lokasinya lumayan dekat dengan pantai. Tidak ramai pengunjung di sana, sehingga bisa dengan bebas memilih meja untuk mereka singgahi dan menikmati makan siangnya dengan tenang.


"Yas! Coba saja ya ... kita bisa kumpul lagi sama Vera. Pasti seru deh!" gumam Dewi sesaat kemudian.


Melihat ombak yang menggulung, entah kenapa pikirannya langsung tertuju pada Vera. Meski mereka kenal tidak telalu lama, tapi rasa sayangnya tak bisa di ragukan. Semasa mereka masih tinggal di Ibukota, ketiganya sering pergi bertiga.


Menghabiskan waktu libur untuk menonton film, belajar masak dari Vera yang jago menyulap berbagai macam sayuran menjadi makanan yang lezat. Dan amsih banyak lainnya yang bisa mereka lakukan bertiga dari pagi sampai pagi lagi, hingga waktu libur habis dan ketiganya kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Namun, beberapa bulan sebelum Tyas menikah ... Vera melangsungkan pernikahan lebih dulu dengan Irfan, yang satu tempat kerja dengannya sebagai Security. Dan setelah menikah, Irfan dipindahtugaskan ke anak Perusahaan di luar kota.


Sampai akhirnya mereka menyudahi aksinya, dan berpasrah pada Tuhan. Menitipkan Vera pada Tuhan adalah cara yang paling tepat untuk mereka saat itu.


"Ya, ternyata sudah 6 tahun kita tidak ketemu ya Wi! Untung saja saat ini ada Amanda, jadi kita tidak berdua saja," ujar Tyas.


"Memang teman Nyonya pindah kemana?" tanya Amanda.


"Entah! Aku lupa saat mendengar penjelasan dari teman Irfan, tapi semoga saja mereka baik-baik saja sampai saat ini. Dan menunggu waktu saja kapan Tuhan akan mempertemukan kami lagi," jawab Tyas.


"Huh! Entah kenapa aku selalu merasa sedih kalau teringat Vera. Padahal dia adalah pribadi yang baik, tidak pernah membuat kita merasa sedih ya Yas ...!"


"Mungkin karena kamu merindukannya Wi! Aku juga merindukannya ... tapi tidak ada cara yang bisa kita lakukan saat ini ... karena kita tidak tau dimana dia sekarang,"

__ADS_1


Mereka menghabiskan sisa waktu hari ini di pantai, selesai menghabiskan makan siangnya mereka langsung emnuju ke pinggir pantai. Kebetulan terik sudah berlalu, sedikit mendung tapi tidak terlalu gelap.


Sehingga masih aman untuk ketiganya bermain di pinggir pantai, berlarian dan saling mengejar, main air seperti muda mudi yang baru saja beranjak dewasa. Bahkan mereka saling menjatuhkan diri ketika ombak datang menghantam pertahanan mereka yang dengan sekuat tenaga mencoba berdiri di tengah-tengah air.


Teriakan demi teriakan tak terelakkan siang itu, tawa lepas menghiasai wajah ketiga anak manusia yang berbeda usia. Ini adalah kali pertama Tyas ke pantai setelah menikah, selama ini dia hanya ikut dengan suaminya yang selalu mengajaknya jalan-jalan ke tmepat lain selain pantai.


Bukan karena tidak suka, tapi karena putra mereka ada alergi dengan debu. Dan pantai yang tidak bisa lepas dari pasir dan angin bisa saja mengahsilkan debu dan mengenai putranya yang alergi.


"Aaahh!" Teriaknya bersamaan saat air mengenai kakinya dan membuat ketiganya terjatuh, saling menjatuhi sama lain. Di akhiri dengan cekikikan tawa dari ketiganya, seolah menggambarkan suasana hatinya yang bahagia, lepas tanpa beban sekalipun.


"Akhirnya, aku melihat tawamu yang lepas Manda! Aku tidak tau kenapa selama ini kamu menjadi gadis yang pendiam, tapi aku tidak akan membiarkanmu terus seperti itu. Aku pernah berada di posisimu, dan aku tidak ingin kamu terlalu membentengi dirimu ... sehingga tanpa disadari kau akan semakin larut dan nyaman dengan kesendirianmu ...!" batin Tyas memandang wajah Amanda yang terlihat binar kebahagiaan di sudut matanya.


***


Sore telah datang, biasanya pengunjung pantai akan pulang setelah menyaksikan matahari tenggelam. Tapi tidak dengan mereka, perjalanan jauh masih harus mereka tempuh. Sehingga tidak mungkin untuk ketiganya tetap berada di sana sampai senja datang.


Saat hendak pulang, di area parkir Amanda tidak sengaja menabrak seseorang dan hampir saja terjatuh. Dengan Amanda menarik tangannya, untuk menahannya agar tidak jatuh.


"Maafkan aku ...!" ucap Amanda.


"Aah!" pekiknya tidak terlalu keras.


"Ada apa Manda?" tanya Tyas segera membuka kaca mobil.


"Anda tidak apa-apa?" tanya Amanda.


"Ya, maaf aku yang tidak berhati-hati. Maafkan aku," ujarnya dan ingin segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Tunggu!" teriak Tyas berusaha menahannya.


__ADS_2