Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Cerita Vera


__ADS_3

"Manda, tahan dia!" teriak Tyas pada Amanda yang masih berada di sana.


"Tidakkah kau dengar? Nyonya memintamu untuk berhenti," ujar Amanda menahannya dengan mengari tangan kirinya.


Tyas segera turun dan mendekatinya keduanya, mengamati wajah wanita tersebut yang tidak asing untuknya. Wajahnya kusam, rambut lusuh dan badan kurus. Tyas menatap kedua matanya tajam-tajam mencari jawaban siapa pemilik bola mata tersebut.


"Ve ... Vera! Kamu Vera kan?" tanyanya.


Dewi yang mendengar nama Vera disebutkan segera turun dari mobil mencari dimaa keberadaan sosok sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa dengannya.


"Kenapa kamu diam? Kamu Vera kan?" tanya Tyas sekali lagi.


Wanita itu hanya diam, kedua matanya berkaca-kaca. Tubuh kurusnya bergetar, menahan rasa sesak di dada yang selama ini dipendam seorang diri.


"Yas, dimana Vera?" tanya Dewi.


"Wi, ini Vera! Aku mengenalinya dari sorot matanya. Entah kenapa tadi aku merasa ada yang aneh saat melihatnya dari belakang. Ternyata dia yang selama ini kita cari Wi ...!" ujar Tyas.


"Yas, kamu yakin?" tanya Dewi dengan ragu. "Kamu benar Vera?" tanya Dewi pada wanita itu.


Wanita itu hanya mengangguk, tangisnya seketika pecah saat itu. Tyas langsung memeluknya dengan erat, begitupun Dewi yang langsung kedua sahabatnya. Mereka menangis di tengah-tengah area parkiran yang sudah semakin sepi.


Setelah agak tenang, mereka mengajak Vera untuk masuk ke dal mobil. Menanyakan beberapa pertanyaan yang selama ini kedua sahabatnya pendam.


"Ver, kemana saja kamu selama ini?" tanya Dewi.


"Setelah menikah, Irfan mengajakku ke Pulau ini. Aku tidak bisa menghubungi kalian, karena Irfan melarangku untuk menghubungi siapapun di masa laluku termasuk kalian, maafkan aku ...!"


"Tapi kamu baik-baik saja kan? Sekarang kalian tinggal dimana? Biar kami antarkan, kalau Irfan memarahimu ... kami akan mengantarmu hanya sampai gang atau jalan ... setidaknya kita tau dimana tempat tinggalmu saat ini," ujar Tyas.


"Aku ... aku tinggal dimana saja. Asalkan ada sedikit tempat untukku berteduh dan meluruskan kedua kakiku,"


"Maksudmu?"

__ADS_1


***


Setahun pernikahannya dengan Irfan berjalan dengan sangat indah. Bagaimana tidak, dua anak manusia yang baru saja diresmikan hubungannya ke jenjang pernikahan kini sudah bisa dengan bebas kemanapun berdua.


Vera selalu mengikuti permintaan Irfan, termasuk tidak berhubungan dengan orang-orang di masa lalunya. Dengan alasan, Irfan ingin memulai kehidupan yang barunya dengan Vera tanpa bayang-bayang di masa lalu.


Apalagi masa lalu Vera yang dulunya merupakan bagian dari seorang tuna susila. Vera merasa Irfan adalah satu-satunya pria yang mau menerimanya dengan tulus tanpa melihat bagaimana dulunya dia.


Setahun pernikahan adalah masa-masa yang paling indah untuknya, dimana Irfan selalu memberikan pujian, memperhatikannya, memanjakannya, bahkan posesifnya membuat Vera merasa beruntung bisa bertemu dengan pria seperti Irfan.


Namun semua harus berakhir dengan tragis, pada suatu hari Vera tak sengaja melihat Irfan bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil. Karena penasaran, Vera pun mendekati mobil tersebut yang berhenti di depan sebuah Toko kelontong yang sudah tutup.


Apa yang dilihatnya semakin jelas, 4 kancing baju Irfan terbuka. Dan wanita yang sedang bersamanya tengah ditindihnya di dal mobil.


Tok ... Tok!


Vera berusaha keras mengetuk kaca mobil, berharap Irfan akan mendengarnya dan menyudahi perbuatannya. Namun keduanya semakin sengaja melakukannya di depan matanya, mereka melanjutkan hubungan terlarang itu, melenguh dengan kencang seolah sengaja supaya Vera mendnegarnya.


