Terpaksa Menikah Tanpa Restu

Terpaksa Menikah Tanpa Restu
Kau Memang Anakku


__ADS_3

tokk ... tokk ... tokk!


"Masuklah!"


"Terimakasih Tuan!" jawabnya segera membuka pintu dan masuk.


_________


Seorang kurir masuk mengantarkan beberapa pakaian untuk Kemal yang baru saja di pesannya lewat sebuah aplikasi di ponselnya. Setelah memberikan tip, kurir tersebut segera keluar, suasana kembali hening.


Kemal memilih untuk membersihkan badannya, setelah seharian bekerja menemani Tuan Arsen dan juga Nyonya Tyas. Tak lupa ia memesan makanan melalui sebuah aplikasi berwarna hijau di ponselnya.


Di sisi lain,


Mobil memasuki halaman rumah yang masih gelap, tentu saja gelap karena pemilik rumah sejak pagi sudah meninggalkan rumahnya dan kembali setelah langit menjadi gelap. Nyonya Tyas menggendong Madav yang tertidur dalam pelukannya.


Tuan Arsen bergegas membukakan pintu untuk isterinya yang sedang bersusah payah menggendong putranya yang semakin berat. Setelah pintu terbuka, Nyonya Tyas segera merebahkan tubuh putranya di atas sofa panjang di ruang tamu.


"Kenapa tidak langsung di bawa ke kamar?" tanya Tuan Arsen.


"Kita belum makan malam, biarkan dia tidur sebentar. Nanti kita bangunkan, aku masak dulu ... ." ucapnya.


"Pesan makan saja, kamu istirahat. Sebaiknya kamu mandi dulu dan berganti pakaian, biar aku yang menjaga Madav disini dan memesan makanan," ujarnya.


"Hmm, baiklah. Aku ke atas dulu ya Mas! Titip anakku," ucapnya seraya berlalu meninggalkan suaminya.


"Hei, dia juga anakku bukan?" gumamnya mengernyitkan kedua alisnya.


Tuan Arsen segera memesan 3 porsi laksa, karena malas memilih menu yang jumlahnya sangat banyak di layar ponselnya. Sambil menunggu gofood datang, dan isterinya yang masih mandi di atas. Tuan Arsen pergi ke dapur, mengambil air putih dari dalam lemari pendingin.


"Kira-kira, siapa dalang di balik kejadian ini? Apakah mereka memang kawanan penculik atau ada seseorang yang menyuruhnya?"


"Tapi, sepertinya aku tidak ada musuh dalam dunia bisnis. Hmm, maksudku kecuali mereka yang menganggapku musuh,"

__ADS_1


"Hah! Entahlah, yang terpenting saat ini putraku sudah aman. Gadis itu benar-benar malaikat untuk putraku, kira-kira apa ya hadiah yang harus aku berikan untuknya?" ujarnya bertanya pada dirinya sendiri.


"Jaket yang seperti punya Kakak cantik itu Yah," sahut Madav yang rupanya sudah berdiri di belakang Tuan Arsen.


"Astaga! Kamu sudah bangun?" ujarnya kaget untung saja gelas di tangannya tidak jatuh.


"Memang kenapa dengan jaket Kakak itu, Nak?" imbuhnya lagi sambil berjalan mendekati putranya.


"Aku dengar, katanya Kakak itu mengumpulkan uang buat beli jaket yang di pakainya. Tapi di robek sama para penjahat itu Yah," jawab Madav menyampaikan apa yang dia dengarkan selama perdebatan yang berlangsung sore tadi.


"Hmm, baiklah! Besok Ayah carikan jaket untuk Kakak cantik, sekarang ayo kita mandi ... ." ajak Tuan Arsen pada putranya.


Ting Tong!


"Itu pasti makanannya sudah datang, sebentar ya!" ucapnya.


Benar saja, gofood sudah datang. Setelah memberikan tip drivel ojol segera berpamitan undur diri. Dan Tuan Arsen segera membawanya masuk, tak lupa pintu langsung dia kunci karena tidak akan keluar lagi dari rumah.


"Jagoan kecilku sudah bangun? Mau mandi ya?"


"Ya, dia mau mandi denganku! Kamu siapkan makan malam saja, makanan sudah sampai ... ." ujar Tuan Arsen.


"Hmm, baiklah! Segera mandi, jangan mainan air ini sudah malam!" ucap Nyonya Tyas seperti seorang ibu yang sedang menasehati anaknya.


"Siap, Bu!" jawab Tuan Arsen dan Madav secara bersamaan.


"Yeah! Kau memang anakku, kita selalu kompak. Ayo sayang, Ayah akan memandikanmu," ujarnya dengan semangat.


"Apa maksudnya? Memang siapa yang bilang Madav bukan anaknya, dasar!" gumamnya seraya berjalan menuruni anak tangga.


...Ruang Rawat VIP...


Selesai mandi dan berganti pakaian dengan kaos berwarna putih polos berukuran fit di tubuh dipadukan dengan jogger pants berwarna hitam. Tak berapa lama kemudiam terdengar suara bel, go food sudah datang. Kemal memesan pizza dan satu cup espresso untuk makan malam kali ini.

__ADS_1


Di ruangan ini terdapat meja kecil dan dua kursi di dekat jendela kaca. Mungkin kalau pagi, ia bisa melihat pemandangan di luar sana, tapi masih malam jarak pandang pun terbatas.


Sambil menikmati beberapa potong pizza di depannya dan juga espresso yang masih hangat kuku, sesekali Kemal melirik ke arah gadis di atas bed yang belum bangun dari tidurnya.


"Tuan Arsen dan Nyonya Tyas benar, kami berhutang budi padamu. Seharusnya aku yang ada di posisimu saat ini," ujarnya mengehela nafas cukup panjang.


Dalam hitungan menit, kopi dan pizza telah habis tanpa sisa. Setelah merapikan semuanya, Kemal mendekati bed untuk memeriksa kantong darah dan juga memastikan apakah gadis itu masih bernafas.


"Sudah 4 jam, dan dia belum bangun-bangun. Dia pingsan atau tidur?" gumamnya mendekatkan jari telunjuk dan tengahnya ke bagian leher mengecek nadi apakah masih ada atau tidak.


"Masih ada, syukurlah!"


"Tidurlah, kalau kau butuh sesuatu panggil aku saja, Okey!" ujarnya berpesan padanya yang masih terpejam.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Kemal mulai merasa sedikit mengantuk. Ia berjalan menuju sofa di sudut ruangan dan menjatuhkan badannya disana. Otot-otot dal tubuhnya mulai ia renggangkan.


Tak berapa lama kemudian, kedua matanya mulai terpejam dan membawanya masuk untuk menjelajahi dunia mimpi.


"Awwh! sakit sekali," rintihnya kesakitan.


"Kenapa aku disini? Siapa yang membawaku? Badanku rasanya sakit semua. Bagaimana keadaan anak kecil itu? Apakah dia baik-baik saja?" banyak pertanyaan muncul dalam kepalanya.


Tapi badannya terasa sakit semua. Untuk menolehpun rasanya tidak sanggup. Hanya terdengar suara air dari botol kecil dekat tabung oksigen. Hingga akhirnya ia tertidur kembali dan melupakan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.


__________


Sayup-sayup terdengat suara langkah kaki seseorang di lorong luar sana, tak lama kemudian terdengar pintu ruangan terbuka. Kemal yang masih enggan untuk membuka matanya hanya mengintip sedikit melihat siapa yang datang.


Seorang perawat masuk membawa satu botol cairan RL 500 ml, darah dalam kantong plastik sudah hampir habis. Untung saja perawat datang di waktu yang tepat, ia segera mengganti kantong darah yang sudah habis dengan cairan RL untuk mengguyurnya sebelum mereka berikan lagi satu kantong darah yang masih tersisa.


Perawat sengaja mengatur tetesan infus dengan 20 tetes/menit, karena keadaan sudah stabil dan supaya tidak bolak balik datang dan akan mengganggu istirahat pasien serta yang menunggunya.


Setelah cairan RL terpasang, perawat segera bergegas pergi dengan membawa bekas kantong darah yang sudah terpakai. Kemal kembali terlelap setelah memastikan perawat selesai mengganti botol infus dan pergi meninggalkan ruang perawatan.

__ADS_1


__ADS_2