Tubuhnya seketika lemas, bak tersambar kilat sore. Hatinya seperti dicabik-cabik dengan brutal. Vera langsung berlari menjauh dari mobil Irfan. Pulang ke rumah dan menangis sejadi-jadinya sepanjang malam itu.


"Mas! Ngapain kamu pulang dengannya?" tanya Vera.


"Kenapa? Dia kekasihku," ujar Irfan.


"Tapi aku istrimu Mas!" ujar Vera dengan badan yang bergetar menahan amarah yang kian membuncah.


"Lalu apa salahku kalau mengajaknya pulang?"


"Istri mana yang tidak sakit melihat suaminya berhubungan badan di depan matanya, bahkan tidak pulang semalaman, lalu ... pulang-pulang membawa wanita itu!"


"Cih! Harusnya kau berkaca. Bukankah dulu kau juga seperti itu? Setiap malam melayani banyak pria, makanya sekarang tidak bisa memberikanku seorang keturunan karena karma dari semua yang kamu lakukan semasa belum menikah dulu," ujarnya membuat Vera merasakan sakit yang teramat sangat.


"Kamu tidak bisa menyangkalnya kan? Bohong sekali kalau aku menerimamu apa adanya, aku hanya ingin memungut bekas kali saja masih bisa di selamatkan! Tapi nyatanya, itu tidak bisa ... Aku tidak pernah menikmatinya berhubungan denganmu," imbuhnya lagi.

__ADS_1


"Cukup Mas!" teriak Vera.


"Sayang, ayo kita masuk. Kita harus mandi sebelum pergi lagi ...!"


"Hey! Jangan masuk ke dalam rumahku!" teriak Vera menjambak rambut wanita itu.


"Awwhh! Sakit ...!" teriaknya dengan manja.


Irfan mendorong tubuh Vera hingga terpental ke lantai, merangkul wanita itu membawa masuk ke dalam kamarnya. Pintu kamar dikunci dari dalam, terdengar suara gelak tawa dari luar.


Tak lama kemudian terdengar suara lenguhan yang tak asing untuknya. Vera benar-benar merasa tidak berdaya saat itu, dia sudah tidak memiliki siapapun saat ini. Dan pria yang dia anggap akan menjaganya, malah mengkhianatinya secara terang-terangan.


Sejak kejadian itu, hubungan Irfan dan Vera semakin renggang. Irfan sudah jarang sekali pulang ke rumah. Sekalinya pulang pasti membawa wanita lain yang berbeda-beda. Sampai pada akhirnya Irfan mengusir Vera begitu saja, dengan alasan akan menjual rumahnya untuk menikah lagi dengan kekasihnya.


***


"Ver ... kamu yang sabar ya! Aku turut prihatin mendengarnya," ucap Tyas mengusap punggung Vera.


"Aish! Tanganku seketika gatal ingin menjitaknya, memukulnya sampai babak belur!" gumam Dewi.


"Tapi Irfan melakukan itu alasannya, hiks!"


"Ya sudah jelas alasannya ingin menikah lagi kan?" sahut Dewi yang sudah terpancing emosi karena terbawa suasana.


"Bukan itu Wi ...!" jawabnya dengan lirih.


"Lalu, kenapa?" tanya Tyas menimpali.


"Setahun pernikahan, kami tidak diberikan momongan ... ternyata Irfan didiagnosa mandul, sehingga kami tidak bisa memiliki keturunan. Dia tidak bisa menerima kenyataan, dan dia membuat masalah, menyakitiku, membentakku, agar aku membencinya dan mencari pria lain ...!"


"Kau yakin itu alasannya?" tanya Dewi yang belum percaya sepenuhnya.


"Ya, setelah malam itu aku di usirnya. Keesokan harinya aku mendapat kabar jika Irfan meninggal karena gantung diri di rumah. Dan tak sengaja aku menemukan surat keterangan dokter yang menyatakan dia mandul, lalu aku menemukan catatan dari Irfan yang meminta maaf padaku,"

__ADS_1


"Aku sudah memaafkannya, tapi aku tidak bisa menerima kenyataan jika Irfan meninggal karena itu. Padahal aku mencintainya, meski nantinya aku tau kami tidak bisa memiliki anak kandung ...!" ucap Vera terisak.


__ADS_2